Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 11 – Reunion


__ADS_3

Senja kembali menampakkan dirinya dengan bersahabat.


Seyuman letih mentari menyapa sahabat karibnya, Noel, yang telah lama tak


berjumpa dengan dirinya. Pancaran sinar keemasan begitu hangat menembus kaca


jendela penghalang jarak antara mereka. Di detik-detik terakhirnya sebelum


terlelap, sang surya bercerita. Tentang betapa dekatnya persahabatan mereka di


masa lalu. Dirinya yang selalu menunduk ke bawah, mengawasi tiap langkah


kaki-kaki ceking Noel di atas trotoar pejalan kaki.


Noel membiarkan dagunya bersandar pada lipatan tangannya


di atas coffee table. Meja coklat tua


yang selalu digunakannya untuk menulis, meski seharusnya meja itu hanyalah


sebagai tempat cangkir teh dan kue-kue kering, teman setia saat


berbincang-bincang hangat di ruang tamu. Sepasang mata coklatnya yang mengkilap


terkena kilauan mentari dibiarkannya terpejam sejenak. Anak itu seolah-olah


hendak berbalas pesan pada sang surya. Batinnya menegaskan bahwa dirinya telah


lahir kembali dalam pembaharuan. Ia bukan lagi seorang anak jalanan. Tak ada


sedikit pun keinginan untuk kembali menginjakkan kedua kakinya di ‘rumah’


lamanya itu. Sebab ia telah dibebaskan. Habitatnya sekarang terasa bagai


nirwana. Tempat yang ditinggali olehnya berwujud laksana mahligai di dalam istana.


Tak hanya itu, ia merasakan kasih sayang hangat dari dua orang yang senantiasa


mengusahakan hidup layak untuknya. Hidupnya terasa sempurna.


Mentari senja tersenyum simpul padanya. Cahaya terangnya


yang bersahaja kembali membalas ucapan batin Noel dengan berjuta kenangan


bersama teman-teman sekelompoknya dulu.


Rasa rindu akan kawan-kawannya ternyata masih duduk diam


di dalam hatinya.


“Noel, ayo bangun,” suara itu memaksanya untuk membuka


mata. Tepukan lembut mendarat di pundak kirinya.


Noel perlahan membuka kedua mata coklat terang miliknya. Edwin


tersenyum tipis sembari mengacak rambut hitam pendek kemerah-merahan anak itu.


“Buku-bukunya dirapikan, ya. Taruh lagi di rak buku


kamarmu. Habis bibi selesai masak, kita makan, oke?”


“Oke,” jawabnya lirih.


Tangan kecilnya dengan gesit mengambil buku-buku


pelajaran miliknya yang terbentang di atas coffee


table. Lalu, benda itu disusunnya kembali di rak buku samping meja


belajarnya.


Aroma harum khas ayam goreng mentega dan tumis kangkung


tercium lekat-lekat. Bibi pasti sudah selesai memasak.


Noel bergegas menghampiri ruang makan. Piring-piring


porselen putih berhias motif geometri warna biru tua itu sudah tersusun rapi di


atas meja. Jumlah benda berbentuk lingkaran itu ada lima. Anak itu bergumam


dalam hati, menghitung kembali ada berapa jumlah orang di rumah ini. Dirinya,


Edwin, dan bi Nara. Pak Asep yang menjaga gerbang sudah berhenti bekerja dan


pulang ke kampung halamannya sejak bulan Juni lalu. Jadi, di rumah ini hanya


ada tiga orang. Ia kembali menatap deretan piring itu. Kenapa jumlahnya ada


lima?


Lirikan iris coklatnya berpindah saat sorot cahaya lampu


dim mobil menembus masuk jendela. Bi Nara terlihat buru-buru membukakan pagar


rumah. Noel menyipitkan kedua matanya sedikit, seolah hal itu dapat membantunya


melihat lebih jelas lagi.


Perawakan lelaki muda yang turun dari taksi itu hampir


serupa dengan Edwin. Hanya saja tubuhnya sedikit lebih tinggi dan potongan


rambutnya cukup berbeda.


