
Ratu malisa melihat wajah putri nya yang di rumorkan memiliki wajah buruk rupa menganga dengan tidak elit. Ini benar-benar putrinya kan? Astaga putrinya lebih tampan dari pada dirinya waktu remaja dulu.
Zan pria paruh baya itu menganga dengan apa yang dilihat nya 'astaga cantik tampan perpaduan yang pas..tidak di sangka putri yang selalu di cap bodoh dan buruk rupa sangan cantik dan tampan sekaligus..sempurna sebagai kadidat ratu' batinnya tidak mengalihkan pandangan nya dari wajah zahra.
Sementara wan seorang pemuda berusia 19 tahun itu wajahnya sudah memerah melihat kesempurnaan di depannya ' astaga seperti nya jadi istriku lebih baik' batin wan tersenyum-senyum tidak jelas tapi dengan cepat menggeleng kan kepala nya 'apa itu? Jadi istriku? Hei ia seorang ratu sementara aku hanya pengikut setia ratu' lanjutnya dengan sedih karena hayalan hancur berkeping-keping.
Zahra yang melihat tiga orang didepannya menganga bahkan melotot jadi horor plus puas horor karena zan dan ratu malisa terlihat sedikit seram dan puas karena kecantikan dan ketampanan nya mampu membuat orang lain melongo ' hohoho gw akan punya banyak suami nih' batin zahra tersenyum puas (hidungnya panjang lho:v)
"Bunda bundaa...bunda kenapa?" Ucap zahra memegang tangan ibunya sedikit menggoyangkan nya karena ratu malisa tidak sadar-sadar dari lamunan nya.
Ratu malisa, zan dan wan yang mendengar suara zahra langsung tersadar. Ratu malisa langsung mengenggam tangan putrinya dan menatap serius wajah putrinya.
"Kenapa kamu menyembunyikan nya dari bundamu ini putriku?" Tanya ratu malisa penasaran sekaligus kecewa. Putrinya ternyata serupawan ini tapi ia tidak mengetahui nya, ia hampir percaya dengan rumor beredar yang entah datang dari mana.
Zahra dapat melihat tatapan kecewa di mata ratu malisa membuatnya sedikit merasa bersalah, ingat loh sedikit.
"Maaf kan putri ini bunda ratu bukan karena putri ini tidak percaya dengan ibunda..tetapi putri ini hanya tidak mau terjadi perang saudara antara aku dengan adikku" Ucap zahra dengan menunduk dan sendu.
Ratu malisa mendengar alasan itu sedikit geram 'lagi-lagi saudara angkat itu, ingin mengusir tapi sepertinya anak asing itu sangat licik' ratu malisa memijat keningnya pusing saking licik nya tuh perempuan sampai suaminya yang terkenal seorang jendral pemberani menuruti semua permintaan perempuan yang merupakan anak angkat nya dari pada anak kandung nya.
Zahra yang melihat ratu malisa memijat kening nya sambil memejam kan mata langsung memasang wajah khawatir
__ADS_1
"Bunda apa bunda sakit? Maafkan putri ini yang membuat bunda ratu kecewa dan stres" Ratu malisa yang mendengar ucapan putrinya menggelengkan kepala lalu mengangkat tangan nya mengelus wajah putri nya
"Bunda tidak sakit nak..bunda hanya khwatir dengan putri bunda yang selalu terkena hinaan dan siksaan dari orang lain bahkan pelayan rendahan ikut ambil tangan menyiksa mu" Ratu malisa menyingkap hanfu putrinya ia dapat melihat bekas luka cambukan disana, mengelusnya dengan lembut.
Zahra yang mendengar itu terkejut 'jadi ibu dari pemilik tubuh ini tahu kalau putrinya selalu di siksa tapi mengapa ia tidak menolong nya hingga membuat putri nya mati di tangan ppb itu' batin zahra bingung.
"Ba-gaimana bunda tau?" Tanya zahra dengan wajah terkejut.
