
POV Reza
Tubuhku terasa begitu berat. Kudengar samar-samar suara seseorang yang memanggil namaku berkali-kali. Hingga membuatku begitu ingin tahu siapa dia. Mungkinkah dia istriku, Rika?
Namun rasanya begitu sulit untuk membuka mataku ini. Suara wanita itu semakin jelas terdengar. Hingga kulihat sebuah cahaya yang begitu terang. Aku berjalan menujunya. Semuanya terlihat semakin terang, dan akhirnya Aku dalam kesadaran ku . Mataku ini akhirnya dapat ku buka.
Pandangan pertama yang ku lihat adalah seseorang yang bukan ingin ku lihat. Aku berharap istri Ku yang ada di sana. Tapi ini malah adik ipar ku. Adik ipar yang selalu saja membuat jantung ku hampir terlepas dari tempatnya.
Tapi Aku tidak ingin teralihkan olehnya. Aku hanya ingin istriku saat ini.
Tapi Aku melihatnya begitu senang kala melihat ku yang membuka mata. Hingga ia pun segera berlari mencari dokter untuk segera memeriksa keadaan ku.
Sejujurnya Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan ku ini. Bagaimana bisa Aku berada di rumah sakit? Berkali-kali Aku berpikir, tapi tak ku temukan jawabannya.
Hingga dokter selesai memeriksa ku. Rissa terlihat begitu senang dan lega dengan keadaan ku.
Aku masih mencari dimana istriku, Rika. Namun sejak tadi dia tak kunjung muncul juga. Lalu Aku kembali menatap Rissa yang kini mulai mendekatkan dirinya kepada ku. Dia duduk di kursi yang ada di samping ku. Mulai memberikan ku air putih dan membasahi kerongkongan ku yang terasa begitu kering.
Aku tidak mengerti mengapa Rissa sejak tadi tersenyum menatap ku. Hingga Aku terkejut saat ku rasakan tangannya yang mulai menyentuh jemari ku dan menggenggamnya. Bagaimana mungkin dia seberani itu? Sementara kita sama-sama memiliki pasangan masing-masing.
"Kamu ngapain pegang-pegang tanganku, Rissa?! Dimana istriku, Rika?!" Bentak ku. Rissa tampak begitu terkejut ketika ku bentak. Sungguh tidak tega sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, Aku tidak ingin jika istri Ku melihatnya nanti dia tidak salah paham dengan ku.
"Mas, tapi Aku juga istrimu. Jadi wajar jika Aku memegang tanganmu, Mas." ucapnya. Aku terkejut mendengarnya. Tatapan matanya begitu sendu menyiratkan sebuah kekecewaan.
"Istri? Sejak kapan kamu menjadi istri ku?" tanyaku langsung. Aku ingin mengetahui sebenarnya apa yang telah terjadi. Bagaimana mungkin tiba-tiba Rissa menjadi istri Ku?
Ku lihat Rissa terdiam di tempatnya. Jelas sekali dia begitu kecewa dengan pertanyaan ku.
__ADS_1
Aku mulai mendudukkan tubuh ku yang masih terasa begitu berat. Tapi Aku masih sanggup untuk hanya sekedar duduk. Bahkan jika berlari pun Aku masih mampu, walaupun tidak begitu cepat.
Aku masih menunggu Rissa mengatakan hal yang akan membuat ku paham dengan situasi saat ini.
"Mas, kita sudah menikah sudah hampir dua bulan, Mas. Apa Mas Reza tidak mengingatnya? Bahkan kita sebentar lagi akan memiliki bayi. Aku mengandung anakmu, Mas," ucap Rissa membuat ku tercenung.
Rissa hamil anakku? Mana mungkin? Aku saja tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Apa mungkin Rissa hanya berpura-pura saja? Aku masih mencerna setiap kata yang Rissa lontarkan.
"Jangan mengada-ada, Kamu! Mana mungkin bayi dalam perutmu itu anakku. Pasti itu adalah anaknya Alfin. Kenapa Kamu malah mengatakan jika itu anakku? Apa Kamu mau menjadi perusak rumah tangga kakak mu sendiri huh!" Aku masih membentaknya.
Rissa menangis. Sungguh Aku tidak tahu mengapa hatiku sakit hanya dengan melihat lelehan air matanya yang luruh itu.
"Mas, Aku tidak mungkin berbohong. Aku dan Mas Alfin sudah berpisah lama. Kamu juga sudah menikahiku, Mas. Aku adalah istri kedua mu. Apa kamu melupakan pernikahan kita? Bahkan kamu juga sudah mengajukan gugatan cerai kepada Mbak Rika melalui pengacara mu. Apa kamu masih tidak ingat itu?"
Aku langsung terbelalak mendengar penuturan Rissa. Mana mungkin Aku menggugat istriku Rika. Rika adalah cinta pertama ku. Dia adalah gadis yang sudah ku renggut kesuciannya ketika di hotel beberapa tahun lalu.
Walaupun Aku merasa seperti ada yang berbeda dari istri Ku, tapi dia sudah memberikan kesuciannya hanya padaku seorang. Dan Aku sudah berjanji akan mencintainya dan akan selalu mencoba untuk tidak berkhianat padanya.