Noel terperangah. Tanpa pikir panjang, ia langsung


berlari ke lantai atas dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Rasa sesak


seketika menyangkum dada anak itu. Peluhnya turut mengucur deras. Dunianya


seolah-olah terasa berputar. Ia sama sekali tak mengerti. Hatinya masih belum


bisa menyingkirkan perasaan takut akan Dean. Walaupun pemuda itu tak pernah sekalipun


menghardik atau memukuli Noel habis-habisan seperti yang seringkali bang


Gondrong, mantan pimpinannya lakukan pada dirinya. Entah mengapa, tatapan sinis


Dean terasa begitu lebih menyakitkan sampai sekarang, getap dalam batinnya tak


kunjung lenyap terkikis waktu.


***


“Oh, ya, Win. Kenalin, ini Charlotte, tunangan kakak.”


Dean menoleh dan tersenyum tipis pada gadis bersurai keemasan di sebelahnya, “Charlotte, this is my little brother,


Edwin. He’s younger by three years than me.”


Edwin mengulurkan tangannya, “Nice to... uh... meet you,” ucapnya sedikit terbata karena gugup.


Sejak dulu, nilai bahasa Inggrisnya di sekolah tak pernah lebih tinggi dari


angka delapan. Ia tak mahir berbahasa asing seperti kakaknya. Masalahnya bukan


hanya itu saja. Ini juga adalah kali pertamanya Edwin harus berhadapan dan


berbicara dengan native speaker seperti Charlotte.


“Don’t


speak English with him, he’s not fluent yet.”Dean berbisik pelan di telinga gadis itu.

__ADS_1


Charlotte mengangguk-angguk pelan dan menyambut uluran


tangan adik tunangannya, “Aku bisa bahasa Indonesia, kok,” logat khas


Inggris-Amerika dalam kalimatnya masih terdengar begitu kental.


Pemuda itu tercengang melihat kakaknya yang terkekeh


pelan menyaksikan hal konyol itu. Dirinya merasa ada hal berbeda dari Dean. Seumur


hidupnya, Edwin mengenal kakaknya sebagai pribadi yang hampir selalu bersikap


kurang bahkan tak ramah, arogan, juga terlalu cepat menghakimi dan enggan


memahami perasaan orang lain. Persis berlawanan dengan sikap Edwin. Ya, memang


Edwin sudah merasakan perubahan kecil pada pemuda itu sesaat sebelum ia kembali


bertolak ke Amerika.


Derap langkah terdengar menuruni tangga sebelum akhirnya


menghampiri keberadaan tiga orang itu. Bibi tersenyum simpul sampai lesung


pipitnya terlihat sambil sedikit menganggukkan kepalanya, gestur yang


menyiratkan rasa hormat pada kedua putra majikannya dan salah seorang tamu yang


sama sekali belum pernah dilihat dan dikenal oleh wanita itu.


“Mas Edwin, Noel nggak mau turun,” ucap bi Nara pelan, nyaris


menyerupai bisikan.


“Lho? Kenapa?”


Wanita paruh baya itu mengangkat kedua bahunya, “Bibi


juga nggak tahu. Padahal, biasanya kalau udah bibi bilang ada makanan di bawah,


dia pasti turun.”


Edwin terdiam sejenak, “Ya udah, Edwin coba panggil deh.”


Beberapa saat setelah Edwin beranjak meninggalkan Dean


dan Charlotte, gadis itu membuka mulutnya tanpa ragu untuk melontarkan


pertanyaan.


“Kamu punya dua adik?”


Pemuda itu menggeleng, “Noel bukan adikku. Kita nggak ada


hubungan darah sama sekali.”


“Then?”


“Dia cuma tinggal disini. Kalo nggak salah, dari bulan


Januari lalu, deh. Dia itu sebelumnya anak jalanan. Ya... aku nggak tahu


persis, sih. Tapi waktu itu aku nggak sengaja baca bukunya Noel, dia nggak


sengaja ketemu Edwin terus dia bilang tiap hari dia disamperin, terus dikasih


makan sama Edwin. Terus malah dibawa pulang sama Edwin.”


“Oh, ya? Dulu bibi aku juga pernah kayak adik kamu itu.


