Hanya Aku!

Hanya Aku!
Harus Tegar


__ADS_3

Mami Dewi masih melihat kamar anaknya dari ruang tamu, dia melihat dengan pandangan nanar, dan baru tersadar dengan suara deheman Grace di sampingnya.


"Maafkan Aulia ya Grace, Aulia memang seperti itu sejak dulu, anaknya tertutup dan sedikit jutek, tapi aslinya baik kok," ucap mami Dewi tapi tidak dapat tanggapan dari Grace.


"Ya sudah yuk kita shoping, tante akan traktir kamu belanja apa pun yang kamu mau!" ucap mami Dewi membujuk Grace yang terlihat bete karena jabatan tangannya tadi tidak di tanggapi Aulia.


"benarkah?? kalau gitu ayok Tan" dengan mata berbinar dan langsung bergelayut manja di lengan mami Dewi.


Mami Dewi dan Grace berlalu pergi tanpa tau ternyata Aulia melihat interaksi keduanya yang sangat akrab.


Aulia berusaha Manahan diri untuk tidak menangis lagi, tapi dadanya seakan di hujami ribuan jarum, jantungnya berdegup begitu kencangnya.


Bisa-bisanya ibu kandungnya lebih memanjakan anak orang lain ketimbang dirinya sendiri itu lah isi pikiran gadis yang sedang berdiri terpaku di ujung tangga bahkan hanya untuk bepergian atau shoping bareng Maminya pun Aulia tidak pernah merasakan itu.


"Apa aku boleh merasakan cemburu terhadap ibu ku sendiri, ya Tuhan sesakit ini melihat mami lebih dekat dengan orang lain ketimbang anaknya sendiri," gumam Aulia yang entah sejak kapan dia sudah terduduk di anak tangga dengan memeluk erat kakinya sendiri, Aulia menangis sekencang-kencangnya dengan mulut di bungkamnya.


Tidak! ia tidak bisa menahan lagi, dan berjanji kalau tangis nya kali ini, adalah tangisan terakhirnya.


"Non, Non Aulia... Non Aulia kenapa?" ucap panik Bi Ane yang langsung lari tunggang langgang menaiki anak tangga .


"Non Aulia kenapa, coba cerita sama Bibi" ucap bibinya lagi yang terus mengelus lembut kepala Aulia yang sedang menangis.


"Bii,, mami bii" lirih Aulia yang langsung memeluk tubuh pembantu rumah sekaligus pengasuhnya sedari kecil itu.


"Ayo kita ke kamar aja, jangan duduk di lantai seperti ini." Bi Ane menuntun Aulia untuk bangun dari lantai dan membawanya ke kamarnya.


Sampai di kamar Aulia menceritakan apa yang di dengar dan apa yang sudah dilihat nya.


"Yang sabar ya Non, masih ada Bibi disini, Non jangan berpikir macam-macam ya Non, setiap orang tua pasti sayang terhadap anak nya kok!" Bi Ane terus menenangkan Aulia yang masih terisak.


"Non harus bangkit, Non ga boleh cengeng, Non harus kuat, buktikan kepada orang tua Non, kalau Non bisa menghadapi ini semua"..


"Makasih ya Bi…"ucap tulus Aulia.


.


Keesokan nya Aulia bangun dari tidurnya yang memulainya dengan senyuman, Aulia benar-benar memutuskan untuk menerima keadaan apapun itu dengan tegar.

__ADS_1


"Bibi Aulia mau sarapan nasi goreng kuning buatan bibi dong!" ucap riang Aulia yang menghampiri Bi Ane yang sedang mencuci piring di dapur.


"Waah Non Aulia keliatan segar sekali ya pagi ini. Siap Non! Bibi akan buatkan nasi goreng spesial buat Non." Bi Ane sebenarnya merasa aneh, pasalnya baru kemarin sore Aulia menangisi Maminya dan pagi ini Aulia terlihat sangat ceria, tapi Bi Ane ikut senang karena anak majikan nya yang sudah kembali riang lagi.


