
Matahari sudah menyongsong dari peraduan nya. Seorang gadis sedang merenggangkan otot-otot nya.
"Tidur ku nyenyak sekali, tidak seperti biasanya," gumam Aulia.
Ya biasanya Aulia selalu terbangun di tengah malam, tapi tidak dengan malam tadi.
Aulia mengingat kejadian kemarin saat di bioskop, bibirnya terangkat membentuk lengkungan manis dan tangannya dengan reflek memegangi bibirnya.
"Aaakkkhh ada apa dengan diriku," teriak Aulia masih dengan senyuman manisnya.
"Jantung ku sepertinya perlu di periksa," gumam nya lagi.
"Hey ada apa dengan diri mu, seperti orang yang sudah tidak waras, masih pagi sudah senyum-senyum sendiri," tegur Adel yang kini tengah duduk di meja rias Aulia.
"Ah tidak aku tidak apa-apa," kilah Aulia.
"Kenapa dengan bibir mu, sampai harus di pegangi seperti itu," tanya Adel lagi.
Aulia yang baru sadar bahwa dari tadi tengah memegangi bibir nya langsung tersadar.
"Aah tidak, ini bibir ku rasanya sariawan deh," kilah Aulia lagi.
"Sariawan kenapa?" pertanyaan Adel membuat Aulia salah tingkah.
"Anuuh, ituu, emmm karena kegigit serangga mungkin," jawab Aulia dengan gugup sampai salah bicara, mana ada serangga yang mengigit bibir dan membuat bibir sariawan, pikir Aulia yang merutuki kebodohan nya.
"Iya serangga berambut tebal, Hahahahah," Ledek Adel.
"Diam laah berisik sekali kamu," omel Aulia.
"Ya ya aku diam, sudah sana mandi, mau kau terkunci dari luar gerbang sekolah," ucap Adel mengingat kan.
"Aak iyah, aku lupa, kau siih." omel Aulia lagi, dengan menyalahkan Adel.
"Hisss kenapa juga aku yang di salahkan," gerutu Adel, dan setelah itu Adel menghilang entah kemana.
Aulia sudah rapih dengan seragam nya dan dengan tas ransel nya, Aulia menuruni tangga dan langsung menghampiri Bi Ane yang sedang menyiapkan sarapan Nona muda nya.
"Non Aulia, sarapan dulu, Bibi sudah memasak sesuai permintaan Non tadi malam," ucap Bi Ane.
"Iyah Bik, terima kasih yaa," ucap Aulia dengan lembut, dan dengan segera melahap Nasi Biryani kesukaan nya.
"Bibik ikut makan dong temenin aku," ajak Aulia.
"Nanti saja, bibik bisa sarapan bareng pekerja yang lain di dapur." Tolak Bik Ane dengan alus.
__ADS_1
"Bik, bibik kan udah seperti orang tua ku sendiri, jadi jangan sungkan ya Bik, kalau makan jangan di dapur apalagi makannya di lantai, gunakan meja ini saja tidak apa kok." ucap Aulia dengan lembut, dan setelah itu dia terus melanjutkan makannya dengan sesekali mengobrol dengan pengasuhnya itu.
"Ah tidak non, bibik sudah biasa makan di dapur dengan yang lainnya." Bik Ane terus menolak, karena Bi Ane cukup tau diri, dirinya hanya pengasuh, bukan siapa-siapa dari majikan nya ini.
"Terserah Bibi saja, tapi Aulia tidak sama sekali kok keberatan jika Bibi menganggap aku ini sebagai anak mu sendiri." Ucapan Aulia membuat Bik Ane tersentuh, pasalnya dia memang tidak memiliki anak, anaknya telah meninggal bersamaan dengan mendiang suaminya, di tragedi kecelakaan kereta.
"Terima kasih Non, sudah menganggap saya bukan lagi orang luar," lirih Bi Ane.
Tidak terasa makanan di piringnya Aulia sudah tandas tidak tersisa.
"Bik aku berangkat ya," pamit Aulia
"Iyah Non, hati-hati yaa." teriak Bik Ane pada Aulia yang sudah menjauh.
"Anak konglomerat yang dermawan," gumam Bik Ane.
Aulia di antar oleh supir pribadi nya, belum sampai di sekolah, Aulia sudah meminta supirnya untuk menuruninya di sebuah halte, yang jaraknya lumayan masih jauh dari sekolah.
"Pak berhenti disini saja," Ucap Aulia.
Supirnya pun menurut, perlahan mobilnya berhenti di depan halte.
"Non ini kan masih jauh dari sekolah, nanti Non Aulia lelah," Ucap khawatir supir itu.
Aulia berjalan di trotoar, setelah sampai di depan gerbang sekolah saat Aulia ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba sebuah mobil berwarna Merah terang melintas dengan cepat dan berhenti tepat di depan Aulia.
