
Sekelompok butiran putih kecil yang membeku itu
melayang-layang diterpa angin. Tak ada selembar pun daun menempel pada ranting.
Semuanya telah meranggas, terjun bebas, dan tenggelam dalam dekapan salju tebal
penyelimut jalan.
Gadis bermantel hijau itu menghentikan langkahnya. Sepasang
mata hijau-kebiruan bak kelereng miliknya tak kunjung mengindah. Bersama
kerumunan orang-orang disekitarnya, Charlotte menyaksikan penampilan musisi
jalanan di dekat air mancur City Hall
Park. Meski penampilannya dari hari ke hari tak kunjung berkembang menjadi
lebih baik, gadis itu tetap meluangkan menit-menit berharganya untuk
mendengarkan alunan biola merdu di tengah alun-alun kota New York.
Canon
in D.
Baginya, musik ciptaan Johann Pachelbel itu bukan musik
klasik biasa di kedua telinganya. Nada-nada yang memberi kesan tenang namun
menyenangkan itu selalu sukses menghangatkan hatinya, sekalipun hawa dingin
mencoba membekukannya.
Menyadari pemuda yang digandengnya bersikeras untuk
beranjak pergi, gadis itu buru-buru merogoh saku mantel hijaunya, mengeluarkan
beberapa keping koin lalu melantingkannya ke tempat biola milik musisi jalan
yang terbuka lebar-lebar.
Charlotte menarik pelan tangan pemuda itu agar ia
berhenti sebelum melangkah lebih jauh lagi.
“We’re
not suppossed to go, it’s not done yet!”
Dean menghela nafas panjang. Lalu, menghembuskannya perlahan-lahan.
“Do
I have to stand under the cold and watch the same thing every weekend?”
“But...”
“Listen, if you wanna stand there and watch
him playing the same song all day, do it by yourself! You shouldn’t bring me
with you, I’ve got a lot of better things to do!” tegasnya sembari melepaskan genggaman Charlotte dari
tangannya.
Gadis itu tertunduk pasrah. Akhirnya, ia membiarkan Dean
berlalu meninggalkannya sendiri di tengah alun-alun bersalju di kota
kelahirannya.
***
Dean melepas mantel tebal berwarna abu-abu tua yang
dikenakannya. Ia menghempaskan dirinya diatas sofa empuk di sudut ruangan,
membiarkan sepasang matanya menatap langit-langit kamar apartemen. Pemuda itu
menempelkan tangan pada keningnya, mencoba menjernihkan dirinya sejenak dari segala
belenggu emosi pengacau pikiran.
Ia masih mengingat kejadian sebulan yang lalu, menjelang
perayaan tahun baru. Saat ayahnya berkunjung ke Amerika. Entah apa yang
merasuki pria paruh baya itu, ia tiba-tiba menyempatkan diri menemui putra
sulungnya hanya untuk memperkenalkan Dean dengan seorang gadis, putri semata
wayang dari sahabat karibnya, yang kebetulan juga menempuh pendidikan di New
York. Gadis itu tak lain adalah Charlotte Mitchell. Dirinya bukanlah tipe orang
naif yang menganggap hal itu hanyalah perkenalan biasa. Sejak awal, Dean tahu
persis maksud tersirat dari semua itu. Ayahnya ingin menjodohkan Charlotte
dengannya.
Tindakan-tindakan pria renta itu pada Dean selalu
terkesan memaksa. Seolah-olah menyetir hidupnya. Sejak dirinya masih berusia
dini, mempunyai pilihan hidup tak pernah sekali pun menjadi haknya. Mungkin pemuda
itu masih bisa menerima paksaan untuk ikut les privat bermain piano hanya
karena ayahnya peggemar berat musik klasik, mengikuti berbagai pelajaran
tambahan di luar sekolah agar sertifikat penghargaan dan piala-piala emas
bertuliskan nama ‘Amadeus Jonathan Wijaya’ semakin memadati lemari kaca hingga
menempuh pendidikan di NYU School of Law,
salah satu universitas hukum ternama di Amerika Serikat agar ayahnya bisa terus
berkoar-koar bangga atas pencapaian prestasi anak sulungnya. Tak perlu
ditanyakan mengapa ia tumbuh sebagai pribadi yang berjiwa keras dan penentang.
Pemuda itu beranjak dari duduknya. Berjalan beberapa
langkah mendekati termos alumunium dan menuangkan air panas pada cangkir
tehnya.
