Handsome Ruler Queen

Handsome Ruler Queen
episode 15


__ADS_3

Zahra berjalan ke arah pemandian yang sudah di siapkan oleh para pelayan.


Pemandian luas dan nyaman tenang tanpa adanya pengganggu



(anggap saja pagi hari)


Zahra mencelupkan kakinya dengan perlahan, rasa hangat dan segar memyerbak ke tubuhnya. Segar sekali (sebelumnya sudah lepas pakaian ya).


Zahra merilekskan tubuhnya seraya mengirup aroma bunga mawar.


30 menit kemudian


Zahra keluar dari pemandian lalu pergi ke kamarnya untuk mennggunakan pakaian. Menghadap ke kaca mengoleskan matanya sedikit pewarna agar terlihat lebih indah padahal sudah indah. Lalu menggunakan topengnya.



Anggap aja itu memakai topeng.


Rambutnya ia biarkan tergerai indah. Dan memakai anting yang tidak terlalu menoton dan semada dengan hanfunya.


Setelah selesai ia keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang makan. Ini sudah jam untuk sarapan pasti semuanya menunggunya. Pasti ia akan di jadikan tumbal oleh sila lagi.


Zahra berjalan dengan santai tanpa peduli dengan pelayan dan prajurit yang menatapnya dengan jijik dan cemooh yang terlontar dari mulut mereka.


Zahra memutar bola matanya malas "sudah kawanan rendah, malah ngelunjak dan tidak tahu malu. Sudah rendah mulutnya nyeplos sembarangan lagi tidak tahu attitude sama sekali ckck" ucap Zahra dengan suara yang sengaja di keraskan.


Para pelayan dan prajurit mendengar itu terdiam, mereka tersinggung mendengar ucapan putri Zahra namun jika mereka membalasnya mereka akan di eksekusi secepatnya jadi mereka hanya bisa menahannya saja.


Zahra yang merasakan sekitarnya hening hanya berdecak lalu pergi berlalu menuju ruang makan jujur saja cacingnya sudah meronta ingin makan.

__ADS_1


Skip


Sesampainya di ruang makan tanpa basa basi ia langsung masuk.


"YANG MULIA PUTRI PERTAMA MEMASUKI RUANGAN" Teriakan Kasim mengumumkan saat Zahra memasuki ruangan.


Semua yang sudah berada di ruang makan mengalihkan mata mereka menatap Zahra yang memasuki ruangan dengan anggun dan aura yang dingin.


Mereka terpana melihat Zahra yang sangat mempesona meskipun wajahnya tertutupi topeng tapi tak ayal aura nya sangat menarik. Kecuali sila dan raja saint, sila mengeram melihat semuanya menatap kagum Zahra apalagi tunangannya Edgar yang menatap Zahra tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


'seharusnya aku yang menjadi pusat perhatian bukan kau..putri buruk rupa yang menjijikan tunggu saja nanti' batin sila mengeram marah berbeda dengan wajahnya yang tetap menampilkan wajah lugu dan polos.


Sementara raja saint menunduk tidak berani menatap putrinya terlalu lama. Putrinya? Apakah pantas ia menyebutnya sebagai putrinya? Mengingat semua yang ia lakukan selama ini. Namun ia dengan cepat menepisnya karena putri itu akan membuat nya semakin malu karena memperburuk reputasinya sebagai ratu Kerajaan mertanesia.


Zahra melihat sekilas bagaimana ekspresi sila dan raja saint hanya memutar bola matanya malas. 'bagaimana pun kau menutupinya, aku akan bisa melihatnya dari mata kalian' batin Zahra malas apalagi melihat wajah polos lugu sila yang sangat tidak cocok dengan wajah tampan, tapi itu tidak cocok disebut tampan karena makeup nya tebal. Sedikit risih melihatnya ingin menyiramnya dengan air hangat. Supaya hilang semua tepung itu.


Ratu malisa tersenyum lembut " Zahra duduklah" ucap nya lembut menepuk kursi di sampingnya.


"bagaimana tidurmu sayang?" tanya ratu malisa mengelus rambut Zahra dengan lembut.


Zahra menikmati elusan di rambutnya "nyenyak bunda sayangnya ada yang mengganggu sedikit" ucap Zahra dengan suara sedih.