Orang yang ada di dalam mobil itu menuruni kacanya dan tampaklah dua orang gadis.
"Haaahh dasar miskin, hari gini ke sekolah masih berjalan kaki," Hina gadis itu yang tak lain adalah Susan Foy.
"Iyah si muka pucat ini sudah miskin sombong pula, masih punya muka kamu untuk menggoda pria kaya hah," cercah Eri temannya Susan.
Aulia tidak menggubris nya, bahkan dia berlalu begitu saja.
'Buat apa aku meladeni mulut sampah seperti mereka' Batin si Aulia.
"Sial!! apa aku baru saja di abaikan dengan gadis miskin itu!" gerutu Susan di dalam mobil, dia merasa kesal karena hinaannya tidak berfungsi untuk Aulia, yang di kenalnya sebagai gadis miskin padahal kekayaan Aulia jauh ketimbang dengan kekayaannya yang hanya seujung kuku Aulia.
"Iyah San, kamu di abaikan si wajah pucat itu, baru ini loh kamu di abaikan dengan seorang murid di sekolah ini," Ucap Eri memanasi.
"Liat saja apa yang akan ku perbuat." Susan menekan-nekan pedal gasnya dengan kaki kanannya, dan Wuusshhh
mobil Susan melaju dengan cepat dan hampir saja menabrak tubuh Aulia kalau saja tidak ada seorang Pemuda yang menyelamatkan Aulia dengan cara menarik tangan Aulia untuk menepi.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Bima khawatir, ya pemuda itu tak lain adalah Bima kaka dari Rani sahabatnya Aulia.
__ADS_1
"Tidak ka, aku tidak apa-apa," jawab Aulia.
Bima melihat mobil yang sudah berhenti tidak jauh dari mereka berdiri, dengan rasa emosi yang sangat memuncah, Bima langsung menghampiri mobil Merah itu dan langsung menggedor pintu mobil itu.
"KELUAARRR!" teriak Bima.
Susan dan Eri yang sedang ketakutan pun keluar dengan tubuh gemetarnya.
"Apa yang kalian lakukan Hah!!! Kalian hampir saja membunuh Aulia!!" Bentak Bima pada ke-Dua gadis di depannya itu.
Susan dan Eri tidak ada yang berani membuka suaranya, mereka hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Apa kalian sengaja Hah!!!" bentak Bima lagi.
Susan dan Eri masib tetap dengan diamnya.
"JAWAB!!! Atau aku akan melaporkan kalian dengan tuduhan percobaan pembunuhan," gertak Bima.
Dari kejauhan seorang Pria baru saja datang dengan motor sport nya, dia langsung memarkirkan motornya di tempat yang sudah di sediakan lalu langsung menuju tempat Aulia berdiri.
"Lie ada apa?" tanya Hari, ya Pemuda itu adalah Hari.
Aulia yang tersentak langsung menoleh ke arah suara, dan dengan otak yang langsung memutar memori kemarin seketika pipinya bersemu merah kala otaknya mengingat kejadian kemarin di bioskop.
"Lie heeyyy, ada apa?" tanya Hari lagi, dengan tangannya melambaikan tepat di hadapan wajah Aulia.
"Aah maaf ka, kenapa ka?" bukannya menjawab, Aulia malah bertanya balik.
"Itu ada apa?" tanya Hari lagi.
"Itu ka, Susan tadi hampir saja menabrak aku kalau tidak ka Bima menarik lengan ku," jelas Aulia.
Hari yang mendengar penjelasan Aulia, darahnya seakan mendidih, mendidih karena marah dengan Susan dan mendidih karena cemburu, kenapa bukan dia yang menyelamatkan Aulia pikir Hari.
Hari langsung menghampiri Bima yang sedang mencercah Susan dan Eri, dengan tangannya terus menggandeng tangan Aulia.
"Jantung ku, kenapa lagi ini," batin Aulia.
"Bim, gue pinta lo urus mereka dan laporkan ke ruang BK," perintah Hari.
"Iyah, lo bawa Aulia ke kantin gih, kasih minum gue takut dia syok," Ucap Bima.
Hari tidak menjawab, dia langsung berlalu melewati ke tiga anak manusia itu, dengan terus tangannya menggandeng tangan Aulia, Susan yang merasa di abaikan Hari, hatinya merasa sangat marah.
Bima membawa Susan dan Eri ke ruang BK, dengan bukti CCTV akhirnya Susan dan Eri di Scorse selama seminggu dengan sangsi kalau kejadian ini terulang lagi, Susan dan Eri terpaksa akan di keluarkan dari sekolah secara tidak hormat. Dan bahkan akan menyerahkan mereka ke pihak yang berwajib.
__ADS_1