Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 7 – New York to Jakarta


__ADS_3

Sekelompok butiran putih kecil yang membeku itu


melayang-layang diterpa angin. Tak ada selembar pun daun menempel pada ranting.


Semuanya telah meranggas, terjun bebas, dan tenggelam dalam dekapan salju tebal


penyelimut jalan.


Gadis bermantel hijau itu menghentikan langkahnya. Sepasang


mata hijau-kebiruan bak kelereng miliknya tak kunjung mengindah. Bersama


kerumunan orang-orang disekitarnya, Charlotte menyaksikan penampilan musisi


jalanan di dekat air mancur City Hall


Park. Meski penampilannya dari hari ke hari tak kunjung berkembang menjadi


lebih baik, gadis itu tetap meluangkan menit-menit berharganya untuk


mendengarkan alunan biola merdu di tengah alun-alun kota New York.


Canon


in D.


Baginya, musik ciptaan Johann Pachelbel itu bukan musik


klasik biasa di kedua telinganya. Nada-nada yang memberi kesan tenang namun


menyenangkan itu selalu sukses menghangatkan hatinya, sekalipun hawa dingin


mencoba membekukannya.


Menyadari pemuda yang digandengnya bersikeras untuk


beranjak pergi, gadis itu buru-buru merogoh saku mantel hijaunya, mengeluarkan


beberapa keping koin lalu melantingkannya ke tempat biola milik musisi jalan


yang terbuka lebar-lebar.


Charlotte menarik pelan tangan pemuda itu agar ia


berhenti sebelum melangkah lebih jauh lagi.


“We’re


not suppossed to go, it’s not done yet!”


Dean menghela nafas panjang. Lalu, menghembuskannya perlahan-lahan.


“Do


I have to stand under the cold and watch the same thing every weekend?”


“But...”


 “Listen, if you wanna stand there and watch


him playing the same song all day, do it by yourself! You shouldn’t bring me


with you, I’ve got a lot of better things to do!” tegasnya sembari melepaskan genggaman Charlotte dari


tangannya.


Gadis itu tertunduk pasrah. Akhirnya, ia membiarkan Dean


berlalu meninggalkannya sendiri di tengah alun-alun bersalju di kota


kelahirannya.


***


Dean melepas mantel tebal berwarna abu-abu tua yang


dikenakannya. Ia menghempaskan dirinya diatas sofa empuk di sudut ruangan,


membiarkan sepasang matanya menatap langit-langit kamar apartemen. Pemuda itu


menempelkan tangan pada keningnya, mencoba menjernihkan dirinya sejenak dari segala


belenggu emosi pengacau pikiran.


Ia masih mengingat kejadian sebulan yang lalu, menjelang


perayaan tahun baru. Saat ayahnya berkunjung ke Amerika. Entah apa yang


merasuki pria paruh baya itu, ia tiba-tiba menyempatkan diri menemui putra


sulungnya hanya untuk memperkenalkan Dean dengan seorang gadis, putri semata


wayang dari sahabat karibnya, yang kebetulan juga menempuh pendidikan di New


York. Gadis itu tak lain adalah Charlotte Mitchell. Dirinya bukanlah tipe orang


naif yang menganggap hal itu hanyalah perkenalan biasa. Sejak awal, Dean tahu


persis maksud tersirat dari semua itu. Ayahnya ingin menjodohkan Charlotte


dengannya.


Tindakan-tindakan pria renta itu pada Dean selalu


terkesan memaksa. Seolah-olah menyetir hidupnya. Sejak dirinya masih berusia


dini, mempunyai pilihan hidup tak pernah sekali pun menjadi haknya. Mungkin pemuda


itu masih bisa menerima paksaan untuk ikut les privat bermain piano hanya


karena ayahnya peggemar berat musik klasik, mengikuti berbagai pelajaran


tambahan di luar sekolah agar sertifikat penghargaan dan piala-piala emas


bertuliskan nama ‘Amadeus Jonathan Wijaya’ semakin memadati lemari kaca hingga


menempuh pendidikan di NYU School of Law,


salah satu universitas hukum ternama di Amerika Serikat agar ayahnya bisa terus


berkoar-koar bangga atas pencapaian prestasi anak sulungnya. Tak perlu


ditanyakan mengapa ia tumbuh sebagai pribadi yang berjiwa keras dan penentang.


