
Senja kembali menampakkan dirinya dengan bersahabat.
Seyuman letih mentari menyapa sahabat karibnya, Noel, yang telah lama tak
berjumpa dengan dirinya. Pancaran sinar keemasan begitu hangat menembus kaca
jendela penghalang jarak antara mereka. Di detik-detik terakhirnya sebelum
terlelap, sang surya bercerita. Tentang betapa dekatnya persahabatan mereka di
masa lalu. Dirinya yang selalu menunduk ke bawah, mengawasi tiap langkah
kaki-kaki ceking Noel di atas trotoar pejalan kaki.
Noel membiarkan dagunya bersandar pada lipatan tangannya
di atas coffee table. Meja coklat tua
yang selalu digunakannya untuk menulis, meski seharusnya meja itu hanyalah
sebagai tempat cangkir teh dan kue-kue kering, teman setia saat
berbincang-bincang hangat di ruang tamu. Sepasang mata coklatnya yang mengkilap
terkena kilauan mentari dibiarkannya terpejam sejenak. Anak itu seolah-olah
hendak berbalas pesan pada sang surya. Batinnya menegaskan bahwa dirinya telah
lahir kembali dalam pembaharuan. Ia bukan lagi seorang anak jalanan. Tak ada
sedikit pun keinginan untuk kembali menginjakkan kedua kakinya di ‘rumah’
lamanya itu. Sebab ia telah dibebaskan. Habitatnya sekarang terasa bagai
nirwana. Tempat yang ditinggali olehnya berwujud laksana mahligai di dalam istana.
Tak hanya itu, ia merasakan kasih sayang hangat dari dua orang yang senantiasa
mengusahakan hidup layak untuknya. Hidupnya terasa sempurna.
Mentari senja tersenyum simpul padanya. Cahaya terangnya
yang bersahaja kembali membalas ucapan batin Noel dengan berjuta kenangan
bersama teman-teman sekelompoknya dulu.
Rasa rindu akan kawan-kawannya ternyata masih duduk diam
di dalam hatinya.
“Noel, ayo bangun,” suara itu memaksanya untuk membuka
mata. Tepukan lembut mendarat di pundak kirinya.
Noel perlahan membuka kedua mata coklat terang miliknya. Edwin
tersenyum tipis sembari mengacak rambut hitam pendek kemerah-merahan anak itu.
“Buku-bukunya dirapikan, ya. Taruh lagi di rak buku
kamarmu. Habis bibi selesai masak, kita makan, oke?”
“Oke,” jawabnya lirih.
Tangan kecilnya dengan gesit mengambil buku-buku
pelajaran miliknya yang terbentang di atas coffee
table. Lalu, benda itu disusunnya kembali di rak buku samping meja
belajarnya.
Aroma harum khas ayam goreng mentega dan tumis kangkung
tercium lekat-lekat. Bibi pasti sudah selesai memasak.
Noel bergegas menghampiri ruang makan. Piring-piring
porselen putih berhias motif geometri warna biru tua itu sudah tersusun rapi di
atas meja. Jumlah benda berbentuk lingkaran itu ada lima. Anak itu bergumam
dalam hati, menghitung kembali ada berapa jumlah orang di rumah ini. Dirinya,
Edwin, dan bi Nara. Pak Asep yang menjaga gerbang sudah berhenti bekerja dan
pulang ke kampung halamannya sejak bulan Juni lalu. Jadi, di rumah ini hanya
ada tiga orang. Ia kembali menatap deretan piring itu. Kenapa jumlahnya ada
lima?
Lirikan iris coklatnya berpindah saat sorot cahaya lampu
dim mobil menembus masuk jendela. Bi Nara terlihat buru-buru membukakan pagar
rumah. Noel menyipitkan kedua matanya sedikit, seolah hal itu dapat membantunya
melihat lebih jelas lagi.
Perawakan lelaki muda yang turun dari taksi itu hampir
serupa dengan Edwin. Hanya saja tubuhnya sedikit lebih tinggi dan potongan
rambutnya cukup berbeda.
