
Aulia akan terus menyalahkan dirinya sendiri kalau saja Bi Ane tidak memberikan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.
Sosok manis Adel ternyata menyimpan sebuah amarah yang tidak beralasan. Ia mengira kalau ibunya tidak lagi menginginkan hidupnya dan lebih memilih menyelematkan nyawa Aulia saat itu. Yang bahkan sebenarnya terjadi bertolak belakang dari itu.
Ane memberikan ginjal milik Adel hanya semata-mata agar apa yang anaknya punya lebih berguna untuk yang membutuhkannya. Dan itupun setelah ia mengetahui anaknya telah tiada.
Tapi entah atas dasar apa, Adel yang mengira bahwa ibunya lebih menginginkan nyawa Aulia, tiba-tiba mau berteman dengan Aulia.
Sosok Adel tidak lagi terlihat sejak hari itu. Tentu membuat Aulia merasa bersalah dan kehilangan.
Diatas balkon. Aulia tengah termenung, banyak beban yang tengah ia pikirkan. Pertama ibunya yang ia anggap memang tidak pernah menyayanginya lalu meninggalkan dia. Dan kedua Adel sahabatnya yang pergi dengan marah padanya.
Matanya melihat pohon yang dulu tempat ia meluapkan tangisnya dan pada akhirnya bertemu dengan Adel. Aulia pun beranjak dari sana untuk menuju halaman belakang.
Berjalan dengan perlahan ia pun telah sampai di bawah pohon rimbun itu. Duduk dengan bersandar di badan pohon, berulang kali ia memanggil nama Adel dengan begitu lirih namun tdiak sama sekali ia mendengar sahutan dari Adel.
''Apa aku harus ikhlas tidak akan lagi melihat kamu, Adel,'' gumam Aulia.
Aulia menghela nafasnya pelan, matanya melihat kupu-kupu yang terbang begitu cantik. Hati yang sangat ingin menangkapnya iapun mengikuti kemana kupu-kupu itu terbang.
''Cantik sekali.'' Aulia saat ini berdiri tepat dibawah balkon kamarnya. Tangannya bergerak pelan untuk mengambil mahkluk cantik itu, kupu-kupu yang bercorak indah yang hinggap di tanaman hias milik Maminya.
Tanpa ia sadari diatas sana ada vas bunga yang hampir terjatuh tepat di atas kepalanya.
Wuusshhh …
''Aulia!!!!'' teriak seseorang yang saat ini berlari kearahnya lalu menarik lengan Aulia agar menghindar dari vas yang saat ini akan menimpah kepalanya.
Bruugghh!
Prannkk!
Vas bunga itu pecah tidak beraturan dibawah, bahkan ubin pun ikut retak karena tertimpa vas tersebut. Aulia melihat syok pada vas itu, ia memegangi dadanya lalu menoleh kebelakang, tubuh yang ia tindih ternyata tubuh Steve.
''Kamu enggak apa-apa 'kan?'' tanya Steve khawatir.
''Enggak apa-apa, terima kasih ya Steve.''
Steve bangkit dan membantu Aulia berdiri. Steve mendongak keatas merasa aneh kenapa vas sebesar itu bisa terjatuh, bukankah tidaklah mungkin jika terkena angin dan lebih tidak mungkin juga vas sebesar itu ditaruh dengan sembarangan.
Aulia ikut mendongak keatas, ia memicing, karena seperti melihat bayangan hitam yang berdiri dibalik kamarnya.
''Selain kamu, Om Candra dan Bi Ane, siapa saja yang tinggal disini?'' tanya Steve dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Aulia pun menggeleng, karena memang hanya mereka bertiga yang tinggal disana. Dan Papinya pun sedang berada di kantor.
''Logikanya, tidak mungkin vas sebesar itu terjatuh karena angin 'kan.'' Steve masih merasa aneh dengan jatuhnya vas.
Aulia pun berpikiran sama dengan Steve, ia tersenyum melihat Steve yang mengkhawatirkannya. ''Mungkin tadi aku tidak sengaja menggeser vas itu saat berada di balkon, dan membuat Vasnya terjatuh karena berada diposisi yang terlalu miring kesini,'' jawab Aulia berbohong.
Entah kenapa pikirannya menuju Adel sebagai pelakunya tapi hatinya tidak ingin menduga seperti itu.
Diatas sana, sosok cantik menatap tajam pada kedua orang yang berada di bawah sana. Tatapannya penuh dengan amarah pada pria yang saat ini bersama dengan Aulia.
Ya dia adalah Adel. Entah kenapa tiba-tiba ia menyimpan sebuah dendam pada kedua orang itu termasuk sahabatnya, Aulia.
''Kamu enggak mau kehilangan ku 'kan Aulia. Kita ga akan bisa bersama karena aku enggak akan bisa hidup lagi dan tidak mungkin bisa menjadi teman nyata mu. Maka dari itu kamu yang harus ikut dengan ku, kedunia ku.'' Adel tersenyum begitu menyeramkan, aura jahat yang lebih dominan membuat Adel berbeda dari biasanya.
