
Sudah satu bulan ini Aulia terlihat murung, di sekolah yang biasanya Aulia itu terlihat murah senyum tapi sekarang berubah menjadi wanita yang ketus. Sahabat nya Rani selalu mencoba mengembalikan senyum Aulia tapi belum juga berhasil.
Siang ini Aulia sedang duduk sendirian di Atap sekolah, ya sendirian kalau di lihat dengan kasat mata, Aulia sedang bersama Adel sahabat ghaib nya.
"Aulia sudahlah jangan bersedih terus, mana sahabat ku yang ceria itu!" ucap Adel tapi tak kunjung di jawab oleh Aulia.
"Aulia jika kau begini terus, aku jamin kau akan di jauhi orang-orang!" seketika Aulia menoleh ke Adel dengan tatapan yang menyiratkan bahwa dia sedang marah.
"Oohhh kau rupanya ingin meninggalkan aku juga Del, SILAHKAN PERGI AKU TIDAK PERDULI, SEMUA ORANG SAMA SAJA!" seketika emosi Aulia tidak terkendali.
"Aulia maksud ku tidak begitu." Adel merasa tidak tau lagi harus berbuat apa dan dia memikirkan ide yang mungkin akan berhasil. Adel menghilangkan diri dari depan Aulia entah dia kemana.
Di sisi lain ada Rani, Hari, dan Bima yang sibuk mencari keberadaan Aulia pasalnya dari jam istirahat dia sudah meninggalkan kelas dan entah kemana.
"Dimana kamu Lie?" gumam Rani yang sedang mencari Aulia di belakang sekolah, namun tiba-tiba ada sesuatu yang menggelitik telinganya.
*cari di atap sekolah* bisikan itu yang sedang menggelitik telinga Rani.
"hah siapa itu!!" Rani terlihat ketakutan, ya bagaimana tidak ketakutan ada suara di telinganya tapi tidak ada orang nya.
"Tadi aku dengar ada yang bicara, cari di atap sekolah? maksudnya apa ya? tapi dimana orang nya," gumam Rani yang celingukan mencari orang yang tadi berbisik di telinganya.
"Aahh mungkin itu suara hantu sekolah ini dan dia memberi tahu ku agar aku ke atap sekolah" Rani terus bergumam, "Ya sudah ku coba saja, semoga Aulia ada disana." Rani akhirnya berlari ke arah tangga menuju rooftop sekolah.
Sesampainya di rooftop sekolah, Rani mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Aulia, tapi tak kunjung terlihat.
"Haaahh kaki ku rasanya ingin patah menaiki anak tangga ratusan itu, tapi dimana Aulia"..
Saat Rani putus asa dan ingin balik ke lantai bawah dia mendengar suara isakan tangis yang sangat mendayu-dayu.
'hiks,,hiks,,hiks,, kenapa hidup ku seperti ini, dari kecil aku di urus bukan dengan orang tua ku, apa aku tidak berhak untuk bahagia, hiks,, hiks,,..
"Aulia" Rani melebarkan matanya dan langsung mencari asal suara itu.
"Lie,,," Rani memegang bahu Aulia yang bergetar.
"Tolong tinggalkan aku Ran!" ucap Aulia di tengah tangisnya.
"Enggak Lie, aku akan tetap disini walau kau tak ingin, Lie kau tidak sendirian, ada aku sahabat mu!" Rani ikut bersedih melihat kondisi sahabat nya yang sedang terpuruk.
Rani memeluk tubuh Aulia dengan erat, dia ingin menyampaikan bahwa dia sahabat nya yang akan selalu ada di sisinya. Tangan Rani bergerak merogoh saku bajunya dan mengetik pesan untuk seseorang.
__ADS_1
Tidak lama Rani mengirimkan pesan ternyata dua pria yang tadi ikut khawatir tentang Aulia sudah ada di sana.
"Aulia "lirih Hari dan langsung menarik tangan Aulia dan mendekap erat tubuh Aulia yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
"Aulia jangan seperti ini, kau boleh bersedih tentang apapun itu tapi kau tidak boleh melupakan kesehatan mu, ada kita disini" ucap Hari menenangkan Aulia yang masih menangis.
