Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 4 - Sabtu


__ADS_3

“Kamis...” Noel melipat jari telunjuknya, “...Jumat...” jari tengah


dilipatnya, “...Sabtu” disusul jari manis. Kalau dirinya tak salah menyebutkan


nama hari dan menghitungnya, ini adalah hari yang ketiga. Ya, tiga hari sudah


Edwin tak menampakkan dirinya. Padahal, Noel sudah merelakan menit-menit


berharganya untuk duduk manis, menunggu kedatangan pemuda itu.


“TAMAN CATTLEYA”


Huruf-huruf yang tersusun berderet dan terbuat dari plakat berwarna perak


itu diliriknya. Walau sebenarnya hanya kata ‘taman’ yang dimengerti oleh Noel.


Pagi ini mentari bersinar terang, menghangatkan setiap orang yang berjalan


di bawah atmosfer tanpa pandang bulu. Langit terlihat begitu ceria, warnanya


biru cerah, merangkul sekumpulan serabut-serabut putih bersih, seolah mengajaknya


bersenda gurau ria. Mereka semua benar-benar bertolak belakang dengan isi hati


Noel yang muram kelabu tanpa warna.


Memang, sosok ‘Edwin’ baru dikenal anak itu hari Senin lalu dan mereka baru


saling jumpa dua kali berturut-turut. Tapi, Noel merasa mengenal orang itu


selama dua tahun, hanya karena orang itu memperlakukannya dengan layak. Ia


benar-benar diperlakukan seperti manusia. Diajak berbincang-bincang, diberi


makanan dengan sendok garpu dan uang secara Cuma-Cuma. Tak seperti orang-orang


lain yang terkadang menatapnya jijik, bahkan mereka tak segan meludahinya, melemparinya


dengan benda-benda kecil ataupun memukulnya seperti kucing-kucing liar pencuri


ikan di pasar.


Sesuatu mendarat di bahu kiri Noel. Rasanya seperti sebuah tangan yang


menepuk bahunya pelan. Anak itu tersentak. Dengan cepat, ia menoleh. Wajah yang


begitu familiar berdiri di hadapannya, senyum tipis terukir di bibirnya.


“Noel, maaf ya, kak Edwin baru bisa ke sini lagi” jelasnya sambil sedikit


menunduk, menatap lawan bicaranya yang mendongak ke atas untuk membalas


tatapannya. “Kak Edwin sakit dari hari Rabu, baru sembuh kemarin sore”


“Sakit?”


Ah, ya. Noel pernah mendengar kata itu sebelumnya. Itu berarti kondisi


badan tidak sehat, bisa membuat orang jalan terhuyung-huyung, seperti Ryan


beberapa bulan lalu. Badan anak itu terasa hangat kalau dipegang. Ia selalu


mengeluh kepalanya terasa sakit, langkahnya berat, dan suaranya serak dan


parau, seperti angsa-angsa di pedesaan yang berkeliaran bebas, hewan yang


berlagak bagai preman-preman pasar penguasa wilayah.


Edwin menunjukkan sebuah kantong plastik merah yang dijinjingnya, “Ini ada sarapan


buat Noel”


Kedua tangan mungil Noel menyambutnya.


“Oh, iya. Kak Edwin juga belum makan. Kita makan sama-sama, yuk?”


Tak perlu menunggu lima detik, dalam sedetik pertanyaan itu dijawab Noel


dengan anggukan pelan.


Sebuah lampu LED kuning seolah muncul di atas kepala Edwin, simbol


munculnya sebuah ide cemerlang nan cerdas. Edwin tersenyum,  “Noel, kalo kita makannya di rumah kamu,


boleh nggak?” tanyanya.


“Tapi...” Noel tak melanjutkan kata-katanya, membiarkan kalimatnya


terputus. Ia menunduk seperti tanaman layu.


“Kenapa? Noel belum dapat uang?” Edwin menebak-nebak jawaban yang akan


keluar dari mulut anak itu.


Benar saja, anak itu mengangguk lagi.


“Nggak apa-apa. Nanti kak Edwin kasih uang, kok. Tapi, Noel harus makan


dulu. Makannya di rumah Noel, ya?” Kalau saja Edwin melakukan ini bukan atas


nama kebaikan, ia adalah orang licik yang selalu memanfaatkan kesempatan dalam


kesempitan.


Jawabannya selalu monoton. Anggukan pelan, bahasa tubuh yang mewakili kata


‘ya, aku setuju’


Edwin beruntung. Kali ini ia tak perlu menunggu senja tiba hanya untuk


mengikuti anak itu pulang ke tempat tak layak tinggal yang disebutnya ‘rumah’.


