
Angka dua belas menjadi tempat perhentian kedua jarum jam
itu. Sepasang mata sayu nan indah menyerupai permata fluorit milik Charlotte
tak kunjung terpejam. Detak jantung tak karuan yang semakin lama semakin terasa
cepat dan rasa tubuh yang dingin sampai gemetaran kembali menghampirinya. Sudah
hampir dua hari berturut-turut rasa itu
terus datang menghantuinya di malam hari.
Gadis itu membuka laci meja kecil di samping tempat
tidurnya. Tangannya sibuk mencari-cari bungkusan obat Alprazolam yang tersimpan
di dalam laci. Obat penenang berwujud tablet dengan warna ungu pucat. Namun,
bungkusan itu tak kunjung teraba oleh jangkauan tangannya. Laci itu benar-benar
kosong melompong.
Ia mulai berusaha mengingat-ingat dimana bungkusan obat
itu terakhir kali diletakannya.
Meski tubuhnya juga turut terasa letih, Charlotte
bersikeras menapakkan kedua kakinya. Suara derit anak tangga mengiringi derap
langkahnya. Satu per satu laci dibukanya. Seluruh meja dan sudut-sudut rak juga
tak lupa diperiksa oleh gadis itu. Tapi, ia tak kunjung menemukan bungkus obat Alprazolam
yang dicari.
“Charlotte?” suara sayup itu terdengar menyebut namanya. Bunyi
derit pintu lemari dan laci, serta derap langkah kaki gadis itu membangunkan
Dean yang tertidur di sofa ruang tamu.
Gadis bersurai emas itu menelan ludahnya, “Sorry! I didn’t mean to wake you up!” ucapnya
sedikit terbata sembari mempercepat langkahnya menuju tangga.
Dean langsung duduk dan menjangkau tangan Charlotte, “Wait, wait. I don’t mind at all, no need to
apologize.”
Charlotte mengerjap. Ia terperangah untuk beberapa detik.
Dean bilang apa barusan?
Pemuda itu berdehem pelan sambil menggeser posisi
duduknya, “Come here, sit down for a
while,” bujuknya.
Charlotte pun menekuk kedua lututnya dan duduk tepat di
sebelah Dean.
“Ngomongnya pakai bahasa Indonesia nggak apa-apa kan?”
“Kamu mau bilang apa?” tanya Charlotte dengan suara
pelan, nyaris tak terdengar.
Pertanyaan gadis itu seakan membuatnya yakin bahwa ia
boleh mengutarakan pertanyaan itu.
Dean menunjuk pergelangan tangannya sendiri.
Tanpa perlu dijelaskan dengan kata-kata, Charlotte sudah
paham. Pemuda itu pasti hendak menanyakan deretan luka gores yang menghiasi
pergelangan tangannya. Ia langsung menggulung lengan loose knit sweater-nya.
“Ini... luka bekas self-harm,”
jelasnya.
Ya, Dean pernah mendengar kata itu sebelumnya. Itu adalah
tindakan melukai tubuh sendiri dengan benda tajam atau benda tumpul. Biasanya,
orang-orang yang melakukan self-harm diikat oleh gangguan suasana hati yang kacau balau.
Pemuda itu tak habis pikir. Charlotte memang benar-benar
mahir menyembunyikan sisi gelapnya sampai tertutup sempurna dengan senyum manis
berseri yang terlihat begitu tulus, seolah-olah senyuman itu mewakili suasana
cerah dalam hati.
“Aku memang nggak pernah cerita soal ini ke siapa-siapa,”
ia tersenyum getir. “Not even my grandma
nor dad.”
Matanya sembapnya mulai berkaca-kaca. “It all started when I was going to graduate
from middle school. Salah satu dari tiga orang yang paling aku sayang pergi,
and that person was my mom. Dia cerai
sama ayah terus ninggalin kita bertiga di rumah ini. Terus, nggak lama lagi
ayah sibuk banget sama kerjaannya. So, he
could fund our lives.”
Gadis itu menghela nafas, “I was glad my grandma always be there for me. But, later on... She got
ill and God took her away from me.” Air mata kembali membasahi kedua
__ADS_1
pipinya, “I fell on the lowest point of
my life... That I thought... I should follow her instead of continue living
there, all by myself.”
Suasana hening sejenak. Hanya suara isak tangis Charlotte
yang tedengar.
