Hanya Aku!

Hanya Aku!
Tangisan Aulia


__ADS_3

Aulia segera keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan sedikit tergesa-gesa.


"Auliaaaa....


langkah Aulia terhenti karena seseorang memanggil namanya, Aulia pun menoleh ke asal suara yang berasal dari arah meja makan.


"Mamy..." lirih Aulia.


"kamu mau berangkat sekolah ya" ujar sang Mamy.


"Iyah,kenapa?" jawab Aulia dengan muka datarnya.


"Sarapan dulu sini nak', sekalian ada yang Mamy mau sampaikan," ujar sang Mamy.


Aulia pun menghampiri sang Mamy, tapi Aulia tidak ada niatan untuk sarapan bersama orang tuanya. Entah kenapa sikap Aulia terkesan begitu dingin pada orang tuanya, mungkin karena itu bentuk rasa kekecewaan dia terhadapnya karena dari kecil Aulia tidak pernah mendapatkan perhatian dari mereka.


"Ada apa Mam?" tanya Aulia masih dengan muka datarnya, dan dengan posisi berdiri.


"Sarapan dulu nak"..


"Tidak, aku tidak berselera untuk sarapan, katakan apa yang ingin Mami katakan"..


Ibu dari Aulia menghela nafasnya begitu berat, entah beban apa yang wanita paru baya itu rasakan.


"Begini nak, Mami ingin bertanya satu hal sama kamu, kalau kamu di haruskah untuk memilih, kamu akan memilih siapa? Mami atau Papi?" tanya sang Mami dengan hati-hati.


Aulia sudah curiga dengan pertanyaan sang mami, pasti ada yang tidak beres , itu yang ada di pikiran Aulia.


"Apa maksud dari ucapan Mami itu, bicara saja Mam dengan terus terang, tidak usah berbasa-basi," ujar Aulia dengan tegas.


"Baiklah, Mami akan katakan yang sesungguhnya, tapi Mami harap kamu mengerti ya nak"...


Aulia tidak menjawab nya , Aulia hanya mendengar kan dengan mimik muka begitu tegang.


"Mami dan papi akan berpisah. Dan kami akan memberi pilihan padamu untuk memilih tinggal bersama siapa, Mami atau Papi?" jelas sang mami.


Aulia menegang dia tidak menyangka kalau akhirnya orang tuanya akan berpisah, syok itu yang dirasakan Aulia, ingin sekali dia menangis tapi sebisa mungkin di tahannya.


"Aku bisa hidup sendiri, karena aku sudah terbiasa sendiri. Tapi aku harap kalian tidak melupakan kewajiban kalian untuk terus menafkahi anak semata wayang kalian ini. Dan satu lagi ini rumah milik ku, jika kalian ingin berpisah aku harap tidak ada yang merebutkan rumah maupun seisinya, dan aku minta tanggungan bulanan di tambah lagi. Udah itu saja, kalau gitu aku permisi," ujar panjang lebar. Dan langsung berlalu pergi.


Seketika air mata Aulia menetes kala jarak sudah jauh dari Maminya, air mata yang di tahan sedari tadi saat mendengar kabar kalau orang tuanya akan berpisah akhirnya merembes juga..

__ADS_1


Sungguh menyesakkan dada, Aulia berjalan sambil menundukkan kepalanya, dia tidak menyangka orang tuanya yang memang sejak dia kecil sangat sibuk ternyata akhirnya akan berpisah.


Semua yang terucap dari mulut Aulia perihal negosiasi dengan orang tuanya, itu bukan semata-mata tidak peduli akan nasib pernikahan ayah dan Ibunya. Hanya saja ia berkata seperti itu untuk meluapkan emosi dan rasa kecewanya.


Saat dia keluar dari gerbang rumahnya, ada seseorang yang terus memperhatikannya, tapi Aulia tidak menyadari itu karena terlarut dengan kesedihan nya.


"Aulia...." panggil orang itu


Aulia terus berjalan dan orang itu memanggil untuk yang kedua kalinya, "Aulia..."Aulia menoleh ke asal suara


Seseorang yang sedang duduk di motor besar nya dengan pakaian rapih lengkap dengan helm di kepalanya.


"Kau siapa?" tanya Aulia dengan suara serak karena masih dengan air mata yang terus menetes.


"Kamu tidak apa-apa Aulia" tanya orang itu merasa cemas dan langsung membuka helmnya.


"Steve, bawa aku pergii," Aulia menghambur ke pelukan Steve dengan tangis yang sangat menyayat hati jika orang mendengar nya.


"Heeyy! tenanglah ada aku disini, ok kita pergi dari sini ya," ujar Steve menenangkan Aulia dan menuntun Aulia untuk menaiki sepeda motor nya.


