
"Perkenalkan nama saya kenza pradiksa dari kerajaan prayaksa sekaligus adik sepupu dari pangeran edgar" ucap pemuda itu dengan percaya diri
"Gak nanya" kenza yang mendengar jawaban dari perempuan bertopeng itu hanya menatap datar.
"Anda sama menyebalkan seperti sepupuku itu.. ternyata kalian begitu cocok sekali" ucap kenza mengedipkan matanya menggoda Zahra.
Bukannya tersinggung Zahra malah tersenyum bangga "tentu saja kami cocok. Hanya saja itu berlaku kalau sepupu mu itu masih perjaka tidak barang bekas" ucap Zahra santai tanpa sadar membuat tersinggung pihak lain.
"Ckk tentu saja sepupuku itu masih perjaka, memangnya sepupuku itu cowo apaan sampai merelakan perjaka nya hilang di tangan orang yang salah" ucap kenza tak terima kalau sepupunya di bilang hal tidak-tidak.
Zahra mengedikkan bahunya acuh"ya siapa tahu sepupu mu itu kehilangan keperjakaan nya karena di perkosa"
"Anda mendoakan sepupu saya kehilangan keperjakaan nya dengan tidak hormat?!"
"Saya tidak ada mendoakannya tuh.. saya hanya menebak bukan mendoakan hal yang tidak-tidak " ucap Zahra santai bersidekap dada lalu berbalik duduk di gazebo.
Kenza hanya berdecak lalu menyusul Zahra duduk di gazebo.
"Apa anda tidak tertarik dengan sepupuku itu?" Ucap kenza heran pasalnya dari awal perempuan di depannya begitu santai menjawab segala ucapannya. Apalagi mata itu sama sekali tidak menunjukkan rasa tertarikkan.
Zahra menatap pemuda cantik di sampingnya "ya bagaimana ya.. saya akui kalau pangeran Edgar sangat indah dan begitu cantik namun saya tidak begitu tertarik dengan keindahan itu kalau dia tidak berguna untuk saya"
Kenza mengerinyit bingung "tidak berguna? Maksud anda sepupuku itu tidak berguna gitu?! Apa anda tidak mendengar semua rumor sepupuku itu selama ini? " Tanya kenza pasalnya selama ini begit banyak yang mengetahui bahwa pangeran Edgar begitu pandai memanah bahkan pernah ikut serta dalam peperangan, tidak mungkin kan putri di depannya tidak mengetahui hal itu? Bukankah putri ini terkenal sebagai tunangan Edgar dulu dan sekarang jadi mantan tunangan bukankah itu seharusnya cukup punya kuasa untuk mengetahui kehidupan Edgar atau semua hal tentang Edgar.
__ADS_1
Zahra menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin ia tidak tahu rumor itu, hanya saja ia tidak akan percaya sebelum itu terjadi di depan matanya sendiri. "Anda tahu kalau ingin mendapatkan kepercayaan dari saya..maka saya harus melihat di depan saya sendiri buktikan di depan mata saya" ucap Zahra tenang, ia sebenarnya yakin kalau Edgar itu hebat dan memiliki bakat yang bagus itu bisa terlihat dari bagaimana Edgar mengambil keputusan pada saat membuat sebuah pertandingan pemilihan ratu.
Kenza menghela nafas kasar "apakah aku harus melakukan hal tersebut juga agar bisa tetap mengikuti sepupuku itu " gumam kenza, ia ingin mengikuti kemana pun sepupunya berada. Entah itu hal yang menyenangkan maupun hal yang mengerikan.
"Jadi maksud anda? Anda ingin menjadi selirku juga kelak hanya untuk tetap mengikuti sepupumu itu?" Ucap Zahra sedikit terkekeh geli membayangkan mempunyai begitu banyak selir dengan sifat-sifat yang beragam.
Kenza tersenyum kaku ia sedikit malu mengakuinya jadi ia hanya bisa menggaruk tekuknya yang tidak gatal, namun Zahra mengerti melihat ekspresi dan tidakan pemuda di depannya membuat Zahra seketika tertawa keras.
