
“Bang! Bang Eji!”
Ryan berlari-lari kecil menghampiri mikrolet biru yang tengah terparkir di
tepi jalan, disusul oleh Sylvia dan Kirana.
“Napa, Yan?” tanya lelaki itu sambil mengunyah makan siangnya.
“Anterin kita ke sini dong, bang!” Ryan menunjuk sebaris alamat pada
selebaran HVS putih di tangannya. “Hasil Ryan lagi banyak, nih! Nanti Ryan
bagi-bagi, deh!” bujuknya.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu jawaban, Eji langsung bereaksi dengan
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia cepat-cepat membuka botol air mineral, lalu
membasuh telapak tangannya yang berminyak karena digunakan untuk menjumput nasi
dan lauk.
“Naik, naik,” ucapnya sembari bergegas menduduki kursi pengemudi.
***
Eji menghentikan laju kendaraan beroda empat yang ia kemudikan. Mikrolet
itu kini terparkir tepat di depan sebuah rumah.
“Nomor dua tujuh. Di sini, kan, ya?”
Kirana tersenyum lebar. Dengan penuh semangat ia mengangguk, “Iya, iya! Ini
rumah aku!” serunya gembira. “Itu ayah aku!” gadis kecil itu menunjuk ke arah
seorang pria yang tengah duduk di kursi teras, termenung-menung sambil memegangi
ponselnya.
“Ayah! Ayah!” Kirana langsung
merangkulkan kedua tangan mungilnya, memeluk pria yang tak lain adalah ayahnya.
Angin sepoi yang masuk dari celah jendela mikrolet melambai-lambaikan helai
rambut hitam Sylvia. Gadis itu tersenyum tipis. Entah kenapa, kini hatinya
terasa semakin mudah untuk memahami tiap situasi yang terjadi. Ia turut
merasakan bahagia melihat reuni antara ayah dan anak di hadapannya. Andai saja,
ia juga bisa mengalami hal yang sama dengan Kirana. Bertemu kembali dengan
orang tua.
“Dah, ayo...”
“Kak Sylvia!” seruan itu memaksa Sylvia untuk menghentikan kalimatnya.
Kirana datang sambil menggandeng tangan ayahnya.
“Ayah, ayah! Mereka bawa aku ke sini! Mereka baik banget sama aku!”
“Terima kasih banyak sudah mengantarkan anak saya ke sini,” pria itu tersenyum
dan mengulurkan tangannya, menyalami tiga orang di hadapannya satu per satu.
“Ayo, mampir dulu.”
***
Kedatangan mereka bertiga disambut baik oleh Hartono, ayah Kirana, dan istrinya,
Laras. Sepasang suami-istri itu tak peduli akan penampilan Sylvia dan Ryan yang
lusuh. Pikiran mereka sudah terlanjur dipenuhi oleh sukacita karena putri
semata wayang mereka kini telah kembali.
Waktu berjalan begitu cepat. Semburat jingga keemasan terlihat mewarnai
langit ibu kota. Jalan raya pun mulai padat. Tak lepas dari itu saja, suara
riuh klakson dan bunyi khas mesin kendaraan turut menggema di atmosfer.
“Nih, gue traktir lo berdua. Baik kan, gue?” bang Eji menyodorkan plastik
__ADS_1
putih berisi tiga bungkus nasi padang lengkap dengan ayam gulai sebagai
lauknya.
Ryan langsung menyambar bungkusan yang diperuntukkan
baginya, “Banget!” ia tersenyum lebar, “Kita kalo sama bang Gondrong Cuma bisa
makan nasi putih doang, lho!”
“Lah?” Eji mengerinyitkan dahinya, “Kata Denis lo pada
kalo nyetor itu biasanya seratus, kalo nggak dua ratus ribu. Terus, setau gue,
lo kan berenam. Masa iya cuma bisa makan nasi putih?”
“Kayak gak tau si Gondrong aja lo, Ji. Maruk.”
“Oalah, pantes.” Eji mengambil bungkus nasi miliknya,
“Eh, iya. Ini udah sore. Lo pada kagak pulang?”
Sylvia dan Ryan saling melirik satu sama lain. Keduanya
sama-sama terdiam beberapa detik.
“Gue sih nggak,” jawab Sylvia. “Gue udah gak balik ke
sana lagi dari hari Selasa. Soalnya gue bawa kabur si Kirana malem-malem. Gak
ada dapet duit sama sekali soalnya. Kalo gue pulang, si Kirana bakalan kena
gebuk abis-abisan sama si Gondrong. Dia aja kagak digebukin nangis, apalagi
kalo digebukin?”
“Lo?” sepasang mata itu menatap Ryan.
Ryan itu menggeleng. Rupanya, ia sepemikiran dengan
Sylvia yang juga tak mau pulang.
