Hasrat Mencintai Suami Orang

Hasrat Mencintai Suami Orang
Apakah hanya fantasi ku saja?


__ADS_3

Ketika Aku baru mengatur nafas ku. Kurasakan kembali milikku di bawah sana yang Reza garap. Aku sedikit melihat ke bawah. Reza sudah menenggelamkan kepalanya di sana.


Aku bahkan hampir menjerit ketika merasakan sebuah hisapan yang terjadi di bawah sana. Milik ku kembali berkedut. Hingga Aku tak dapat lagi menahan suara ku yang keluar dengan seksinya.


Tubuhku kembali bergetar. Reza begitu piawai dalam membuat tubuh ku lemas tak berdaya.


Reza tersenyum menatap ku yang kini masih mengatur nafas. Lalu ia membaringkan tubuhnya di samping ku dan membawaku kedalam pelukannya.


"Cukup untuk pemanasan hari ini. Lain kali kita akan melakukan yang sesungguhnya. Anggap saja ini adalah simulasi sebelum kita menikah," ucap Reza tanpa beban.


Aku sudah hampir tak mendengar lagi ocehan Reza. Rasanya tubuh ku begitu lamas dan mengantuk. Hingga tanpa sadar Aku mulai memejamkan mataku.


Samar-samar ku dengar suara Reza yang terdengar seperti sedang bergumam.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu, Rissa."


Entah itu benar atau tidak. Nyata atau bukan. Ada rasa bahagia mendengarnya. Namun mata ini tak dapat di ajak berkompromi. Yang jelas kata-kata itu berhasil mengantarkan ku dalam tidur ku.


***


Keesokan paginya.


Aku mengerjapkan kedua mataku merasa ada yang menggoyang tanganku. Dan ternyata itu Mbak Rika. Kejadian semalam bersama Reza langsung terputar kembali. Aku langsung beringsut terbangun dan duduk. Menelisik tubuh ku sendiri. Masih dengan pakaian kerjaku kemarin yang masih lengkap melekat di tubuh ku.


Aku merasa lega, jadi Aku tidak merasa malu dan tidak enak sama Mbak Rika jika suaminya dan Aku semalam melakukan hal gila yang belum pernah kami lakukan.

__ADS_1


Tapi tunggu, apakah yang terjadi semalam nyata? Ataukah hanya imajinasi liar ku saja? Aku tercenung dalam pemikiran ku sendiri. Jika semuanya nyata, mengapa tempat tidur ku tak seberantakan semalam? Dan pakaian ku juga masih utuh, padahal semalam pakaian atasku hilang entah kemana akibat Reza.


"Rissa...!" Rika kembali memanggil ku sedikit keras karena Aku tidak menyahut panggilannya sejak tadi. Aku malah terhanyut dalam pemikiran ku yang entah itu benar atau tidak.


"I-iya Mbak, maaf Aku masih belum sepenuhnya tersadar dari tidurku," sangkal ku. Mbak Rika nampak percaya.


Wanita itu tersenyum mengusap lembut pipi ku.


"Sudah agak siang. Kamu mandi terus sarapan gih! Aku dan Mas Reza sudah sarapan tadi. Ada Dira juga di depan, sepertinya kita akan ke villa pacar Dira sore ini," ucap Mbak Rika. Aku hanya mengangguk saja.


"I-iya Mbak, maaf karena bangun kesiangan. Aku jadi tidak sempat membantu Mbak Rika membuat sarapan," ucap ku menunduk. Aku memang merasa tidak enak karena hal itu.


"Sudahlah, Rissa. Jangan di pikirkan. Lagipula selama Mbak kerja, kamu yang udah mengurus Mas Reza. Jadi sekali-kali kamu juga perlu istirahat," ucap Mbak Rika dengan lembut. Aku tersenyum menatapnya.


"Yasudah, Mbak keluar dulu, mau mengobrol sama Dira dan pacarnya dulu," ucapnya. Aku hanya mengangguk.


Dalam mandiku Aku masih memikirkan yang terjadi semalam benar nyata ataukah hanya fantasi liar ku karena saking menginginkan Reza. Memang sih masa Iddah ku telah berakhir. Tapi Aku tidak ingin mengemis-ngemis hanya untuk Reza nikahi. Mau di taruh mana harga diriku nanti?


Aku segera mempercepat mandiku. Setelahnya Aku menggunakan pakaian santai dan menguncir rambut ku.


Aku keluar dan tepat saat itu Aku melihat Mas Reza yang hendak berjalan menuju kamarnya. Pandangan kami bertabrakan.


"Pagi Rissa." Pria itu menyapaku lalu melanjutkan langkahnya memasuki kamarnya. Oke, sudah bisa di pastikan jika semalam hanyalah fantasi liar ku saja. Melihat Reza yang nampak biasa-biasa saja.


Aku melanjutkan langkah ku dan berjalan menuju ruang makan. Perutku rasanya sudah berteriak minta di isi. Aku segera mendudukkan diri di kursi biasanya tempat ku duduk.

__ADS_1


Aku lebih memilih sarapan dengan roti dan di olesi selai. Aku tidak ingin makan yang berat pagi ini. Aku memakan sarapan ku dengan lahap, karena memang Aku merasa lapar.


Hingga perut ini kenyang, Aku hendak beranjak mencari di mana Mbak Rika dan Dira sekarang. Namun Aku terkejut ketika membalikkan tubuhku dan tepat saat itu tubuh Candra berdiri tepat di belakang ku.


"Mau apa Kau di sini?!" ucap ku ketus. Aku menatap tajam kearah pria itu. Masih teringat jelas pria di depan ku dan Dira yang membodohi ku. Sungguh membuatku begitu muak.


"Aku mau mengambil minum saja," ucap Candra dengan menatap ku dan tersenyum nakal. Benar-benar menjijikkan. Malas sekali Aku menatap pria di depan ku ini. Aku memutuskan untuk segera pergi dari ruang makan.


Namun Aku tidak dapat bergerak ketika tiba-tiba saja Candra menghimpit tubuh ku hingga tubuh belakang ku menabrak meja makan.


"Aku sangat merindukanmu, Rissa. Apa Kau tahu? Aku tak bisa sedikitpun tidak memikirkan mu. Bahkan saat Aku memutuskan untuk menikahi Dira pun rasanya Aku tidak rela." Candra berkata dengan menatap dalam mata ku.


Memang tidak ada kebohongan dari sorot matanya. Tapi Aku sudah kadung membenci pria di depanku. Pria buaya penikmat wanita.


"Tutup mulutmu, Candra! Lepaskan Aku atau Aku akan teriak biar semua orang tahu!" Aku mengancamnya. Namun Candra malah semakin menghimpit ku. Membuat ku memalingkan wajah ku.


"Teriak saja. Dira dan kakaknya sedang ke minimarket. Jadi tidak akan ada yang mengganggu kita, Sayang."


Sial! Mungkinkah Candra sudah memperhitungkan semua ini? Aku harus kabur dari pria b.re.ngsek ini.


Aku masih berusaha untuk melepaskan diriku. Candra malah semakin mendekatkan wajahnya. Dia bermaksud untuk mencium ku.


"Apa yang kalian lakukan!" Suara bariton yang sangat ku kenali menghentikan Candra. Aku bernafas lega.


Candra langsung melepaskan ku dan menoleh ke belakang. Terlihat Reza yang berdiri kokoh dan menatap tajam Candra.

__ADS_1


***


Lanjut besok ya gengks 🙏🙏


__ADS_2