
''Papi?'' Aulia melangkah mendekat pada dua pria yang duduk disana yang salasatu dari mereka adalah Papi nya.
''Aulia, kemarilah nak.'' Candra berdiri dari duduknya menyambut anak semata wayangnya itu yang sangat ia rindukan.
Aulia mendekat, ia juga merasakan apa yang dirasakan sang Ayah. Dia sangat rindu pada Papi nya itu.
Entah kenapa sikapnya berbeda saat Mami nya datang. Aulia lebih membuka hatinya pada pria, cinta pertamanya itu. Yaitu sang Papi.
''Bagaimana kabar kamu, hmm?'' Candra memeluk Aulia begitu eratnya.
Begitu juga Aulia. Sudah lama ia sangat merindukan pelukan sang Papi. Sampai ia pun tidak bisa menjawab pertanyaan Papi nya.
''Maafin Papi ya, Papi baru mengunjungi mu.'' Candra mencium kening anak gadisnya itu lalu mengajaknya duduk disampingnya.
Aulia menoleh kearah sofa lain yang terdapat seorang pria yang sejak tadi menyaksikan pelepasan kerinduan antara anak dan Ayahnya.
''Steve?''
''Lho! kalian sudah saling kenal?'' tanya Candra yang merasa aneh.
''Sudah om. Kami sudah bertemu beberapa kali,'' sahut Steve.
''Lie, Steve ini anak dari teman bisnis Papi. Dia juga ikut berperan penting di perusahaan keluarganya.''
Aulia menatap kagum pada Steve yang terbilang masih sangatlah muda tetapi bertalenta tinggi.
''Bukannya kamu bilang, kalau kamu masih berkuliah?''
''Iya, aku memang masih kuliah, Aulia,'' sahut Steve.
Aulia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
''Kalau begitu aku pamit ya, Om, Aulia.''
''Lho buru-buru sekali,'' ucap Candra.
''Iya Om, Papa meminta ku menemui kliennya. Permisi.''
Steve pun berlalu pergi setelah berpamitan pada keduanya. Dan tinggallah hanya mereka berdua disana. Beberapa saat terasa hening Samapi ketika Aulia pun berkata sesuatu.
__ADS_1
''Tempo hari Mami datang dengan anak perempuan,'' ucap pelan Aulia.
Candra tersenyum begitu hangat, mengusap kepala anak gadisnya dengan sayang. Ia tidak bisa membayangkan sedihnya Aulia saat itu.
Ya, dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan siapa anak perempuan itu dia juga sudah tahu.
''Apa Mami mu mengatakan sesuatu?''
Aulia menggelengkan kepalanya pelan.
''Mami hanya mengatakan kalau dia akan menjadi saudara ku.''
''Jadi, kamu sudah mengerti?'' Aulia menganggukkan kepalanya. Kepalanya tertunduk menyembunyikan air mata yang hampir saja kembali tumpah tapi sebisa mungkin ia tahan.
''Akhir pekan nanti, kamu harus ikut Papi.''
''Kemana?''
''Kesebuah acara, dan ini permintaan Mami mu. Oke?''
''Baik Pih.''
Keduanya terus bercerita secara bergantian karena memang momen itulah yang mereka saling rindukan.
Beberapa hari ini, Aulia merasa tidak lagi kesepian. Kehadiran Candra sang Papi. Mengobati rasa sepinya.
Sungguh hidup Aulia beberapa hari ini lebih berwarna. Ia merasa senang karena inilah yang dia inginkan.
Kebahagiaan Aulia tidak dirasakan sama oleh Adel. Justru Adel merasa kesal karena belakangan ini kembali diabaikan oleh Aulia.
Adel berdiri dengan raut wajah yang murung dengan guratan amarah disana. Sungguh ia tidak suka dengan Aulia yang kembali mengabaikannya.
Adel pun pergi dengan marah. Tapi sebelum itu ia berkata sesuatu.
''Hanya aku, Aulia. Hanya aku!''
Aulia menoleh kebelakang, ia seperti mendengar suara tapi ia lihat tidak ada seorang pun disana. Ya dia benar-benar lupa akan harinya Adel. Karena kehadiran Papi nya.
''Besok kita pergi membeli hadiah dulu, ya?'' ucap Candra sembari menyesap kopinya.
__ADS_1
''He'um…''
Suara bel rumah berbunyi, dengan cepat Bi Ane berlarian menuju pintu. Dan ternyata seorang pria tengah berdiri dengan sebuah kotak ditangannya.
''Selamat malam Bi…"
"Malam, Den."
"Ada Om Candra?"
"Oh ada, Den. Silahkan masuk. Biar saya panggilkan Pak Candranya.''
''Terima kasih Bi…''
Bi Ane mempersilahkan pria itu masuk dan dia mendahului jalannya. Untuk memberitahukan kalau ada tamu yang datang mencari tuan nya.
''Pak, maaf. Ada Den Candra.'' Bi Ane bicara begitu sopan.
''Oh iya suruh kemari. Dan buatkan kopi juga untuk nya, Bi.''
''Baik pak!''
Tidak berselang lama, pria yang ternyata adalah Steve itu datang dan ikut bergabung dengan Candra juga Aulia.
''Malam Om, Aulia.''
''Malam!'' sahut bersamaan Aulia dan Candra.
Ya beberapa hari ini, Steve semakin dekat dengan Aulia. Bahkan Candra lah yang meminta Steve untuk mengantarkan Aulia ke sekolah beberapa hari ini.
''Besok kamu ikut ya dengan kami. Biar temani Aulia disana,'' usul Candra.
''Benar, kamu harus ikut Steve!'' timpal Aulia menyetujui usul Papinya.
''Kemana?''
''Entahlah, tapi kata Papi. Ini acara pesta,'' seru Aulia membuat Candra tertunduk. Ia merasa khawatir dengan Aulia besok. Entah bagaimana perasaannya tapi memang dia harus mengajaknya.
Candra berharap kalau anak gadisnya itu tidak akan bersedih karena melihat sebuah kenyataan yang mungkin saja membuat hatinya sakit.
__ADS_1