Hanya Aku!

Hanya Aku!
Hanya Aku!


__ADS_3

Hanya aku! hanya aku Aulia!!!


Prangg!!


Sebuah vas bunga melayang lalu menghantam dinding kamar tidur milik Aulia.


Bi Ane yang berada di lantai bawah, samar-samar seperti mendengar suara ribut dari dalam kamar nona mudanya itu. Dengan perasaan was-was Bi Ane pun berniat naik untuk melihat apa yang terjadi di kamar yang saat ini dia yakini tidak ada siapapun disana. Karena pemilik kamar itu memang sedang pergi, bersama tuan besarnya.


Ragu-ragu dan takut. Itulah yang saat ini dirasakan Bi Ane. Meski dadanya bergemuruh dan kakinya gemetar hebat, ia tetap memberanikan diri membuka kamar Aulia. Bahkan ia memanggil nama Aulia walaupun dia sendiri tahu Aulia belum pulang sampai sekarang.


''Nona Aulia?'' suara Bi Ane sangat kentara sekali gemetarnya karena menahan takut.


Saat ia berhasil membuka pintu, matanya terbelalak karena dilantai sudah berantakan pecahan vas bunga yang berbahan keramik itu, dan benar saja memang disana tdiak ada siapapun. Lalu siapa pelakunya? batin Bi Ane.


Kalaupun ia mengira itu perbuatannya kucing, ia melihat sendiri jendela dan pintu balkon masih tertutup rapat, bahkan tidak ada angin yang lolos dari celah jendela disana.


Perempuan paruh baya itu berusaha berpikir positif walaupun pikirannya sendiri terus berpikiran bahwa ada sesuatu.


Bi Ane meraih tong sampah kecil yang ada diatas meja rias, lalu mengambil sapu kecil yang ada didepan pintu kamar mandi. Kemudian memulai membersihkan pecahan itu.

__ADS_1


Dengan sangat hati-hati ia memunguti serpihan keramik, sampai ketika ia sendiri tidak bisa menahan rasa takutnya ketika ia merasa seperti ada angin yang menerpa tengkuk lehernya sampai membuat ia meremang.


Dan saat Bi Ane akan mengembalikan sapu ketempat semula karena selesai membersihkan lantai, matanya menangkap sesuatu yang membuat dia hampir saja menjatuhkan kembali pecahan vas yang telah ia punguti itu.


"Hanya Aku! tidak boleh ada orang lain selain kita!"


Bi Ane menutup mulutnya karena terkejut melihat tulisan yang ada di kaca meja rias itu, tulisan yang semakin membuat dia merinding takut.


''Astaga! Oh ya Tuhan. Apa maksudnya ini?'' gumam Bi Ane yang bersiap akan menghapus tulisan tangan itu, tetapi saat ia berhasil menghapusnya, tulisan itu kembali muncul seakan memang tidak ada yang boleh menghapusnya.


Pikiran Ane yang semula dibuat positif, sekarang sudah tidak bisa lagi, karena apa yang terjadi menurutnya tidak lagi bisa dianggap sepele. Ini adalah sesuatu yang diluar nalar, batinnya.


''Siapapun kamu! saya mohon pergi, jangan ganggu pemilik kamar ini. Nona Aulia sudah cukup menderita, jangan menambah masalahnya,'' racau Ane yang bukannya membuat makhluk lain itu yang tak lain adalah Adel, mengerti. Melainkan membuat Adel semakin marah.


Figura besar dengan gambar wajah Aulia, seketika melayang mengarah pada Ane.


''Bibi!!'' jerit Aulia diambang pintu sana.


Prangg!!

__ADS_1


Berbarengan Bi Ane menoleh kearah pintu, figura itu juga jatuh tepat dibawah kaki Ane. Ya kalau saja Aulia tidak datang, mungkin pengasuh Aulia itu sudah cidera dibuat Adel.


Bi Ane mematung, ia benar-benar dibuat syok. Karena tiba-tiba ada benda yang entah datangnya dari mana dan hampir saja menghantamnya.


''Ada apa Adel? kenapa kamu seperti itu, hah!!'' pekik Aulia menghadap dinding, yang dalam penglihatan Bi Ane memang disana tidak ada siapapun selain mereka berdua.


Tapi Bi Ane sedikit tersentak mendengar nama yang disebut Aulia.


''Kau mulai melupakan ku, Aulia! dan aku tidak suka itu!!'' pekik Adel membalas teriakan Aulia, dan yang pastinya hanya Aulia yang mendengarnya.


''Melupakan? apa maksudmu?!''


Bi Ane yang masih disana tentu semakin bingung. Karena melihat Aulia yang bicara sendiri didepan dinding sana.


''Kau terus mengabaikan ku! semenjak ada pria tua dan teman baru mu itu!''


''Pria tua? dia Papa ku, Adel!''


''Cih! bukannya kau tidak memiliki keluarga? kau lupa, hanya aku yang kau punya!''

__ADS_1


Aulia menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak menyangka kalau Adel bisa bicara seperti itu.


__ADS_2