Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 18 – Welcome Back, Kirana


__ADS_3

“Bang! Bang Eji!”


Ryan berlari-lari kecil menghampiri mikrolet biru yang tengah terparkir di


tepi jalan, disusul oleh Sylvia dan Kirana.


“Napa, Yan?” tanya lelaki itu sambil mengunyah makan siangnya.


“Anterin kita ke sini dong, bang!” Ryan menunjuk sebaris alamat pada


selebaran HVS putih di tangannya. “Hasil Ryan lagi banyak, nih! Nanti Ryan


bagi-bagi, deh!” bujuknya.


Tak butuh waktu lama untuk menunggu jawaban, Eji langsung bereaksi dengan


mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia cepat-cepat membuka botol air mineral, lalu


membasuh telapak tangannya yang berminyak karena digunakan untuk menjumput nasi


dan lauk.


“Naik, naik,” ucapnya sembari bergegas menduduki kursi pengemudi.


***


Eji menghentikan laju kendaraan beroda empat yang ia kemudikan. Mikrolet


itu kini terparkir tepat di depan sebuah rumah.


“Nomor dua tujuh. Di sini, kan, ya?”


Kirana tersenyum lebar. Dengan penuh semangat ia mengangguk, “Iya, iya! Ini


rumah aku!” serunya gembira. “Itu ayah aku!” gadis kecil itu menunjuk ke arah


seorang pria yang tengah duduk di kursi teras, termenung-menung sambil memegangi


ponselnya.


 “Ayah! Ayah!” Kirana langsung


merangkulkan kedua tangan mungilnya, memeluk pria yang tak lain adalah ayahnya.


Angin sepoi yang masuk dari celah jendela mikrolet melambai-lambaikan helai


rambut hitam Sylvia. Gadis itu tersenyum tipis. Entah kenapa, kini hatinya


terasa semakin mudah untuk memahami tiap situasi yang terjadi. Ia turut


merasakan bahagia melihat reuni antara ayah dan anak di hadapannya. Andai saja,


ia juga bisa mengalami hal yang sama dengan Kirana. Bertemu kembali dengan


orang tua.


“Dah, ayo...”


“Kak Sylvia!” seruan itu memaksa Sylvia untuk menghentikan kalimatnya.


Kirana datang sambil menggandeng tangan ayahnya.


“Ayah, ayah! Mereka bawa aku ke sini! Mereka baik banget sama aku!”


“Terima kasih banyak sudah mengantarkan anak saya ke sini,” pria itu tersenyum


dan mengulurkan tangannya, menyalami tiga orang di hadapannya satu per satu.


“Ayo, mampir dulu.”


***


Kedatangan mereka bertiga disambut baik oleh Hartono, ayah Kirana, dan istrinya,


Laras. Sepasang suami-istri itu tak peduli akan penampilan Sylvia dan Ryan yang


lusuh. Pikiran mereka sudah terlanjur dipenuhi oleh sukacita karena putri


semata wayang mereka kini telah kembali.


Waktu berjalan begitu cepat. Semburat jingga keemasan terlihat mewarnai


langit ibu kota. Jalan raya pun mulai padat. Tak lepas dari itu saja, suara


riuh klakson dan bunyi khas mesin kendaraan turut menggema di atmosfer.


“Nih, gue traktir lo berdua. Baik kan, gue?” bang Eji menyodorkan plastik

__ADS_1


putih berisi tiga bungkus nasi padang lengkap dengan ayam gulai sebagai


lauknya.


Ryan langsung menyambar bungkusan yang diperuntukkan


baginya, “Banget!” ia tersenyum lebar, “Kita kalo sama bang Gondrong Cuma bisa


makan nasi putih doang, lho!”


“Lah?” Eji mengerinyitkan dahinya, “Kata Denis lo pada


kalo nyetor itu biasanya seratus, kalo nggak dua ratus ribu. Terus, setau gue,


lo kan berenam. Masa iya cuma bisa makan nasi putih?”


“Kayak gak tau si Gondrong aja lo, Ji. Maruk.”


“Oalah, pantes.” Eji mengambil bungkus nasi miliknya,


“Eh, iya. Ini udah sore. Lo pada kagak pulang?”


Sylvia dan Ryan saling melirik satu sama lain. Keduanya


sama-sama terdiam beberapa detik.


“Gue sih nggak,” jawab Sylvia. “Gue udah gak balik ke


sana lagi dari hari Selasa. Soalnya gue bawa kabur si Kirana malem-malem. Gak


ada dapet duit sama sekali soalnya. Kalo gue pulang, si Kirana bakalan kena


gebuk abis-abisan sama si Gondrong. Dia aja kagak digebukin nangis, apalagi


kalo digebukin?”


“Lo?” sepasang mata itu menatap Ryan.


Ryan itu menggeleng. Rupanya, ia sepemikiran dengan


Sylvia yang juga tak mau pulang.