Aku merasa begitu marah saat Rissa mengatakan jika Aku telah menggugat Rika. Aku tidak menyangka jika Rissa akan mampu berbuat seperti ini. Rissa pasti sudah memanipulasi semuanya.
Aku menatap Rissa dengan tajam. Lalu ku tarik saja pergelangan tangannya hingga membuatnya meringis. Aku langsung saja mengancamnya agar dia memberikan kunci mobilnya padaku. Rissa nampak begitu ketakutan melihat kemarahan ku. Tapi Aku puas melihatnya karena dia sudah membuat Rika istri ku pergi.
Aku menariknya menuju ke mobilnya. Di sana Aku berpapasan dengan seseorang yang hendak menghentikan ku membawa Rissa. Namun Rissa memberikan penjelasan kepada pria itu jika Aku tidak akan menyakitinya. Dan pria itu tampak percaya begitu saja.
Entah siapa pria itu. Tapi dia terlihat begitu tunduk pada Rissa. Dan sebenarnya Aku juga terkejut saat mendengar pria itu memanggil Rissa dengan sebutan Nyonya. Mungkinkah itu bawahan Rissa? Aku tidak perduli. Yang jelas Aku akan memberikan hukuman pada seseorang yang sudah membuat rumah tangga ku berantakan.
Aku mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, sehingga terlihat begitu jelas Rissa yang begitu ketakutan. Hingga sampailah kami di rumah yang sudah lama ku tinggalkan. Sebuah rumah yang begitu penuh dengan kenangan masa kecil ku.
"Mas, ini rumah siapa?" tanya Rissa namun Aku tidak menjawabnya. Langsung saja Aku menariknya dan membawanya ke kamar yang sudah lama tak ku tempati.
Aku mengambil sebuah tali, namun tak ku temukan. Sampai Aku pun akhirnya mengambil beberapa dasi untuk mengikatkan kedua tangan Rissa pada ujung tempat tidur dengan Rissa yang terbaring di sana.
"Mas, apa yang Kamu lakukan, Mas? Mas, kenapa Kamu mengikat ku?" Rissa terus saja berteriak meronta padaku. Aku tak menjawabnya. Aku langsung meninggalkannya keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Aku menghubungi seseorang yang ku kenal untuk membeli sesuatu yang akan ku gunakan untuk menghukum wanita yang sudah merusak rumah tangga ku.
Tak lama temanku datang dan membawakan sesuatu yang ku pesan tadi. Tak mau menundanya, langsung saja Aku akan memulai hukuman ku pada Rissa.
Ku buka pintu kamar di mana Rissa ku ikat. Lalu Aku masuk dengan membawa air putih dan juga obat.
Kumasukkan paksa obat itu kedalam mulut Rissa dan meminumkan air yang ku bawa. Setelah ku pastikan Rissa sudah menelannya, Aku tersenyum menyeringai menatapnya. Aku menunggu obat itu bekerja.
Tak lama obat itu bereaksi. Rissa mulai terlihat begitu gelisah. Bahkan ia mulai meliukkan tubuhnya. Semakin lama keringat bercucuran dari dahinya.
"Mas... Apa yang Kamu lakukan padaku? Kenapa rasanya begitu panas sekali ...."
Aku akan membuatnya tersiksa dengan obat yang ku berikan itu. Walaupun Aku begitu menahan gejolak dahsyat dalam diriku saat melihat Rissa seperti itu. Namun ini tidak boleh goyah. Ini adalah hukuman yang pantas untuknya.
"Mas, kenapa Kamu melakukan ini padaku, Mas? Aku tidak pernah merusak pernikahan mu dengan Mbak Rika. Kamu sendiri yang mengajak ku menikah waktu itu karena Aku mengandung anakmu. Apa Kamu lupa? Dalam perutku ada calon darah daging mu, Mas. Apa Kamu mau membahayakan anakmu sendiri?!" Rissa menangis. Namun ia masih berusaha menahan gejolak dari obat yang ku berikan tadi.
Aku tidak tahu kenapa dengan hatiku. Rasanya Aku terus saja menolak untuk iba pada Rissa. Namun bagaimana jika yang Rissa katakan benar, bagaimana jika calon anak itu benar-benar anakku?
Aku berjalan menghampirinya dan mulai melepaskan ikatannya. Rissa semakin menggeliat. "Bagaimana ini, Mas? Kenapa rasanya semakin panas ...."
Aku menghela nafas ku. "Harus ada seseorang yang memuaskan mu agar efek obat itu bisa hilang," ucap ku.
"Bantu Aku, Mas. Kumohon! Kamu adalah suami sah ku. Ku mohon bantu Aku, Mas!" Rissa tampak merengek.
"Baiklah, tapi jika anak itu lahir dan terbukti jika dia bukan anakku, maka Kamu akan menerima akibatnya!" ancam ku.
Rissa mengangguk cepat. Akhirnya Aku pun menyetujuinya dan segera ku lakukan apa yang harus dilakukan.
***
(Pikirkan sendiri ya, apa yang mereka lakukan 🥱🥱)
__ADS_1