“I
threw all my hopes away... When it’s all about to happen... You came,” senyuman tipis terukir di bibirnya, “Maybe God really sent you to meet me so I could live on.”
***
Dean membuka jendela ruang tamu lebar-lebar, membiarkan
angin sepoi menghembus masuk di tengah-tengah teriknya suburb New York pada siang hari. Suara gemerisik dedaunan dan
kicauan sekelompok pipit mungil, berbaris bagai paduan suara terdengar begitu
harmonis. Berbeda dengan daerah yang sempat ditinggali Dean selama
bertahun-tahun, tempat ini terasa bagai pedesaan berkedok kota.
Suasana damai Cobble Hill dan angin sepoi yang
menghembuskan rasa sejuk terasa begitu memaksanya untuk menikmati hari-hari
santai di musim panas. Walaupun demikian, hatinya menolak ajakan itu mentah-mentah.
Ia masih tak habis pikir akan peristiwa bersejarah yang terjadi dua minggu
lalu. Sebab, tak pernah satu kali pun dirinya menduga-duga bahwa Charlotte
hidup dalam nuansa muram. Gadis yang selalu memancarkan aura ceria dari diirnya
bagai mentari itu ternyata menyembunyikan badai di tengah laut yang membuat
hatinya terombang-ambing oleh konflik. Entah mengapa rasa iba menyelip dalam
hati Dean saat gadis itu mulai menceritakan segalanya senantiasa membelenggu
pikirannya.
Ternyata angin tak mengenal putus asa. Angin sepoi-sepoi
itu terus bertiup seolah mengelus-elus wajah Dean yang terlihat letih. Ia
selalu terjaga tiap kali suara derit lemari kayu mulai terdengar di malam hari.
Dimana Charlotte menelusuri seluruh laci demi menemukan sebungkus alprazolam
yang selalu sukses membantunya tenang tiap kali serangan anxiety muncul, meski lemari kayu itu bukan tempat persembunyian
bagi pembawa maut berwujud tablet berwarna ungu pucat. Dengan sengaja, benda
itu sudah Dean buang jauh-jauh dari jangkauan jemari halus itu. Sepasang
matanya perlahan mulai terpejam menuruti perintah hembus angin yang terus
pergi walau hanya akan terjadi dalam durasi relatif singkat.
Gadis berkebangsaan Amerika itu menatap lembaran kertas sketchbook miliknya. Sudah cukup lama
mata sembapnya terpaku pada objek putih bersih tanpa bekas goresan pensil
sedikit pun. Ia tak kunjung menggerakkan tangan kanannya untuk menorehkan
guratan tipis-tipis khas sketsa pensil seperti yang biasa dirinya bisa lakukan
dengan mudah.
Charlotte menatap sekeliling kamar tidurnya.
Interior ruangan ini terlihat sangat simple. Dinding bercat baby blue, lantai kayu, barisan boneka teddy bear manis dengan berbagai macam
ukuran yang mengenakan topi, jas hujan, dan sepatu boots. Serta beberapa
perabotan berwarna senada. Tak ada satu pun objek bisa menarik perhatian gadis
pemilik rambut pirang yang menjuntai panjang dan sedikit berkelok itu. Tak
butuh waktu lama bagi Charlotte untuk beranjak pergi meninggalkan kamar dan
mulai menelusuri seluruh ruangan di rumah dengan kesan minimalis dan sederhana
ini.
Langkah kakinya terhenti detik itu juga saat sepasang
iris fluorit miliknya menangkap Dean yang tengah tertidur pulas di atas sofa beige ruang tamu. Kilas balik sekejap
berlalu dalam benak Charlotte. Wajah Dean benar-benar mengingatkan gadis itu
akan mantan kekasihnya sewaktu SMA dulu yang juga memiliki rambut coklat pendek
dan darah keturunan Asia. Pemuda yang datang memberikan seberkas cahaya terang
sesaat setelah ibu Charlotte bercerai dan meninggalkan suami, putri, dan
mertuanya. Itulah satu alasan mengapa gadis bersurai pirang itu menerima
kehadiran Dean yang tak dikenalnya sama sekali sebagai tunangannya. Meskipun sifat
mereka tak menemui titik potong, keduanya memiliki paras hampir serupa.
