Hanya Aku!

Hanya Aku!
Perpustakaan


__ADS_3

Di sekolah.


Aulia dan Rani sedang berada di sebuah Library room.


Mereka sedang mempelajari satu mata pelajaran karena akan di laksanakan ulangan dadakan setelah jam istirahat berakhir.


"Huufftt membosankan, kenapa juga sih harus ada ulangan dadakan!" Rani menghela nafasnya dengan kasar.


"Ya karena sebentar lagi kita akan Ujian Akhir Semester Ran!" jawab Aulia sambil membaca buku.


"Ya kau benar!" ujar Rani.


Library room terlihat sangat sepi, mungkin hanya ada beberapa murid saja, Aulia dengan hikmatnya membaca buku pelajaran nya tapi tiba-tiba di kejutkan dengan kehadiran Hari yang sudah ada di sampingnya, mungkin karena terlalu fokus sampai tidak menyadari kapan Hari sudah berada di sampingnya.


"Astaga ka Hari mengejutkan aku," ucap Aulia mengelus dadanya karena terkejut.


Hari tersenyum hangat melihat wajah manisnya Aulia saat terkejut.


"Kamu aja yang terlalu fokus Lie, sampai aku duduk disini saja kamu tidak tau," kata Hari yang masih terus memandang wajah ayu Aulia.


Dengan bertopang dagu, Hari terus memperhatikan wajah mulus Aulia yang tanpa cacat sedikitpun, Aulia yang di tatap dengan cara seperti itu merasa gugup, Bu ia merasa detak jantung nya berdetak dengan cepat.


"Kenapa ka Hari memandangku dengan pandangan seperti itu, haduuh jantung ku,, jangan sampai terdengar ke telinga ka Hari, semoga!" batin Aulia


Hari melihat Aulia yang salah tingkah karena di pandang dirinya, Hari menyunggingkan senyumannya yang membuat Aulia semangkin salah tingkah.


"Kaka ke-kenapa terus lihatin aku," lirih Aulia menahan kegugupannya.


"Apa ada larangan disini untuk memandang ciptaan Tuhan yang sempurna," ucap Hari yang membuat Aulia semangkin salah tingkah.

__ADS_1


"Iih apa sih ka!" ucap Aulia blushing.


"Kamu lucu." Hari berucap dengan tangan mengusap rambut panjang Aulia.


"Oh Astaga ka Hari, please jangan seperti ini, jantung ku sudah lari maraton!" keluh Aulia dalam hati.


Hari semakin bertekad untuk terus mendekati Aulia karena dia tahu bukan hanya Steve, Bima sahabat pun menyukai Aulia. Dan tentunya mereka adalah saingan berat baginya.


"Heeyy ada aku disini, aku bukan pajangan meja yaa!" ucap Rani ketus.


"Heheh memangnya siapa yang bilang kau itu pajangan meja!" ucap Hari terkekeh.


"Lagian Ka Hari sedang apa disini? dimana Bang Bima, biasanya kalian selalu berdua?" tanya Rani yang mencari kakaknya.


"Abang mu sedang berada di ruang Osis bersama Karina, ya aku lebih baik ke sini dari pada jadi obat nyamuk!" jelas Hari sambil melirik Aulia yang masih fokus dengan bukunya.


Hari sebenarnya sengaja bilang begitu karena ingin melihat ekspresi Aulia kalau tahu Bima sedang bersama dengan perempuan lain, tapi hasilnya sangat memuaskan, Aulia tidak bereaksi apa-apa dan itu membuat Hari bahagia.


"Oh iya kalian pulang sekolah ada acara ga?" Tanya Hari.


"Tidak!" jawab Aulia.


"Ada!" jawab Rani.


Aulia menatap Rani bingung.


"Memangnya kenapa?" tanya Rani.


"Aku ingin ajak kalian nonton, tapi sayang sekali, kamu ada acara ya Ran!" ucap Hari dengan mengisyaratkan ke Rani agar bilang 'iya'. Dan beruntung Rani pun peka dengan kode yang di berikan Hari.

__ADS_1


"Eeh iya, aku ada acara," jawab Rani cepat.


"Berarti kalau kamu bisa kan Lie?" Tynya Hari pada Aulia.


"Eemmm gimana ya ka." Aulia terlihat sedang berpikir.


"Sudah lah Lie, mau saja katanya kau mau mencari novel favorit mu itu kan, ya sekalian aja ke Gramedia" usul Rani.


"Iya deh aku mau," jawab Aulia menyetujui ajakan Hari.


"Oh ya sudah sepulang sekolah aku tunggu kamu di parkiran ya!" ucap Hari sembari beranjak dari duduknya.


Aulia mengangguk tanda setuju. Hari pun berpamitan dan dengan tiba-tiba ia mengusap kepala Aulia dan langsung berlalu pergi, yang tentunya membuat pipi Aulia kembali bersemu.


Aulia memutar kepala nya memperhatikan punggung Hari yang sudah menjauh.


"Ekhemmm,, tak usah kau pandang seperti itu, nanti juga kau akan jalan berdua!" goda Rani dan Aulia tersenyum malu.


"Jangan lupakan aku Lie, aku minta belikan banyak makanan, ok!" ucap Adel tentu hanya Aulia lah bisa mendengar nya.


"Iyyah kau bawel sekali!" ucap Aulia dengan berbisik.


Rani ya g berada di dekatnya merasa heran karena bukan pertama kalinya ia melihat dan mendengar Aulia bicara sendiri. Tapi tidak terlalu ia ambil pusing. Tapi lama kelamaan entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang aneh pada diri Aulia.


Ingatannya bergulir di saat-saat ia bersama Aulia. Dan entah kenapa ia juga merasa Aulia sering seperti berbeda jiwa. Terkadang Aulia bilang tidak bisa makan banyak, tapi terkadang ia melihat Aulia makan begitu lahapnya di kantin. Terkadang Aulia terlihat manis dan terkadang pula ia melihat Aura Aulia berubah seperti menyeramkan.


Dengan cepat Rani mengusir pikiran-pikiran tidak jelas itu. Ia tidak mau berpikir buruk tentang sahabatnya, tapi hatinya ingin sekali bertanya.


'Apa penyebab Aulia seperti itu, adalah keluarganya?' ucap Rani dalam hatinya.

__ADS_1


'Kalaupun iya, aku harus membantu Aulia agar cepat pulih!' lanjutnya.


Ya Rani mengira kalau Aulia butuh pengobatan alternatif dari psikolog. Karena ia kira ini semua memang masalah keluarga lah penyebabnya.


__ADS_2