Melihat Hari yang memeluk erat Aulia, Bima seakan tidak bisa menahan rasa sakitnya, dia mengepalkan tangannya sampai buku tangan nya memutih karena menahan emosi.
Rani panik karena mengerti kalau kakanya sedang merasakan kecemburuan.
'Aduuh semoga kaka ga emosi dulu, aku tahu sekali kalau kaka marah seperti apa' batin Rani.
Bima mengontrol emosinya dengan menarik dan membuang nafas dengan kasar nya.
Bima melangkah menuju Aulia dan Hari.
"Benar kata Hari, Aulia ada kita disini, jangan kau berpikir jika kau sendiri." Bima menepuk bahu Aulia.
Aulia yang mendengar suara Bima, langsung melepaskan pelukan Hari dan menatap Bima dalam-dalam.
"ka Bima bisa menjaga aku?" ucap Aulia mengakhiri tangisnya.
Mendengar ucapan Aulia, Hari mengerutkan dahinya, Hari bingung arah ucapan Aulia itu.
"Bukan hanya aku yang akan menjagamu tapi ada Hari dan Rani yang ikut menjaga mu, Aulia," ujar Bima
Aulia seakan baru sadar dengan kehadiran Hari dan Rani disana, di menoleh ke belakang dan melihat ke arah Hari dan Rani bergantian.
Hari menampakan senyum hangat nya begitu pula Rani.
'Oooh yang tadi memeluk ku itu kak Hari' batin Aulia.
"Benarkah kalian akan terus ada disisi ku?" tanya Aulia dengan suara lirihnya.
"Iyah Lie, aku akan terus ada disisi mu sampai kapanpun," jawab Rani berjalan menuju Aulia dan langsung memeluk nya.
"Lie aku mohon jangan seperti ini ya, hati ku merasa sedih melihat kamu yang sekarang ini," ucap Rani terisak di pelukan Aulia.
"Terima kasih" ucap singkat Aulia.
"Yya sudah stop sad ok! ayo kita pulang!" ucap Bima dan di angguki 3 orang itu.
__ADS_1
Akhirnya Aulia bisa tersenyum lagi begitu batin Bima.
Aulia berjalan dengan terus menaruh kepala nya di bahu Rani.
"Biar Aulia aku antar" ucap Hari yang sedang memarkirkan sepeda motornya.
"Maaf ka Hari aku ingin pulang bersama Rani saja" jawab Aulia tak enak hati.
"Oh sudaah kalau begitu, aku pulang duluan yaa," ucap lembut Hari, ia pasrah dengan kemauan Aulia, Hari mengelus lembut kepala Aulia lalu berlalu pergi dari sekolah.
"Kita pulang?" ucap Bima menuju mobilnya.
"ayo Lie!" ucap Rani menyadarkan Aulia yang sedang termangu melihat arah Hari melajukan sepeda motornya.
"aahh iya Ran" Aulia menaiki mobil Bima dan duduk di bagian tengah bersama Rani.
''macan supir aku ini, tapi tak apalah "batin Bima.
Bima melajukan mobilnya setelah memastikan Aulia dan Rani adiknya sudah duduk dengan nyaman dan aman.
Bima bukannya mengantarkan Aulia pulang kerumah Aulia sendiri tapi malah menuju ke rumahnya.
Sampai di rumah kediaman keluarga Danilova, Bima turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Aulia dan adiknya.
"kenapa kerumah kalian?" tanya Aulia.
"Menginaplah dulu disini," ucap lembut Bima.
"Iyah Lie menginap disini ya, aku akan senang sekali bisa tidur dengan mu Lie, lalu kita akan bergadang untuk menonton drakor favorit kita" ucap antusias Rani.
*pletaak
"Aaawww! sakit baang,, iisshhhh" Rani meringis sambil mengusap keningnya yang kena sentil kakanya.
"Enak saja kau mengajak Aulia bergadang, Aulia harus istirahat dan kau juga" ucap tegas Bima.
"Hehehe iya iya" Rani terkekeh ..
Aulia yang melihat interaksi kaka beradik di hadapannya merasa bahagia dengan kehangatan keluarga itu.
bersambung...
__ADS_1
happy reading..
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya,budayakan like vote dan rate⭐5nya ,terimakasih 🙏🤗