
“Eh, aku pulang dulu, ya!"
Gadis kecil itu berlari-lari dengan tas punggung
bergelayut di punggungnya, membiarkan hembusan angin melambai-lambaikan pita
manis yang menjepit rambut hitam lebatnya. Wajahnya berseri-seri, senyuman
turut menghiasi bibirnya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dalam hati
saat bel tanda pulang sekolah berdering keras.
Sylvia membuka pintu rumah yang tak terkunci lebar-lebar.
Anak berusia dua tahun di hadapannya langsung menoleh, menyaksikan anak
berseragam putih merah itu mengulurkan kedua tangannya.
“Ka... kak! Ka... kak!” serunya terbata sambil
melangkahkan kedua kakinya walau dirinya belum begitu mahir berjalan.
Kedua tangan Sylvia merangkul tubuh mungil adiknya,
“Noel!” ia berseru balik, menyahut seruan yang memanggil namanya, sambil
menjawili pipi tembam milik Noel.
Noel terkikik geli. Tak mau kalah, ia membalas colekan
itu dengan menarik-narik pelan rambut kakaknya yang terkuncir rapi bagai ekor
kuda poni.
“Eh, kakak udah pulang,” wanita itu tersenyum tipis
menyaksikan kedua anaknya bersenda gurau riang, lalu menoleh ke arah putri
sulungnya, “Sylvia, ibu pergi antar cucian dulu, ya. Makanan kamu ada di meja.
Kalau ada tamu, tapi kamu nggak kenal, pintu jangan kamu buka,” pesannya sambil
menunjukkan kantong plastik putih besar dalam jinjingannya.
“Iya, bu. Ibu hati-hati di jalan, ya!”
Ibu mengangguk dan melambai-lambaikan tangan kirinya yang
tak memegang apa-apa, “Dah Sylvia, dah Noel!”
“Dah... Dah!” ia turut menggerakkan tangan mungilnya,
membalas lambaian tangan wanita itu.
***
Matahari telah terlelap begitu pulasnya. Pekerjaan ibu
sebagai buruh cuci sudah tuntas untuk hari ini. Sylvia juga sudah menyelesaikan
tugas-tugas sekolahnya. Kini tiba saatnya bagi gadis kecil itu membantu ibunya
memasak di bawah pengawasan rembulan yang menyaksikan seluruh kegiatan mereka
dari tingginya langit gelap.
Noel menarik-narik daster ibunya, “Bu... main...!”
Ibu sejenak mengalihkan pandangannya dari wajah tempatnya
menggoreng ikan, “Nanti, ya, sayang. Ibu mau masak dulu,” tolaknya lembut.
Anak itu tertunduk lesu. Seharusnya ia sudah mengerti
kalau ibu memang selalu sibuk dan tak bisa meluangkan waktu untuk bermain
dengannya. Matanya beralih pada Sylvia. Tanpa menunggu lama, ia langsung
berlari-lari kecil menghampiri gadis itu.
“Kaka... main! Main!” serunya bersemangat sambil
menarik-narik ujung kaus gadis kecil itu.
Sylvia meletakkan timun yang masih basah tersiram air
keran itu di atas piring sebelah wastafel, “Noel main sendiri dulu, ya. Kakak
lagi bantu ibu cuci sayur.”
Noel cemberut. Hatinya merasa begitu kecewa saat Sylvia
menolak ajakannya untuk bermain.
Sepasang mata coklat terangnya menangkap pintu yang
terbuka.
“A...ya! Ayah!” pekiknya kegirangan saat pria itu
melangkah masuk. “Main!”
Bukannya menyambut putra kecilnya yang berlari-lari
padanya dengan baik, Ruswandi malah mengayunkan tangannya, memukul Noel sampai
jatuh tersungkur.
Tak perlu menunggu lama untuk melihat reaksi Noel. Anak
itu langsung menggerung.
Mendengar suara tangis yang seketika memecah keheningan
itu, ibu Noel langsung mematikan kompor dan buru-buru menghampiri mereka,
disusul oleh Sylvia.
“Aduh, Mas... Jangan main pukul-pukul dong, Mas... Ini
anakmu juga, lho, Mas...” wanita itu merangkul putra bungsunya.
“Cup... cup... Noel jangan nangis lagi, ya,” bujuk Sylvia
sambil mengelus-elus pipi tembam Noel yang memar, seolah-olah hal itu dapat
mengurangi rasa sakit yang dirasakan adiknya.
Wajah Ruswandi memerah. Kedua tangannya dikepal
erat-erat. Aroma kuat khas alkohol bercampur rokok tercium dari mulutnya.
“Gak usah banyak omong! Cepet kasih gue duit!”
Ibu menggeleng, “Mas Andi, aku nggak bisa kasih uang
lagi, Mas. Sisanya udah kujatah buat anak-anak, buat beli makanan mereka, sama
uang sekolahnya Sylvia bulan depan juga.”
Sepasang alis itu menukik semakin tajam. Kesabarannya
__ADS_1
sudah habis ditelan amarah yang berkobar-kobar bagaikan api.