Tapi, ternyata anak itu masih ingat nama sama alamat orang tuanya. Jadi,


langsung dicari sama bibiku. Terus, ketemu.” Charlotte menjeda kalimatnya


sejenak, “Kenapa nggak cari aja orang tuanya Noel? Anak-anak yang tinggal di


***


Tangan kecil itu menyilangkan sepasang garpu dan sendok


di atas piring. Ini adalah kedua kalinya ia menghabiskan makanannya di dalam


kamar tidurnya. Mungkin kedengarannya cukup aneh. Tapi, Noel merasa lebih baik


melakukan hal aneh atau gila sekali pun daripada harus bertatap muka dengan


pemuda yang selalu memberinyat tekanan batin melalui sebuah sorot tatapan


tajam.


Pintu kamar dibukanya perlahan. Ia melihat ke kanan dan


kiri. Tak ada tanda-tanda keberadaan Dean di sini. Sembari membawa piring putih


itu, Noel berjalan menuruni tangga hendak menuju ke dapur, mengembalikan benda


itu pada bi Nara agar bisa dicuci.


Gemerisik daun mengiringi dentingan piano nan merdu.


Langkah Noel terhenti detik itu juga. Dirinya seolah terhipnotis oleh nada heartwarming dari alunan musik River Flows in You. Ia bertanya-tanya


dalam hati. Siapakah yang menghasilkan harmoni irama indah dari grand piano itu? Apa mungkin orang itu


Edwin? Atau bibi? Tapi, kesannya begitu mustahil kalau bibi yang memainkannya. Sebab,


wanita itu pernah bilang kalau dirinya tak berbakat sama sekali dalam hal


musik.


“Eh, Noel turun juga akhirnya. Udah sarapan belum?” Edwin


menepuk pelan pundak Noel dari belakang.


Anak itu perlahan menoleh. Beberapa tetes keringatnya


jatuh. Kalau yang bertegur sapa dengannya adalah Edwin, sudah tak salah lagi,


yang diperhatikannya sejak tadi itu adalah Dean. Noel segera menghitung aba-aba


untuk berbalik arah dalam hati. Ia hendak kembali menaiki tangga dan berdiam


diri kamarnya.


Belum sempat hitungan itu mencapai angka dua, Dean menghentikan


gerak jari-jarinya di atas tuts piano.


“Noel mau coba main piano?”


Pertanyaan itu sukses membuat Noel tercengang. Bahkan,


tak hanya Noel. Edwin pun juga demikian.


Noel menelan ludahnya. Sejak awal menginjakkan kaki di


rumah ini, ia memendam keinginan untuk memainkan nada-nada indah sebuah lagu


dari alat musik berkesan mewah itu. Ini adalah kesempatan besar bagi dirinya.


Dean berdiri dari duduknya, “Ayo, sini duduk. Kak Dean


ajarin main piano.”


Kali ini, sepasang mata itu menatapnya dengan sorot mata bersahabat.

__ADS_1


Noel tak pernah menyangka ini akan menjadi sebuah hari


dimana pemuda itu sudi berdekatan dengannya, memegang jari-jari tangan kanannya


yang penuh luka, serta mengajarinya bermain piano. Degup jantung anak itu tak


lagi menggedor-gedor rusuknya. Ia sudah merasa sedikit lebih tenang, mengikuti


tempo largo dari dentingan tujuh not dasar dari piano itu.


***


Perubahan sikap Dean memang menjejakkan sebuah tanda


tanya besar dalam benak Edwin. Setelah Noel menginjakkan kedua kakinya kembali


di rumah setelah diajak jalan-jalan, anak itu langsung memilih menghabiskan


waktunya di hadapan grand piano hitam


milik pemuda yang dulu membencinya setengah mati, bersama Dean yang bermain


peran sebagai guru musik.


Edwin sempat melontarkan pertanyaan itu pada kakaknya,


tentang apa yang bisa membuatnya berubah dalam hitungan bulan.


Namun, laksana sebuah boomerang,


kakaknya malah memberinya sebuah pertanyaan lagi, “Menurut kamu?”


Edwin meletakkan kedua tangannya di setir mobil dan


membiarkan sepasang matanya menangkap setiap momen yang menunjukkan betapa


indahnya gemerlap kota metropolitan, Jakarta, di malam hari. Cahaya lampu dari


gedung-gedung pencakar langit berkelap-kelip keemasan mengelilinginya,


seolah-olah ia berada di tengah langit bertabur jutaan bintang. Panorama itu


benar-benar memanjakan tiap pasang mata yang memandangnya.


