
Tak berapa lama kemudian. Kami sampai. Mas Reza mengantarkan ku sampai di depan rumah. Dia juga memberikan kunci mobilku.
"Mas Reza tidak masuk dulu?" tanya ku berbasa-basi.
Mas Reza menatapku sejenak kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Sepertinya tidak, Rissa. Aku takut jika Aku tidak kuat lagi menahannya," ucap Mas Reza ambigu.
Aku tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Membuat ku mengerutkan kening ku. "Maksud Mas Reza?"
Duh, jangan bilang kalau Mas Reza tidak tahan untuk menerkam tubuh ku. Wajahku terasa begitu panas memikirkannya. Sudah ku pastikan jika wajahku memerah.
Mas Reza terlihat begitu pucat. "Aku berubah pikiran, Rissa. Aku mau mampir ke dalam rumah mu. Aku harus ke toilet sekarang juga. Aku sudah tidak bisa lagi menahannya." Mas Reza seperti sedang menahan sesuatu.
Aku pun mengajaknya masuk dan segera membawanya menuju toilet dekat ruang tamu.
Mas Reza segera berlari memasuki toilet tersebut tanpa menguncinya. Hingga Aku mendengar suara Mas Reza yang memuntahkan isi perutnya. Mungkinkah dia sedang masuk angin?
Aku merasa khawatir. Aku pun menunggunya di depan toilet.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku setelah Mas Reza keluar dari toilet dengan raut wajah pucat.
"Akhir-akhir ini Aku memang sering mual tanpa sebab. Padahal Aku juga tidak pernah memiliki riwayat penyakit asam lambung."
"Mungkin Mas Reza masuk angin kali," selorohku. Namun beberapa detik kemudian Aku terdiam. Aku langsung teringat akan perubahan yang terjadi pada diriku akhir-akhir ini.
Aku yang tiba-tiba selalu merindukan Mas Reza. Dan perubahan signifikan tubuh ku. Mungkinkah? Tidak, itu pasti tidak mungkin.
"Apa Mas Reza sudah periksa ke dokter?"
"Belum." Mas Reza menggeleng.
"Mas Reza istirahat saja dulu. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa Mas Reza." ucap ku. Mas Reza mengangguk setuju.
Aku segera menelpon dokter untuk datang. Sementara Aku sebenarnya begitu deg-degan takut jika yang ku pikirkan ini benar.
__ADS_1
Setelah dokter datang. Mas Reza langsung di periksa. Sementara Aku pergi ke kamar mandi yang ada di kamarku dengan menggenggam sesuatu untuk memastikan jika praduga ku mungkin saja salah.
Aku keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang begitu gamang. Ku sembunyikan sebuah testpack yang ku bawa tadi. Aku tidak ingin semua orang tahu kalau Aku ternyata sedang hamil. Dan itu tanpa suami.
Aku kembali menemui dokter yang terlihat selesai memeriksa Mas Reza.
"Bagaimana keadaan Saya, Dok?" tanya Mas Reza.
Dokter tampak tersenyum. "Pak Reza tidak ada yang salah. Semuanya sehat dan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Dokter berucap.
"Bagaimana mungkin baik-baik saja, Dok. Orang Saya hampir setiap pagi sering muntah-muntah tidak jelas."
"Apa istri Anda sedang hamil? Karena bapak mengalami ngidam simpati. Rasa sayang dan khawatir terhadap istri yang sedang hamil yang membuat Anda mengalami sindrom tersebut. Atau mungkin karena Anda merasa khawatir pada diri Anda sendiri karena akan menjadi seorang Ayah." tutur dokter. Sontak saja masih Reza di buat melongo karenanya.
Dokter menjelaskan panjang lebar. Namun Mas Reza tampak kebingungan karenanya. Karena mungkin saja dia tidak mengetahui apakah Mbak Rika hamil atau tidaknya.
Aku menghela nafas gemas sekali dengan berandalan ini. Nakalnya nggak ketulungan jika di atas ranjang. Tapi giliran ada yang hamil, dia menjadi bingung. Mungkin saja dia lupa sudah menebar benih pada siapa saja. Antara Aku atau Mbak Rika. Amit-amit jika sampai wanita lain.