Noel terperangah. Tanpa pikir panjang, ia langsung
berlari ke lantai atas dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Rasa sesak
seketika menyangkum dada anak itu. Peluhnya turut mengucur deras. Dunianya
seolah-olah terasa berputar. Ia sama sekali tak mengerti. Hatinya masih belum
bisa menyingkirkan perasaan takut akan Dean. Walaupun pemuda itu tak pernah sekalipun
menghardik atau memukuli Noel habis-habisan seperti yang seringkali bang
Gondrong, mantan pimpinannya lakukan pada dirinya. Entah mengapa, tatapan sinis
Dean terasa begitu lebih menyakitkan sampai sekarang, getap dalam batinnya tak
kunjung lenyap terkikis waktu.
***
“Oh, ya, Win. Kenalin, ini Charlotte, tunangan kakak.”
Dean menoleh dan tersenyum tipis pada gadis bersurai keemasan di sebelahnya, “Charlotte, this is my little brother,
Edwin. He’s younger by three years than me.”
Edwin mengulurkan tangannya, “Nice to... uh... meet you,” ucapnya sedikit terbata karena gugup.
Sejak dulu, nilai bahasa Inggrisnya di sekolah tak pernah lebih tinggi dari
angka delapan. Ia tak mahir berbahasa asing seperti kakaknya. Masalahnya bukan
hanya itu saja. Ini juga adalah kali pertamanya Edwin harus berhadapan dan
berbicara dengan native speaker seperti Charlotte.
“Don’t
speak English with him, he’s not fluent yet.”Dean berbisik pelan di telinga gadis itu.
__ADS_1
Charlotte mengangguk-angguk pelan dan menyambut uluran
tangan adik tunangannya, “Aku bisa bahasa Indonesia, kok,” logat khas
Inggris-Amerika dalam kalimatnya masih terdengar begitu kental.
Pemuda itu tercengang melihat kakaknya yang terkekeh
pelan menyaksikan hal konyol itu. Dirinya merasa ada hal berbeda dari Dean. Seumur
hidupnya, Edwin mengenal kakaknya sebagai pribadi yang hampir selalu bersikap
kurang bahkan tak ramah, arogan, juga terlalu cepat menghakimi dan enggan
memahami perasaan orang lain. Persis berlawanan dengan sikap Edwin. Ya, memang
Edwin sudah merasakan perubahan kecil pada pemuda itu sesaat sebelum ia kembali
bertolak ke Amerika.
Derap langkah terdengar menuruni tangga sebelum akhirnya
menghampiri keberadaan tiga orang itu. Bibi tersenyum simpul sampai lesung
pipitnya terlihat sambil sedikit menganggukkan kepalanya, gestur yang
menyiratkan rasa hormat pada kedua putra majikannya dan salah seorang tamu yang
sama sekali belum pernah dilihat dan dikenal oleh wanita itu.
“Mas Edwin, Noel nggak mau turun,” ucap bi Nara pelan, nyaris
menyerupai bisikan.
“Lho? Kenapa?”
Wanita paruh baya itu mengangkat kedua bahunya, “Bibi
juga nggak tahu. Padahal, biasanya kalau udah bibi bilang ada makanan di bawah,
dia pasti turun.”
Edwin terdiam sejenak, “Ya udah, Edwin coba panggil deh.”
Beberapa saat setelah Edwin beranjak meninggalkan Dean
dan Charlotte, gadis itu membuka mulutnya tanpa ragu untuk melontarkan
pertanyaan.
“Kamu punya dua adik?”
Pemuda itu menggeleng, “Noel bukan adikku. Kita nggak ada
hubungan darah sama sekali.”
“Then?”
“Dia cuma tinggal disini. Kalo nggak salah, dari bulan
Januari lalu, deh. Dia itu sebelumnya anak jalanan. Ya... aku nggak tahu
persis, sih. Tapi waktu itu aku nggak sengaja baca bukunya Noel, dia nggak
sengaja ketemu Edwin terus dia bilang tiap hari dia disamperin, terus dikasih
makan sama Edwin. Terus malah dibawa pulang sama Edwin.”
“Oh, ya? Dulu bibi aku juga pernah kayak adik kamu itu.
