
Edwin menginjak pedal gas, menambah kecepatan laju
mobilnya. Tak seperti biasa, pemuda itu mengemudikan kendaraan beroda empat itu
jauh di atas kecepatan rata-rata. Sepasang mata coklatnya terpaku pada jalan
raya ibu kota yang berangsur sepi seiring bertambah larutnya malam.
Rasa cemas dalam dirinya yang semakin memuncak membuat
otaknya hanya bisa memikirkan satu hal. Menghampiri Sylvia yang kini tinggal
bersama anak-anak jalanan lainnya di rumah Eji. Edwin tahu persis kalau memberi
tahu gadis itu bahwa adiknya hilang entah kemana akan mendatangkan malapetaka.
Sylvia pasti memaki sambil menghajarnya habis-habisan.
Pemuda itu menghela nafas sesaat sebelum turun dari
mobilnya yang sudah terparkir di jalanan gang sebuah komplek kecil, tepat di
depan pintu rumah bang Eji. Tangannya yang terkepal mengetuk-ngetuk pintu.
Tak lama setelah derap langkah kaki terdengar mendekat, seorang
anak berusia tak lebih dari sepuluh tahun datang membukakan pintu. Walau
pakaiannya terlihat agak bersih, rambutnya yang lepek dan kulitnya yang kusam
menampakkan jelas bahwa ia mantan anak jalanan.
“Siapa ya?” tanyanya sambil mengucek-ngucek mata.
“Edwin... temennya Sylvia... Sylvia-nya ada di rumah?”
Belum sempat anak itu berbalik untuk memanggil Sylvia,
seorang lelaki bertubuh kekar lengkap dengan rambut hitam pendek dan sebuah
rokok di mulutnya menghampiri mereka. Lelaki itu tak lain adalah Eji.
“Yan, Lo ngapain buka-buka pintu, sih?! Orang kagak kenal
juga! Udah maen buka-buka pintu aja lo. Ntar masuk maling, kelabakan lo!”
“Ih, dia bukan maling tau, bang! Dia bilang dia temennya
Sylvia, kok!” protes Ryan.
“Lo demam kesambet setan, ya?” tanya lelaki itu
menempelkan telapak tangannya di atas kening Ryan, “Gila aja lo! Mana ada cewe
berandalan gitu punya temen cowo rapi kayak gini?!”
“Lah! Bisa aja kali, bang!”
“Gak mungkin! Pasti cuma mimpi kalo sampe iya!”
“Mana ada! Pasti mungkin lah!”
“GAK!”
“IYA!”
“BACOT!” seruan itu terdengar bersamaan dengan dua buah
bantal sofa yang terlempar mengenai Ryan dan Eji. “GUE MAU TIDUR, BEGO!” Sylvia
memicingkan matanya sedikit. Kedua matanya tertuju pada seorang pemuda berkemeja
batik lengan pendek yang berdiri tak jauh dari pintu.
“Lho, Edwin?” Sylvia bergegas menghampirinya. “Lo ngapain
dateng malem-malem gini?” tanyanya sambil melangkah ke luar dan menutup pintu
tanpa peduli akan keberadaan Eji dan Ryan.
“Ng... Ikut aku dulu ke mobil... Nanti aku ceritain...”
ia menarik tangan gadis itu menuju mobilnya.
“Kenapa, sih?” tatapan matanya terfokus pada Edwin yang
memasangkan seatbelt untuknya. “Harus
banget gitu masang ginian dulu baru cerita? Lagian ngomong juga gak bikin tabrakan,
kan?”
“Ini biar kamu nggak gampang gerak. Jadi aku gak bakal
kena tonjok.”
Sylvia mengerinyitkan dahinya. “Maksud lo?”
Pemuda itu menghela nafas dan diam sejenak.
“Jadi, gini... Aku nitipin Noel ke tunangannya kakakku.
Terus... dia... hilang....” suaranya memelan saat mengucapkan kalimat terakhir.
***
Dengan nafas terengah dan kucuran peluh yang turun
semakin deras, Noel menghentikan langkahnya sejenak. Lirikan sepasang matanya
berkeliling. Noel sama sekali tak merasa familiar dengan deretan bangunan di
sebelah kiri dan kanannya. Meski tenaganya hampir habis setelah menempuh
__ADS_1
perjalanan jauh, usahanya berujung sia-sia. Ia telah berjalan tak tentu arah
dan akhirnya tersesat.
Kalau sudah begini, Noel hanya bisa terduduk pasrah. Tak
peduli sekeras apa pun ia menangis dan merengek, rasa sesalnya tak akan hilang.
Semuanya sudah terlambat. Ia tak akan bisa kembali ke rumah Charlotte. Atau
bahkan lebih buruk dari itu. Ia tak akan bisa pulang ke rumah dan bertemu tiga
orang ‘keluarganya’.
Perutnya yang mulai terasa sakit menambah kekacauan dalam
dirinya. Anak itu belum menyentuh sendok dan garpu untuk memotong makanannya
sejak sore hari.
Noel membenamkan wajah pada kedua tangannya yang
terlipat.
Sepasang lensa coklat terangnya menitikkan air mata. Ia
tak tahu lagi harus berbuat apa. Ketegaran dalam diri Noel seolah runtuh. Pikiran
dalam otaknya hanya dipenuhi oleh sesal dan harapan kecil untuk pulang.
“Dek?” suara lembut itu terdengar memanggilnya.
Noel mendongak. Seorang wanita bersurai hitam panjang
dengan tubuh ramping berdiri tepat di hadapannya.