“BRENGSEK! KALO GUE MINTA DUIT, YA, KASIH! GAK USAH
BANYAK ALESAN!”
Dengan kasar, tangan kekar pria itu meninju wajah ayu istrinya
sampai kepala wanita itu membentur keras dinding dan tak sadarkan diri.
Sylvia langsung menarik mundur Noel saat ayah menatap
mereka dengan tatapan penuh emosi.
Noel meronta-ronta sambil terus berteriak ketakutan saat
dirinya dijauhkan dari Sylvia, walau tangan yang hendak membawanya itu tak lain
adalah tangan ayah kandungnya sendiri.
“Ayah! Ayah! Jangan pukul Noel! Noel nggak salah!” pekik
gadis kecil itu sembari mengulurkan tangannya, mencoba menggapai tangan mungil
adiknya.
Tanpa belas kasih, pria itu menendangi tubuh kecil
putrinya.
“LO BERDUA ANAK BRENGSEK! KERJANYA CUMA JADI BEBAN DOANG!
GARA-GARA LO, GUE GAK BISA BAYAR UTANG JUDI GUE!” serunya lantang dengan amarah
meluap-luap.
Sylvia merintih kesakitan. Tak peduli berapa kali pun ia
harus berseru minta ampun, ayahnya tak akan berhenti menendang sampai rasa puas
dalam hati pria itu muncul dan menyuruhnya diam.
“Kakak!
Kakak!” jerit Noel di tengah-tengah
tangisnya.
Tangisan itu rupanya semakin membangkitkan luapan emosi
dalam diri Ruswandi. Ia langsung melesatkan tinjunya, bertubi-tubi mengenai
Noel, sampai tenaga anak itu kehabisan tenaga untuk berteriak dan meronta.
Tak berhenti di situ, Ruswandi menyeret kedua anaknya
keluar dari rumah. Membuang paksa anugerah Tuhan yang diberikan padanya.
Sylvia menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya
sendiri. Dimana ayah, yang seharusnya melindungi mereka dengan segenap kekuatan
dalam dirinya malah justru menelantarkan mereka di tengah gelap dan dinginnya
malam yang tak bersahabat.
Ingin rasanya gadis kecil itu berseru sekali lagi,
memanggil ayahnya, seolah-olah itu bisa membukakan pintu hati Ruswandi agar
kembali menampung mereka dalam dekapan hangatnya kasih sayang keluarga.
Namun, apa daya, pria itu sudah menghilang dari
Sylvia menadahkan tangannya, menapung rintik-rintik hujan
mulai jatuh. Meski ia hampir tak bisa merasakan sisa tenaga pada kedua kakinya,
ia tetap berusaha untuk berdiri. Sekuat tenaga, gadis kecil itu menggendong
Noel yang terlihat sangat letih, baik fisik maupun batin.
Tak henti-hentinya kepala gadis itu berjalan, sambil
menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat berteduh untuk adik dan dirinya
sendiri. Sampai akhirnya ia melihat mikrolet biru yang tak sedang beroperasi.
***
“Bang!”
Suara itu memaksa Sylvia membuka kedua matanya. Alangkah
terkejutnya ia saat menyaksikan seorang pemuda hendak mendaratkan kepalan tinju
pada dirinya. Ia cepat-cepat merangkul Noel, memberinya perlindungan di bawah
dekapannya.
“Tahan dulu, bang. Tahan. Anak cewek itu bang!”
Bang Eji menghela nafas, lagi-lagi anak tengil itu sukses
meredam amarahnya.
Kedua lengan Sylvia masih gemetaran. Masih takut
kalau-kalau pemuda itu malah tiba-tiba berbalik dan menghajarnya.
Anak berambut hitam dengan semburat pirang–tanda bahwa
rambutnya belum seutuhnya dicat–itu menampakkan sebuah senyum cerah berseri,
lengkap dengan deretan giginya.
“Hai, kenalin, gue Denis,” ia mengulurkan tangan
kanannya.
Bang Eji langsung menyentil dahi Denis, “Tengil amat lo
mentang-mentang ketemu cewek. Sadar diri, cuy, lo masih bocah! Masih SMP!”
tegurnya.
Denis tercengar-cengir.
Pemuda itu lalu beralih menatap kakak-beradik itu,
“Cepetan keluar, gue mau narik penumpang!”
***
Hari itu menjadi tonggak sejarah Sylvia dalam menempuh
hidup baru. Dimana dirinya tinggal bersama anak-anak bernasib sama, di bawah
naungan kepala keluarga yang kerap disapa ‘bang Gondrong’. Seringkali Denis,
anak yang paling tengil di kelompoknya, mendampingi Sylvia yang baru saja
__ADS_1
bergabung. Semua yang diajari anak itu padanya benar-benar berlawanan dengan ajaran
yang diterima dari ibu dan guru-gurunya di sekolah. Seperti, tata krama. Denis
mengajarinya untuk bertutur kata menggunakan ‘gue’ sebagai kata ganti ‘aku’,
dan ‘lo’ sebagai kata ganti ‘kamu’. Hal itu berlaku pada semua orang, kecuali
saat berbicara dengan bang Gondrong, sang pemimpin buas. Tak sampai di situ,
Sylvia juga disarankan untuk menirukan gaya hidup mereka. Yang tak lain
menghisap rokok minimal satu kali tiap harinya. Untuk mengabdi pada penguasa
mereka, Denis menyarankan gadis kecil polos itu untuk mencuri, karena hasilnya
jauh lebih besar daripada meminta-minta sambil menggendong adik kecilnya.