Nasi goreng favorit nya sudah tersedia di meja makan, Aulia segera melahapnya tidak menunggu waktu yang lama piring berisi nasi goreng pun tandas tak tersisa.


"Bi, Aulia berangkat sekolah dulu ya" Aulia menyambar tas ranselnya dan berlalu pergi dengan di antar supir pribadinya.


'Aku sudah memutuskan untuk tetap tegar dan kuat menjalani ini semua,' batin Aulia yang sedang berada di dalam mobil menuju sekolah nya.


Saat sudah sampai di depan gerbang sekolah Aulia segera turun dari mobilnya.


"Oohhh rupanya ada si muka pucat, belagu sekali ke sekolah menggunakan taxi online seperti itu, apa kau tidak takut kalau uang untuk makan siang mu terkuras hahahaha " ledek Susan.


"Iyah benar, anak orang miskin berlaga sok kaya!" timpal Eri dengan ketusnya.


"Apa kalian tidak ada kerjaan lain, pagi-pagi kok sudah nyinyir, permisi!" Aulia menanggapi musuhnya dengan santai dan berlalu pergi menuju kelasnya.


Mulut kedua perempuan itu terbuka lebar karena terkejut dengan tanggapan Aulia dengan nyinyiran nya.


"Susan apa si muka pucat itu sedang melawan kita?" ucap Eri.


Di depan kelas Rani sedang menunggu Aulia, saat yang di tunggu sudah menampakan batang hidungnya, Rani segera berlari kecil dan menghampiri Aulia.


"Liee... selamat pagi" ucap Rani yang sudah mengalungkan tangannya di pundak Aulia.


"Pagi Ran" Aulia menjawab dengan senyum indahnya.


"Ke kantin yuk" ajak Rani.


"Ngapain, aku sudah sarapan nasi goreng kuning buatan Bi Ane tadi Ran"..


"Tumben sekali kamu sarapan dengan nasi goreng biasanya juga hanya makan sepotong roti "..


"Iyaa emang ga boleh gitu aku makan nasi goreng untuk sarapan"..


"Hahah siapa yang larang, aku hanya heran saja" ucap Rani.

__ADS_1


"Pagi Aulia" ucap Hari menyapa Aulia.


"Pagi ka Hari" jawab Aulia dengan senyumnya.


"Hey ka Hari, ada aku juga disini looh, masa yang di sapa hanya Aulia saja!"Rani memajukan bibirnya.


"hehehehe maaf, selamat pagi Rani" ucap Hari dengan senyum kakunya.


"Eemmm" Rani hanya menjawab dengan malas.


"Oh ya Bang Bima mana, biasanya Ka Hari selalu bersama Bang Bima " tanya Aulia.


"Bima sedang berada di ruang Osis" seketika mood Hari turun karena Aulia menanyakan Bima.


Aulia hanya menganggukkan kepalanya.


"Ada yang kangen aku ya" ucap Bima yang datang dari arah belakang Aulia.


"Eehh ka Bima, apa siih aku cuma nanya aja kok!"pipi Aulia sudah memerah, dan tentu tidak lepas dari pengawasan Hari.


"Kangen juga gapapa ko Lie," goda Bima.


pipi Aulia semangkin memerah.


Dan hal itu yang membuat dada hari terasa panas.


Kriing Kriing


Suara bel tanda masuk berbunyi.


"Bim bel udah bunyi, kau masih mau disini!" ucap ketus Hari, dan tanpa pamit, Hari berlalu pergi.


Aulia melihat wajah kesal Hari, Aulia heran ada apa sebenarnya dengan Hari tiba-tiba kesal seperti itu, sungguh ketidak pekaan yang hakiki.


bersambung...


happy reading..

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejaknya ya,budayakan like vote dan rate⭐5nya ,terimakasih 🙏🤗


__ADS_2