“Kok sendirian aja? Orang tua kamu mana?” tanyanya sambil
membungkuk.
Anak itu cepat-cepat menghapus jejak air matanya.
Lirikan sepasang mata wanita itu tertuju pada luggage tag di ransel milik Noel. Ia
memperhatikan deretan angka yang tertera di kolom nomor telepon.
+62-838-5559-59(Edwin W.)
“Kamu nyasar, ya?”
Noel mengangguk pelan.
“Ini ada nomor telepon ayah kamu,” ujarnya sembari mengeluarkan ponsel,
“Bibi bakal bilang kalo kamu ada di sini. Sambil nunggu, kamu duduk di warung
bibi aja. Kalo malam-malam di luar begini, bahaya. Nanti kamu bisa diculik
orang.”
***
Sylvia
“LO
BRENGSEK!”
“Ya...
maaf! Syl... aku...”
Kalimat
Edwin terhenti karena telepon genggamnya berdering. Pemuda itu langsung merogoh
saku celananya dan menjawab panggilan itu sambil menahan pergelangan tangan
Sylvia.
“Halo?”
ia menempelkan handphone pada telinga
kanannya.
“Halo, ini Pak Edwin, ya?”
Edwin terdiam sejenak. “Eh...
ng... iya. Ini siapa ya?”
“Ini dengan Linda. Gini, Pak... Saya ketemu anak bapak...”
“Anak?” Edwin mengerinyitkan
dahi. Pemuda itu benar-benar heran. Sebab, ia belum pernah menikah. Tentu saja,
ia juga belum memiliki anak.
“Iya, yang namanya Noel, Pak.”
“Oh! Iya! Dia ada di mana, ya,
Bu?”
“Dia ada sama saya, Pak. Alamatnya saya kirim lewat SMS...”
Detik itu juga, panggilan
berakhir. Kecemasan dalam hati Edwin seketika hilang saat sebuah SMS berisi
alamat dari wanita bernama Lindawati yang meneleponnya barusan.
__ADS_1
“Syl, Noel ketemu!” ujarnya gembira.
Tanpa ia sadari, Sylvia turut
mengembangkan senyum di bibirnya. Ia merasa sangat lega bisa mendengar kalimat
itu. Walau dua kali kata ‘hilang’ sempat terlekat pada Noel. Akhirnya, anak itu
tak ‘benar-benar hilang’.
***
“Noel!”
Mendengar namanya dipanggil,
Noel menoleh. Cepat-cepat ia berlari menuju Edwin yang baru saja turun dari
mobil.
“Kak Edwin...,” sahutnya dengan
suara parau sembari merangkul pemuda itu erat-erat. Lalu menatapnya dengan
sepasang mata yang sembap.
Edwin menghela nafas singkat,
“Noel kenapa pergi nggak bilang-bilang? Untung yang ketemu Noel orang baik.
Kalo orang jahat? Noel bisa diculik, lho!” ia mengacak rambut hitam
kemerah-merahan anak itu.
“Noel mau pulang...” ucapnya
lirih.
Linda tersenyum tipis, “Oh, adeknya
ya, Mas? Maaf, maaf... Saya kira anaknya...”
“Ng... I-iya... nggak apa-apa
kok, Bu...” kekeh Edwin pelan. “Makasih banyak, ya, Bu. Saya nggak tau lagi
kalo misalnya yang ketemu dia bukan Ibu...”
Pandangan Sylvia terpaku pada
wanita yang tengah berbincang dengan Edwin. Wanita itu masih terlihat cantik walau sedikit kerutan
terlihat menghiasi wajahnya yang berkesan teduh. Cukup lama matanya memandang
wanita itu. Entah mengapa, rasanya Sylvia pernah melihat sosok itu sebelumnya. Rambut
hitam lebat nan panjang terurai, sepasang netra bulat beriris coklat terang,
kulit sawo matang, serta tahi lalat di atas alis kanan. Sylvia semakin yakin.
Ia pernah melihat orang ini. Tapi... Siapa? Kapan? Dimana?
Menyadari ada yang menduduki
kursi di sebelah posisi pengemudi mobil, Noel memiringkan kepalanya sedikit.
“Sylvia?” anak itu mendongakkan
wajah polosnya untuk menatap Edwin, “Kak Edwin kenal sama Sylvia?” tanyanya.
Edwin terdiam sejenak.
“Iya... Kak Edwin temenan sama
dia.”
Wajah Linda perlahan berubah
sendu.
“Sylvia... Noel... Namanya
persis kayak dua anak saya yang hilang...” ia bergumam pelan. “Kalo
dihitung-hitung, umur anak saya yang bungsu sekarang juga delapan tahun. Sama
kayak adiknya Mas.”
Sylvia terperangah mendengar
kalimat yang baru saja melintas di telinganya. Sepasang mata coklat gelapnya
mulai berkaca-kaca. Cepat-cepat ia membuka pintu dan berlari ke luar
menghampiri wanita bersurai hitam lebat yang tak lain adalah ibu dari Noel dan
dirinya.
“Ibu...” ucap Sylvia lirih
dengan suara berderak. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri, “...ini Sylvia...
Ibu masih ingat?”
“Sylvia...”
Sylvia melekukkan senyum tipis
di bibirnya.
Wanita itu menangis
sesenggukan. Detik itu juga, Linda langsung memeluk putrinya yang telah lama
__ADS_1
terpisah darinya dan kini berada tepat di hadapannya.