Selain itu, cuaca cerah di Sabtu pagi ini mendukungnya untuk memotret guna


membuat beberapa foto tentang lingkungan tempat tinggal Noel. Lalu menyimpannya


dalam galeri ponselnya. Hal itu akan membuatnya lebih mudah mempelajari


kehidupan anak-anak jalanan ini.


Ini memang bukan pertama kalinya Edwin berjalan kaki dari taman Cattleya ke


tempat antah berantah ini, yang tak jelas alamatnya. Hanya menyelip,


bersembunyi di balik bangunan-bangunan bagus penuh pencitraan. Kakinya masih


belum terbiasa berjalan jauh seperti ini. Nafasnya masih terengah-engah, bahkan


dadanya terasa sedikit sesak walau asthma tak masuk dalam riwayat penyakitnya.


Apa boleh buat? Mustahil bagi mobilnya untuk melaju di tengah gang tikus,


bukan?


Ia berusaha mengalihkan perhatiannya, agar letihnya tak terasa. Edwin mulai


bertanya, “Di rumah kamu pagi-pagi gini emang nggak ada orang, ya?”


Noel mengangguk, “Semuanya pergi jauh-jauh. Cuma Noel yang nggak,”


jelasnya.


Hah? Apa yang barusan anak ini bilang? Dia tak pergi jauh-jauh dari


‘rumahnya’?


Kalau Edwin tak salah memperkirakan ini, ia sudah berjalan kurang lebih


delapan kilometer. Jelas, itu bukan jarak yang dekat!


“Kak Edwin kenapa?” tanya Noel, menyadari nafas pemuda itu yang tak


teratur.

__ADS_1


Edwin menggeleng-gelengkan kepalanya, “Nggak... Kak Edwin nggak apa-apa


kok...” ia terkekeh pelan, menutupi rasa lelahnya. Namun, peluhnya berjatuhan


bagai kelompok penerjun payung tak bisa dibohongi.


“Nah... ini... Kamu sarapan dulu...,” tangannya yang sedikit gemetaran


menyerahkan sebuah plastik merah pada Noel.


“Makasih, kak.” Anak itu menerimanya tanpa ragu. Noel membawa bungkusan


berisi makanan itu masuk ke dalam rumahnya. “Masuk, kak,” lagaknya seperti tuan


rumah yang menyambut tamu.


Rumah?


Ukurannya bahkan lebih kecil dari kamar mandi di rumah Edwin. Dindingnya


terlihat kusam tanpa sentuhan cat atau tempelan wallpaper, bahkan benda yang


seharusnya kokoh kuat itu retak-retak seolah siap roboh hancur kapan pun tanpa


isyarat. Tak ada satu pun ubin menempel di lantai, hanya semen yang menjadi


pembatas antara kaki dan tanah.


Tentunya, Edwin terheran. Bagaimana anak ini bisa tinggal di sini seumur


hidupnya? Apa dia tak pernah mengeluhkan rumahnya yang tak layak tinggal ini?


“Kak Edwin nggak makan?” tanya Noel sambil melahap bubur ayam yang


dibelikan Edwin sesaat sebelum keduanya bertemu di depan taman Cattleya.


“Oh iya, kakak hampir lupa,” jawabnya sambil terus memindahkan lirikannya.


Pandangannya berkeliling tiada henti, meski hanya ada satu ruangan yang


dipisahkan tirai tipis berwarna hijau pupus seperti kue dadar, sehingga


menimbulkan kesan ada enam ruangan di sini.


“Oh, iya. Kak Edwin jangan bilang-bilang Noel pulang ke bang Gondrong, ya?


Noel takut bang Gondrong marah sama Noel,” pintanya dengan wajah polos khas


anak kecil.


“Iya, kak Edwin nggak bakal bilang siapa-siapa kok,” ucapnya seolah sangat


menjanjikan. Padahal, dirinya sama sekali tak mengenal siapa itu sosok ‘bang


Gondrong’. Seingatnya, Noel memang pernah menyebut nama itu.


Karena rasa penasarannya yang terus berseru-seru dalam hati, mendesaknya


untuk bertanya. Akhirnya Edwin membuka mulut, “Bang Gondrong itu siapa?”


tanyanya.


Tak mudah bagi Noel untuk mengutarakan ceritanya yang masih tersirat di dalam


hatinya. Ia tak pandai merangkai kata-kata sebanyak itu.


