Hanya Aku!

Hanya Aku!
Pengorbanan Nyawa


__ADS_3

''Kenapa? apa kau baru ingat itu?'' pertanyaan itu keluar dari mulut Adel dengan senyuman sinis nya.


''Kamu bukan teman ku lagi!'' ucap pelan Aulia menyiratkan sebuah kekecewaan pada seorang sahabat yang berbeda dimensi itu.


Tentu apa yang dikatakan oleh Aulia membuat amarah Adel kembali meningkat. Raut wajahnya berubah dalam sekejap. Sorot matanya pun membuat Aulia memundurkan langkahnya sedikit.


''Sudah ku katakan! HANYA AKU!!!'' teriak Adel sekencangnya sampai membuat bohlam yang ada di lampu meja meledak dan satu lagi figura melayang dan jatuh menghantam dinding.


Pranggg!!


Aulia mendelik kesal, karena saat ini figura yang sangat berarti baginya yang menjadi sasaran Adel, yaitu figura yang didalamnya sebuah potret dia dan kedua orang tuanya. Dan foto itu hanya ada satu di hidupnya.


Kabut air mata memenuhi irisnya. Sahabat yang ia kenal sejak kecil, sahabat yang ia temui disaat hati nya penuh kerapuhan kini berubah, menjadi sosok yang tidak lagi ia kenali.


Teman yang ia anggap baik, teman yang ia anggap tulus ternyata bisa bersikap seperti ini.


''N–Noon Aulia…'' panggil Bi Ane begitu lirih dari belakang, dan Aulia pun berbalik badan menoleh kearah pengasuhnya itu.


Ya rupanya Aulia juga melupakan kehadiran Bi Ane disana, dan yang sudah pasti pengasuhnya melihat dan mendengar semua yang terjadi dan apa yang keluar dari mulutnya. Aulia yakin kalau Bi Ane akan mengiranya tidak waras karena bicara sendiri.

__ADS_1


Maka Aulia hanya bisa tertunduk malu didepan Bi Ane yang saat ini melangkah kearahnya.


''Noon…, apa tadi Non menyebut nama Adel?''


Aulia tersentak sejenak, lalu mengangguk ragu dengan tangannya masih memegang figura yang sudah hancur itu.


''Apa dia ada disini?'' tanyanya lagi dan Aulia kembali mengangguk masih dengan perasaan yang ragu.


Seketika Bi Ane menangis begitu pilu. Dan Aulia pastinya merasa bingung dengan tangisan pengasuhnya itu.


''Adel…, anak ibu, ibu merindukan mu, nak…''


Aulia kaget, ia benar-benar belum begitu mengerti kenapa pengasuhnya bisa bicara begitu.


''Ya Non, Adel adalah nama anak Bibi yang sudah meninggal. Kalau benar itu Adel anak Bibi, apakah Adel teman mu memiliki Tahi lalat di pipi kirinya?''


Aulia menoleh kearah Adel yang masih berdiri dengan tatapan menyeramkan. Kemudian kembali menoleh kearah Bi Ane lalu memberikan anggukan kepalanya, membenarkan apa yang dikatakan Bi Ane, kalau Adel memang memiliki tahi lalat di pipi kirinya.


''Itu berarti benar, Adel teman Non, adalah Adel anak Bibi,'' ucapnya lagi.

__ADS_1


''Tidak!! Aku bukan anak mu! kalau kau benar ibu ku, kau tidak akan mengorbankan nyawa ku untuk menyelamatkan dia!!!''


Kalau biasanya hanya Aulia yang bisa mendengar suara Adel, kali ini Bi Ane pun dapat mendengar teriakan itu begitu jelas walaupun wujudnya tidak ia lihat.


Sebuah jeritan kebencian yang Adel teriakan pada Bi Ane yang ternyata ibu dari Adel.


Dan satu lagi membuat Aulia syok. Ya, apa yang dikatakan Adel membuat dia terpaku tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya berair melihat telunjuk Adel menunjuk kearahnya, apa yang dikatakan Adel membuat hati Aulia sakit.


Bi Ane menggeleng samar, ia menoleh kearah Aulia, rasa bersalah pun datang. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis meraung dengan berjongkok.


''Tidak sayang, kamu salah paham,'' lirih Bi Ane.


''Semua orang jahat! semua orang ninggalin aku!!''


Prang!!


Kaca lemari ikut pecah berbarengan teriakn Adel dan menghilangnya dia. Aulia terduduk lemas, seribu pertanyaan terus berputar di isi kepalanya, ''Apa maksud Adel, mengorbankan nyawa demi aku?''


''Bi…''

__ADS_1


Bi Ane mengangkat kepalanya, menatap hangat wajah anak majikannya. Perlahan ia menghampiri Aulia lalu ikut duduk didekatnya.


''Jangan merasa bersalah, semua sudah takdir Tuhan,'' ucap Bi Ane.


__ADS_2