
Wan POV
Aku terbangun karena paparan sinar matahari pagi yang menembus dari jendela kamar. Hari ini entah kenapa aku beru pertama kali bisa tidur nyenyak seperti ini.
Aku menatap sekeliling "kenapa kamarku berbeda? Apa aku di culik? Dan kenapa aku tidur di sini" gumam aku bingung karena aku tidur di kursi panjang dan seingatku kamar milikku tidak semewah ini.
Plak
Pipiku terasa panas dan sakit berarti ini bukan mimpi. Tunggu sepertinya aku melupakan sesuatu
Aku pergi ke kediaman putri pertama atas perintah ratu dan kemudian aku menghadap ke putri Zahra kemudian putri Zahra menyuruhnya meminum racun kemudian putri Zahra mengelus rambut ku sampai aku tertidur. Eh
Aku tertidur?! Tertidur di kediaman putri Zahra?!
Aku segera duduk, lalu memeriksa terongnya di balik pakaian nya "huh untung aku tidak kehilangan ukuran ini kalau tidak yang mulia Zahra pasti akan membuang ku kalau yang mulia mempunyai selir lain" gumamku dengan lega. Siapa yang tidak panik saat dirimu tidur dengan seorang putri dan jika putri Zahra melakukan sesuatu sampai kehilangan perjaka. Hilang sudah harapanku.
"Oh kau sudah bangun rupanya" aku tersadar mendengar suara lembut namun terkesan dingin. Menatap ke arah pintu aku bisa melihat putri Zahra memasuki kediaman dengan pakaian yang sederhana dan topeng yang senantiasa berada di wajahnya.
"Tampan sekali"
Normal POV
"Tampan sekali" ucap wan tanpa sadar dengan tatapan yang tertuju ke Zahra tanpa mengalihkan pandangan nya.
Zahra terkekeh kecil mendengar ucapan wan "aku memang tampan karena aku perempuan sementara kau cantik karena kau laki-laki" ucap Zahra dengan suara menggoda, yah walaupun sedikit aneh mengucapkan.
Wan yang tersadar dari ucapan nya segera bangun dan bersujud di lantai.
"Maafkan saya yang mulia" ucap wan tegas.
Zahra mengerinyit dingin "kenapa kau meminta maaf? Bangunlah aku sedang perasaan baik jadi jangan membuat perasaan aku buruk karena kau tidak menuruti perintahku ini.. jadi bangunlah " ucap Zahra dengan suara dingin sangat berbeda dengan malam tadi.
__ADS_1
"Tidak yang mulia, saya harus mendapatkan hukuman dari anda karena saya lancang tidur di kediaman anda bahkan saya bangun siang" ucap wan tegas, ia tetaplah prajurit setia ratu malisa yang selalu mendapat hukuman apapun kesalahannya.
"Kau tidak menuruti perintahku?" Ucap Zahra semakin dingin, ia sedikit agak tertantang dengan pemuda di depannya. "Bangun, saya akan memberikan hukuman pantas untukmu karena membantah perintah putri ini"
Wan segera bangun "saya siap menerima hukuman dari anda yang mulia" ucapnya tegas tanpa rasa takut.
'ckk..ternyata wan ini sedikit keras kepala, tapi tak apalah aku bisa menghukumnya dengan cara ku sendiri dan ini akan sedikit menarik'
Sret
Wan kembali terduduk di kursi karena dorongan kuat dari Zahra. "Yang mulia apa yang anda.." Wan tidak dapat melanjutkan ucapannya karena merasakan pandangan tiba-tiba gelap "apa ini yang mulia? Kenapa anda menutup mata wan?"
Zahra tersenyum smrik "sttt tenanglah ini hukuman yang mungkin akan membuatmu menyesal memintanya dariku" bisik Zahra tepat di telinga wan. membuat wan merasa tidak nyaman dan tubuhnya rasanya sedikit panas.
Zahra berjalan menuju lemari dan mengambil kain, lilin "Yahh mari kita bermain sayang" gumam Zahra berjalan kembali ke arah wan yang menatapnya sedikit waspada.