Selama di perjalan Aulia terus menangis sampai sepeda motor itu berhenti disebuah dam pantai, suasana yang sepi karena bukan hari libur dan masih terbilang pagi maka dari itu Steve sengaja membawa Aulia ke pantai untuk Aulia leluasa menuangkan rasa sedih nya.


"Apa salah ku Steve hiks,, hiks,, hiks" Aulia terus menangis, Steve paham dengan arti tangisan Aulia, mungkin ini masalah yang sangat berat.


"Cerita lah pada ku Aulia, jika itu bisa meringankan beban kesedihan mu." Steve terus berusaha menenangkan Aulia dengan cara mengusap lengan Aulia.


Aulia pun menceritakan semuanya, dari kecil yang tidak sama sekali mendapatkan perhatian dan harus menjalani hari-harinya dengan ibu pengasuh sampai orang tuanya memutuskan untuk berpisah.


Steve turut ikut merasakan kesedihan Aulia, dia bisa paham dengan perasaan yang Aulia rasakan.


"Aulia kau tidak sendiri, banyak orang yang peduli dengan mu, salah satunya aku, aku sekarang kan teman mu juga." Tidak terasa Steve juga ikut mengeluarkan air matanya.


Steve mendekap erat tubuh Aulia untuk menyalurkan kekuatan hatinya Aulia yang sedang rapuh itu.


|||Di sekolah|||


Bel telah berbunyi tapi Aulia tidak kunjung terlihat di mata sahabat nya, Rani.


Rani terlihat gusar memikirkan sahabat nya, tidak biasanya dia tidak mengikuti pelajaran, Rani tau Aulia sangatlah rajin sekalipun Aulia sedang tidak sehat, Aulia akan tetap memaksakan diri untuk tetap masuk ke sekolah.


Rani tidak fokus dengan pelajaran yang sekarang berlangsung, Rani terus menghubungi nomor Aulia tapi tidak ada jawaban, sampai istirahat tiba Rani tetap berusaha menghubungi sahabat nya tapi tetap tidak ada jawaban.

__ADS_1


Rani duduk termangu di kantin dengan semangkok Mie yang terus di aduk dan tidak ada niatan sama sekali untuk di makan.


"Dee... kamu kenapa?" ujar Bima sang kaka menghampiri yang sedari tadi memperhatikan adiknya dari meja sebrang.


"Bang... Aulia tidak masuk" Rani merengek pada kakanya, sesungguhnya Rani memanglah gadis yang sangat manja pada sang kaka.


"Aulia tidak masuk, kenapa?" tanya Bima dengan lembut.


"Aku tidak tahu, tidak biasanya Aulia seperti ini nomor nya pun sulit sekali di hubungi." Rani terus merengek.


"Mungkin Aulia ada keperluan mendadak sampai dia tidak bisa masuk sekolah dee, udah lah jangan sedih begitu," Bima terus memberi pengertian pada adiknya.


"Tapi Bang, perasaan aku tidak enak," Rani menyandarkan kepalanya di bahu kakanya, pemandangan seperti itu jika bukan adik kaka sangatlah romantis..


" Hey kalian berdua kenapa, aku lihat sangat romantis sekali, mungkin kalau seluruh murid tidak tau menahu kalian, pasti akan mengira kalian adalah pasangan kekasih yang sedang kasmaran"ujar Hari yang baru saja tiba.


"Diam lah Ka Hari, Rani sedang sedih niih" ujar Rani memasang muka sinisnya.


"sedih kenapa Ran?,oh yaa Aulia mana?" tanya Hari yang baru menyadari tidak ada Aulia di samping Rani.


"itu sebanya Rani sedih Ka" lirih Rani.


"Aulia kenapa Ran, apa Rani sakit?" Hari seketika sangat khawatir.


"Aku tidak tau, Aulia tidak memberikan ku kabar sama sekali, bahkan aku telpon ke rumahnya saja katanya Aulia sudah berangkat ke sekolah, tapi hari ini Aulia tidak masuk kelas dan nomor nya susah sekali di hubungi," jelas Rani.


Bima dan Hari ikut mencemaskan Aulia.


"Baik lah kalau begitu aku akan mencari Aulia, aku akan izin pada guru" ujar Hari yang langsung berlalu pergi.


"Abang juga akan ikut mencari Aulia, kau tetap lah disini, belajar dengan baik, nanti jika sudah ketemu, abang akan memberi tahu mu," ucap Bima .


"Tapi bang,, aku mau ikutt" Rani terus merengek sampai akhirnya Bima terpaksa meng'iya'kan keinginan Rani sang adik.


Hari Bima dan Rani izin pulang, dan mencari Aulia secara berpencar Hari sendiri dan Bima bersama adiknya.


bersambung...


happy reading..


jangan lupa tinggalkan jejaknya ya,budayakan like vote dan rate⭐5nya ,terimakasih 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2