"Saran Saya, sebaiknya pak Reza sering berkomunikasi dengan istri Anda. Bicarakan apa yang istri bapak inginkan. Sindrom ini tidak berbahaya, tapi jarang sekali terjadi. Hanya ada beberapa saja yang mungkin akan mengalami hal tersebut." Dokter kembali menuturkan.
Dokter pamit untuk segera pulang. Baru setelah itu Aku mulai mendekati Mas Reza. Aku saat ini berperan sebagai adik iparnya.
"Jadi benarkah yang di katakan dokter tadi, Mas? Mbak Rika hamil?"
Mas Reza masih terbengong menatap ke arah depan.
"Mas?"
"E-eh, iya Rissa. Aku juga tidak tahu apakah Rika hamil atau tidak. Ratih belum cerita."
Aku menghela nafas ku. Aku yakin ketika dokter mengatakan bahwa dirinya mengalami ngidam simpati, pasti yang ada di pikirannya hanya Mbak Rika saja. Mungkin dia lupa jika bibitnya itu pernah menggenang di rahimku.
"Apa tidak sebaiknya Mas Reza segera mencari Mbak Rika saja. Tanyakan baik-baik. Mungkin saja Mbak Ratih ingin memberikan kejutan kepada Mas Reza. Nanti Aku akan membantu Mas Reza untuk mencari dimana keberadaan Mbak Rika."
__ADS_1
"Tidak perlu, Rissa. Kalau dia masih perduli dengan Aku, dan keluarganya. Dia akan datang dengan sendirinya, atau setidaknya akan memberi kabar."
Aku sesak mendengarnya. Aku tidak tahu apa yang mendasari Mbak Rika sampai menghilang tanpa jejak. Terlebih lagi nomor ponselnya yang tidak aktif. Membuat orang-orang yang menyayanginya seperti kami akan sangat khawatir.
"Yang sabar, Mas. Mbak Rika pasti akan kembali." Aku berusaha untuk menenangkannya.
"Sampai kapan, Rissa!"
Aku hampir melompat mendengar suara nyaring Mas Reza. Suara bass nya yang terdengar sangar dan juga seksi. Ah, apapun yang dilakukan Mas Reza terlihat begitu maskulin di mataku.
Aku tidak menjawabnya, karena Aku juga tidak tahu jawabannya. Ku putuskan untuk membiarkan Mas Reza sendirian. Mungkin ia butuh waktu sendiri saat ini.
Tapi jika dia membutuhkan pelampiasan, Aku akan pasang badan. Ku dengar ketika pria sedang marah, dia akan semakin beringas di atas ranjang. Ah, tidak. Lagi-lagi pikiran kotorku menguasai ku. Aku menggelengkan kepalaku agar pikiran itu segera hilang dalam otakku.
Aku memutuskan untuk menelpon Robi untuk melacak keberadaan Mbak Rika saat ini.
Sebenarnya Aku juga sangat khawatir dan merasa bersalah kepada kakak tiri ku itu. Aku lupa untuk menghubunginya sampai-sampai dia menghilang pun Aku tidak tahu. Duh, adik macam apa Aku ini.
Aku kembali menghampiri Mas Reza. Agaknya dia sudah merasa sedikit tenang. Namun entah mengapa pria itu terus menatap ku membuatku tidak nyaman.
"Kenapa Mas Reza menatapku seperti itu?"
Mas Reza menatapku dari atas sampai bawah. Membuat ku langsung memeriksa apakah ada yang salah dengan cara pakaianku. Tapi sepertinya tidak ada yang salah. Pakaianku normal-normal saja.
"Mas lihat apa sih?"
Mas Reza tak menjawab. Ekspresi wajahnya aneh. Matanya melebar menatap ku dengan bibir yang terbuka.
"Berhenti menatap ku seperti itu, Mas!" Aku membentaknya. Sedikit ketakutan Aku di buatnya.
"Ehem, maafkan Aku, Rissa. Aku hanya sedang ingin memakan sesuatu."
"Ma-makan a-apa, Mas?" Pikirkan ku sudah kemana-mana.
__ADS_1
***
😂😂 Isi kepala Rissa kok ngeres mulu yak 🤔. Ada yang setuju gak ðŸ¤