"Sebelum hukuman ini di mulai, ini tawaran terakhir dariku. apa kau mau memohon padaku untuk berhenti atau mau lanjut hm? " Zahra menarik dagu wan agar saling menatap matanya.
Wan tetap tegar walaupun dalam pendiriannya "lanjutkan yang mulia"
Wan dapat mendengar ketukan dari luar kediaman. "Yang mulia, saya membawa sarapan anda" itu seperti suara pelayan.
Zahra membuka pintu lalu mengambilnya dan menutupnya kembali tanpa menghiraukan pelayan yang mungkin sedang mengumpatinya.
Zahra menghidupkan lilin aroma terapi dan meletakkan di atas meja tak jauh dari wan.
"Buka mulutmu" wan bingung namun tetap menuruti ucapan putri Zahra.
Zahra terkekeh melihat bagaimana wajah cantik itu sedikit imut membuatnya ingin memilikinya sekarang juga.
Wan terdiam merasakan lidahnya mengecap rasa yang enak, ini bukan hukuman tapi ini perlakuan manis dari putri Zahra.
__ADS_1
"Yang mulia"
"Sttt..makan lah sarapanmu, aku tidak mungkin menghukummu dengan kejam kepada kamu hmm? Sekarang menurutlah" ucap Zahra lembut mengusap pipi wan dengan lembut.
Wajah wan memerah sempurna, andai ia bisa melihat bagaimana ekspresi putri Zahra sayangnya matanya di tutup dan tangannya juga di ikat dengan erat.
Zahra tersenyum miring "sayang habiskan makanan mu dengan baik oke..jangan bicara dulu fokus sarapan"
Wan menunduk wajahnya semakin memerah "b-aik yang mulia" ucap wan gugup.. oke ia mengerti mengapa putri Zahra tadi bilang kalau akan menyesali meminta hukuman ini. Ini membuat ia tidak bisa mengendalikan detak jantungnya, wajahnya yang memerah dan tingkahnya yang mungkin terlihat aneh. Ia mengira putri Zahra akan melakukan hal kasar kepadanya.
Zahra terus menyuapi wan dengan talenta dan mengelus wajah dan rambutnya dengan lembut. Sementara wan dengan cepat-cepat mengunyah makanannya ia ingin pergi dari sini untuk mengendalikan jantungnya.
'oh nona buaya ulung, saya kira anda akan melakukan hal kasar kepada pelayan kecil itu' ucap Rober dengan malas, padahal ia sudah menunggu adegan BDSM.
"Aku tidak sekasar itu kepada pasangan ku oke..kecuali ia sudah sangat ketertaluan dan di luar batasan" ucap Zahra tenang.
'yah terserah nona saja'
Beberapa saat kemudian makanan di piring sudah habis tidak tersisa. Zahra benar-benar menyuapi wan sampai makanan yang di bawakan pelayan habis.
"Yang mulia? Apakah hukuman ini sudah selesai? Saya ingin menemui ratu malisa " ucap wan, ia sebenarnya tidak ada rencana menemui ratu malisa. Ia hanya ingin menghindar dan menenangkan perasaan nya.
"Oh ya? Padahal aku ingin berjalan-jalan dengan mu sayang.. tapi ya sudah lah" Zahra membuka penutup mata wan dan melepaskan ikatan tangan wan.
Saat penutup mata terlepas wan berusaha untuk tidak saling menatap dengan zahra.
"Terima kasih yang mulia, saya pamit undur diri" setelah mengucapkan itu wan berjalan cepat keluar kediaman.
"Hati-hati wan sayangg...ingat aku selalu menantimu sayang " teriak Zahra dengan nada menggoda, membuat para pelayan yang mendengarnya langsung bergosip.
Begitupun dengan sila yang ingin pergi ke kediaman Zahra melihat semua yang terjadi antara seorang putri kerajaan dengan pelayan satu kediaman bahkan memanggil dengan kata-kata yang hanya untuk orang yang sudah menikah.
__ADS_1
"Yang mulia, bagaimana kalau kita memanfaatkan hal ini untuk mempermalukan putri tidak berguna itu "
"Yah,, mari kita bermain kakak"