Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 14 – Sylvia


__ADS_3

“Eh, aku pulang dulu, ya!"


Gadis kecil itu berlari-lari dengan tas punggung


bergelayut di punggungnya, membiarkan hembusan angin melambai-lambaikan pita


manis yang menjepit rambut hitam lebatnya. Wajahnya berseri-seri, senyuman


turut menghiasi bibirnya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia dalam hati


saat bel tanda pulang sekolah berdering keras.


Sylvia membuka pintu rumah yang tak terkunci lebar-lebar.


Anak berusia dua tahun di hadapannya langsung menoleh, menyaksikan anak


berseragam putih merah itu mengulurkan kedua tangannya.


“Ka... kak! Ka... kak!” serunya terbata sambil


melangkahkan kedua kakinya walau dirinya belum begitu mahir berjalan.


Kedua tangan Sylvia merangkul tubuh mungil adiknya,


“Noel!” ia berseru balik, menyahut seruan yang memanggil namanya, sambil


menjawili pipi tembam milik Noel.


Noel terkikik geli. Tak mau kalah, ia membalas colekan


itu dengan menarik-narik pelan rambut kakaknya yang terkuncir rapi bagai ekor


kuda poni.


“Eh, kakak udah pulang,” wanita itu tersenyum tipis


menyaksikan kedua anaknya bersenda gurau riang, lalu menoleh ke arah putri


sulungnya, “Sylvia, ibu pergi antar cucian dulu, ya. Makanan kamu ada di meja.


Kalau ada tamu, tapi kamu nggak kenal, pintu jangan kamu buka,” pesannya sambil


menunjukkan kantong plastik putih besar dalam jinjingannya.


“Iya, bu. Ibu hati-hati di jalan, ya!”


Ibu mengangguk dan melambai-lambaikan tangan kirinya yang


tak memegang apa-apa, “Dah Sylvia, dah Noel!”


“Dah... Dah!” ia turut menggerakkan tangan mungilnya,


membalas lambaian tangan wanita itu.


***


Matahari telah terlelap begitu pulasnya. Pekerjaan ibu


sebagai buruh cuci sudah tuntas untuk hari ini. Sylvia juga sudah menyelesaikan


tugas-tugas sekolahnya. Kini tiba saatnya bagi gadis kecil itu membantu ibunya


memasak di bawah pengawasan rembulan yang menyaksikan seluruh kegiatan mereka


dari tingginya langit gelap.


Noel menarik-narik daster ibunya, “Bu... main...!”


Ibu sejenak mengalihkan pandangannya dari wajah tempatnya


menggoreng ikan, “Nanti, ya, sayang. Ibu mau masak dulu,” tolaknya lembut.


Anak itu tertunduk lesu. Seharusnya ia sudah mengerti


kalau ibu memang selalu sibuk dan tak bisa meluangkan waktu untuk bermain


dengannya. Matanya beralih pada Sylvia. Tanpa menunggu lama, ia langsung


berlari-lari kecil menghampiri gadis itu.


“Kaka... main! Main!” serunya bersemangat sambil


menarik-narik ujung kaus gadis kecil itu.


Sylvia meletakkan timun yang masih basah tersiram air


keran itu di atas piring sebelah wastafel, “Noel main sendiri dulu, ya. Kakak


lagi bantu ibu cuci sayur.”


Noel cemberut. Hatinya merasa begitu kecewa saat Sylvia


menolak ajakannya untuk bermain.


Sepasang mata coklat terangnya menangkap pintu yang


terbuka.


“A...ya! Ayah!” pekiknya kegirangan saat pria itu


melangkah masuk. “Main!”


Bukannya menyambut putra kecilnya yang berlari-lari


padanya dengan baik, Ruswandi malah mengayunkan tangannya, memukul Noel sampai


jatuh tersungkur.


Tak perlu menunggu lama untuk melihat reaksi Noel. Anak


itu langsung menggerung.


Mendengar suara tangis yang seketika memecah keheningan


itu, ibu Noel langsung mematikan kompor dan buru-buru menghampiri mereka,


disusul oleh Sylvia.


“Aduh, Mas... Jangan main pukul-pukul dong, Mas... Ini


anakmu juga, lho, Mas...” wanita itu merangkul putra bungsunya.


“Cup... cup... Noel jangan nangis lagi, ya,” bujuk Sylvia


sambil mengelus-elus pipi tembam Noel yang memar, seolah-olah hal itu dapat


mengurangi rasa sakit yang dirasakan adiknya.


Wajah Ruswandi memerah. Kedua tangannya dikepal


erat-erat. Aroma kuat khas alkohol bercampur rokok tercium dari mulutnya.


“Gak usah banyak omong! Cepet kasih gue duit!”


Ibu menggeleng, “Mas Andi, aku nggak bisa kasih uang


lagi, Mas. Sisanya udah kujatah buat anak-anak, buat beli makanan mereka, sama


uang sekolahnya Sylvia bulan depan juga.”


Sepasang alis itu menukik semakin tajam. Kesabarannya

__ADS_1


sudah habis ditelan amarah yang berkobar-kobar bagaikan api.


“BRENGSEK! KALO GUE MINTA DUIT, YA, KASIH! GAK USAH


BANYAK ALESAN!”


Dengan kasar, tangan kekar pria itu meninju wajah ayu istrinya


sampai kepala wanita itu membentur keras dinding dan tak sadarkan diri.