Tak satu pun nasihat Denis diindahkan oleh Sylvia. Ia
tetap bersikeras pada pendiriannya, sesuai dengan pesan ibu dan guru-gurunya.
“Bertutur katalah
yang baik dan sopan, dan janganlah mencuri. Sebab, itu bukanlah perbuatan
terpuji.”
Ya, itulah yang seharusnya ia jadikan pedoman dalam
menjalani hidup.
“Jangan pukul adik
aku! Adik aku nggak salah!” serunya sambil mendekap Noel yang masih terbalut
kain batik tempatnya duduk saat Sylvia menggendongnya.
Naas, hal itu malah membangkitkan luapan emosi bang
Gondrong. Ditingalkannya bekas-bekas luka memar pada sekujur tubuh gadis kecil
yang tak mengerti apa-apa soal kehidupan gelap nan keras itu.
Berulang kali hal itu terjadi, berulang kali juga Denis
mengatakan kembali pesannya. Sampai akhirnya genap satu tahun ia selalu tidur
dengan luka-luka lebam di wajah, tangan, dan kakinya.
Hujan turun begitu deras, sama seperti air mata yang
mengalir membasahi pipi Sylvia.
Perasaannya benar-benar kacau balau. Semuanya becampur
aduk, berbaur menjadi satu. Ia ingin keluar dari ‘rumah’ barunya. Tapi, nasib
baik tak pernah berpihak padanya. Kemana pun kedua kakinya melangkah, kekerasan
selalu mengikutinya, menepis semua pengharapan akan hidup dalam kasih sayang
dalam benaknya. Padahal, ia selalu berpegang teguh pada perbuatan baik. Mengapa
ia tak pernah sedikit pun mendapatkan karma baik? Inikah peribahasa ‘air susu
dibalas air tuba’ dalam kehidupan sehari-hari?
Hatinya benar-benar muak.
Ia meraih pita manis yang menjepit rambut hitam panjang
miliknya. Sekuat tenaga, Sylvia mengayunkan tangannya, melempar benda itu
jauh-jauh sampai mendarat tepat di atas genangan air hujan. Lalu, surai panjang
itu dipotongnya sampai tak menutupi lehernya lagi.
Rembulan akan menjadi saksi bisu perubahan dirinya malam
ini. Mulai besok, ia tak akan menjadi Sylvia si anak manis berpita merah jambu,
seperti yang dikenal teman-teman atau orang-orang sekitarnya. Ia tak akan
membawa Noel dalam balutan kain batik itu untuk menemaninya meminta-minta dari
mobil ke mobil, menunggu para pemilik wajah iba melantingkan uangnya. Terakhir,
ia tak akan segan-segan menempelkan sebatang rokok yang menyala pada kedua
bibirnya.
Saat itulah Sylvia tersadar. Bahwa seharusnya sejak dulu
ia tahu bahwa mustahil untuk tetap menjadi malaikat kecil dalam neraka yang
mengurungnya.
***
“Bagus,” pria berlengan penuh tato itu mengangguk-angguk
puas melihat jumlah keseluruhan uang yang dicuri gadis kecil berperwawakan
menyerupai lelaki itu dari pengunjung pasar Tanah Abang.
Tahun demi tahun berlalu begitu cepat.
Noel sudah tak perlu lagi berada dalam gendongannya.
Lagipula, anak itu juga tak mengenal Sylvia sebagai kakaknya. Seluruh ingatan
tentang keluarga dan masa lalu Noel sudah terhapuskan oleh waktu. Ia hanya
mengenal gadis itu sebagai kawanan kelompoknya, sama seperti Denis, Azri,
Galang, dan Ryan.
Walaupun demikian, dari jauh, Sylvia tetap memaku kedua
matanya, mengawasi keberadaan anak itu. Kalau ada yang berani melukai adik
kesayangannya itu, ia tak segan-segan menggulung lengan baju dan menodongkan
pisau lipatnya pada si pelaku.
Sampai akhirnya, nasib yang paling buruk dari segala
nasib buruk menimpanya senja itu. Dimana ia harus hidup tanpa keberadaan Noel
di sisinya. Satu hal yang tak pernah sekali pun otaknya inginkan.
Kemana pun ia menyerukan nama itu, tak ada sahutan.
Kemana pun ia menanyakan keberadaan anak itu, tak ada jawaban lain selain
gelengan kepala. Kemana pun ia berlari sampai kedua kakinya tak sanggup
berjalan lagi, Noel tak pernah muncul di hadapannya.
__ADS_1