
Kediaman putri kedua
"Hiks hiks kenapa pangeran Edgar menghianati ku hiks hiks, apa aku kurang cantik hiks hiks " sila menangis sesegukan sambil menatap dirinya di cermin. Membuat para pelayan cemas akan kesehatan majikan mereka. Bukannya bagaimana hanya saja jika terjadi sesuatu kepada majikan mereka yang akan kena imbasnya.
"Yang mulia, tenangkan dirimu..anda adalah putri tercantik di kerajaan ini jadi tidak mungkin yang mulia pangeran Edgar menghianati anda. Memang siapa yang bisa mengalahkan anda yang merupakan putri tercantik dan terhebat di kerajaan ini?" Ucap pelayan sambil menyisir rambut sila dengan tersenyum menenangkan. Sebut saja namanya zhini, pelayan yang mendampingi sila dari awal ia memasuki kerajaan mertanesia.
"Benar yang mulia, bahkan putri Zahra tidak akan bisa mengalahkan anda. Putri Zahra hanya putri yang tidak berguna dengan rumor yang jelek. Siapa yang mau bersama nya" sahut kyusu yang merupakan pelayan sila. Sebenarnya kyusu ini adalah pelayan Zahra hanya saja ia berkhianat dan memilih bersama sila karena ia malu di tertawakan oleh pelayan yang lain. Jadi saat itu ia mengikuti ajakan sila untuk menjadi pelayannya.
"Iya benar. Putri bodoh itu tidak akan bisa mengalahkan ku bagaimanapun caranya" ucap sila menghapus air mata palsunya dengan senyum miring.
"Benar putri. Anda hanya perlu membayar orang itu agar anda menang"
"Yah, sayang nya kita tidak bisa melakukannya di kerajaan ini" ucap sila dengan raut wajah sedih.
"Kenapa tidak bisa yang mulia?" Tanya kyusu heran begitu juga dengan zhini. Padahal menyogok seseorang itu gampang tinggal memberikan laki-laki yang masih perjaka dan belum pernah di jamah.
Sila berdiri berbaik menatap kedua pelayan pengikutnya selama ini "karena pengawasnya adalah ratu itu sendiri, karena itu kita tidak bisa menggunakan cara itu"
"Lalu bagaimana yang mulia? Kita tidak bisa membiarkan putri tidak berguna itu menjadi ratu disini. Kita harus menguasai seluruh kerajaan ini "
"Tenang saja aku punya caranya.. namun aku memerlukan kalian berdua dalam rencana ini"
"Tentu saja, kami akan selalu membantu yang mulia. Saya akan melaksanakan rencana ini dengan senang hati yang mulia"
"Kemarilah kalian " kedua pelayan itu mendekat, lalu sila membisikkan rencananya.
"Itu rencana bagus yang mulia. Setelah putri bodoh itu mati kita akan jadi penguasa" ucap kyusu memikirkan betapa indahnya kelak ia hidup dengan penuh harta dan orang-orang yang menginjaknya akan di balas, begitupun dengan zhini yang memikirkan hal sama.
__ADS_1
Sila tersenyum puas mendengar jawaban pelayan di depannya. 'hah...kalian bodoh sekali. Kalian berpikir setelah aku berhasil menguasai kerajaan ini kalian akan mendapatkan jabatan? Oh tentu saja iya.. jabatan penjara hahahah' batin sila tersenyum sinis akan bagaimana bodohnya pelayan di depannya.
Disisi lain, Zahra masih bersantai di gazebo yang dekat dengan kolam indah membuatnya relax. Memejamkan mata menikmati ketenangan dan udara segar 'hah..betapa segarnya mata ini tanpa adanya pengganggu udik dan betapa segarnya udara ini tanpa adanya udara panas' batin Zahra menatap para ikan ikan yang berenang dengan gembira seperti tidak akan pernah ada yang menangkap mereka dan menggoreng mereka begitu saja.
'nona' Rober tiba tiba muncul membuat Zahra mendatarkan wajahnya.