Tapi, ternyata anak itu masih ingat nama sama alamat orang tuanya. Jadi,
langsung dicari sama bibiku. Terus, ketemu.” Charlotte menjeda kalimatnya
sejenak, “Kenapa nggak cari aja orang tuanya Noel? Anak-anak yang tinggal di
***
Tangan kecil itu menyilangkan sepasang garpu dan sendok
di atas piring. Ini adalah kedua kalinya ia menghabiskan makanannya di dalam
kamar tidurnya. Mungkin kedengarannya cukup aneh. Tapi, Noel merasa lebih baik
melakukan hal aneh atau gila sekali pun daripada harus bertatap muka dengan
pemuda yang selalu memberinyat tekanan batin melalui sebuah sorot tatapan
tajam.
Pintu kamar dibukanya perlahan. Ia melihat ke kanan dan
kiri. Tak ada tanda-tanda keberadaan Dean di sini. Sembari membawa piring putih
itu, Noel berjalan menuruni tangga hendak menuju ke dapur, mengembalikan benda
itu pada bi Nara agar bisa dicuci.
Gemerisik daun mengiringi dentingan piano nan merdu.
Langkah Noel terhenti detik itu juga. Dirinya seolah terhipnotis oleh nada heartwarming dari alunan musik River Flows in You. Ia bertanya-tanya
dalam hati. Siapakah yang menghasilkan harmoni irama indah dari grand piano itu? Apa mungkin orang itu
Edwin? Atau bibi? Tapi, kesannya begitu mustahil kalau bibi yang memainkannya. Sebab,
wanita itu pernah bilang kalau dirinya tak berbakat sama sekali dalam hal
musik.
“Eh, Noel turun juga akhirnya. Udah sarapan belum?” Edwin
menepuk pelan pundak Noel dari belakang.
Anak itu perlahan menoleh. Beberapa tetes keringatnya
jatuh. Kalau yang bertegur sapa dengannya adalah Edwin, sudah tak salah lagi,
yang diperhatikannya sejak tadi itu adalah Dean. Noel segera menghitung aba-aba
untuk berbalik arah dalam hati. Ia hendak kembali menaiki tangga dan berdiam
diri kamarnya.
Belum sempat hitungan itu mencapai angka dua, Dean menghentikan
gerak jari-jarinya di atas tuts piano.
“Noel mau coba main piano?”
Pertanyaan itu sukses membuat Noel tercengang. Bahkan,
tak hanya Noel. Edwin pun juga demikian.
Noel menelan ludahnya. Sejak awal menginjakkan kaki di
rumah ini, ia memendam keinginan untuk memainkan nada-nada indah sebuah lagu
dari alat musik berkesan mewah itu. Ini adalah kesempatan besar bagi dirinya.
Dean berdiri dari duduknya, “Ayo, sini duduk. Kak Dean
ajarin main piano.”
Kali ini, sepasang mata itu menatapnya dengan sorot mata bersahabat.
__ADS_1
Noel tak pernah menyangka ini akan menjadi sebuah hari
dimana pemuda itu sudi berdekatan dengannya, memegang jari-jari tangan kanannya
yang penuh luka, serta mengajarinya bermain piano. Degup jantung anak itu tak
lagi menggedor-gedor rusuknya. Ia sudah merasa sedikit lebih tenang, mengikuti
tempo largo dari dentingan tujuh not dasar dari piano itu.
***
Perubahan sikap Dean memang menjejakkan sebuah tanda
tanya besar dalam benak Edwin. Setelah Noel menginjakkan kedua kakinya kembali
di rumah setelah diajak jalan-jalan, anak itu langsung memilih menghabiskan
waktunya di hadapan grand piano hitam
milik pemuda yang dulu membencinya setengah mati, bersama Dean yang bermain
peran sebagai guru musik.
Edwin sempat melontarkan pertanyaan itu pada kakaknya,
tentang apa yang bisa membuatnya berubah dalam hitungan bulan.
Namun, laksana sebuah boomerang,
kakaknya malah memberinya sebuah pertanyaan lagi, “Menurut kamu?”
Edwin meletakkan kedua tangannya di setir mobil dan
membiarkan sepasang matanya menangkap setiap momen yang menunjukkan betapa
indahnya gemerlap kota metropolitan, Jakarta, di malam hari. Cahaya lampu dari
gedung-gedung pencakar langit berkelap-kelip keemasan mengelilinginya,
seolah-olah ia berada di tengah langit bertabur jutaan bintang. Panorama itu
benar-benar memanjakan tiap pasang mata yang memandangnya.