"Haha.. ciee calon selirku ini sangat pemalu rupanya" ucap Zahra tidak bisa berhenti tertawa melihat pemuda di depannya semakin malu.
"Ber-henti lah tertawa..apa anda menerima aku sebagai selir anda tanpa seleksi" ucap kenza berusaha mengendalikan rasa gugupnya.
"Gimana ya" ucap Zahra menggoda kenza.
"Serius lah yang mulia" ucap kenza cemberut ia mulai kesal karena di goda.
'yah.. pasti akan ramai' batin Zahra tersenyum lembut, ia ingin mempunyai banyak anggota keluarga. Penuh dengan canda, tidak kesepian, saling melindungi satu sama lain dan penuh dengan kehangatan. "yah sepertinya tidak segampang itu" gumam Zahra
"Apa maksud anda yang mulia? " tanya kenza mendengar gumaman Zahra.
Zahra menggelengkan kepalanya "tidak ada..berhentilah berbicara formal denganku"
Kenza mengangguk atusias, lalu segera pamit undur diri. ia tidak sabar untuk pamer kepada sepupunya.
__ADS_1
Zahra terkekeh geli melihat betapa girang nya pemuda itu.
'cieee nona... Aciee ckrukut kukru' tiba tiba suara dari Rober membuat Zahra kesal.
"Aisss kau selalu saja mengganggu kesenanganku" ucap zahra kesal.
'jangan begitu lah nona.. saya hanya bercanda dan sedikit gabut' ucap Rober dengan suara memelas 'oh ya nona ...mengapa anda begitu mudah menerima pemuda itu nona? Padahal anda baru mengenalnya' tanya Rober penasaran, memang pemikiran nonanya ini tidak bisa di tebak.
"Karena aku menyukai aura nya itu, aku hanya mengikuti kata hatiku yang merasa nyaman dengan pemuda itu.. pemuda itu kenza bisa membawa aura menyenangkan yang akan membuatku tersenyum berbeda dengan sepupunya yaitu Edgar yang memancarkan aura wibawa dan sedikit tegas itu membuatku kagum..Edgar cocok untuk membawa aura menyenangkan sedangkan Edgar cocok menjadi seorang raja " jelas Zahra panjang lebar
'Apa yang anda ucapkan memang benar nona, pemuda ini sangat menyenangkan walaupun terlihat seperti orang yang menyebalkan namun auranya begitu ceria' ucap Rober membenarkan apa yang nonanya katakan 'tapi nona mengapa anda secara langsung merengkrutnya sebagai selir?'
Zahra mengedikkan bahunya "ya kalau dia sudah menawarkan dirinya terlebih dahulu siapa yang akan menolak, lagipula itu adalah hal yang menarik karena aku tidak perlu susah susah untuk membujuk atau bahkan membuat dekrit kerajaan hanya untuk melamarnya" ucap Zahra santai
Rober mendatarkan wajahnya 'jadi maksud anda, anda akan menerima semua laki laki yang menawarkan dirinya begitu? Termasuk para katamit?'
"Tentu saja tidak..aku masih punya selera aku tidak se brengsek itu untuk mengambil semua laki laki yang melempar dirinya padaku " ucap Zahra kesal, ia tidak ingin salah memilih pasangan berujung keluarga bahagia yang ia impikan hancur begitu saja. Big no ia tidak mau hal itu terjadi.
'oh' Rober hanya ber oh ria lalu menghilang begitu saja.
Zahra berdecak, berdiri ia memutuskan untuk ke kediamannya karena hari sudah mulai panas. Ia akan mempersiapkan sedikit kejutan untuk adiknya itu.
"hah pasti hadiahnya sudah sampai di kediaman, semoga saja bungkusan nya rapi dan tidak ada bolongnya sedikitpun" gumam Zahra mengingat ucapan Rober yang mengatakan kalau sila mempersiapkan hadiah untuknya dan akan di kirim sekarang juga.
__ADS_1
Sesampainya di kediaman ia melihat seorang pelayan yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
Zahra berjalan dengan tegap tanpa menundukkan kepalanya. Seorang pemimpin tidak seharusnya menundukkan kepala.