Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 10 – Summer


__ADS_3

Angka dua belas menjadi tempat perhentian kedua jarum jam


itu. Sepasang mata sayu nan indah menyerupai permata fluorit milik Charlotte


tak kunjung terpejam. Detak jantung tak karuan yang semakin lama semakin terasa


cepat dan rasa tubuh yang dingin sampai gemetaran kembali menghampirinya. Sudah


hampir  dua hari berturut-turut rasa itu


terus datang menghantuinya di malam hari.


Gadis itu membuka laci meja kecil di samping tempat


tidurnya. Tangannya sibuk mencari-cari bungkusan obat Alprazolam yang tersimpan


di dalam laci. Obat penenang berwujud tablet dengan warna ungu pucat. Namun,


bungkusan itu tak kunjung teraba oleh jangkauan tangannya. Laci itu benar-benar


kosong melompong.


Ia mulai berusaha mengingat-ingat dimana bungkusan obat


itu terakhir kali diletakannya.


Meski tubuhnya juga turut terasa letih, Charlotte


bersikeras menapakkan kedua kakinya. Suara derit anak tangga mengiringi derap


langkahnya. Satu per satu laci dibukanya. Seluruh meja dan sudut-sudut rak juga


tak lupa diperiksa oleh gadis itu. Tapi, ia tak kunjung menemukan bungkus obat Alprazolam


yang dicari.


“Charlotte?” suara sayup itu terdengar menyebut namanya. Bunyi


derit pintu lemari dan laci, serta derap langkah kaki gadis itu membangunkan


Dean yang tertidur di sofa ruang tamu.


Gadis bersurai emas itu menelan ludahnya, “Sorry! I didn’t mean to wake you up!” ucapnya


sedikit terbata sembari mempercepat langkahnya menuju tangga.


Dean langsung duduk dan menjangkau tangan Charlotte, “Wait, wait. I don’t mind at all, no need to


apologize.”


Charlotte mengerjap. Ia terperangah untuk beberapa detik.


Dean bilang apa barusan?


Pemuda itu berdehem pelan sambil menggeser posisi


duduknya, “Come here, sit down for a


while,” bujuknya.


Charlotte pun menekuk kedua lututnya dan duduk tepat di


sebelah Dean.


“Ngomongnya pakai bahasa Indonesia nggak apa-apa kan?”


“Kamu mau bilang apa?” tanya Charlotte dengan suara


pelan, nyaris tak terdengar.


Pertanyaan gadis itu seakan membuatnya yakin bahwa ia


boleh mengutarakan pertanyaan itu.


Dean menunjuk pergelangan tangannya sendiri.


Tanpa perlu dijelaskan dengan kata-kata, Charlotte sudah


paham. Pemuda itu pasti hendak menanyakan deretan luka gores yang menghiasi


pergelangan tangannya. Ia langsung menggulung lengan loose knit sweater-nya.


“Ini... luka bekas self-harm,”


jelasnya.


Ya, Dean pernah mendengar kata itu sebelumnya. Itu adalah


tindakan melukai tubuh sendiri dengan benda tajam atau benda tumpul. Biasanya,


orang-orang yang melakukan self-harm diikat oleh gangguan suasana hati yang kacau balau.


Pemuda itu tak habis pikir. Charlotte memang benar-benar


mahir menyembunyikan sisi gelapnya sampai tertutup sempurna dengan senyum manis


berseri yang terlihat begitu tulus, seolah-olah senyuman itu mewakili suasana


cerah dalam hati.


“Aku memang nggak pernah cerita soal ini ke siapa-siapa,”


ia tersenyum getir. “Not even my grandma


nor dad.”


Matanya sembapnya mulai berkaca-kaca. “It all started when I was going to graduate


from middle school. Salah satu dari tiga orang yang paling aku sayang pergi,


and that person was my mom. Dia cerai


sama ayah terus ninggalin kita bertiga di rumah ini. Terus, nggak lama lagi


ayah sibuk banget sama kerjaannya. So, he


could fund our lives.”


Gadis itu menghela nafas, “I was glad my grandma always be there for me. But, later on... She got


ill and God took her away from me.” Air mata kembali membasahi kedua

__ADS_1


pipinya, “I fell on the lowest point of


my life... That I thought... I should follow her instead of continue living


there, all by myself.”