Rober yang melihat perubahan wajah nonanya hanya bisa tertawa canggung 'hahah nona jangan marah, saya hanya ingin menginformasikan hal penting'
Zahra semakin mendatarkan wajahnya "kalau hal ini tidak begitu penting, aku janji akan menyumbangkan mu kepada para pencabut perjaka"
'astaga nona anda kejam sekali' ucap Rober memegang dadanya dramatis.
"Jadi ada apa? Tidak usah terlalu banyak basa basi langsung saja"
'Ekhem... Sila berencana untuk memberikan hadiah sesuatu untuk anda. Apakah anda tidak ingin memberikan surprise balik? Kita akan mengisinya dengan paduan mendapatkan piala Oskar'
Zahra menatap ikan yang sedang bertarung untuk merebutkan makanan "oh sudah mulai membungkus hidangan ya " Zahra tersenyum smrik melihat salah satu ikan itu mati karena kebodohannya sendiri.
Rober menganggukkan kepalanya atusias ia tidak sabar untuk menanti hal itu terjadi pasti akan sangat menyenangkan.
'no-
,"Sudahkan? Sudah sana pergi aku mau menikmati indahnya ketenangan tanpa adanya pengganggu udik " ucap Zahra terdengar mengejek Rober.
Rober mendengus lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun.
"Hah..Rober sudah menghilang tinggal..." Zahra menjeda ucapannya menatap tajam seseorang yang bersembunyi di balik pohon tak jauh dengan gazebo tempat nya berada. "Kau keluarlah sebelum aku menusukmu dengan belati ini"
__ADS_1
Seseorang di balik pohon hanya tersenyum lembut lalu keluar dari persembunyiannya"salam yang mulia putri, maafkan hamba yang lancang mengintipmu " ucapnya dengan membungkuk kan badannya.
Zahra hanya diam meneliti wajah pemuda di depannya. Rambut hitam panjang, wajahnya yang cantik, dan tubuh yang lebih tinggi sedikit dibandingkan dirinya. 'wah keindahan yang datang sendirinya' batin Zahra tersenyum senang.
Rober menggelengkan kepalanya melihat sikap tuannya. Kadang sangklek kadang kejam kadang waras kadang mesum kadang galak. Ia kehabisan obat belang.
Zahra menatap tajam pemuda di depannya "siapa kau? Bagaimana kau bisa berada disini? "
Pemuda itu membuka kipasnya lalu menutup mulutnya "kamu jauh-jauh dari saya yang mulai, entah kenapa bau mulut anda seperti bau jengkol" ucap pemuda itu menjauh sedikit dari Zahra.
Zahra melotot mendengar ucapan pemuda itu "kamu kurang ajar sekali cantik..ingin saya hukum hmm? Ingin saya jadikan selir sekarang juga?" Ucap Zahra mendekat kearah pemuda itu membuat sang pemuda mundur.
"Hey kau berhenti maju..kau bau jengkol"
"Hah makan ni jengkol makan" ucap Zahra sambil membuka mulutnya tepat di depan wajah cantik itu.
Pemuda itu menutup mulutnya dengan kipas rapat-rapat. "Bau sekali..yang mulia putri banyak dosa ya? Bisa saya bantu untuk menguranginya? Silahkan melakukan kekerasan kepada saya kelak anda akan mendapatkan imbalan" ucap pemuda itu dengan bangga menepuk dadanya.
Zahra tersenyum sinis "cih ternyata kau cantik-cantik tapi pedes juga ya..tunggu saja kelak kau akan menjadi selirku "
"Idih ogah setiap hari mencium jengkol apalagi sampai merelakan keperjakaan ku ini yang suci " ucap pemuda itu tak kalah sinis.
Zahra ingin sekali menampol wajah pemuda di depannya. Siapa pemuda ini dengan berani membuat masalah dengan keluarga Kerajaan . "CK sudahlah..siapa dirimu dan mengapa kau bisa berada disini? Dilihat dari penampilan mu mungkin kau seorang bangsawan juga" ucap Zahra melirik penampilan pemuda itu dari bawah ke atas.
Pemuda itu terkekeh. "Kamu tahu aja "
'dihh kok alay ya,'
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya kenza pradiksa dari kerajaan prayaksa sekaligus adik sepupu dari pangeran edgar" ucap pemuda itu dengan percaya diri
"Gak nanya"