Suara riuh klakson seketika membuyarkan lamunan Edwin


yang sejenak terhanyut dalam hipnotis pemandangan indah ibu kota. Sampai-sampai


ia lupa bahwa dirinya berada di tengah-tengah hiruk pikuk jalan raya, barisan


para kendaraan beroda empat. Edwin cepat-cepat menurunkan tuas rem tangan dan


menginjak pedal gas sebelum suara nyaring itu memecahkan gendang telinganya.


Setir itu diputarnya sampai mobil yang dikendarainya berbelok arah.


Penghafalannya tentang seluk beluk arah menuju rumahnya memang masih


samar-samar. Tapi, hal itu tak meretakkan keteguhan hatinya untuk mengambil


jalan pintas yang akan membebaskannya dari kemacetan jalan raya.


Kilat dan gemuruh muncul bersamaan. Tak lama,


rintik-rintik air hujan pun menyusul mereka turun ke permukaan bumi setelah


sekian lamanya tak terjun bebas. Jari-jari di tangan kirinya menggeser tuas wiper ke bawah, membiarkan dua benda


hitam itu bekerja sesuai tugasnya, membersihkan jejak air hujan yang mengganggu


pandangannya selama mengemudi. Sekilas, ia merasa mobilnya melindas sebuah


benda berukuran kecil. Pemuda itu langsung melepas sabuk pengaman dan menarik


rem tangan. Lalu bergegas turun.


Pencahayaan di gang tikus ini relatif kurang. Edwin


termasuk beruntung. Ia masih bisa melihat benda apa yang tertancap di ban depan


sebelah kanan mobilnya. Benda itu hanyalah sebuah paku kecil. Ukurannya kurang


lebih dua centimeter. Tak apa-apa, mobilnya masih bisa melaju. Hanya saja, ia


harus menghindari jalanan berlubang dan harus segera menambal ban.


Belum sempat pemuda itu meluruskan kedua kakinya kembali


untuk berdiri, tiba-tiba saja sebuah tangan memiting lehernya dari belakang.


Dentuman jantungnya yang tak karuan enggan bersinkronisasi dengan nalarnya yang


berseru lantang menyuruhnya untuk diam dan tenang.


“Serahin isi dompet lo kalo mau selamat!”


Suara bermakna ancaman itu tak terdengar berat seperti


suaranya. Lengan berselimut jaket beraroma khas tembakau yang memitingnya itu


juga berukuran lebih kecil dari lengannya. Helaian surai hitam panjang juga


samar-samar berlalu dipandangannya.


Pemilik suara ini adalah seorang gadis?!


“Cepetan!” perintahnya sambil menodongkan sebuah pisau


lipat ke arah leher korban mangsanya.


Tangan Edwin yang sedikit gemetaran menjangkau saku


celananya. Dalam hitungan detik, beberapa lembar uang rupiah langsung


dikeluarkannya dari dompet hitam miliknya. Lalu diserahkannya kertas


bewarna-warni bernilai tukar itu pada gadis yang menggertaknya dengan ultimatum


singkat.


“Gue tau lo bawa handphone.


Jadi, sekarang keluarin handphone lo!”


“Eh, nggak...”


Tanpa peduli kalimat macam apa yang hendak diucapkan,


gadis itu langsung menggeser pisaunya lebih dekat sampai hampir bersentuhan


dengan kulit leher Edwin. “Gak usah banyak bacot kalo gak mau leher lo gue


bikin sobek!” ancamnya sembari mempererat pitingannya.


Edwin terbatuk. Gadis berbau rokok ini benar-benar bisa


membunuhnya sekarang juga. Ia tak bisa mengambil resiko. Kehilangan harta lebih


baik daripada kehilangan nyawa. Tangannya merogoh saku celananya yang lain.


“Oke, bagus.” Lengan berjari-jari halus itu melipat


kembali pisau miliknya. Disimpannya kembali senjata tajam itu dalam sakunya.


Dengan cepat, ia menyambar uang dan ponsel yang diserahkan untuknya.

__ADS_1


Gadis itu melepas pitingannya, “Lo boleh pergi sekarang,”


ucapnya. Lalu, ia menarik tudung jaketnya agar wajahnya tak terlihat jelas.


__ADS_2