
Mas Reza terkejut melihat kehadiranku di sana. Secepat kilat ia mendorong tubuh Dira hingga terjatuh.
"Tega kamu, Mas Reza! Kau sudah menikahi kakakku, dan kau juga akan menikahi sahabatku. Dan sekarang kau mencoba untuk menggagahiku. Dasar pria tidak bermoral!" Dira melontarkan kata-kata kasar kepada Reza. Sungguh munafik sahabatku ini. Sungguh aku tidak mengenali lagi dengan sifatnya itu.
"Tidak Rissa, ini semua tidak benar. Kau harus percaya kepada ku. Ini semua adalah ulahnya," tunjuk Mas Reza dengan menatap garang kepada Dira.
Aku hanya terdiam dan tidak menjawab apapun.
"Ada apa ini ribut-ribut!" Suara Chandra terdengar nyaring dari belakang ku. Pria itu mendekat ke arah Dira. Dia berlagak marah melihat Dira yang kini polos tanpa busana sedang berada di kamar Reza.
"Dira! Apa-apaan kamu ini. Kamu seperti wanita murahan saja. Menyesal Aku memutuskan untuk menikahimu." Candra terlihat begitu marah. Tapi Aku tahu semua itu hanyalah akting semata.
Pandangan Candra beralih kepada ku.
"Rissa, Kau harus membatalkan menikah dengan pria kurang ajar itu!" Candra menyudutkan Mas Reza yang masih diam di tempatnya. Namun terlihat jelas rahangnya yang mengeras, dan tangannya mengepal kuat bersiap untuk menghajar Candra habis-habisan.
Sesuai dengan dugaan ku. Mas Reza langsung menghajar Candra dengan tinjunya yang besar itu. Hingga darah segar mengalir dari sudut bibir Candra.
Sementara Dira begitu terkesiap melihat Reza segarang itu. Biasanya pria itu terlihat pendiam dan cuek saja. Tapi kalau sudah di usik, jangan tanya lagi. Siapapun pasti habis babak belur di buatnya.
Mas Reza mendekati Candra dan kembali menarik kerah baju Candra. Sementara tangan satunya melayang ke atas kembali mau memukul Candra.
"Hentikan, Mas!" Teriakku.
__ADS_1
Mendengar suaraku Mas Reza melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Chandra.
"Sudah Mas, jangan bertindak anarkis. Aku percaya sama Mas Reza." ucap ku.
"Kamu kok percaya gitu aja sama preman ini, Ris! Dia mau memper.kosa ku loh. Seharusnya kamu marahin dia kek, apa kek!"
"Tapi kamu tidak terlihat seperti orang yang mau di per.kosa, Dir. Raut wajah mu biasa saja dan kamu juga tidak menangis." ucap ku. Dira nampak bengong mendengar penuturan ku. Ia sedikit tergagap. Tapi dengan cerdiknya ia segera menutupinya dengan marah-marah.
"Apa?! Jadi Aku harus nangis-nangis dulu gitu, baru kamu percaya! Heran Aku punya sahabat kayak kamu, Ris. Reza itu seorang preman, begajulan, dan numpang lagi di rumah Mbak Rika. Kamu itu mau-maunya saja di jadikan istri kedua sama dia!"
Salut sekali Aku dengan sahabatku itu. Membela diri dengan menghina Reza serendah itu. Apa karena dia gagal mendapatkan keperkasaan Reza, hingga dia uring-uringan seperti itu.
"Rissa, kamu harus membatalkan pernikahan mu dengan pria breng.sek ini. Kamu ini sahabat ku, makanya Aku tidak ingin kau menyesal. Jangan menjadi bodoh seperti Mbak Rika." Dira kembali berdalih.
Aku tersenyum miring. "Bodoh mana dengan kalian yang menjebak Mas Reza dengan cara yang rendahan seperti ini?"
"Menjebak bagaimana maksudmu, Rissa?"
"Kalian berdua sudah merencanakan semuanya kan. Kamu menggoda Mas Reza dan Candra dan Aku yang memergokinya. Biar apa? Biar kalian bisa memecah hubungan ku dengan Mas Reza kan?"
Aku masih belum mengatakan masalaluku bersama dengan Candra. Keburukan Candra yang sengaja Aku pendam. Aku tidak ingin menyebutkan semuanya.
"Rissa, kamu kok tega menuduh ku sih!" ujar Dira.
__ADS_1
"Aku tidak menuduh, Dir. Asal kamu tahu, Dira. Aku melihat semua yang Kau lakukan tadi. Kau menggoda Mas Reza, bahkan Kau menari erotis di depan Mas Reza."
Dira tersudut. Namun dari tatapan tidak mengisyaratkan penyesalan sama sekali. Bahkan ia menatapku dengan pandangan permusuhan. Dira yang sekarang sungguh jauh berbeda dari Dira yang dulu.
"Terus saja Kau menuduhku, Rissa. Lama-lama Kau begitu memuakkan!"
Sikap Dira berubah. Biasanya yang ceria dan baik, kini berubah menjadi pemarah, mudah tersinggung dan pandai berbohong. Semua itu terjadi sejak kedekatannya dengan Candra.
Dira beringsut mengenakan pakaiannya. Baru setelah itu dia menarik Candra dan mengajaknya pergi dari sana.
"Ayo Candra, kita pergi dari sini!"
Dira segera mengajak Candra pergi karena rencananya gagal total. Ku dengar tak berapa lama mobil Candra mulai meninggalkan villa ini.
"Aku tidak menyangka sahabat ku akan menjadi seperti itu, Mas." Reza menghampiriku. Dia bermaksud untuk menenangkan ku.
"Semua yang terjadi ini kita ambil hikmahnya saja, Rissa. Mungkin ini sudah jalan dari yang maha kuasa. Sudah, lebih baik Kamu istirahat dulu, Aku akan menemanimu," ucap Mas Reza membuat ku langsung menatapnya.
"Tidak usah Mas, lebih baik Mas Reza menemani Mbak Ratih," tolak ku.
Ah, kenapa Aku menolaknya sih, sebenarnya Aku memang butuh Mas Reza saat ini.
"Aku tidak akan melakukan apapun terhadap mu, Rissa. Aku hanya ingin membuat mu tenang saja. Lagipula sebentar lagi kita juga akan menjadi suami istri. Jadi anggap saja ini latihan," ucap Mas Reza. Aku akhirnya mengangguk. Duh, rasanya jantungku dag-dig-dug membayangkan Mas Reza akan menemani tidur ku malam ini.
__ADS_1
Aku dan Mas Reza memasuki kamar ku setelah pria itu menutup pintu kamar Mbak Rika. Aku membaringkan tubuhku di kasur ku. Sementara Mas Reza berada di samping ku. Kami tidur saling berhadapan. Dia tersenyum menatap ku. Membuat ku begitu berbunga di tatap seperti ini.
Mas Reza mengulurkan tangannya dan mengusap lembut rambut ku. Membuat ku terbuai untuk memejamkan mata. Perlahan terlarut dalam mimpi dan tertidur dalam buaian usapan lembut tangan mas Reza.