Pemuda itu beranjak dari duduknya. Berjalan beberapa


langkah mendekati termos alumunium dan menuangkan air panas pada cangkir


tehnya.


Terkadang, Dean berharap ia tak terlahir sebagai dirinya


sendiri, melainkan sebagai Edwin, adiknya. Ia tak peduli kalau harus kurang


dipedulikan kedua orang tuanya, tak memiliki sepuluh jari yang terlatih gesit


di atas piano memainkan berbagai macam musik klasik atau tak memiliki satu pun


piala dan sertifikat penghargaan. Sebab, ia masih memiliki hak untuk menentukan


jalan hidupnya sendiri walau harus mendapat sindiran keras saat ayahnya merasa


putra bungsunya tak akan bisa menjadi pengharum nama keluarga.


Seraya meneguk teh manis yang masih mengepul hangat, Dean


meraih beberapa buku tebal miliknya. Bunyi lantingan lembut yang memantul satu


sampai dua kali terdengar. Ia tak sengaja menjatuhkan sebuah benda perak


mengkilap seukuran diameter jari manisnya.


Dean memungut cincin tanda pertunangannya dengan


Charlotte. Perhiasan berbahan emas putih hanya dilingkarkan pada jarinya sekali


saja. Tepatnya, pada hari pertama ia dipertemukan dan dijodohkan. Setelah itu,


benda berbentuk tepi lingkaran yang bernilai mahal itu selalu diletakkannya di


sembarang tempat dalam kamar apartemennya. Seolah-olah tak ada harganya sama


sekali.


***

__ADS_1


Udara bersuhu rendah pagi itu terasa dingin menusuk


tulang, membuat Dean enggan beranjak gulungan selimut tebal yang menghangatkan


tubuhnya. Sekali pun jarum pendek jam sebentar lagi akan menunjuk angka delapan,


ia tak peduli.


Ponselnya berdenting. Itu adalah tanda masuknya sebuah


pesan singkat.


Dengan malas, pemuda itu menggerakkan tangannya untuk


menggapai alat komunikasi terkini miliknya. Beruntung, ia meletakkan ponselnya


tepat di meja kecil samping tempat tidurnya.


‘From


: Charlotte


I’m


in front of your apartment room : )’


Dean mendecak kesal.


Walau enggan, ia mau tak mau harus membukakan pintu untuk


gadis ini.


“Morning,”sapa gadis bersurai pirang itu dengan hangat sembari


menunjukkan senyuman manis pada bibirnya. “Did


you just woke up?” tanyanya meski sudah terlihat jelas pemuda di hadapannya


benar-benar baru beranjak dari ranjang. Rambutnya masih acak-acakan, belum


tersentuh sisir sama sekali.


“Mhm,” Dean berdehem pelan.


“Ah,


sorry. I must have woken you up,”senyuman manisnya sedikit memudar.


Dean tak merespon permintaan maaf Charlotte.


Charlotte melangkah masuk seraya melepas trench coat yang dikenakannya. Aroma


khas teh earl grey menyambut


kedatangannya, aroma yang diyakini dapat menenangkan pikiran.


“You


seem really like tea,”gadis itu meletakkan tas selempang hitam miliknya.


“It’s


obvious isn’t it?”Dean


menuangkan air panas ke cangkir tehnya, disusul dengan tuangan satu sendok gula


pasir.


Charlotte duduk sembari memutar-mutarkan kedua ibu


jarinya, “It’s a nice day today. Why


don’t we spend our time together outside?”


“Nah.


I’ll pass,” ia langsung menolak ajakan Charlotte metnah-mentah. “I have to study for an upcoming exam.”


Sepasang lensa kelereng milik gadis bersurai emas itu tertuju padai beberapa buku


tebal yang masih terbentang di atas meja, “Oh,


right. Sorry,” ucapnya lirih seraya merundukkan kepalanya bagai bunga perdu yang layu.


“Dean,


back to your hometown?”


“I


haven’t decided yet.”


Suasana hening sejenak. Dean benar-benar merasa enggan membuka mulutnya untuk melontarkan jawaban panjang lebar. Charlotte kembali melirik


beberapa buku tebal yang terbentang di atas meja coklat itu. Ia tak boleh


berlama-lama duduk di sini. Karena, itu berarti ia akan mengganggu jam belajar


Dean untuk ujian besok.