"siapa yang berani mengganggumu? Bilang pada bunda"


"tidak..tidak hanya mimpi saja bunda" ucap Zahra lalu mengalihkan pandangannya ke hidangan di depannya "bunda ratu bisakah kita mulai sarapan?..cacing di perutku meronta ingin makan" ucap Zahra menatap ratu malisa dengan memelas.


Ratu malisa terkekeh kecil lalu mengalihkan pandangannya kedepan "karena semuanya sudah berkumpul mari kita mulai sarapan" ucap ratu malisa dengan tenang dan datar.


Lalu setelah itu hanya terdengar suara dentingan piring dan sendok. Tanpa ada yang berbicara sedikitpun karena tata Krama sangat dijunjung tinggi.


Skip

__ADS_1


setelah makan semuanya saat ini berada di ruang keluarga.


"untuk pertandingan pemilihan ratu akan diadakan bulan depan" ucap ratu malisa menatap Zahra dan sila bergantian "siapkan diri kalian..tidak boleh adanya kecurangan..jika ada yang curang akan dikeluarkan dari kerajaan tanpa hormat" lanjut ratu malisa tegas.


mendengar hal itu sila tersenyum smrik, ia yakin yang akan menang adalah dirinya bukan putri bodoh itu. 'persiapkan diri mu untuk kalah kakak' batinnya percaya diri.


Zahra melihat betapa percaya dirinya sila. 'aissh biarkan saja ia mengangkat wajahnya tinggi -tinggi nanti juga jatuh numpuk dengan kepala tahanan lainnya' batin Zahra sambil meminum tehnya dengan santai.


Edgar melihat ekspresi dua calon ratu itu.


'aishh ini terlalu terlihat aktingnya lemah ga bisa membuat drama' batin edgar melihat sila yang tersenyum remeh dan terlalu percaya diri. Lalu beralih menatap Zahra yang santai sambil meminum tehnya dengan santai.


'nah..kalau putri ini mungkin bisa di percaya' batin edgar karena ekspresi nya tidak dapat di prediksi.


Zahra yang merasa di tatap langsung menoleh menatap balik Edgar. 'oh ternyata mantan..cantik si tapi sayang mantan gapapa sih yang penting masih suci kalau gak suci gw buang aia'batin Zahra mengedipkan matanya menggoda Edgar.


Edgar yang melihat itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak ayal kupingnya sedikit memerah.


Zahra terkekeh kecil melihat bagaimana telinga putih itu memerah dan wajahnya yang cantik berusaha untuk tidak menatapnya.


'ckck tertutup topeng aja bisa membuat pangeran itu salah tingkah apalagi kalau buka topeng pasti aku akan mendapatkan tontonan bagus' batin Zahra percaya diri.


Rober memutar bola matanya malas mendengar bagaimana narsisnya nonanya ini.


Ratu malisa mendengar kekehan putrinya mengalihkan pandangannya menatap putrinya itu "apa yang kamu tertawakan putriku? Apakah ada yang menarik matamu?"


Zahra tersenyum lembut menatap bunda ratu "tidak ada bunda ratu, hanya saja.." Zahra menjeda ucapannya lalu melirik Edgar dengan senyum miring. Edgar merasakan bulu kuduknya berdiri, mungkin akan terjadi hal buruk pada dirinya. "bagaimana pangeran Edgar yang terhormat ini berkencan sedikit dengan adik sila..pangeran Edgar terlihat sangat merindukan tunangannya" lanjut Zahra berusaha menahan tawanya melihat Edgar yang menatap nya horor.


sementara sila dengan antusias sekali mendengar itu ia berjalan duduk di samping pangeran Edgar lalu memeluknya dengan erat.


Edgar mengerinyit jijik, berusaha melepaskan pelukan sila yang seperti tokek itu "lepaskan saya putri sila, saya harus segera pergi ke kerajaan prayaksa" ucap Edgar berusaha untuk tidak berlaku kasar kepada sila.

__ADS_1


Sila melepaskan pelukannya lalu menggembung pipinya "kamu mah gitu" ucap sila dengan suara yang di imut-imukan.


__ADS_2