Terkadang, Dean berharap ia tak terlahir sebagai dirinya
sendiri, melainkan sebagai Edwin, adiknya. Ia tak peduli kalau harus kurang
dipedulikan kedua orang tuanya, tak memiliki sepuluh jari yang terlatih gesit
di atas piano memainkan berbagai macam musik klasik atau tak memiliki satu pun
piala dan sertifikat penghargaan. Sebab, ia masih memiliki hak untuk menentukan
jalan hidupnya sendiri walau harus mendapat sindiran keras saat ayahnya merasa
putra bungsunya tak akan bisa menjadi pengharum nama keluarga.
Seraya meneguk teh manis yang masih mengepul hangat, Dean
meraih beberapa buku tebal miliknya. Bunyi lantingan lembut yang memantul satu
sampai dua kali terdengar. Ia tak sengaja menjatuhkan sebuah benda perak
mengkilap seukuran diameter jari manisnya.
Dean memungut cincin tanda pertunangannya dengan
Charlotte. Perhiasan berbahan emas putih hanya dilingkarkan pada jarinya sekali
saja. Tepatnya, pada hari pertama ia dipertemukan dan dijodohkan. Setelah itu,
benda berbentuk tepi lingkaran yang bernilai mahal itu selalu diletakkannya di
sembarang tempat dalam kamar apartemennya. Seolah-olah tak ada harganya sama
sekali.
***
__ADS_1
Udara bersuhu rendah pagi itu terasa dingin menusuk
tulang, membuat Dean enggan beranjak gulungan selimut tebal yang menghangatkan
tubuhnya. Sekali pun jarum pendek jam sebentar lagi akan menunjuk angka delapan,
ia tak peduli.
Ponselnya berdenting. Itu adalah tanda masuknya sebuah
pesan singkat.
Dengan malas, pemuda itu menggerakkan tangannya untuk
menggapai alat komunikasi terkini miliknya. Beruntung, ia meletakkan ponselnya
tepat di meja kecil samping tempat tidurnya.
‘From
: Charlotte
I’m
in front of your apartment room : )’
Dean mendecak kesal.
Walau enggan, ia mau tak mau harus membukakan pintu untuk
gadis ini.
“Morning,”sapa gadis bersurai pirang itu dengan hangat sembari
menunjukkan senyuman manis pada bibirnya. “Did
you just woke up?” tanyanya meski sudah terlihat jelas pemuda di hadapannya
benar-benar baru beranjak dari ranjang. Rambutnya masih acak-acakan, belum
tersentuh sisir sama sekali.
“Mhm,” Dean berdehem pelan.
“Ah,
sorry. I must have woken you up,”senyuman manisnya sedikit memudar.
Dean tak merespon permintaan maaf Charlotte.
Charlotte melangkah masuk seraya melepas trench coat yang dikenakannya. Aroma
khas teh earl grey menyambut
kedatangannya, aroma yang diyakini dapat menenangkan pikiran.
“You
seem really like tea,”gadis itu meletakkan tas selempang hitam miliknya.
“It’s
obvious isn’t it?”Dean
menuangkan air panas ke cangkir tehnya, disusul dengan tuangan satu sendok gula
pasir.
Charlotte duduk sembari memutar-mutarkan kedua ibu
jarinya, “It’s a nice day today. Why
don’t we spend our time together outside?”
“Nah.
I’ll pass,” ia langsung menolak ajakan Charlotte metnah-mentah. “I have to study for an upcoming exam.”
Sepasang lensa kelereng milik gadis bersurai emas itu tertuju padai beberapa buku
tebal yang masih terbentang di atas meja, “Oh,
right. Sorry,” ucapnya lirih seraya merundukkan kepalanya bagai bunga perdu yang layu.
“Dean,
back to your hometown?”
“I
haven’t decided yet.”
Suasana hening sejenak. Dean benar-benar merasa enggan membuka mulutnya untuk melontarkan jawaban panjang lebar. Charlotte kembali melirik
beberapa buku tebal yang terbentang di atas meja coklat itu. Ia tak boleh
berlama-lama duduk di sini. Karena, itu berarti ia akan mengganggu jam belajar
Dean untuk ujian besok.
