Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 21 – Finally...


__ADS_3

Edwin menginjak pedal gas, menambah kecepatan laju


mobilnya. Tak seperti biasa, pemuda itu mengemudikan kendaraan beroda empat itu


jauh di atas kecepatan rata-rata. Sepasang mata coklatnya terpaku pada jalan


raya ibu kota yang berangsur sepi seiring bertambah larutnya malam.


Rasa cemas dalam dirinya yang semakin memuncak membuat


otaknya hanya bisa memikirkan satu hal. Menghampiri Sylvia yang kini tinggal


bersama anak-anak jalanan lainnya di rumah Eji. Edwin tahu persis kalau memberi


tahu gadis itu bahwa adiknya hilang entah kemana akan mendatangkan malapetaka.


Sylvia pasti memaki sambil menghajarnya habis-habisan.


Pemuda itu menghela nafas sesaat sebelum turun dari


mobilnya yang sudah terparkir di jalanan gang sebuah komplek kecil, tepat di


depan pintu rumah bang Eji. Tangannya yang terkepal mengetuk-ngetuk pintu.


Tak lama setelah derap langkah kaki terdengar mendekat, seorang


anak berusia tak lebih dari sepuluh tahun datang membukakan pintu. Walau


pakaiannya terlihat agak bersih, rambutnya yang lepek dan kulitnya yang kusam


menampakkan jelas bahwa ia mantan anak jalanan.


“Siapa ya?” tanyanya sambil mengucek-ngucek mata.


“Edwin... temennya Sylvia... Sylvia-nya ada di rumah?”


Belum sempat anak itu berbalik untuk memanggil Sylvia,


seorang lelaki bertubuh kekar lengkap dengan rambut hitam pendek dan sebuah


rokok di mulutnya menghampiri mereka. Lelaki itu tak lain adalah Eji.


“Yan, Lo ngapain buka-buka pintu, sih?! Orang kagak kenal


juga! Udah maen buka-buka pintu aja lo. Ntar masuk maling, kelabakan lo!”


“Ih, dia bukan maling tau, bang! Dia bilang dia temennya


Sylvia, kok!” protes Ryan.


“Lo demam kesambet setan, ya?” tanya lelaki itu


menempelkan telapak tangannya di atas kening Ryan, “Gila aja lo! Mana ada cewe


berandalan gitu punya temen cowo rapi kayak gini?!”


“Lah! Bisa aja kali, bang!”


“Gak mungkin! Pasti cuma mimpi kalo sampe iya!”


“Mana ada! Pasti mungkin lah!”


“GAK!”


“IYA!”


“BACOT!” seruan itu terdengar bersamaan dengan dua buah


bantal sofa yang terlempar mengenai Ryan dan Eji. “GUE MAU TIDUR, BEGO!” Sylvia


memicingkan matanya sedikit. Kedua matanya tertuju pada seorang pemuda berkemeja


batik lengan pendek yang berdiri tak jauh dari pintu.


“Lho, Edwin?” Sylvia bergegas menghampirinya. “Lo ngapain


dateng malem-malem gini?” tanyanya sambil melangkah ke luar dan menutup pintu


tanpa peduli akan keberadaan Eji dan Ryan.


“Ng... Ikut aku dulu ke mobil... Nanti aku ceritain...”


ia menarik tangan gadis itu menuju mobilnya.


“Kenapa, sih?” tatapan matanya terfokus pada Edwin yang


memasangkan seatbelt untuknya. “Harus


banget gitu masang ginian dulu baru cerita? Lagian ngomong juga gak bikin tabrakan,


kan?”


“Ini biar kamu nggak gampang gerak. Jadi aku gak bakal


kena tonjok.”


Sylvia mengerinyitkan dahinya. “Maksud lo?”


Pemuda itu menghela nafas dan diam sejenak.


“Jadi, gini... Aku nitipin Noel ke tunangannya kakakku.


Terus... dia... hilang....” suaranya memelan saat mengucapkan kalimat terakhir.


***


Dengan nafas terengah dan kucuran peluh yang turun


semakin deras, Noel menghentikan langkahnya sejenak. Lirikan sepasang matanya


berkeliling. Noel sama sekali tak merasa familiar dengan deretan bangunan di


sebelah kiri dan kanannya. Meski tenaganya hampir habis setelah menempuh

__ADS_1


perjalanan jauh, usahanya berujung sia-sia. Ia telah berjalan tak tentu arah


dan akhirnya tersesat.


Kalau sudah begini, Noel hanya bisa terduduk pasrah. Tak


peduli sekeras apa pun ia menangis dan merengek, rasa sesalnya tak akan hilang.


Semuanya sudah terlambat. Ia tak akan bisa kembali ke rumah Charlotte. Atau


bahkan lebih buruk dari itu. Ia tak akan bisa pulang ke rumah dan bertemu tiga


orang ‘keluarganya’.


Perutnya yang mulai terasa sakit menambah kekacauan dalam


dirinya. Anak itu belum menyentuh sendok dan garpu untuk memotong makanannya


sejak sore hari.


Noel membenamkan wajah pada kedua tangannya yang


terlipat.


Sepasang lensa coklat terangnya menitikkan air mata. Ia


tak tahu lagi harus berbuat apa. Ketegaran dalam diri Noel seolah runtuh. Pikiran


dalam otaknya hanya dipenuhi oleh sesal dan harapan kecil untuk pulang.


“Dek?” suara lembut itu terdengar memanggilnya.


Noel mendongak. Seorang wanita bersurai hitam panjang


dengan tubuh ramping berdiri tepat di hadapannya.