Tangannya meraih sebuah bungkusan dari dalam tas


selempangnya. Tak lupa, Charlotte menuliskan sesuatu pada sticky notes dan menempelkannya. Lalu, bungkusan itu diletakannya


di atas meja, tepat di samping buku-buku milik Dean.


“Um...


I’m going to leave now. Once, again I’m sorry to woke you up,”untuk yang ketiga kalinya, Charlotte mengucapkan kata


‘maaf’.


Begitu suara pintu tertutup terdengar, Dean menolehkan


kepalanya. Gadis itu sudah pulang.


Akhirnya, ia bisa merasakan sedikit ketenangan.


Dean mengerjap. Ia menyadari gadis itu meletakkan sesuatu


di samping buku-buku pelajarannya yang tebal dan berkisar seputar hukum.


‘I


brought a sandwich for your breakfast, my grandma accidentally made three


instead of two. Hope you like it.


Also,


have this ladybug on clover as a charm. Good luck for your exam : )’


Tak hanya menyimpan sebuah kotak makan sekali pakai


berisi roti apit buatan nenek Charlotte, bungkusan itu juga menyimpan benda


kecil yang menyerupai gantungan kunci. Dean bisa melihatnya dengan jelas,


seekor kepik yang menempel pada four-leaf


clovers. Kalau ia tak salah baca artikel waktu itu, kedua simbol ini adalah


simbol pembawa keberuntungan di negara-negara Barat.


Niatnya memang tak buruk. Tapi itu belum cukup untuk


mengubah impresi Dean yang tak pernah menyukai kehadiran orang asing alias ‘strangers’ dalam hidupnya.


‘Dean,


do you have any plans after you graduate? Would you like to stay here? Or maybe


going back to your hometown?’


Pertanyaan itu kembali terngiang di telinganya. Sebuah jawaban tiba-tiba terukir dalam benaknya. Ia sudah memutuskannya dalam hitungan detik.


***


Mengasuh Noel bukanlah hal yang mudah bagi perempuan


paruh baya bernama Inara Ayu Rahmaulidia, atau yang lebih akrab disapa bi Nara.


Sehari-hari, wanita itu harus menyisihkan sebagian tenaganya untuk mengejar


Noel. Anak itu selalu berlari saat bi Nara mulai menyebut namanya dan datang

__ADS_1


mendekat. Bagi bibi, Noel tak jauh berbeda dengan kucing liar yang pernah


dipungut Edwin beberapa tahun lalu. Hanya saja, ia tak mencakar dan mengeong.


Entah mengapa, anak itu bisa patuh kalau Edwin menyuruhnya duduk. Seolah-olah


pemuda itu adalah pawangnya. Seperti kemarin saat bi Nara hendak memangkas


rambut Noel yang tumbuh panjang tak karuan. Anak itu tak berkutik saat Edwin


berdiri di sampingnya. Ia hanya diam tertunduk pasrah, memejamkan matanya


rapat-rapat, seolah-olah rambutnya akan terasa sakit saat dipotong.


Beruntung, hal itu tak lagi terjadi. Seiring berjalannya


waktu, Noel sudah bisa beradaptasi dengan baik di rumah barunya. Berlari-lari


tak tentu arah sudah bukan menjadi kebiasaannya lagi tiap kali namanya disebut


oleh bibi. Anak itu sudah paham, bi Nara hanya bertugas untuk merawatnya.


Memangkas rambut hitam kemerah-merahan miliknya kalau sudah hampir menyentuh


leher, memotong kuku-kuku jari tangan dan kakinya kalau sudah mulai panjang,


serta mengingatkannya untuk makan tiga kali, mandi dua kali, dan sikat gigi


pada pagi dan malam hari.


Bi Nara menekan steker sedikit lebih keras, memastikan


kabel hitam itu sudah tercolok dengan benar pada stopkontak.


Menyaksikan jari wanita bertubuh gempal itu sudah hampir beresntuhan dengan


tombol power di vacuum cleaner yang diberi nama dan kerap kali dipanggil ‘Nunu’


oleh Noel karena warnanya sama dengan salah satu tokoh kartun di televisi, anak


itu bergegas duduk dan menaikkan kedua kakinya di atas sofa agar tak


bersentuhan dengan ‘belalai’ benda bersuara aneh itu.


Pandangannya terus mengikuti tiap gerak-gerik bibi. Sudah hampir tiap hari


selama tiga minggu ia menyaksikan wanita itu membersihkan karpet bludru dengan


penyedot debu. Tapi, ia tetap merasa apa yang disaksikannya itu adalah hal


unik.