Tangannya meraih sebuah bungkusan dari dalam tas
selempangnya. Tak lupa, Charlotte menuliskan sesuatu pada sticky notes dan menempelkannya. Lalu, bungkusan itu diletakannya
di atas meja, tepat di samping buku-buku milik Dean.
“Um...
I’m going to leave now. Once, again I’m sorry to woke you up,”untuk yang ketiga kalinya, Charlotte mengucapkan kata
‘maaf’.
Begitu suara pintu tertutup terdengar, Dean menolehkan
kepalanya. Gadis itu sudah pulang.
Akhirnya, ia bisa merasakan sedikit ketenangan.
Dean mengerjap. Ia menyadari gadis itu meletakkan sesuatu
di samping buku-buku pelajarannya yang tebal dan berkisar seputar hukum.
‘I
brought a sandwich for your breakfast, my grandma accidentally made three
instead of two. Hope you like it.
Also,
have this ladybug on clover as a charm. Good luck for your exam : )’
Tak hanya menyimpan sebuah kotak makan sekali pakai
berisi roti apit buatan nenek Charlotte, bungkusan itu juga menyimpan benda
kecil yang menyerupai gantungan kunci. Dean bisa melihatnya dengan jelas,
seekor kepik yang menempel pada four-leaf
clovers. Kalau ia tak salah baca artikel waktu itu, kedua simbol ini adalah
simbol pembawa keberuntungan di negara-negara Barat.
Niatnya memang tak buruk. Tapi itu belum cukup untuk
mengubah impresi Dean yang tak pernah menyukai kehadiran orang asing alias ‘strangers’ dalam hidupnya.
‘Dean,
do you have any plans after you graduate? Would you like to stay here? Or maybe
going back to your hometown?’
Pertanyaan itu kembali terngiang di telinganya. Sebuah jawaban tiba-tiba terukir dalam benaknya. Ia sudah memutuskannya dalam hitungan detik.
***
Mengasuh Noel bukanlah hal yang mudah bagi perempuan
paruh baya bernama Inara Ayu Rahmaulidia, atau yang lebih akrab disapa bi Nara.
Sehari-hari, wanita itu harus menyisihkan sebagian tenaganya untuk mengejar
Noel. Anak itu selalu berlari saat bi Nara mulai menyebut namanya dan datang
__ADS_1
mendekat. Bagi bibi, Noel tak jauh berbeda dengan kucing liar yang pernah
dipungut Edwin beberapa tahun lalu. Hanya saja, ia tak mencakar dan mengeong.
Entah mengapa, anak itu bisa patuh kalau Edwin menyuruhnya duduk. Seolah-olah
pemuda itu adalah pawangnya. Seperti kemarin saat bi Nara hendak memangkas
rambut Noel yang tumbuh panjang tak karuan. Anak itu tak berkutik saat Edwin
berdiri di sampingnya. Ia hanya diam tertunduk pasrah, memejamkan matanya
rapat-rapat, seolah-olah rambutnya akan terasa sakit saat dipotong.
Beruntung, hal itu tak lagi terjadi. Seiring berjalannya
waktu, Noel sudah bisa beradaptasi dengan baik di rumah barunya. Berlari-lari
tak tentu arah sudah bukan menjadi kebiasaannya lagi tiap kali namanya disebut
oleh bibi. Anak itu sudah paham, bi Nara hanya bertugas untuk merawatnya.
Memangkas rambut hitam kemerah-merahan miliknya kalau sudah hampir menyentuh
leher, memotong kuku-kuku jari tangan dan kakinya kalau sudah mulai panjang,
serta mengingatkannya untuk makan tiga kali, mandi dua kali, dan sikat gigi
pada pagi dan malam hari.
Bi Nara menekan steker sedikit lebih keras, memastikan
kabel hitam itu sudah tercolok dengan benar pada stopkontak.
Menyaksikan jari wanita bertubuh gempal itu sudah hampir beresntuhan dengan
tombol power di vacuum cleaner yang diberi nama dan kerap kali dipanggil ‘Nunu’
oleh Noel karena warnanya sama dengan salah satu tokoh kartun di televisi, anak
itu bergegas duduk dan menaikkan kedua kakinya di atas sofa agar tak
bersentuhan dengan ‘belalai’ benda bersuara aneh itu.
Pandangannya terus mengikuti tiap gerak-gerik bibi. Sudah hampir tiap hari
selama tiga minggu ia menyaksikan wanita itu membersihkan karpet bludru dengan
penyedot debu. Tapi, ia tetap merasa apa yang disaksikannya itu adalah hal
unik.
