
POV Rissa
Aku terbangun ketika subuh menjelang. Ku lihat suamiku yang masih dalam balutan selimut. Dia masih tertidur karena mungkin terlalu kelelahan. Semalaman Reza menuruti hasr.atku berkali-kali akibat obat yang dia berikan padaku.
Aku memutuskan untuk membasuh tubuh ku dan bersuci menuju kamar mandi yang ada di kamar ini.
Kamar ini begitu luas, sehingga kamar mandi di dalamnya pun juga luas. Hampir sama dengan kamar mandi di kamar yang ada di rumah ku.
Ketika selesai mandi, Aku memikirkan tentang bagaimana janinku saat ini. Aku khawatir karena obat yang suamiku berikan kepada ku. Semoga Kamu baik-baik saja ya, Nak.
Selepas membersihkan diri, Aku mencoba mencari mukenah di dalam lemari yang ada di kamar ini. Namun aku samasekali tidak menemukannya. Kucoba lagi mencari di laci- laci lemari. Dan akhirnya Aku menemukannya.
Segera Aku melakukan ibadah ku. Di akhir ibadah, Aku memanjatkan doa kepada Allah untuk kesehatan dan kesembuhan suamiku. Aku ingin dia mengingat tentang diri ku lagi. Tapi jika Allah berkehendak lain, maka Aku harus menerimanya dengan lapang.
Selesai melakukan ibadah subuh, Aku sejenak menatap kearah suamiku yang masih terlelap dalam tidurnya. Aku bersyukur, walaupun Mas Reza tidak mengingat ku, setidaknya pria ini baik-baik saja.
Aku membenarkan selimut Mas Reza. Lalu Aku mulai melangkahkan kakiku untuk keluar dari kamar ini. Kakiku terus saja melangkah menyusuri setiap sudut demi sudut dengan mata yang mengamati setiap ruangan.
Rumah ini begitu besar dan begitu terawat. Tapi tampaknya tidak ada orang lain di rumah ini. Aku heran sebenarnya rumah siapa ini. Kenapa Mas Reza membawa ku ke rumah ini?
Aku terpaku kala melihat sebuah foto keluarga di ruang tengah. Di sana banyak berjejer pigura foto anak kecil dan kedua orang tuanya. Mereka terlihat begitu bahagia.
Namun setelah ku perhatikan, anak kecil itu begitu mirip dengan Mas Reza. Dan Aku juga melihat seorang remaja yang bertubuh kurus. Sepertinya dia Mas Reza ketika remaja. Terlihat dari kesamaan wajahnya. Hingga foto dewasa Mas Reza juga ada di sana.
Di lihat dari banyaknya foto-foto tersebut, bisa di pastikan jika ini adalah rumah Suamiku. Rumah yang begitu besar dan juga mewah. Namun Aku bingung, kenapa Mas Reza tidak mengatakannya kepada ku ataupun Mbak Rika. Kalau dia mengatakannya sejak awal, pasti tidak akan ada orang yang akan memandang rendah dirinya.
Dan yang lebih membuat ku terpaku lagi adalah foto keluarga ketika Mas Reza sudah dewasa. Di dalamnya ada sosok Tuan Batara, pemilik perusahaan terbesar nomor satu di Indonesia. Bahkan perusahaan ku masih dibawahnya. Bisa di bilang perusahaan ku nomor empat.
__ADS_1
Suamiku sekaya itu dan tidak ada orang yang mengetahuinya. Sungguh Aku heran dengan suamiku. Kenapa Dia tidak pernah mengatakan kebenaran tentang dirinya.
Aku kembali melanjutkan langkah ku untuk mencari dimana dapur. Aku ingin memasak sesuatu untuk suamiku.
Setelah sampai di dapur, Aku membuka kulkas untuk mencari mencari bahan masakan di sana, namun tak ku temukan apapun disana. Akhirnya Aku kembali ke kamar untuk memesan makanan online, karena ponselku ku tinggalkan di sana.
Ketika Aku kembali ke kamar, Mas Reza sudah tidak ada di tempat tidur. Pasti dia berada di kamar mandi. Terdengar jelas suara gemericik air dari sana.
Aku segera memesan beberapa menu makanan. Setelahnya Aku kembali meletakkan ponsel ku. Aku akan menunggu Mas Reza keluar dari kamar mandi sembari membaringkan tubuhku di atas kasur. Namun tanpa ku sadari mataku ini malah terpejam.
