Hasrat Mencintai Suami Orang

Hasrat Mencintai Suami Orang
Sikap yang terasa semu


__ADS_3

Setelah dari restoran, kami kembali ke hotel tempat kami menginap. Sikap Mas Reza semakin aneh tatkala dia yang semakin menempeli ku. Sungguh Aku di buat gemas olehnya.


"Mas, kalau kamu mau cerita, atau ingin meluapkan apapun itu, katakan padaku. Aku akan pasang badan untuk semua itu." ucap ku. Ku pikir sikap Mas Reza yang berlebihan padaku ini karena dia terlalu sedih atas perceraiannya.


"Kamu ngomong apa sih, Sayang?" Reza menatapku.


"Aku tahu Mas Reza begitu tak terima dengan permintaan cerai dari Mbak Rika. Mas Reza tidak perlu menutupinya dari ku. Aku tidak ingin sikap Mas Reza jadi aneh seperti ini padaku. Aku ingin Mas Reza menganggap ku sebagai Rissa, bukan sebagai Mbak Rika." Aku mengatakan apa yang ada dalam pikiran ku.


Aku memang mencintai Mas Reza. Tapi Aku tidak ingin jika hanya menjadi pelampiasan cintanya yang nyatanya bukan untukku.


Mas Reza nampak mengerutkan keningnya menatap ku. "Memangnya siapa yang bilang jika Aku tidak mencintai mu. Aku mencintaimu, Sayang. Jangan berpikir macam-macam deh," ucap Mas Reza dengan semirik senyumnya. Pria itu berusaha meyakinkan ku.


Namun entah mengapa Aku masih belum yakin dengan perkataannya itu. Bayang-bayang cinta Mas Reza kepada Mbak Rika begitu menghantuiku.


"Tapi ...."


"Sudahlah, Sayang. Jangan membahas orang lain lagi. Lebih baik Aku menengok calon bayi kita," ucapnya. Aku pun menurutinya. Aku tidak ingin menambah suasana hati suami ku yang mungkin buruk karena Mbak Rika meminta cerai. Aku ingin menjadi obat penenang untuk suamiku.


(Bayangkan sendiri, othor lagi galfok 🤭)

__ADS_1


Setelah pergumulan panas yang begitu lama, Aku memutuskan untuk terlelap. Tubuhku terasa begitu lemas karena gempuran hebat suamiku.


Samar-samar kudengar Reza tengah menerima panggilan di ponselnya. Hingga suara pintu terbuka dan tertutup kudengar semakin samar. Sepertinya suamiku tengah keluar kamar. Namun karena terlalu lemas Aku memutuskan untuk kembali tidur.


***


Pagi harinya


Aku terbangun karena merasa bibir ku terasa begitu basah. Ketika ku buka mataku, Aku membeliak. Ternyata Reza tengah mengu.lum bibir ku dengan begitu lembut. Sampai-sampai Aku ikut terhanyut dalam ciumannya. Sungguh sambutan pagi yang indah menurutku.


Aku merasa suamiku ini begitu memanjakan ku. Ah, tapi Aku lupa jika Mas Reza dan Mbak Rika akan bercerai. Mungkin ini hanya pelampiasan suamiku saja. Walaupun dalam hati Aku begitu senang karena Aku akan menjadi istri satu-satunya suamiku, tapi Aku juga ingin menjadi cinta satu-satunya. Salahkah jika Aku menginginkan semua itu?


Aku segera menyudahi ciuman itu. Tak ingin Aku larut dalam buaian semu ini.


"Tapi Aku ingin sekali, Sayang. Sebentar saja ya, please...!" Suamiku menampilkan wajah memelasnya. Membuat ku menghela nafas sejenak.


Mas Reza memang memiliki nafsu yang begitu besar. Sebagai istri Aku harus bisa mengimbanginya jika tidak ingin Mas suamiku mencari pelampiasan lainnya.


Akhirnya pagi ini kami kembali melakukan pergumulan yang cukup panas. Seperti janji Mas Reza. Kami melakukannya tidak lama. Hampir satu jam saja kami selesai.

__ADS_1


Setelahnya, Mas Reza menggendong tubuh ku menuju ke dalam kamar mandi. Pagi ini kami mandi bersama. Lebih tepatnya, Mas Reza lah yang memandikan ku. Aku menjadi merasa semakin aneh dengan sikap lembutnya. Aku berharap semua sikap ini nyata untuk ku.


Setelah selesai mandi, Mas Reza mengajakku untuk jalan-jalan. Namun kali ini bukan pantai yang akan kami tuju. Entah Mas Reza ingin mengajak ku kemana. Pria itu nampak begitu bersemangat.


Ketika kami menuju parkiran, Aku heran melihat Candra yang berada di sekitaran mobil kami. Mungkinkah dia juga menginap di hotel yang sama dengan kami?


Aduh, kenapa Aku bisa lupa? Tentu saja dia menginap di sini juga. Hotel ini kan adalah hotel miliknya.


Candra nampak tersenyum menatap ku. Namun Aku tidak menggubrisnya. Aku mengacuhkan pria itu.


Sementara Reza menatap tajam Candra. Tatapannya tampak begitu marah, hingga ia mendekati Candra dan melayangkan tangannya.


"Mas, sudah! Lebih baik kita segera pergi dari sini," seruku. Mas Reza langsung menurunkan kepalan tangannya. Suamiku melunak. Dia menatapku dengan begitu lembut.


"Baiklah, Sayang. Ayo kita pergi dari sini." ajak Mas Reza. Namun tatapannya menghunus tajam kearah Candra.


Baru saja kami mau membuka pintu mobil, sebuah teriakkan memanggil namaku. Membuat ku dan Mas Reza bahkan Candra menatap ke arah suara.


"Mbak Rika...." ucap ku dalam hati.

__ADS_1


Ku lihat Mbak Rika dan pria bernama Berril itu berjalan mendekat ke arah kami.


***


__ADS_2