
"Kalian mau kemana, Risa?" tanya Mbak Rika yang berjalan ke arah ku. Namun tatapannya mengarah ke arah Mas Reza.
"Mas Reza mau mengajakku ke suatu tempat, Mbak," jawabku.
"Mau kemana? Kenapa nggak ikutan Mbak aja?" tawar Mbak Rika. Lalu ia nampak terkejut ketika melihat keberadaan Candra yang tak jauh juga dari kami. Namun Mbak Rika langsung menatap ke arah lainnya.
"Tidak usah, karena Aku ingin mengajak Rissa ke suatu tempat." ucap Mas Reza dengan ketus. Aku tahu jika dia masih marah dengan keputusan Mbak Rika.
"Tapi kita ke restoran K dulu ya, Sayang. Aku harus menandatangani kerjasama dengan Tuan Gara," ucap Mas Reza memandangku. Aku pun mengangguk menyetujuinya.
Mbak Rika nampak mengerutkan keningnya. "Bukannya kontraktor itu tinggal mengambil pekerjaan yang di berikan dari atasannya ya? Kok pakai acara penandatanganan kerjasama segala."
"Mas Reza sudah bukan kontraktor, Mbak. Sekarang Mas Reza adalah CEO di perusahaan Wiryawan groups," ucap ku. Mbak Rika nampak terkejut.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa Mas Reza menjadi CEO di perusahaan terkemuka itu? Enak ya kamu, Rissa. Aku yang bertahun-tahun menemani Mas Reza dari nol, tapi sekarang kamu yang menikmati semua hasilnya?" Seloroh Mbak Rika.
Aku ingin menjawabnya, Namun Mas Reza keburu mengajakku memasuki mobil.
"Ayo masuk, Sayang. Kita harus segera pergi. Aku tidak ingin Tuan Gara menunggu terlalu lama." ajak Mas Reza. Lalu Mas Reza menatap Mbak Rika. "Dan untuk mu, Aku sudah mengajukan gugatan ke pengadilan agama melalui pengacara ku, jadi bersiaplah untuk menandatangani surat perceraian kita nanti," ucap Mas Reza penuh penekanan.
Mbak Rika tampak begitu kesal. Sementara Aku begitu terkejut melihat Mas Reza yang berubah menjadi sedingin itu kepada Mbak Rika. Aku masih berpikir jika Mas Reza mungkin hanya berpura-pura saja.
Akhirnya Aku dan Mas Reza segera memasuki mobil. Mas Reza mengemudikan mobil sendiri. Aku tidak tahu kemana nanti Suamiku akan membawaku pergi.
Hingga kami di kejutkan dengan motor yang tiba-tiba saja menyebrang dari jalan yang berlawanan arah. Mas Reza mencoba untuk banting setir. Namun naas, mobil kami terguling hingga beberapa kali. Kecelakaan pun tak terelakkan.
Aku merasa begitu pusing, namun Aku masih dalam kesadaran ku. Kulihat Mas Reza yang bersimbah darah di bagian kepalanya. Tanpa terasa air mata ku luruh. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku memanggilnya dengan suara lirih. Dia tidak bergerak sama sekali. Matanya tertutup. Membuat tangisan ku semakin nyata.
__ADS_1
Ingin Aku berteriak memanggil namanya, tapi suara ini seolah tersangkut di tenggorokan ku. Aku hanya bisa menjerit memanggil Mas Reza dalam hati. Hingga perlahan pandangan ku mulai memburam dan semakin menggelap. Aku tidak lagi bisa mengingat apapun lagi.
***
Aku terbangun dari tidur ku. Aku berkeringat banyak sekali. Sepertinya Aku bermimpi begitu buruk. Aku kembali menangis mengingat bagaimana mimpi ku.
Namun Aku tercekat saat ku lihat selang infus yang ada di tangan ku. Aku memperhatikan seluruh anggota tubuh ku sendiri. Banyak luka-luka yang ada di tubuh ku. Jantungku terpompa begitu cepat saat menyadari jika yang terjadi ini adalah nyata.
Satu yang ada dalam benakku saat ini, yaitu Mas Reza. Bagaimana dengan keadaannya?
***
Beberapa bab lagi POV Reza. Jadi nanti bisa tahu tentang semuanya di sana, tentang semua perubahan sikap Reza. 😘🥰
__ADS_1
happy reading...