Handsome Ruler Queen

Handsome Ruler Queen
chapter 20


__ADS_3

"berdiri dengan tegak lah.. kau harus bisa meminum anggur ini baru bisa saya menerimamu.. kalau kau tidak mau silahkan tinggalkan kediaman ini " ucap Zahra menyodorkan gelas yang tadi ia sondorkan kepada pelayan Nola.


"Baik yang mulia" ucap wan dengan santai mengambil gelas anggur itu dan meminumnya sampai kandas. "Sudah yang mulia, saya sudah meminumnya sampai habis. Apakah saya bisa mendampingi anda setiap saat " ucap wan menunjukkan gelas yang sudah kosong itu kepada Zahra.


Zahra tersenyum, ia merasa tertarik dengan wan "hmm kenapa kau meminumnya tanpa ragu? Bukankah seharusnya kau ketakutan atau takut pada kematian?" Tanya Zahra duduk dengan angkuh melepaskan topengnya. Ingat wan sudah tahu wajah Zahra dan juga sudah ber sumpah jadi ia tidak akan ragu untuk melepaskan topengnya jujur saja ia pengap terus memakai topeng. Tenang pintunya sudah di tutup dan jendelanya itu menghadap ke danau jadi aman.


"Saya yakin anda tidak benar-benar berniat meracuni saya atau bahkan pelayan Nola, anda hanya ingin mengetes kepercayaan seseorang dan pelayan Nola adalah orang yang sangat tidak bisa di percaya. Lagipula saya sudah pernah merasakan situasi ini saat awal bersama yang mulia ratu" jelas wan dengan sopan, menundukkan kepalanya ia tidak berani menatap wajah putri Zahra karena itu akan membuat jantungnya semakin berdebar.


"Oh? Bagaimana awal kau menghadapinya saat ibunda ratu memberikanmu gelas anggur racun" ucap Zahra merasa tertarik dengan pemuda di depannya 'yah wajahnya masih standar kecantikan, hanya saja auranya lebih ke datar' batin Zahra merasakan aura pemuda di depannya yang hanya datar dan tidak ada yang menarik kecuali kesetiaan nya kepada majikannya.


"Saya meminumnya karena saya ingin membuktikan kepada yang mulia ratu bahwa saya setiap hidup dan mati kepada yang mulia ratu" ucap wan tenang


"Yah... Selamat bergabung dengan putri ini wan.. angkat wajahmu dan tatap saya" ucap Zahra dengan suara lembut


Wan yang mendengar suara lembut tersebut berusaha untuk mengendalikan wajahnya agar tidak memerah dan perasaannya yang gugup. Dengan perlahan dia mendongak menatap wajah tampan namun juga cantik.


"Ya yang mulia" jawab wan dengan suara yang berusaha untuk tidak terdengar gugup.


"Apakah kau masih perjaka?" Ucap Zahra blablakan yang membuat wan memerah.


"K-enapa anda bertanya tentang hal itu yang mulia? " ucap wan gugup, kenapa putri Zahra menanyakan keperjakaannya? Apakah itu penting dengan pekerjaan nya sekarang.


"ya mungkin ini terdengar sedikit mengganggu urusan pribadi mu ta-"


"Tidak yang mulia anda sama sekali tidak mengganggu tentang hal pribadi saya" ucap wan cepat memotong ucapan Zahra dengan tingkah yang menurut Zahra lucu.


"Jangan memotong ucapan ku wan" ucap Zahra dengan suara penekanan, ia tidak suka ucapannya di potong.


Wan menundukkan kepalanya "maafkan saya yang mulia" ucap wan dengan suara penyesalan.

__ADS_1


Zahra ingin sekali mengusap rambut pendek dan hitam milik wan, pemuda di depannya seperti kucing yang ketakutan karena di lukai oleh orang lain.


"Ehem " Zahra berdeheman untuk menghilangkan pikirannya yang sedikit kurang akal. Entah kenapa sejak masuk ke dunia ini ia menjadi keblablasan memilih banyak lelaki sekarang aja sudah 2 calon yaitu Edgar dan kenza itupun mereka mempunyai hubungan keluarga. 'yah tambah satu lagi gapapa lah biar tambah rame' batin Zahra tidak yakin ia hanya akan menambah wan sebagai yang terakhir.


"Saya hanya ingin memastikan, kau tahu saya sedikit kurang suka dengan orang yang sudah pernah di gunakan kecuali orang itu dipaksa atau di perkosa begitu saja atau mungkin kau sudah mempunyai seorang kekasih usahakan itu tidak akan mengganggu pekerjaan mu sebagai pelayan pribadiku " ucap Zahra dengan suara datar dan tegas.


"Saya masih perjaka yang mulia, dan saya tidak mempunyai seorang kekasih yang mulia" ucap wan tegas menatap mata Zahra . Namun Zahra dapat melihat telinga pemuda di depannya memerah.


Zahra terkekeh melihat pemuda di depannya berusaha menahan malu "mendekatkan " perintah Zahra lembut


Wan memiringkan kepalanya bingung, tapi tak ayal ia menuruti perintah Zahra.


"Duduklah di lantai di depan diriku" wan mendengar hal itu hanya menurutinya.


Puk


"Y-yang mulia? Kenapa anda melakukan ini"


"Ya? Tenanglah tidak perlu gugup seperti itu, aku dari awal sangat ingin mengelus rambutmu Yang sangat lembut ini. Dan nikmatilah jangan tegang begitu" ucap Zahra terkekeh geli melihat reaksi wan yang gugup begitu.