Walau ruang tamu dipenuhi suara bising vacuum


cleaner, pendengaran tajam Noel menangkap suara lain yang jauh lebih pelan.


Bunyi kunci-kunci yang beradu. Ia langsung berbalik.


“Kak Edwin mau kemana?” tanya Noel sambil menatap pemuda yang sudah


berpakaian rapi, lengkap dengan almamater jingga cerahnya.


“Ke tempat kuliah.”


Noel langsung turun dari sofa tempatnya berdiam diri, “Noel mau ikut!” serunya


bersemangat.


Edwin tersenyum tipis sembari mengacak rambut anak itu.


“Kamu di rumah aja.”


 “Tapi, Noel mau ikut. Noel mau lihat


tempat kuliahnya kak Edwin,” rengeknya.


“Kakak ada urusan. Nanti, kalo kamu ikut, kamu cuma bisa duduk di mobil


doang, lho. Mendingan kamu temenin bibi aja di rumah.”


Api semangatnya seketika padam. Noel langsung cemberut mendengar balasan


Edwin.


“Jangan ngambek, dong.” Edwin mencubit pelan pipi anak itu, “Nanti kalau


ngambek, Noel nggak kakak beliin es krim, nih.”


Noel langsung memamerkan senyum lebar pada wajahnya, “Noel nggak ngambek,


kok.”


Pemuda itu ikut tersenyum lalu menepuk-nepuk pundak Noel.


“Baik-baik di rumah, ya. Nggak boleh nakal sama bibi, oke?”


“Oke!” jawabnya sambil mengancungkan jempol.


***


Bandara Soekarno-Hatta.


Tempat ini bahkan sudah dipadati para traveller mancanegara menjelang pergantian musim semi ke musim panas.


Dean mengerjap. Ia bisa menghirup kembali udara tanah kelahirannya setelah


menetap di New York selama kurang lebih enam tahun. Hampir dua tahun untuk


beradaptasi dan empat tahun untuk meraih gelar sarjana.


Sebenarnya, kepulangannya menyimpan maksud tersirat selain berjumpa kembali


dengan adiknya di Jakarta. Ia bermaksud untuk menjauh dari Charlotte. Gadis itu


tak mungkin bisa menyusulnya dengan jarak sejauh enam belas ribu kilometer,


bukan?


Tak sengaja, ia menyenggol bahu seseorang yang berpapasan dengannya.


“Sorry!”ucap Dean dan orang itu nyaris bersamaan.


“Dean?” gadis yang barusan bersenggolan dengannya itu memastikan pemuda itu


benar-benar orang yang dikenalnya. “I


didn’t expect to see you here,” ia menyelipkan surai keemasan miliknya ke


belakang telinga, membiarkan senyumnya terlihat tanpa halangan.


Pemuda itu terdiam seribu bahasa. Ia benar-benar tak menyangka, apa yang


barusan dipertanyakan dalam pikirannya terjawab detik ini juga. Ingin sekali


rasanya Dean menggerakkan tangannya, menampar pipinya sendiri sekuat tenaga.


Berharap itu tak membuatnya kesakitan. Sebuah bukti dimana semua ini hanyalah


mimpi dan sebentar lagi ia akan terbangun dari tidurnya.


“Why don’t we have a lunch together? I’ll treat you,”


Ditraktir makan siang? Tawaran yang manis. Tapi sayang, sudah mutlak dalam


pikiran Dean kalau ia akan menolak ajakan itu mentah-mentah.


Pemuda itu mulai mencari alasan, “I’ll


pass. I’ve already promised to my little brother that we will have a lunch


together at home.” Padahal sebenarnya ia sama sekali tak membuat janji


apapun pada Edwin. Bahkan, kepulangannya kembali ke Jakarta belum diketahui


adiknya.


“Home?”Charlotte memiringkan kepalanya sedikit. “Oh, kamu orang Indonesia? Tinggal di


Jakarta?” tanyanya dalam logat Inggris-Amerika yang masih sangat kental.


Beruntung, Dean tak sedang minum. Kalau iya, bisa-bisa ia tersedak


mendengar Charlotte yang berbicara dalam bahasa Indonesia.


‘Sejak

__ADS_1


kapan dia bisa bicara bahasa Indonesia?!’


 


__ADS_2