Charlotte menekuk kedua lututnya dan duduk bersebrangan
dengan Dean yang masih terlelap di bawah tiupan angin sepoi. Suara goresan
lembut pensil di atas kertas mulai terdengar.
Memori seolah kembali berputar dalam pikirannya laksana
sebuah piringan hitam yang melantunkan sebuah medley nan harmonis dan merdu. Ingatan sejuk itu membuat Charlotte
rindu akan masa lalunya. Masa dimana ada seseorang yang hadir mengulurkan
tangannya dan membantu dirinya bangkit dari jurang kelam agar gadis itu bisa
__ADS_1
kembali menyaksikan pelangi di tengah-tengah hamparan ladang bunga nan indah
bermekaran.
Hatinya tak mampu berdalih. Ia memang sempat terbisikkan
oleh suara hati untuk membuang jauh-jauh perasaan dirinya untuk Dean. Namun, pemuda
itu justru datang di saat-saat tak terduga. Membuktikan pada Charlotte bahwa Dean
masih layak untuk ia cintai, walau perasaannya hanyalah ‘one-sided love’.
***
Semburat kemuning mulai mewarnai daun-daun dan
rerumputan. Beberapa lembar daun yang sudah berwarna jingga sempurna mengudara
dibawa angin bagai pesawat jet, lalu mendarat sempurna di atas tanah. Dalam
bahasa bunga, dedaunan jingga kemerahan itu menyiratkan sebuah makna perubahan
indah.
Charlotte tersenyum tipis sembari membalikkan lembar demi
lembar buku sketsanya. Perasaan senang muncul saat hampir seluruh kertas sudah
terisi penuh. Goresan-goresan pensil yang ia ciptakan juga terasa lebih luwes
akhir-akhir ini. Salah satu pertanda bahwa cengkraman beban pikirannya telah
terlepas dan sirna.
Tak hanya itu, perasaannya berangsur jenih laksana embun
pagi. Pemuda yang selama ini ditaksirnya, Dean, selalu meluangkan detik dan
menit berharganya untuk berbasa-basi dengan bincangan singkat namun terasa
begitu hangat bagi Charlotte.
“What
are you drawing?” pertanyaan itu
tiba-tiba memecah heningnya pagi.
Charlotte tersentak. Cepat-cepat buku sketsa itu
didekapnya dalam rangkulan. Ia tersipu-sipu sembari menyelipkan surai pirang
miliknya ke belakang telinga.
“Nothing...
Uh... I mean... I haven’t started drawing yet... I... I was just looking back
at everything I have drawn... for past three months...”
“Sounds
cool. Can I see?”Dean
mengulurkan tangannya.
Sepasang mata hijau-kebiruan itu terpaku pada benda perak
berkilau yang melingkar di jari manis Dean. Hatinya seolah melambung tinggi ke
langit ketujuh. Jantungnya berdebar-debar. Otaknya berseru-seru memerintah
syaraf motorik agar mengukirkan senyuman bahagia di bibir gadis itu.
Menyadari Charlotte belum menjawab, pemuda bersurai
coklat pendek itu menjentikkan jarinya. “Can
I?” ia mengulang pertanyaannya sekali lagi.
Gadis itu mengerjap beberapa saat. “Oh, yes, of course you can!” jawabnya sambil menyerahkan buku
bersampul merah terang itu.
Dean membalikkan satu per satu lembaran putih di dalam sketchbook milik Charlotte.
“I
thought you only can draw something like... buildings... atau apalah namanya itu yang ada di kertas biru gitu...”
Charlotte terkekeh pelan, “Blueprint. It’s blueprint.”
“Sorry...
I’m not into architecture,
aku anak fakultas hukum.”
Telunjuknya menyalip, membalikkan lembar halaman menuju
yang berikutnya. Sorot matanya tertuju pada beberapa sketsa gambar dirinya yang
tengah terlelap di ruang tamu.
Sebuah pemandangan langka terjadi di hadapan Charlotte.
Pemuda itu tertawa ringan.“Kamu ngapain, sih? Iseng
banget kamu, ya!” ia mencubit hidung mancung gadis itu dengan gemas.
“Ow...”
Dean menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oh, iya. Ngomong-ngomong aku mau pulang ke Jakarta besok.
Kamu ikut aku, ya? I haven’t introduced
you to my family in there.”
__ADS_1