“Kok sendirian aja? Orang tua kamu mana?” tanyanya sambil


membungkuk.


Anak itu cepat-cepat menghapus jejak air matanya.


Lirikan sepasang mata wanita itu tertuju pada luggage tag di ransel milik Noel. Ia


memperhatikan deretan angka yang tertera di kolom nomor telepon.


+62-838-5559-59(Edwin W.)


“Kamu nyasar, ya?”


Noel mengangguk pelan.


“Ini ada nomor telepon ayah kamu,” ujarnya sembari mengeluarkan ponsel,


“Bibi bakal bilang kalo kamu ada di sini. Sambil nunggu, kamu duduk di warung


bibi aja. Kalo malam-malam di luar begini, bahaya. Nanti kamu bisa diculik


orang.”


***


Sylvia


“LO


BRENGSEK!”


“Ya...


maaf! Syl... aku...”


Kalimat


Edwin terhenti karena telepon genggamnya berdering. Pemuda itu langsung merogoh


saku celananya dan menjawab panggilan itu sambil menahan pergelangan tangan


Sylvia.


“Halo?”


ia menempelkan handphone pada telinga


kanannya.


“Halo, ini Pak Edwin, ya?”


Edwin terdiam sejenak. “Eh...


ng... iya. Ini siapa ya?”


“Ini dengan Linda. Gini, Pak... Saya ketemu anak bapak...”


“Anak?” Edwin mengerinyitkan


dahi. Pemuda itu benar-benar heran. Sebab, ia belum pernah menikah. Tentu saja,


ia juga belum memiliki anak.


“Iya, yang namanya Noel, Pak.”


“Oh! Iya! Dia ada di mana, ya,


Bu?”


“Dia ada sama saya, Pak. Alamatnya saya kirim lewat SMS...”


Detik itu juga, panggilan


berakhir. Kecemasan dalam hati Edwin seketika hilang saat sebuah SMS berisi


alamat dari wanita bernama Lindawati yang meneleponnya barusan.

__ADS_1


“Syl, Noel ketemu!” ujarnya gembira.


Tanpa ia sadari, Sylvia turut


mengembangkan senyum di bibirnya. Ia merasa sangat lega bisa mendengar kalimat


itu. Walau dua kali kata ‘hilang’ sempat terlekat pada Noel. Akhirnya, anak itu


tak ‘benar-benar hilang’.


***


“Noel!”


Mendengar namanya dipanggil,


Noel menoleh. Cepat-cepat ia berlari menuju Edwin yang baru saja turun dari


mobil.


“Kak Edwin...,” sahutnya dengan


suara parau sembari merangkul pemuda itu erat-erat. Lalu menatapnya dengan


sepasang mata yang sembap.


Edwin menghela nafas singkat,


“Noel kenapa pergi nggak bilang-bilang? Untung yang ketemu Noel orang baik.


Kalo orang jahat? Noel bisa diculik, lho!” ia mengacak rambut hitam


kemerah-merahan anak itu.


“Noel mau pulang...” ucapnya


lirih.


Linda tersenyum tipis, “Oh, adeknya


ya, Mas? Maaf, maaf... Saya kira anaknya...”


“Ng... I-iya... nggak apa-apa


kok, Bu...” kekeh Edwin pelan. “Makasih banyak, ya, Bu. Saya nggak tau lagi


kalo misalnya yang ketemu dia bukan Ibu...”


Pandangan Sylvia terpaku pada


wanita yang tengah berbincang dengan Edwin. Wanita itu  masih terlihat cantik walau sedikit kerutan


terlihat menghiasi wajahnya yang berkesan teduh. Cukup lama matanya memandang


wanita itu. Entah mengapa, rasanya Sylvia pernah melihat sosok itu sebelumnya. Rambut


hitam lebat nan panjang terurai, sepasang netra bulat beriris coklat terang,


kulit sawo matang, serta tahi lalat di atas alis kanan. Sylvia semakin yakin.


Ia pernah melihat orang ini. Tapi... Siapa? Kapan? Dimana?


Menyadari ada yang menduduki


kursi di sebelah posisi pengemudi mobil, Noel memiringkan kepalanya sedikit.


“Sylvia?” anak itu mendongakkan


wajah polosnya untuk menatap Edwin, “Kak Edwin kenal sama Sylvia?” tanyanya.


Edwin terdiam sejenak.


“Iya... Kak Edwin temenan sama


dia.”


Wajah Linda perlahan berubah


sendu.


“Sylvia... Noel... Namanya


persis kayak dua anak saya yang hilang...” ia bergumam pelan. “Kalo


dihitung-hitung, umur anak saya yang bungsu sekarang juga delapan tahun. Sama


kayak adiknya Mas.”


Sylvia terperangah mendengar


kalimat yang baru saja melintas di telinganya. Sepasang mata coklat gelapnya


mulai berkaca-kaca. Cepat-cepat ia membuka pintu dan berlari ke luar


menghampiri wanita bersurai hitam lebat yang tak lain adalah ibu dari Noel dan


dirinya.


“Ibu...” ucap Sylvia lirih


dengan suara berderak. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri, “...ini Sylvia...


Ibu masih ingat?”


“Sylvia...”


Sylvia melekukkan senyum tipis


di bibirnya.


Wanita itu menangis


sesenggukan. Detik itu juga, Linda langsung memeluk putrinya yang telah lama

__ADS_1


terpisah darinya dan kini berada tepat di hadapannya.


__ADS_2