Suara riuh klakson seketika membuyarkan lamunan Edwin
yang sejenak terhanyut dalam hipnotis pemandangan indah ibu kota. Sampai-sampai
ia lupa bahwa dirinya berada di tengah-tengah hiruk pikuk jalan raya, barisan
para kendaraan beroda empat. Edwin cepat-cepat menurunkan tuas rem tangan dan
menginjak pedal gas sebelum suara nyaring itu memecahkan gendang telinganya.
Setir itu diputarnya sampai mobil yang dikendarainya berbelok arah.
Penghafalannya tentang seluk beluk arah menuju rumahnya memang masih
samar-samar. Tapi, hal itu tak meretakkan keteguhan hatinya untuk mengambil
jalan pintas yang akan membebaskannya dari kemacetan jalan raya.
Kilat dan gemuruh muncul bersamaan. Tak lama,
rintik-rintik air hujan pun menyusul mereka turun ke permukaan bumi setelah
sekian lamanya tak terjun bebas. Jari-jari di tangan kirinya menggeser tuas wiper ke bawah, membiarkan dua benda
hitam itu bekerja sesuai tugasnya, membersihkan jejak air hujan yang mengganggu
pandangannya selama mengemudi. Sekilas, ia merasa mobilnya melindas sebuah
benda berukuran kecil. Pemuda itu langsung melepas sabuk pengaman dan menarik
rem tangan. Lalu bergegas turun.
Pencahayaan di gang tikus ini relatif kurang. Edwin
termasuk beruntung. Ia masih bisa melihat benda apa yang tertancap di ban depan
sebelah kanan mobilnya. Benda itu hanyalah sebuah paku kecil. Ukurannya kurang
lebih dua centimeter. Tak apa-apa, mobilnya masih bisa melaju. Hanya saja, ia
harus menghindari jalanan berlubang dan harus segera menambal ban.
Belum sempat pemuda itu meluruskan kedua kakinya kembali
untuk berdiri, tiba-tiba saja sebuah tangan memiting lehernya dari belakang.
Dentuman jantungnya yang tak karuan enggan bersinkronisasi dengan nalarnya yang
berseru lantang menyuruhnya untuk diam dan tenang.
“Serahin isi dompet lo kalo mau selamat!”
Suara bermakna ancaman itu tak terdengar berat seperti
suaranya. Lengan berselimut jaket beraroma khas tembakau yang memitingnya itu
juga berukuran lebih kecil dari lengannya. Helaian surai hitam panjang juga
samar-samar berlalu dipandangannya.
Pemilik suara ini adalah seorang gadis?!
“Cepetan!” perintahnya sambil menodongkan sebuah pisau
lipat ke arah leher korban mangsanya.
Tangan Edwin yang sedikit gemetaran menjangkau saku
celananya. Dalam hitungan detik, beberapa lembar uang rupiah langsung
dikeluarkannya dari dompet hitam miliknya. Lalu diserahkannya kertas
bewarna-warni bernilai tukar itu pada gadis yang menggertaknya dengan ultimatum
singkat.
“Gue tau lo bawa handphone.
Jadi, sekarang keluarin handphone lo!”
“Eh, nggak...”
Tanpa peduli kalimat macam apa yang hendak diucapkan,
gadis itu langsung menggeser pisaunya lebih dekat sampai hampir bersentuhan
dengan kulit leher Edwin. “Gak usah banyak bacot kalo gak mau leher lo gue
bikin sobek!” ancamnya sembari mempererat pitingannya.
Edwin terbatuk. Gadis berbau rokok ini benar-benar bisa
membunuhnya sekarang juga. Ia tak bisa mengambil resiko. Kehilangan harta lebih
baik daripada kehilangan nyawa. Tangannya merogoh saku celananya yang lain.
“Oke, bagus.” Lengan berjari-jari halus itu melipat
kembali pisau miliknya. Disimpannya kembali senjata tajam itu dalam sakunya.
Dengan cepat, ia menyambar uang dan ponsel yang diserahkan untuknya.
__ADS_1
Gadis itu melepas pitingannya, “Lo boleh pergi sekarang,”
ucapnya. Lalu, ia menarik tudung jaketnya agar wajahnya tak terlihat jelas.