"Bagaimana kalau ada yang melihatnya yang mulia, itu akan sangat berpengaruh buruk untuk reputasi anda" ucap wan khawatir ia takut akan ada yang tiba-tiba muncul ke kediaman putri Zahra.


"Ssttt jangan membantah, kalau tidak ingin kau di usir dari sini"


Wan menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tidak berani menatap wajah putri Zahra namun dapat di lihat matanya memancarkan kebahagiaan dan kesenangan.


Zahra meletakkan kepala wan di pahanya sambil mengelus rambut wan dengan lembut. "kau tahu wan, mungkin mulai hari ini dan seterusnya aku akan terus ingin mengelus rambutmu"


Wan senang? Tentu saja senang karena ia akan terus mendapatkan kelembutan dari tangan putri Zahra. Ia sangat bersemangat untuk hari kedepan. Tapi ia sedikit sedih karena mungkin ia tidak akan bisa bersama putri Zahra. 'Wan tenanglah, kita lihat kedepannya apakah aku bisa bersama putri Zahra atau hanya bisa menahan iri kepada pangeran edgar' batin wan mendusel kepalanya di paha Zahra.

__ADS_1


"Wan..aku ingin bertanya padamu " wan mendongak menatap putri Zahra "dari sejak kapan kau me mata-mataiku?" Tanya Zahra, sebenarnya ia sudah tahu semuanya dari Rober hanya saja ia ingin mendengar ke jujuran wan.


"Saya di perintahkan yang mulia ratu untuk menjaga anda yang mulia, jadi saya menjaga anda Dari kejauhan karena kalau saya di dekat anda mereka pasti akan tidak berani menunjukkan wajah yang asli" ucap wan jujur, tidak ada gunanya ia berbohong di depan putri Zahra.


"Ternyata kau tahu tentang wajah penuh topeng ya"


"Tentu saja saya tahu yang mulia, karena dari dulu saya sering melihat di kerajaan ini saat mendampingi yang mulia ratu bertemu dengan bangsawan ataupun penjabat mereka akan menggunakan kata kata manis di depan yang mulia ratu dan akan menggunakan kata-kata racun di belakang yang mulia ratu" ucap wan pelan "bahkan saya tahu bagaimana tebalnya topeng putri angkat kerajaan ini," gumam wan namun Zahra masih bisa mendengar nya dengan baik.


"Kau pengamat yang baik rupanya wan, sekarang istirahat lah sejenak " ucap Zahra mengelus rambut wan dengan lembut. Sedangkan wan sangat menikmatinya bahkan ia berusaha untuk tidak tertidur karena ia duduk di lantai. Zahra menyadarinya jadi ia meminta pada wan untuk pindah di kursi panjang tak jauh dari mereka.


"Kau pengamat yang baik rupanya wan, sekarang istirahat lah sejenak " ucap Zahra mengelus rambut wan dengan lembut. Sedangkan wan sangat menikmatinya bahkan ia berusaha untuk tidak tertidur karena ia duduk di lantai. Zahra menyadarinya jadi ia meminta pada wan untuk pindah di kursi panjang tak jauh dari mereka.


Wan hanya menurut merebahkan kepalanya di paha putri Zahra memejamkan mata menikmati elusan lembut putri Zahra.


Zahra menatap wajah cantik yang sedang memejamkan mata "indah sekali " gumam Zahra sedikit geli ia merasa seperti tertarik sesama jenis.


'tuan anda semua di embat, bahkan wan si pelayan polos anda embat' ucap Rober dari awal bagaimana melihat nonanya mempermainkan wan yang hanya bisa menurut. Ia dapat melihat bagaimana pelayan yang tiduran di paha nonanya memancarkan kebahagiaan. Oh oke wan ini sudah jatuh cinta dari awal pantas saja tidak memberontak.


"Aku suka dengan wan yang hidupnya datar namun sangat setia aku suka itu, siapa tahu kelak saat aku sudah tidak tampan lagi dan semua pergi meninggalkanku.. hanya wan yang akan selalu mendampingi ku" ucap Zahra lembut mengelus mata cantik yang terpendam itu.


'anda begitu yakin nona, setiap manusia akan bisa berubah seiring jalannya waktu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan dan kita tidak akan bisa memutar waktu untuk memperbaiki yang sudah berlalu' ucap Rober panjang lebar 'dan apakah anda yakin, wan tidak akan menghianati anda?'


"Aku yakin Rober, aku bisa merasakannya dan aku sangat ingin mengikatnya agar keluarga ku semakin ramai" ucap Zahra dengan penuh tekad ia akan mencari banyak lelaki untuk dirinya sendiri.


'ck dasar nona mata buaya' celutuk Rober lalu menghilang begitu saja meninggalkan nonanya yang mengelus rambut wan dengan begitu menghayati.


"Ya gapapa jadi buaya..yang terpenting aku bisa membiayai mereka semua agar makin gembul makin imut atau bisa makin gagah makin ganteng" gumam Zahra terkekeh geli membayangkan seberapa senangnya hidupnya karena di temani banyak orang yang sangat ia sayangi.


Sementara wan entah kenapa ia bermimpi di kelilingi mata mata yang penuh dengan obsesi.

__ADS_1


__ADS_2