Ratu malisa mengambil obat penghilang bekas luka yang telah di berikan oleh wan lalu mengoleskan nya di bekas luka tersebut. " Bunda tahu semuanya, bunda hanya tidak bisa berbuat apapun karena selalu ada tugas di perdesaan jadi hunda hanya bisa mengawasinya..sudah beberapa kali bunda mengirimkan prajurit atau dayang tapi entah kenapa malah selalu berujung menyiksamu"jelas ratu malisa menatap zan lalu memberikan obat itu untuk di taruh ke tempatnya semula.
Zahra yang mendengar penjelasan ratu malisa ingin sekali memutar matanya malas. Ya jelas lah selalu di siksa, oramg selalu di sogok pakai uang banyak.
Zahra menunduk dengan bahu gemetar seolah-olah seperti sedang menahan tangis " Ja-di a-pa benar aku putri pembawa sial?" Zahra berucap dengan terbata-bata padahal mah ' ayo keluarlah air mata buaya..ayo menangis lah mata..bawang bawang bawang' batin zahra berusaha membuat tangisan.
Ratu malisa dengan cepat memeluk tubuh putrinya menenangkan nya. " Putriku tidak ada seorang anak pembawa sial..semuanya sempurna bagi bunda..hanya orang biadap yang menganggap seorang anak itu pembawa sial"
"Hiks hiks ta-pi bunda zahra capek..mereka bilang zahra anak sialan bahkan ayahanda bilang seperti itu di hadapan zahra..zahra salah apa bun?" Tangis zahra pecah sambil memeluk erat tubuh ratu malisa menyembunyikan wajahnya di pundah ratu malisa.
Ratu malisa mendengar itu geram dan marah..suaminya mengatakan hal itu? Tega sekali. 'Tidak bisa di biarkan' batin ratu malisa mengepalkan tangan dengan aura membunuh mata berkilat tajam lalu dengan cepat mengubahnya dengan aura menenangkan dan mengelus rambut putrinya.
"Zahra tidak salah apa-apa hanya mereka saja yang bodoh" Jeda ratu malisa meregangkan pelukan nya menatap mata putrinya yang masih meneteskan air , mengusap air mata dengan ibu jarinya "putri bunda sempurna, putri bunda kuat jangan capek ya" Lanjutnya lalu memakaikan topeng putrinya.
__ADS_1
"Kamu istirahat dulu ya..tenangkan dirimu putriku..bunda dan ayahanda selir akan selalu mendukungmu" Ucap ratu malisa menatap zan di belakang nya. Zahra yang mendengar perintah ratu malisa mengangguk kan kepalanya lalu berdiri membungkukkan badan.
"Zan antarkan putri ke kamarnya" Perintah ratu malisa.
Zan menghadap lalu membungkuk kan badan nya, menuntun zahra menuju kamarnya.
Ratu malisa melihat putribya telah menghilang di telan pintu langsung berdiri dan berjalan menuju jendela.
"Wan bagaimana menurutmu?" Tanya ratu malisa tenang.
Wan membungkukkan badan " Menjawab yang.mulia ratu, menurut saya yang mulia raja tidak dapat di maklumi. Karena telah membuat putri sah kerajaan menangis hanya karena membela putri angkat" Jawab wan tegas.
"Hmm tidak bisa di maklumi ya?..bagaimana dengan putri angkat itu?"
"Menurut saya putri sila adalah seseorang yang naif dan penuh dengan topeng.. Saya dapat melihat putri sila selalu mencari gara-gara dengan putri zahra membuat terjadi pertengkaran dan berujung putri zahra kalah dan rumir semakin kuat. Sekarang putri sila menjadi kadidat ratu sedang panas di masyarakat" Ucap wan panjang lebar.
Ratu malisa mengangguk setuju berjalan menuju meja kerjanya, lalu duduk dengan tenang.
"Wan..saya tugas kan untuk menjadi pengawal pribadi putri zahra. Saya tidak ingin putri zahra mengalami hal yang sama. Dan latih putri ku secara rahasia di tempat rahasia saya"
"Tapi-
__ADS_1
" Tidak ada protes..setelah putri zahra berhasil menjadi ratu kamu akan jadi selir putri zahra"