Walau ruang tamu dipenuhi suara bising vacuum
cleaner, pendengaran tajam Noel menangkap suara lain yang jauh lebih pelan.
Bunyi kunci-kunci yang beradu. Ia langsung berbalik.
“Kak Edwin mau kemana?” tanya Noel sambil menatap pemuda yang sudah
berpakaian rapi, lengkap dengan almamater jingga cerahnya.
“Ke tempat kuliah.”
Noel langsung turun dari sofa tempatnya berdiam diri, “Noel mau ikut!” serunya
bersemangat.
Edwin tersenyum tipis sembari mengacak rambut anak itu.
“Kamu di rumah aja.”
“Tapi, Noel mau ikut. Noel mau lihat
tempat kuliahnya kak Edwin,” rengeknya.
“Kakak ada urusan. Nanti, kalo kamu ikut, kamu cuma bisa duduk di mobil
doang, lho. Mendingan kamu temenin bibi aja di rumah.”
Api semangatnya seketika padam. Noel langsung cemberut mendengar balasan
Edwin.
“Jangan ngambek, dong.” Edwin mencubit pelan pipi anak itu, “Nanti kalau
ngambek, Noel nggak kakak beliin es krim, nih.”
Noel langsung memamerkan senyum lebar pada wajahnya, “Noel nggak ngambek,
kok.”
Pemuda itu ikut tersenyum lalu menepuk-nepuk pundak Noel.
“Baik-baik di rumah, ya. Nggak boleh nakal sama bibi, oke?”
“Oke!” jawabnya sambil mengancungkan jempol.
***
Bandara Soekarno-Hatta.
Tempat ini bahkan sudah dipadati para traveller mancanegara menjelang pergantian musim semi ke musim panas.
Dean mengerjap. Ia bisa menghirup kembali udara tanah kelahirannya setelah
menetap di New York selama kurang lebih enam tahun. Hampir dua tahun untuk
beradaptasi dan empat tahun untuk meraih gelar sarjana.
Sebenarnya, kepulangannya menyimpan maksud tersirat selain berjumpa kembali
dengan adiknya di Jakarta. Ia bermaksud untuk menjauh dari Charlotte. Gadis itu
tak mungkin bisa menyusulnya dengan jarak sejauh enam belas ribu kilometer,
bukan?
Tak sengaja, ia menyenggol bahu seseorang yang berpapasan dengannya.
“Sorry!”ucap Dean dan orang itu nyaris bersamaan.
“Dean?” gadis yang barusan bersenggolan dengannya itu memastikan pemuda itu
benar-benar orang yang dikenalnya. “I
didn’t expect to see you here,” ia menyelipkan surai keemasan miliknya ke
belakang telinga, membiarkan senyumnya terlihat tanpa halangan.
Pemuda itu terdiam seribu bahasa. Ia benar-benar tak menyangka, apa yang
barusan dipertanyakan dalam pikirannya terjawab detik ini juga. Ingin sekali
rasanya Dean menggerakkan tangannya, menampar pipinya sendiri sekuat tenaga.
Berharap itu tak membuatnya kesakitan. Sebuah bukti dimana semua ini hanyalah
mimpi dan sebentar lagi ia akan terbangun dari tidurnya.
“Why don’t we have a lunch together? I’ll treat you,”
Ditraktir makan siang? Tawaran yang manis. Tapi sayang, sudah mutlak dalam
pikiran Dean kalau ia akan menolak ajakan itu mentah-mentah.
Pemuda itu mulai mencari alasan, “I’ll
pass. I’ve already promised to my little brother that we will have a lunch
together at home.” Padahal sebenarnya ia sama sekali tak membuat janji
apapun pada Edwin. Bahkan, kepulangannya kembali ke Jakarta belum diketahui
adiknya.
“Home?”Charlotte memiringkan kepalanya sedikit. “Oh, kamu orang Indonesia? Tinggal di
Jakarta?” tanyanya dalam logat Inggris-Amerika yang masih sangat kental.
Beruntung, Dean tak sedang minum. Kalau iya, bisa-bisa ia tersedak
mendengar Charlotte yang berbicara dalam bahasa Indonesia.
‘Sejak
__ADS_1
kapan dia bisa bicara bahasa Indonesia?!’