***
Aku merasa seperti ada yang mengelus-elus pipiku. Membuat ku sontak membuka mataku. Aku terkejut melihat Mas Reza yang sudah berada di depan ku. Aku menundukkan kepalaku. Aku masih takut dengan kemarahannya kemarin.
Sepintas Aku teringat jika tadi Aku memesan makanan online. Aku segera meraih ponsel ku. Terlihat di aplikasi jika makanan sudah di terima.
Pria itu juga menatapku. Namun tatapannya berbeda dengan yang kemarin. Jika kemarin terlihat jelas kemarahan di matanya, kini tatapan Mas Reza padaku begitu melembut. Mungkinkah Mas Reza sudah mulai menerima ku dan calon bayinya?
"Iya, Mas. Tidak apa-apa, memang Aku yang sudah memesannya," ucap ku. Mas Reza masih saja menatap ku. Membuat ku merasa begitu canggung karena di tatapnya.
"Ya sudah, kalau begitu Aku mau menata sarapan kita dulu, Mas." Aku segera beranjak. Entah mengapa Aku merasa begitu malu jika Mas Reza menatap ku seperti ini.
"Aku sudah menatanya di meja, kita tinggal makan saja." ucapnya.
"Ah, iya Mas. Kalau begitu ayo kita turun," ajakku. Mas Reza berjalan di belakang ku.
***
__ADS_1
Aku melihat Mas Reza makan dengan lahapnya. Aku menjadi senang melihatnya. Pria itu tampak sedikit kurus, jadi baik untuknya jika harus menambah porsi makannya.
Ingin sekali ku tanyakan tentang rumah ini bahkan keluarga keluarga mas Reza saat ini. Namun ku urungkan, mungkin Mas Reza membutuhkan waktu untuk menceritakannya.
"Maaf."
Di tengah lamunan ku Aku mendengar mas Reza mengatakan maaf padaku. Aku menatap wajah Mas Reza yang menyiratkan sebuah penyesalan.
"Apa maksud Mas Reza? Mengapa meminta maaf, Mas?"
"Maaf karena kemarin Aku sudah berbuat kasar padamu, Rissa. Aku akan menerima mu sebagai istri ku satu-satunya."
Aku terkejut mendengarnya. Hingga mataku ini berkedip beberapa kali saat mencerna ucapan Mas Reza.
"Tidak apa-apa, Mas. Mungkin karena mas Reza tidak mengingat ku. Tapi mas Reza jangan khawatir, Aku akan membantumu untuk mengingat tentang hubungan kita lagi."
Mas Reza hanya menjawabnya dengan tersenyum menatapku. Hingga ku dengar ponselku berbunyi. Aku meraihnya dan segera mengangkatnya. Ternyata dari Mbak Rika.
"Rissa, si mana mas Reza? Kenapa di rumah sakit ia tidak ada ? Aku ingin dia membatalkan perceraian, Rissa. Sepertinya memang mas Reza yang terbaik untuk Mbak," ucap Rika.
Tubuhku langsung menegang mendengarnya. Bukan karena apa-apa. Namun ucapan Mbak Rika membuat ku khawatir. Entah mengapa, sikap Mbak Rika menjadi berbeda. Mungkinkah dia meminta mas Reza agar tidak jadi menceraikannya karena Mbak Rika mengetahui jika Mas Reza sekarang adalah seorang CEO? Apalagi jika nanti dia mengetahui jika sebenarnya Mas Reza adalah putra dari Tuan Batara. Mungkin dia tidak akan membiarkan ku untuk menjadi istri kedua Mas Reza.
"Kamu kenapa, Rissa?" Suara Mas Reza membuat ku tersadar dari lamunanku.
"Mbak Rika ingin ketemu, Mas. Dia ingin Kamu membatalkan gugatan cerai yang kamu ajukan padanya," ucap ku.
Mas Reza terdiam dengan menatap ku. Lalu pria itu berkata, " baiklah, ayo kita temui Mbak mu," ucapnya membuat ku begitu sesak. Mas Reza pasti akan sangat senang sekali. Aku harus menerima jika Aku ini memanglah tidak akan menjadi yang pertama untuk Mas Reza.
__ADS_1
***