“Napa lo gak mau pulang, Yan?” tanya bang Eji sambil


menyuwir paha ayam gulai. “Gak dicariin lo ntar sama si Denis? Lo kan biasanya


“Ryan lagi males sama bang Denis! Lagian juga, Ryan


pengen cari orang tua juga. Pengen ketemu lagi sama mereka...”


***


Sembari mematuk-matuk butiran remah crackers di atas tanah, sepasang burung merpati berkicau gembira


bersahut-sahutan. Namun, gema nada-nada indah itu terhalang oleh earphone putih yang terpasang pada kedua


telinganya. Iris coklat miliknya tertuju pada layar laptop di pangkuannya. Jari-jari


miliknya terus bergerak, menekan tombol-tombol keyboard silih berganti. Sesekali, ia melirik sekumpulan kertas HVS


yang terklip rapi di sebelahnya. Konsentrasi pemuda itu hanya tertuju pada dua


hal tersebut. Ia bahkan tak menyadari kehadiran Sylvia, walau hanya berjarak


beberapa milimeter dari bangku. Tangan usil Sylvia menarik paksa earphone yang terpasang pada telinga


kanan pemuda itu hingga terlepas. Edwin langsung menoleh.


Sylvia melirik ke arah laptop beige di pangkuan Edwin, “Cie,


baru tuh,” godanya sambil duduk dengan sebelah kaki terangkat di kursi.


Pemuda itu terkekeh pelan, “Iya, yang lama suka nge-hang.”


“Nge-hang? Apa


tuh?” tanyanya penasaran.


“Lemot.”


Sylvia tersenyum jenaka, “Oh, kayak yang punya, dong.”


Edwin menyentil dahi gadis itu dua kali.


“Aduh! Sakit tau!” ia mengelus-elus dahinya yang sedikit


memerah.

__ADS_1


“Rasain!” ledeknya. “Oh, iya. Ngomong-ngomong kamu kemana


aja, sih? Seminggu ini nggak pernah keliatan. Aku udah cari kamu kemana-mana.


Di rumah nggak ada, aku tungguin di sini nggak ada,” Edwin memiringkan kepala


sedikit. Sepasang matanya menatap ruang kosong yang terdapat di samping gadis


itu. “Kirana mana?”


“Udah pulang.”


“Pulang?”


Sylvia mengangguk, “Iya.”


“Ke rumah?”


“Iyalah! Emang lo pikir kalo pulang ke terminal gitu,


hah?!”


“Ya... nggak, sih.”


“Eh, iya, Win,” gadis itu menggeser posisi duduknya


sedikit. “Lo bisa bantuin gue?”


Edwin melepas earphone-nya,


“Bantu apa?”


“Jadi, gini... Gue kan udah seminggu juga tuh nggak


pulang-pulang...”


“Hah?! Kamu nggak pulang?!”


Sylvia menampar lengan Edwin, “Dengerin dulu, ah!” protesnya.


“Sampe mana tadi? Oh, iya, gue udah seminggu gak pulang. Tapi masalahnya bukan


itu. Nah, gini, gini... Kan di kelompok gue ada enam orang. Noel, gue, Denis,


Azri, Galang, sama Ryan. Si Ryan ini seumuran sama Noel kan. Ya, dia ini juga


sebelas-dua belas sama adek gue. Masih bocah. Terus, kemaren-kemaren ini gue, Ryan,


sama Eji, temennya Denis, nganterin Kirana pulang. Sorenya, nggak tau kenapa


tuh anak tiba-tiba minta tolong ke gue buat bantu cari orang tua dia!”


“Lho, terus? Kan bagus!”


“Bagus pala lo!” gadis itu menepuk pahanya keras-keras, “Ya...


oke aja, sih, kalo misalnya orang tua dia jelas, kayak si Kirana, masang


selebaran, ada nama, alamat, sama nomor teleponnya. Ini nggak ada! Gimana gue


bisa tau?!”


“Ya...” Edwin menggaruk kepalanya.


“Kan?! Lo aja bingung, apalagi gue!”


“Sebenernya bisa, sih. Cuma, bakalan susah banget,” Edwin


menutup laptop miliknya. Benda itu lalu disimpan kembali ke dalam tas. “Coba


kamu tanya-tanya ke Ryan, dia masih inget nggak dia tinggal di mana, nama orang


tuanya siapa. Nanti, aku bantu. Aku bakal coba cari orang tuanya juga. Atau


mungkin, pasang pengumuman di facebook.


Siapa tau, orang tuanya lihat. Ya kalo misalnya orang tuanya nggak punya akun,


paling nggak, ada yang kenal sama orang tua dia,” ujarnya sambil berdiri dan menggendong


tas hitam itu di punggungnya. Ia tersenyum tipis, “Aku mau pergi makan dulu,


soalnya sejam lagi aku ada janji ketemu dosen. Mau ikut?”


Gadis itu turut membalas senyuman Edwin, “Asal lo yang


bayar, ya... Boleh!”

__ADS_1


__ADS_2