
Sudah petang tapi Aulia belum ketemu. Bahkan Rani kerumah Aulia dan kata Bi Ane, Aulia hari ini sudah berangkat sekolah tapi tidak kunjung pulang, Bi Ane pun ikut panik, lalu kemana orang tua dari Aulia? entahlah! Bi ane bilang "Nyonya besar sudah pergi dari tadi pagi membawa koper besar setelah nona muda berangkat sekolah", Kata-kata Bi Ane yang membuat Rani semangkin panik.
"Bang kita cari Aulia kemana lagi, sahabat aku hanya Aulia, aku ga mau terjadi apa-apa sama Aulia" Rani menangis di dalam mobil, Bima dan Rani masih menyusuri jalan dan mendatangi tempat yang biasa di kunjungi Aulia, tapi tidak ketemu juga.
"Berdoa lah Ran agar Aulia baik-baik saja, jangan berpikir yang macam-macam!" Bima juga ikut khawatir, bahwasanya Bima juga menyimpan perasaan untuk Aulia.
"Aulia kau dimana…" lirih Rani .
Di lain tempat.
Hari masi berusaha mencari keberadaan Aulia, sampai dia melewati sebuah pantai yang bisa terjangkau dari jalan yang di lewati nya.
Hari melihat 2 orang yang sedang duduk di pinggiran Dam, satu orang pria dan satu nya lagi seorang gadis yang memakai seragam dan tas ransel yang dia kenal.
Hari langsung memberhentikan mobilnya dan segera turun untuk menghampiri orang yang di yakini adalah orang yang sedang di carinya.
"Itu pasti Aulia" Hari merasa yakin dengan apa yang di lihat nya..
Dan benar saja dugaannya gadis itu Aulia dengan seorang pria, siapa pria itu seperti pernah di lihat nya tapi entah dimana? Itu lah isi pikiran Hari. Dan yang membuat Hari emosi, posisi Aulia yang kepalanya di sandarkan di bahu pria itu.
"Brengsek lo!
Buugghhh...
Hari memukul tepat di bagian wajah pria itu, Aulia yang sedang tertidur seketika terbangun karena Sandaran kepalanya bergerak.
" Lo apain Aulia Hah!!" bentak Hari.
Steve yang mendapat pukulan dadakan tersungkur dan pastinya ada lebam dan sedikit darah yang mengalir dari celah bibirnya .
"Ka Hari apa-apaan sih!" bentak Aulia.
"Steve kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Aulia pada Steve karena melihat ada darah di Bibirnya.
"Aulia kamu kemana saja, kamu di culik sama pria itu 'kan?" ujar Hari yang langsung menarik tubuh Aulia agar menjauh dari Steve.
"Kamu bilang aku menculik Aulia? apa kau gila ya!" Steve tak percaya dengan jalan pikir pria yang tiba-tiba datang dan memukul nya.
"Ka Hari, Steve bukan penculik, dia orang baik, dia teman aku!" ujar Aulia meninggikan suara walaupun dengan suara yang serak karena hampir seharian menangis.
__ADS_1
"Teman???" gumam Hari.
"ya aku temannya Aulia , dan kamu udah salah paham sama aku" ucap Steve dengan memberikan senyum miringnya.
"Sorry kalau gitu, aku panik seharian cari Aulia," ucap Hari tulus.
"Aku ngerti kok, kalau gitu aku pergi ya, titip Aulia ok, Aulia aku pergi dulu," ucap Steve setelah memberikan usapan lembut di Kepala Aulia dan berlalu pergi.
"Aulia kenapa kamu tidak masuk sekolah?" tanya Hari..
''Sebaiknya kaka tinggalkan aku sendiri!" ketus Aulia yang masih kesal karena sikap Hari yang main menyimpulkan suatu hal, sampai memukul Steve yang tidak bersalah.
"Aku minta maaf tadi aku panik, jadi ga bisa mikir jernih, kita pulang yaa…" bujuk Hari.
"Aku masih mau disini" ucap Aulia dengan muka sendunya.
Hari melihat mata Aulia yang membengkak menandakan Aulia menangis terlalu lama.
"Ada masalah apa Aulia, sampai kamu jadi seperti ini"..
Aulia hanya diam.
"aku masih mau disini kaa" ucap Aulia yang tidak ingin berkontak mata langsung dengan Hari.
"iya kenapa?? Lie kalau ada masalah baiknya kamu cerita dari pada di pendam seperti ini, kasian batin kamu, ada aku disini Lie" ucap lembut Hari.
tangis Aulia yang sudah lama mereda seketika pecah lagi karena mendengar penuturan Hari.
"Hiks,,Hiks,hiks,," Aulia menangis lagi, Hari yang melihat Aulia menangis langsung membawa ke pelukannya.
"Menangis lah, kalau itu membuat kamu lega," Hari mengusap belakang Aulia.
"kalau Belum siap cerita tidak apa,"ucap Hari lagi.
Aulia masih dengan tangisan lirihnya.
Setelah puas menangis, Aulia melepaskan diri dari pelukan hangat Hari.
"Udah baikan?"tanya hari dan di angguki Aulia.
__ADS_1
"Iyah udah kita pulang ya, kita cari makan dulu, pasti kamu belum makan 'kan?"Hari berucap dengan begitu lembut, Aulia hanya menganggukkan kepala.
Hari membawa Aulia kemobilnya dan membawa ke cafe dekat pantai.
sampai di cafe Hari memesankan coklat panas untuk Aulia agar Aulia lebih rileks lagi dan tidak lupa makanannya.
Hari juga sudah mengabarkan Rani bahwa dia sudah bersama Aulia di cafe dekat pantai.
"Makan yang banyak ya biar kamu ga sakit, sedih boleh tapi jangan lupa sama makan" ucap Hari.
Aulia makan dengan lahapnya karena memang sedari pagi Aulia belum mengisi perutnya, padahal tadi Steve sudah membujuk dan membawa makanan untuk Aulia, tapi Aulia dengan tegas menolaknya.
Tidak lama makanan di piring Aulia tandas dengan bersih.
"Mau nambah??" tanya Hari dan Aulia hanya menggeleng.
"Lieeee.." suara Rani yang cempreng mengisi seisi ruangan cafe sampai para pengunjung menatap dengan sebal.
"Dee jangan teriak begitu lihat kamu jadi pusat perhatian tuh" bisik Bima yang langsung menarik tangan Rani.
"iya iya maaf,"...
" Lie kamu kemana aja siih, kamu ga tau apa aku panik, khawatir, takut karena kamu ga ada kabar sama sekali"omel Rani,Aulia yang merasa masih ada yang mengkhawatirkan dirinya terharu, air mata nya menetes lagi.
"Rani please jangan bertanya dulu, Aulia jadi nangis lagi kan" ketus Hari.
"Hah! kenapa emangnya Ka??" ucap bingung Rani.
Bima dan Hari menepuk dahinya secara bersamaan karena kepolosan Rani.
"Sudah kamu diam saja dulu" ucap kesal Bima.
"Oohh ok ok" Rani diam walau dia belum begitu mengerti.
bersambung...
happy reading..
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya,budayakan like vote dan rate⭐5nya ,terimakasih 🙏🤗
__ADS_1