
Dirumah sakit, tepatnya diruangan ICU. Terbaring tubuh lemah seorang anak perempuan yang berusia 3 tahun. Beberapa selang menancap di beberapa bagian tubuhnya.
Tiga orang dewasa berdiri dengan rasa cemas dan khawatir diluar ruangan. ''Candra, aku tidak mau kehilangan anak kita,'' ucap seorang wanita cantik yang berpakaian sangat anggun. Yang bernama Dewi.
''Lebih baik kita berdoa terus, semoga anak kita bisa mendapatkan pendonor ginjal.''
Dewi mengangguk, ia meraup wajahnya dengan frustasi. Harapan nya hanya satu, yaitu bisa melihat anak perempuannya bisa sehat kembali dan bergabung lagi dengan mereka.
''Oh ya, Ane. Bagaimana keadaan anak mu?'' tanya Lelaki gagah bernama Candra itu.
''Keadaan Adel masih sama, beberapa kali jantungnya kambuh. Dokter menyarankan untuk membawa Adel ke rumah sakit luar negeri. Tapi, tapi pasti biayanya sangat mahal,'' papar Wanita bernama Ane Saraswati.
''Kalau kau mau, Saya bisa bantu untuk biaya nya. Jangan pikirkan masalah dana, bagaimanapun kamu adalah orang kepercayaan ayah ku, dan keluarga ku berhutang budi padamu,'' ucap Candra dengan tulus. Dan diangguki juga oleh Dewi.
Ane menangis terharu dengan ketulusan Candra dan Dewi. Tapi sesaat kemudian ia pun menggelengkan kepalanya.
''Tidak Tuan, Dokter pun mengatakan kalaupun saya membawanya keluar negeri kecil kemungkinannya Adel bisa sembuh. Karena hidup Adel hanya tersisa 30 persen.''
Ketiga orang dewasa itu menangis bersama, entah kenapa takdir begitu mempermainkan mereka bertiga, anak semata wayang mereka saat ini tengah berjuang keras untuk hidup.
__ADS_1
Tak tak tak
Suara gesekan sepatu para suster membuat perhatian mereka tersita. Beberapa perawat dan dokter berlarian menuju satu ruangan yang mana disana terdapat anak dari Ane yaitu Adel.
''Ada apa ini?'' tanya Ane dengan khawatir.
''Maaf nyonya, pasien bernama Adel kondisinya semakin menurun,'' jawab seorang perawat yang mengetahui kalau Ane adalah ibu dari pasiennya itu.
Ane luruh kelantai, ia tidak bisa lagi berpikir jernih. Pikiran negatif tidak dapat terelakkan. dapat mendengar suara kepanikan dari beberapa perawat dan dokter di dalam sana.
Dan tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan itu menatap sedih pada ibu dari pasien anak yang saat ini ia tangani.
''Dok, bagaimana keadaan putri saya?''
''Maafkan kami Nyonya. Kesempatan hidup putri Anda sangatlah tipis maka dari itu saya sarankan Anda terus berada di sisinya sebelum anak Anda benar-benar pergi.''
Pernyataan dokter tersebut membuat hati Anda begitu hancur kakinya lemas namun ia harus tetap berjalan masuk ke dalam ruangan untuk menemani anaknya di detik-detik terakhir hidupnya.
Penyakit kelainan jantung yang diderita Adel semenjak Adel lahir. Membuat Ane perlahan bisa mengumpulkan keberanian untuk nantinya menghadapi kenyataan kalaupun ia harus kehilangan anaknya. Hari itu pun ia hadapi saat ini.
__ADS_1
Ia dapat melihat raut wajah kesakitan dari anaknya, dan seakan sang anak meminta di ikhlaskan kepergiannya dari sang ibu.
Ane kembali menangis begitu lirih memeluk tubuh ringkih anaknya. Dia tidak dapat membayangkan anak sekecil itu harus merasakan penderitaan yang amat menyakitkan.
''Iya nak, iya. Ibu ikhlas sekarang. Pergilah dengan tenang, tunggu ibu disurga,'' bisik Ane ketelinga Adel.
Dan sesaat setelah Ane bicara demikian, nafas Adel pun tersengal-sengal dan detik setelah itu Adel pun benar-benar pergi dengan bibir yang sedikit tersenyum.
Seorang perawat membantu melepaskan beberapa selang yang menancap di tubuhnya, lalu menutup seluruh tubuh anak berusia 4 tahun itu dengan selimut putih. Menandakan kalau pasien itu sudah tidak lagi bernyawa.
Sejenak Ane terdiam memikirkan sesuatu dan Ia pun segera menyampaikan pada dokter apa yang saat ini tengah ia pikirkan.
''Apa Anda yakin?''
lalu Ane pun mengangguk dengan sangat yakin.
Ya begitulah jalan cerita siapa Adel disini. adil adalah anak dari Bibi Ane yang mempunyai penyakit jantung sejak Ia lahir. Dan setelah usianya sudah menginjak 4 tahun hidupnya pun berakhir dengan bersamaan anak dari majikannya sakit dan membutuhkan seorang pendonor yang cocok untuk nya.
Secara kebetulan yang memang sudah garis takdir, ginjal Adel pun sangat cocok untuk didonorkan kepada Aulia.
__ADS_1