“Napa lo gak mau pulang, Yan?” tanya bang Eji sambil
menyuwir paha ayam gulai. “Gak dicariin lo ntar sama si Denis? Lo kan biasanya
“Ryan lagi males sama bang Denis! Lagian juga, Ryan
pengen cari orang tua juga. Pengen ketemu lagi sama mereka...”
***
Sembari mematuk-matuk butiran remah crackers di atas tanah, sepasang burung merpati berkicau gembira
bersahut-sahutan. Namun, gema nada-nada indah itu terhalang oleh earphone putih yang terpasang pada kedua
telinganya. Iris coklat miliknya tertuju pada layar laptop di pangkuannya. Jari-jari
miliknya terus bergerak, menekan tombol-tombol keyboard silih berganti. Sesekali, ia melirik sekumpulan kertas HVS
yang terklip rapi di sebelahnya. Konsentrasi pemuda itu hanya tertuju pada dua
hal tersebut. Ia bahkan tak menyadari kehadiran Sylvia, walau hanya berjarak
beberapa milimeter dari bangku. Tangan usil Sylvia menarik paksa earphone yang terpasang pada telinga
kanan pemuda itu hingga terlepas. Edwin langsung menoleh.
Sylvia melirik ke arah laptop beige di pangkuan Edwin, “Cie,
baru tuh,” godanya sambil duduk dengan sebelah kaki terangkat di kursi.
Pemuda itu terkekeh pelan, “Iya, yang lama suka nge-hang.”
“Nge-hang? Apa
tuh?” tanyanya penasaran.
“Lemot.”
Sylvia tersenyum jenaka, “Oh, kayak yang punya, dong.”
Edwin menyentil dahi gadis itu dua kali.
“Aduh! Sakit tau!” ia mengelus-elus dahinya yang sedikit
memerah.
__ADS_1
“Rasain!” ledeknya. “Oh, iya. Ngomong-ngomong kamu kemana
aja, sih? Seminggu ini nggak pernah keliatan. Aku udah cari kamu kemana-mana.
Di rumah nggak ada, aku tungguin di sini nggak ada,” Edwin memiringkan kepala
sedikit. Sepasang matanya menatap ruang kosong yang terdapat di samping gadis
itu. “Kirana mana?”
“Udah pulang.”
“Pulang?”
Sylvia mengangguk, “Iya.”
“Ke rumah?”
“Iyalah! Emang lo pikir kalo pulang ke terminal gitu,
hah?!”
“Ya... nggak, sih.”
“Eh, iya, Win,” gadis itu menggeser posisi duduknya
sedikit. “Lo bisa bantuin gue?”
Edwin melepas earphone-nya,
“Bantu apa?”
“Jadi, gini... Gue kan udah seminggu juga tuh nggak
pulang-pulang...”
“Hah?! Kamu nggak pulang?!”
Sylvia menampar lengan Edwin, “Dengerin dulu, ah!” protesnya.
“Sampe mana tadi? Oh, iya, gue udah seminggu gak pulang. Tapi masalahnya bukan
itu. Nah, gini, gini... Kan di kelompok gue ada enam orang. Noel, gue, Denis,
Azri, Galang, sama Ryan. Si Ryan ini seumuran sama Noel kan. Ya, dia ini juga
sebelas-dua belas sama adek gue. Masih bocah. Terus, kemaren-kemaren ini gue, Ryan,
sama Eji, temennya Denis, nganterin Kirana pulang. Sorenya, nggak tau kenapa
tuh anak tiba-tiba minta tolong ke gue buat bantu cari orang tua dia!”
“Lho, terus? Kan bagus!”
“Bagus pala lo!” gadis itu menepuk pahanya keras-keras, “Ya...
oke aja, sih, kalo misalnya orang tua dia jelas, kayak si Kirana, masang
selebaran, ada nama, alamat, sama nomor teleponnya. Ini nggak ada! Gimana gue
bisa tau?!”
“Ya...” Edwin menggaruk kepalanya.
“Kan?! Lo aja bingung, apalagi gue!”
“Sebenernya bisa, sih. Cuma, bakalan susah banget,” Edwin
menutup laptop miliknya. Benda itu lalu disimpan kembali ke dalam tas. “Coba
kamu tanya-tanya ke Ryan, dia masih inget nggak dia tinggal di mana, nama orang
tuanya siapa. Nanti, aku bantu. Aku bakal coba cari orang tuanya juga. Atau
mungkin, pasang pengumuman di facebook.
Siapa tau, orang tuanya lihat. Ya kalo misalnya orang tuanya nggak punya akun,
paling nggak, ada yang kenal sama orang tua dia,” ujarnya sambil berdiri dan menggendong
tas hitam itu di punggungnya. Ia tersenyum tipis, “Aku mau pergi makan dulu,
soalnya sejam lagi aku ada janji ketemu dosen. Mau ikut?”
Gadis itu turut membalas senyuman Edwin, “Asal lo yang
bayar, ya... Boleh!”
__ADS_1