“Teman kamu?” Edwin bertanya lagi, berharap pertanyaannya memberikan ilustrasi


kecil, membantunya dalam menjawab singkat. Baik dengan kata-kata ataupun bahasa


tubuh seperti gelengan atau anggukan kecil.


“Bukan,” Kali ini, Noel memilih untuk menjawabnya dengan sebuah kata, bukan


gelengan. “Kata Denis, bang Gondrong itu bosnya anak-anak”


‘Bos?’


‘Anak-anak jalanan ini punya ‘bos’?’


Sepertinya orang yang dimaksud ini tidak pantas disebut ‘bos’. Menurut


pemahamannya, seseorang dengan sebutan itu seharusnya justru memberi bawahannya


uang. Tak seperti ini. Orang ini justru menerima uang dari bawahannya.


Bukankah itu keterlaluan?


Duduk-duduk santai, pergi entah kemana, bersenang-senang. Sedangkan


anak-anak yang diambilnya ini bersusah payah mengumpulkan uang, dengan cara apa


pun.


“Bang Gondrong itu orangnya kayak apa, sih?” tanya Edwin sambil mengaduk


bubur miliknya yang sudah dituangkan sedikit kecap dan sambal.


“Bang Gondrong galak. Suka marah-marah sama Noel”


Ya, tak perlu diherankan lagi. Anak ini sudah beberapa kali beralasan dia


tak mau pulang karena pulang dengan tangan kosong tanpa hasil, tanpa selembar


uang maupun sekeping koin atau benda berharga lain yang bisa disulap berubah


jadi uang, berarti ia harus siap menerima kesialan dan hukuman.


Rasanya tiba-tiba makanan ini tak sedap lagi, seolah


turut merasakan derita anak polos yang tak mengerti apa-apa soal nasib dan


hidupnya. Berjuang dengan kenaifan dalam dirinya yang begitu kuat merangkul,


enggan melepaskan cengkramannya.


***


Sepuluh jari-jari itu bergerak cepat dan lincah di antara tombol-tombol


petak yang berjejer dengan huruf-huruf putih di atasnya. Berpacu dengan detik


dan menit yang berlari sprint, melaju


dan berlalu begitu cepat.


 


 


KEHIDUPAN


ANAK JALANAN YANG TEREKSPLOISASI DAN DAMPAKNYA


 (Studi Kasus pada Anak Jalanan di


Jakarta Barat)


 


 


DISUSUN


OLEH


Edwin Pramana Wijaya


Edwin menarik mundur jari-jemarinya dari tombol-tombol petak itu. Tangannya


meraih sebuah catatan kecil. Tertulis beberapa paragraf hasil rangkuman pendek tentang


hal-hal baru yang didapatnya pagi tadi. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya,

__ADS_1


seolah itu dapat membuatnya merasa sedikit lebih lega dari himpitan tugas-tugas


akhir kuliahnya demi menyambut kelulusan.


Handphone biru tua miliknya berdering cukup keras. Tanda telepon masuk. Ia menjangkau tombol bergambar


lengkungan hijau disebelah kiri.


“Halo?”


Tak ada jawaban sama sekali. Ia menjauhkan benda itu dari telinganya.


Deretan angka yang tertera dilayarnya tak familiar dalam ingatannya. Belum


pernah nomor telepon itu disimpannya dalam kontak, atau bahkan dilihatnya.


‘Mungkin orang salah sambung,’pikirnya.


Tanpa pikir panjang, tombol bergambar telepon merah yang


telungkup ditekannya, mengakhiri panggilan itu. Edwin menyandarkan badannya


pada punggung kursi, menempatkan kedua tangannya diatas armrest, membiarkan mereka bersantai sejenak. Hatinya tak sabar


menunggu hari esok, hari dimana hal-hal baru akan bermunculan, diketahui dan


dipelajarinya. Sebuah sisi lain dari kehidupan, sisi gelap dari terang dunia.


Hal yang selalu bersembunyi di balik bayang-bayang kebahagiaan, yang tak lain


adalah kehidupan mereka, orang-orang dengan nasib tak mendukung.


***


Tak berbeda dari hari-hari biasanya, Sylvia selalu menunggu Noel di gang


sempit, kecil, gelap, itu. Kalau-kalau kesabaran dalam hatinya habis, ia


bergegas mencari anak itu, menarik tangannya supaya ia terseret arus, mengikuti


dirinya, kedalam himpitan dua bangunan besar yang cukup terpencil dari


keramaian.


“Dapat berapa?”


