
Bersanding di pelaminan dengan seseorang yang memang ditakdirkan dengan kita itu adalah sebuah anugerah , Tuhan tlah menyiapkan pasangan setiap umatnya dengan kuasanya dipertemukan lah dua kaum adam dan hawa itu.
Mengucap ijab qobul dihadapan penghulu dengan satu tarikan nafas ialah satu titik dimana kita menyempurnakan separuh iman kita . Berkewajiban dan bertanggung jawab kepada keluarga nya untuk membangun dan mengarungi hiruk pikuk bahtra rumah tangga yang isnyaallah sampai ke jannah-Nya.
Kata SAH menggema diruang keluarga Sanjaya. Helaan nafas setiap jiwa tersirat menggambarkan sebuah kelegaan . Kini ada sepasang anak adam yang baru saja resmi menjadi suami istri itu, tengah mendata tangani buku nikah dan surat suratnya, dilanjutkan dengan pertukaran cincin di kedua jari tengah sang pengantin , tak berhenti disitu suara penghulu yang menginsstruksikan sang pengantin perempuan untuk mencium punggung tanggan suaminya itu, begitu juga sebaliknya sang pengantin laki laki harus mencium kening sang istri.
Sorak sorai dan tepuk tangan dari keluarga sesolah menyambut kehidupan baru untuk mereka.
" Kini aku resmi menikah dengan kakak iparku sendiri, mengorbankan kehidupan muda ku dan kekasih hati ku " Gunam Zilfi dalam hati.
" Tapi apapun akan aku lakukan untuk kedua keponakan ku dan keluarga ini " Gunam Zilfi lagi.
" Gadis kecil ini sekarang Sah menjadi istriku, aku tak tau akan seperti apa kedepannya" Gunam Zidan dalam hati.
Lamunan Zidan dan Zilfi dibuyarkan dengan suara tangis Bulan dan Bintang, sepertinya kedua ank kembar itu dengan penuh suka cita menyambut Ibu baru mereka.
Dengan sigab Zilfi mengambil Bintang dari gendongan Wina, begitu juga dengan Zidan ia dengan sigab mengambil Bulan yang berada dalam gendongan Jaka.
"Uhhh, kalian sangat serasi" Ucap Wina
" Ahh, iya mereka sangat cocok " Ucap Jaka
__ADS_1
Pernikahan Zidan dan Zilfi memang hanya dihadiri keluarga saja karna kesepakatan keduanya.
*****
Malam harinya
" Sayang ini Mommy Nak " Ucap Zilfi pada kedua bocah bayi yang sangat mengemaskan itu.
Kini Zilfi berada di dalam kamar Zidan, muali hari, ini dan seterusnya Zilfi akan satu kamar dengan Zidan. Begitu juga Si kembar ,walau pun Zidan sudah menyiapkan kamar yang sangat indh untuk buah hatinya namun Zidan lebih memilih jika bayinya tidur satu kamar dengan nya, mengingatkan usia bayi itu belum genap dua minggu.
Disaat Zilfi sibuk memberi susu Bulan yang berada dalam gendongan tiba tiba Zidan masuk ke dalam kamar dengan pakai santainya kaos warna hitam yang melekat pas dibadan kekarnya, dan celana pendek dengan warna senada.
" Apa mereka rewel pada mu? " Tanya Zidan yang sudah duduk dihadapkan Zilfi.
Zidan tersenyum, bukan pada Zilfi tapi pada Bulan yang nampak bersemangat mengedot susunya.
" Oeeekkkk, oekkkk" Suara Tangisan Bintang yang berbeda di box tidurnya.
Dengan segera Zidan mengendong Bintang ,dan berusaha menenangkannya.
" Kak, mungkin Bintang haus " Ucap Zilfi.
__ADS_1
" Kamu haus Boy " Ucap Zidan pada Bintang yang masih menangis.
" Biarkan Zilfi bikinin susu dulu kak " Ucap Zilfi setelah menaruh Bulan yang sudah selesai menyusu.
Zidan hanya mengangguk menanggapi Zilfi.
Setelah Bintang meminum susu, bayi mungil itu sudah mulai menguap. Dan Zidan pun meletakkan Bintang di boknya dan bersebelahan dangan Bulan.
" Zilfi terima kasih sudah menerima pernikahan ini " Ucap Zidan pada Zilfi
" Sama sama kak" Jawab Zilfi.
" Tapi, jujur saya belum bisa menerima kamu sebagai istri seutuhnya " Ucap Zidan
" Tak apa apa kak, kita sama sama masih butuh waktu " Jawab Zilfi dengan tersenyum getir.
Jangan lupa like comnet vote 🙌🙌
kritik dan sarannya
mampir juga di novel
__ADS_1
" Garis Takdir Adeeva"