Suasana hening sejenak. Hanya suara isak tangis Charlotte


yang tedengar.


“I


threw all my hopes away... When it’s all about to happen... You came,” senyuman tipis terukir di bibirnya, “Maybe God really sent you to meet me so I could live on.”


***


Dean membuka jendela ruang tamu lebar-lebar, membiarkan


angin sepoi menghembus masuk di tengah-tengah teriknya suburb New York pada siang hari. Suara gemerisik dedaunan dan


kicauan sekelompok pipit mungil, berbaris bagai paduan suara terdengar begitu


harmonis. Berbeda dengan daerah yang sempat ditinggali Dean selama


bertahun-tahun, tempat ini terasa bagai pedesaan berkedok kota.


Suasana damai Cobble Hill dan angin sepoi yang


menghembuskan rasa sejuk terasa begitu memaksanya untuk menikmati hari-hari


santai di musim panas. Walaupun demikian, hatinya menolak ajakan itu mentah-mentah.


Ia masih tak habis pikir akan peristiwa bersejarah yang terjadi dua minggu


lalu. Sebab, tak pernah satu kali pun dirinya menduga-duga bahwa Charlotte


hidup dalam nuansa muram. Gadis yang selalu memancarkan aura ceria dari diirnya


bagai mentari itu ternyata menyembunyikan badai di tengah laut yang membuat


hatinya terombang-ambing oleh konflik. Entah mengapa rasa iba menyelip dalam


hati Dean saat gadis itu mulai menceritakan segalanya senantiasa membelenggu


pikirannya.


Ternyata angin tak mengenal putus asa. Angin sepoi-sepoi


itu terus bertiup seolah mengelus-elus wajah Dean yang terlihat letih. Ia


selalu terjaga tiap kali suara derit lemari kayu mulai terdengar di malam hari.


Dimana Charlotte menelusuri seluruh laci demi menemukan sebungkus alprazolam


yang selalu sukses membantunya tenang tiap kali serangan anxiety muncul, meski lemari kayu itu bukan tempat persembunyian


bagi pembawa maut berwujud tablet berwarna ungu pucat. Dengan sengaja, benda


itu sudah Dean buang jauh-jauh dari jangkauan jemari halus itu. Sepasang


matanya perlahan mulai terpejam menuruti perintah hembus angin yang terus


pergi walau hanya akan terjadi dalam durasi relatif singkat.


Gadis berkebangsaan Amerika itu menatap lembaran kertas sketchbook miliknya. Sudah cukup lama


mata sembapnya terpaku pada objek putih bersih tanpa bekas goresan pensil


sedikit pun. Ia tak kunjung menggerakkan tangan kanannya untuk menorehkan


guratan tipis-tipis khas sketsa pensil seperti yang biasa dirinya bisa lakukan


dengan mudah.


Charlotte menatap sekeliling kamar tidurnya.


Interior ruangan ini terlihat sangat simple. Dinding bercat baby blue, lantai kayu, barisan boneka teddy bear manis dengan berbagai macam


ukuran yang mengenakan topi, jas hujan, dan sepatu boots. Serta beberapa


perabotan berwarna senada. Tak ada satu pun objek bisa menarik perhatian gadis


pemilik rambut pirang yang menjuntai panjang dan sedikit berkelok itu. Tak


butuh waktu lama bagi Charlotte untuk beranjak pergi meninggalkan kamar dan


mulai menelusuri seluruh ruangan di rumah dengan kesan minimalis dan sederhana


ini.


Langkah kakinya terhenti detik itu juga saat sepasang


iris fluorit miliknya menangkap Dean yang tengah tertidur pulas di atas sofa beige ruang tamu. Kilas balik sekejap


berlalu dalam benak Charlotte. Wajah Dean benar-benar mengingatkan gadis itu


akan mantan kekasihnya sewaktu SMA dulu yang juga memiliki rambut coklat pendek


dan darah keturunan Asia. Pemuda yang datang memberikan seberkas cahaya terang


sesaat setelah ibu Charlotte bercerai dan meninggalkan suami, putri, dan


mertuanya. Itulah satu alasan mengapa gadis bersurai pirang itu menerima


kehadiran Dean yang tak dikenalnya sama sekali sebagai tunangannya. Meskipun sifat


mereka tak menemui titik potong, keduanya memiliki paras hampir serupa.


