Hanya Aku!

Hanya Aku!
Terkhianati


__ADS_3

Sakit hati dikhianati kekasih mungkin tidak seberapa sakitnya ketimbang merasa terkhianati oleh orang tua sendiri. Kasih sayang dan perhatian yang sangat ia inginkan dan rindukan bukannya ia dapatkan tapi malah didapatkan oleh orang asing yang baru saja masuk kedalam kehidupannya, lalu dengan mudah merebut semuanya.


Aulia menjerit dalam hatinya, ia menatap benci namun menyimpan rasa rindu dibenaknya pada wanita paruh baya yang saat ini ada didepannya. Namun, tidak bisa ia dekap walau hanya untuk mengungkapkan rasa rindu pada ibunya sendiri. Karena rasa kecewa yang teramat dalam.


Tangan yang selalu ia harapkan bisa mengusap kepalanya dikala ia terjaga dari tidurnya, justru dengan tega nyaris mengangkat tangannya bukan untuk mengusap melainkan akan mendaratkannya di wajahnya.


Aulia dapat melihat tatapan hangat pada ibunya, tapi dia juga tidak bisa mengalahkan perasaan kecewa padanya.


''Dia memang pantas mendapatkan pelajaran!'' ucap Grace pelan namun seperti sengaja untuk diperdengarkan kepada Aulia.


''Pah! kenapa juga undang mereka!'' Dan sekarang Grace melakukan aksi protesnya pada Ayahnya.


''Grace, Papa mohon…'' Alexander menegur anaknya yang semakin tidak bisa menjaga ucapannya.


''Ck, kalau bukan mamih Dewi baik padaku, aku juga malas harus bersaudara dengannya. Lihat saja penampilannya, kampungan!''


Alexander semakin tertunduk merasa malu dengan sikap anak gadisnya yang memang sudah tabiatnya seperti itu.

__ADS_1


''Maafkan anak saya Tuan Candra,'' lirih Alexander yang benar-benar tulus meminta maaf atas sikap kurang sopannya Grace.


''Nak Aulia, atas nama Grace, om meminta maaf padamu.'' Alexander dengan begitu lapang dada sedikit membungkukkan badannya demi mendapatkan maaf.


Tapi Grace yang melihat ayahnya seperti itu seharusnya merasa bersalah, melainkan ia merasa kalau ayahnya terlalu bodoh karena mau menjatuhkan harga diri karena meminta maaf pada kedua orang yang kehadirannya membuat dia muak itu.


''Pah! sudah, apa-apaan sih!'' ucap Grace dengan sedikit meninggikan suaranya.


''Iya Mas, sudah. Kamu tidak perlu melakukannya,'' timpal Dewi.


''Maaf aku tadi bertemu kenalan. Selamat untuk kalian!'' ucap seseorang yang baru saja bergabung dan tentunya tidak tahu menahu apa yang terjadi sebelumnya.


Ya dia adalah Steven. Yang memang ada disana karena Candra sendiri yang mengajaknya.


Steve memberikan sebuah hadiah pada Dewi tapi entah kenapa tiba-tiba Grace yang mengambil hadiah itu dari tangan Steve, seraya berkata dengan manis, ''Terima kasih…''


Steve hanya tersenyum karena membalas senyuman Grace. Dan itu membuat Aulia berdecak kesal.

__ADS_1


Tapi kemudian, tiba-tiba Aulia tersenyum dengan jail. Dan… Greppp!


Aulia menyelipkan tangannya di lengan Steve dan sedikit lebih mendekat. Dan satu lagi yang membuat Steve terkejut, ketika Aulia menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Steve.


''Steve, aku lapar,'' ucap Aulia dengan sangat manja, dan tentunya membuat Steve merasa aneh. Tapi dia juga tidak bisa mengelak debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu begitu kencang.


''Kamu lapar? k–kalau gitu, kita pergi ambil ya.'' Aulia mengangguk dengan memasang wajah menggemaskannya.


Dan mereka berdua pun berlalu pergi. Dewi yang melihat kedekatan Aulia dengan Steve merasa penasaran tentang hubungan mereka.


''Apa laki-laki itu kekasih Aulia?'' tanya Dewi pada Candra yang masih kesal dengannya.


''Mungkin saja,'' jawab Candra dengan cuek lalu ikut pergi dari sana.


''Candra! jangan biarkan Aulia berpacaran dulu, dia harus fokus dengan sekolahnya!'' ucap Dewi membuat Candra kembali menoleh dan berbalik.


''Saya rasa itu tidak masalah selagi Aulia merasa senang, karena dia sudah cukup bersedih karena tidak mendapatkan kebahagiaan dari keluarganya, dan kalau dia bahagia dengan seorang lelaki, sata maupun kamu! tidak berhak menentangnya!''

__ADS_1


__ADS_2