Ya maksud Adel berbuat demikian adalah ingin mencelakakan Aulia dan mengajaknya pergi dari dunia.
Aulia tidak tahu ternyata niat Adel berteman dengannya untuk mengajaknya kedunianya dalam artian akan membunuhnya agar se'alam dengannya.
''Ya sudah ayo, apa kamu enggak akan terlambat,'' ucap Steve pada Aulia.
Ya hari ini adalah pengumuman kelulusan para siswa-siswi disekolahnya. Tadi malam Aulia mengatakan itu pada Steve dan ternyata Steve berniat ingin mengantarkannya.
''Iya, ayo!''
Saat dijalan pun Steve masih memikirkan kejadian yang hampir membuat Aulia celaka itu, ya ternyata dia juga melihat sekilas bayangan yang berdiri di atas balkon kamar Aulia.
''Tapi siapa?'' gumam Steve dalam hatinya.
''Kenapa kamu lakukan itu, Adel.'' Dan kini Aulia lah yang bergumam didalam hati.
Keduanya sibuk dengan gumaman hati mereka. Hingga ketika seekor kucing yang menyebrang jalan membuat Steve tersadar dari lamunannya dan seketika membanting setir mobil kebahu jalan.
Tapi...
Steve tiba-tiba panik, begitu juga Aulia yang masih terkejut karena hampir menabrak kucing dan ia juga merasa aneh karena Steve tidak sama sekali menginjak remnya.
''Steve ada apa?''
''Aulia! rem nya blong!''
Aulia terbelalak lebar, ia panik tidak tahu harus berbuat apa.
''Bagaimana bisa?!''
__ADS_1
''Aku enggak tahu, jelas-jelas tadi masih baik-baik saja!''
Aaakkhhhh!!!
Aulia berteriak takut. Steve masih berusaha mengendalikan kemudi walau sebenarnya dia juga merasa takut. Laju mobilnya tidak terkendali, bahkan ia hampir menabrak beberapa kendaraan dan tiba saatnya disebuah persimpangan jalan lampu merah.
Lampu sudah menunjukan warna merah yang berarti mobilnya harus berhenti untuk memberikan kesempatan mobil lain melintas tapi sungguh rem nya tidak lagi berfungsi saat ini.
Ia menoleh pada Aulia yang terlihat ketakutan, memastikan Aulia memakai seat belt-nya dengan benar. ''Tutup mata mu!'' pekik Steve daann.. Bruukkkk!!
Hantaman keras membuat airbag mengembang. Tapi karena syok Aulia tdiak sadarkan diri, dan Steve ia masih berusaha tersadar, matanya samar-samar melihat kerumunan orang yang mengepung mobilnya saat ini.
Ya Steve mengambil keputusan menabrakkan mobilnya kepohon besar ketimbang harus menabrak pada kendaraan lain yang pasti akan fatal akibatnya.
''Cari tahu siapa pelakunya!'' Steve menghubungi seseorang dan dengan sudah payah ia bicara dan pada akhirnya ia pun tidak sadarkan diri juga.
Dirumah sakit, dua berangkar pasien kecelakaan menuju UGD. Ya mereka adalah Aulia dan Steve.
Candra yang mendapatkan kabar pun segera pergi menyusul kerumah sakit tersebut. Ia menuju didepan pintu UGD dengan khawatir berharap anak gadisnya baik-baik saja.
''Permisi! Apa benar Anda keluarga korban kecelakaan lalulintas?'' tanya seorang pria yang berpakaian seragam polisi.
''Ya benar, saya ayah dari gadis korban kecelakaan tadi,'' sahut Candra.
''Setelah kami usut, ternyata kecelakaan ini bukan hanya sebuah kecelakaan, tapi ada faktor lain dibaliknya. Kami menemukan kabel rem yang sengaja diputus, tapi Anda tenang saja, petugas kami sedang menyelidikinya,'' terang pihak kepolisian itu.
Candra yang mendengarnya tentu terkejut, ia marah dan khawatir ternyata ada seseorang yang berniat ingin mencelakakan anaknya dan Steve anak dari teman bisnisnya.
Sala seorang polisi menerima panggilan dan segera beliau jawab.
''Baik, terima kasih!'' ucap polisi itu setelah mendengar kabar dari sipenelpon.
''Pelaku sudah tertangkap. Anda bisa ikut dengan kami,'' ucap polisi itu pada Candra dan merekapun pergi dari rumah sakit.
Setibanya dikantor polisi, Candra yang marah dengan pelaku berniat ingin menghajarnya. Tapi ternyata ia dibuat syok saat melihat pelaku itu yang duduk dengan tangan yang diborgol.
''Ane?''
Tidak disangka, ternyata tersangka itu adalah Bi Ane.
''Maafkan saya Tuan, saya hanya ingin Adel memiliki teman, kasihan dia sendirian.''
Ane pun dipenjara, dan Aulia juga Steve selamat dari kecelakaan tersebut.
__ADS_1
Tamat....