Pertanyaan yang berulang kali terlontar dari mulut gadis itu tiap senja


tiba dijawab Noel tanpa kata-kata. Kedua tangannya merogoh saku celananya,


memperlihatkan lembaran-lembaran uang kertas dengan berbagai warna. Merah,


biru, hijau, dan kuning keemasan. Sylvia melihat jumlah angka berderet pada


kertas itu. Jumlahnya sudah lebih dari seratus ribu. Gadis itu mengangguk-anggukan


kepalanya, menyiratkan kata-kata ‘Ini sudah cukup’. Lalu, ia berbalik, berjalan


menyusuri lorong suram itu tanpa ragu.


Noel menaruh kembali uang-uang itu dalam sakunya. Sepasang kaki kecilnya


melangkah, mengkuti jejak gadis itu. Untuk pertama kalinya, ia menatap langit


dari antara celah bangunan tinggi kelabu. Cahaya kuning keemasan itu menyorot


manik-manik coklat bundar milik Noel, membuat irisnya berbinar indah, bagai


permata. Dibalasnya sapaan sang mentari yang ingin terlelap. ‘Selamat


beristirahat. Terima kasih sudah bekerja keras, menyinari kami dengan terikmu


yang hangat’ begitulah kira-kira makna dibalik tatapannya.


Matahari sudah benar-benar terlelap. Ya, bulan sabit itulah yang


mengatakannya. Ia jelas berseru diantara para bintang kecil yang berkelip


mengelilingi dirinya.


Para anak jalanan itu berbaris layaknya peserta upacara bendera tiap Senin


pagi, menunggu gilirannya untuk memberikan seluruh jerih payah mereka. Begitu


juga dengan Noel.


“WOI!”


Hardikan keras itu membuyarkan percakapan batinnya dengan rembulan.


“MANA DUIT LO?! CEPETAN!”


Noel buru-buru menggerakkan tangannya, merogoh kedua sakunya. Tubuhnya


seketika terasa tegang, seolah darahnya berhenti mengalir dan denyut nadinya


terhenti. Ia hanya dapat meraba angin dan serat-serat kain tipis, bukan


beberapa lembar uang kertas yang dilipatnya. Menyadari apa yang akan terjadi


kalau seluruh uangnya benar-benar lenyap tanpa sisa. Hati Noel semakin cemas.


Jantungnya berdegup kencang, disusul keringat dingin yang menyelimutinya.


Kesabaran pria berambut pirang lusuh itu habis seketika. Wajahnya memerah,


alisnya menukik tajam dan bertemu. Tatapan sepasang matanya terlihat sangat


tajam.


Dalam hitungan detik, sebuah kepalan tinju mendarat di wajah Noel, seperti


meteor yang menghantam tanah lapang. Seluruh syarafnya menolak perlawanan,


membiarkannya jatuh tersungkur diatas lantai. Begitu juga anak-anak lain,


mereka tak sanggup melawan pimpinan mereka, tak terkecuali Sylvia yang dikenal nekat


di antara kawanan anak jalanan itu. Gadis itu hanya bisa menoleh ke arah lain,


bersandiwara seolah-olah ia tak menyaksikan kejadian menyakitkan di hadapannya.


Tanpa sedikit pun belas kasihan, bang Gondrong terus mendaratkan pukulan,


tendangan, dan makian pada Noel. Meski kulit anak itu sudah lebam penuh luka memar,


sepasang matanya berkaca-kaca. Bahkan darah segar mengalir dari mulut dan


lubang hidungnya. Ingin sekali rasanya anak itu berteriak, meraung-raung


meminta ampun. Tapi, sayang sekali, hal itu hanya akan memperburuk situasi.


Setelah dirasanya anak itu menerima balasan yang setimpal, hatinya puas. Ia


menatap anak-anak lainnya.


“KALO LO SEMUA GAK MAU GUE HAJAR HABIS-HABISAN KAYAK DIA, CEPETAN KASIH


UANG LO!” ancam pria itu dengan suara lantang, menggeleggar seperti halilintar


yang menyambar di tengah badai. Serentak, mereka mengeluarkan seluruh uang


hasil jerih payah mereka. Melihat jumlah uang yang diterimanya cukup memuaskan.


Pria itu merasa sedikit lebih tenang, ledakan amarahnya seolah kobaran api yang


padam diguyur hujan lembut. Disisihkannya selembar uang hijau. Seperti biasa,


itu adalah uang makan bagi anak-anak yang akan diserahkan pada Denis. Pemuda


itu mengangguk. Kali ini ia tak banyak bicara, nyalinya benar-benar ciut


setelah Noel dihajar habis-habisan tanpa ampun oleh pria besar itu.

__ADS_1


__ADS_2