Charlotte menekuk kedua lututnya dan duduk bersebrangan


dengan Dean yang masih terlelap di bawah tiupan angin sepoi. Suara goresan


lembut pensil di atas kertas mulai terdengar.


Memori seolah kembali berputar dalam pikirannya laksana


sebuah piringan hitam yang melantunkan sebuah medley nan harmonis dan merdu. Ingatan sejuk itu membuat Charlotte


rindu akan masa lalunya. Masa dimana ada seseorang yang hadir mengulurkan


tangannya dan membantu dirinya bangkit dari jurang kelam agar gadis itu bisa

__ADS_1


kembali menyaksikan pelangi di tengah-tengah hamparan ladang bunga nan indah


bermekaran.


Hatinya tak mampu berdalih. Ia memang sempat terbisikkan


oleh suara hati untuk membuang jauh-jauh perasaan dirinya untuk Dean. Namun, pemuda


itu justru datang di saat-saat tak terduga. Membuktikan pada Charlotte bahwa Dean


masih layak untuk ia cintai, walau perasaannya hanyalah ‘one-sided love’.


***


Semburat kemuning mulai mewarnai daun-daun dan


rerumputan. Beberapa lembar daun yang sudah berwarna jingga sempurna mengudara


dibawa angin bagai pesawat jet, lalu mendarat sempurna di atas tanah. Dalam


bahasa bunga, dedaunan jingga kemerahan itu menyiratkan sebuah makna perubahan


indah.


Charlotte tersenyum tipis sembari membalikkan lembar demi


lembar buku sketsanya. Perasaan senang muncul saat hampir seluruh kertas sudah


terisi penuh. Goresan-goresan pensil yang ia ciptakan juga terasa lebih luwes


akhir-akhir ini. Salah satu pertanda bahwa cengkraman beban pikirannya telah


terlepas dan sirna.


Tak hanya itu, perasaannya berangsur jenih laksana embun


pagi. Pemuda yang selama ini ditaksirnya, Dean, selalu meluangkan detik dan


menit berharganya untuk berbasa-basi dengan bincangan singkat namun terasa


begitu hangat bagi Charlotte.


“What


are you drawing?” pertanyaan itu


tiba-tiba memecah heningnya pagi.


Charlotte tersentak. Cepat-cepat buku sketsa itu


didekapnya dalam rangkulan. Ia tersipu-sipu sembari menyelipkan surai pirang


miliknya ke belakang telinga.


“Nothing...


Uh... I mean... I haven’t started drawing yet... I... I was just looking back


at everything I have drawn... for past three months...”


“Sounds


cool. Can I see?”Dean


mengulurkan tangannya.


Sepasang mata hijau-kebiruan itu terpaku pada benda perak


berkilau yang melingkar di jari manis Dean. Hatinya seolah melambung tinggi ke


langit ketujuh. Jantungnya berdebar-debar. Otaknya berseru-seru memerintah


syaraf motorik agar mengukirkan senyuman bahagia di bibir gadis itu.


Menyadari Charlotte belum menjawab, pemuda bersurai


coklat pendek itu menjentikkan jarinya. “Can


I?” ia mengulang pertanyaannya sekali lagi.


Gadis itu mengerjap beberapa saat. “Oh, yes, of course you can!” jawabnya sambil menyerahkan buku


bersampul merah terang itu.


Dean membalikkan satu per satu lembaran putih di dalam sketchbook milik Charlotte.


“I


thought you only can draw something like... buildings... atau apalah namanya itu yang ada di kertas biru gitu...”


Charlotte terkekeh pelan, “Blueprint. It’s blueprint.”


“Sorry...


I’m not into architecture,


aku anak fakultas hukum.”


Telunjuknya menyalip, membalikkan lembar halaman menuju


yang berikutnya. Sorot matanya tertuju pada beberapa sketsa gambar dirinya yang


tengah terlelap di ruang tamu.


Sebuah pemandangan langka terjadi di hadapan Charlotte.


Pemuda itu tertawa ringan.“Kamu ngapain, sih? Iseng


banget kamu, ya!” ia mencubit hidung mancung gadis itu dengan gemas.


“Ow...”


Dean menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Oh, iya. Ngomong-ngomong aku mau pulang ke Jakarta besok.


Kamu ikut aku, ya? I haven’t introduced


you to my family in there.”


 

__ADS_1


__ADS_2