Sylvia langsung menarik mundur Noel saat ayah menatap


mereka dengan tatapan penuh emosi.


Noel meronta-ronta sambil terus berteriak ketakutan saat


dirinya dijauhkan dari Sylvia, walau tangan yang hendak membawanya itu tak lain


adalah tangan ayah kandungnya sendiri.


“Ayah! Ayah! Jangan pukul Noel! Noel nggak salah!” pekik


gadis kecil itu sembari mengulurkan tangannya, mencoba menggapai tangan mungil


adiknya.


Tanpa belas kasih, pria itu menendangi tubuh kecil


putrinya.


“LO BERDUA ANAK BRENGSEK! KERJANYA CUMA JADI BEBAN DOANG!


GARA-GARA LO, GUE GAK BISA BAYAR UTANG JUDI GUE!” serunya lantang dengan amarah


meluap-luap.


Sylvia merintih kesakitan. Tak peduli berapa kali pun ia


harus berseru minta ampun, ayahnya tak akan berhenti menendang sampai rasa puas


dalam hati pria itu muncul dan menyuruhnya diam.


 “Kakak!


Kakak!”  jerit Noel di tengah-tengah


tangisnya.


Tangisan itu rupanya semakin membangkitkan luapan emosi


dalam diri Ruswandi. Ia langsung melesatkan tinjunya, bertubi-tubi mengenai


Noel, sampai tenaga anak itu kehabisan tenaga untuk berteriak dan meronta.


Tak berhenti di situ, Ruswandi menyeret kedua anaknya


keluar dari rumah. Membuang paksa anugerah Tuhan yang diberikan padanya.


Sylvia menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya


sendiri. Dimana ayah, yang seharusnya melindungi mereka dengan segenap kekuatan


dalam dirinya malah justru menelantarkan mereka di tengah gelap dan dinginnya


malam yang tak bersahabat.


Ingin rasanya gadis kecil itu berseru sekali lagi,


memanggil ayahnya, seolah-olah itu bisa membukakan pintu hati Ruswandi agar


kembali menampung mereka dalam dekapan hangatnya kasih sayang keluarga.


Namun, apa daya, pria itu sudah menghilang dari


Sylvia menadahkan tangannya, menapung rintik-rintik hujan


mulai jatuh. Meski ia hampir tak bisa merasakan sisa tenaga pada kedua kakinya,


ia tetap berusaha untuk berdiri. Sekuat tenaga, gadis kecil itu menggendong


Noel yang terlihat sangat letih, baik fisik maupun batin.


Tak henti-hentinya kepala gadis itu berjalan, sambil


menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat berteduh untuk adik dan dirinya


sendiri. Sampai akhirnya ia melihat mikrolet biru yang tak sedang beroperasi.


***


“Bang!”


Suara itu memaksa Sylvia membuka kedua matanya. Alangkah


terkejutnya ia saat menyaksikan seorang pemuda hendak mendaratkan kepalan tinju


pada dirinya. Ia cepat-cepat merangkul Noel, memberinya perlindungan di bawah


dekapannya.


“Tahan dulu, bang. Tahan. Anak cewek itu bang!”


Bang Eji menghela nafas, lagi-lagi anak tengil itu sukses


meredam amarahnya.


Kedua lengan Sylvia masih gemetaran. Masih takut


kalau-kalau pemuda itu malah tiba-tiba berbalik dan menghajarnya.


Anak berambut hitam dengan semburat pirang–tanda bahwa


rambutnya belum seutuhnya dicat–itu menampakkan sebuah senyum cerah berseri,


lengkap dengan deretan giginya.


“Hai, kenalin, gue Denis,” ia mengulurkan tangan


kanannya.


Bang Eji langsung menyentil dahi Denis, “Tengil amat lo


mentang-mentang ketemu cewek. Sadar diri, cuy, lo masih bocah! Masih SMP!”


tegurnya.


Denis tercengar-cengir.


Pemuda itu lalu beralih menatap kakak-beradik itu,


“Cepetan keluar, gue mau narik penumpang!”


***


Hari itu menjadi tonggak sejarah Sylvia dalam menempuh


hidup baru. Dimana dirinya tinggal bersama anak-anak bernasib sama, di bawah


naungan kepala keluarga yang kerap disapa ‘bang Gondrong’. Seringkali Denis,


anak yang paling tengil di kelompoknya, mendampingi Sylvia yang baru saja

__ADS_1


bergabung. Semua yang diajari anak itu padanya benar-benar berlawanan dengan ajaran


yang diterima dari ibu dan guru-gurunya di sekolah. Seperti, tata krama. Denis


mengajarinya untuk bertutur kata menggunakan ‘gue’ sebagai kata ganti ‘aku’,


dan ‘lo’ sebagai kata ganti ‘kamu’. Hal itu berlaku pada semua orang, kecuali


saat berbicara dengan bang Gondrong, sang pemimpin buas. Tak sampai di situ,


Sylvia juga disarankan untuk menirukan gaya hidup mereka. Yang tak lain


menghisap rokok minimal satu kali tiap harinya. Untuk mengabdi pada penguasa


mereka, Denis menyarankan gadis kecil polos itu untuk mencuri, karena hasilnya


jauh lebih besar daripada meminta-minta sambil menggendong adik kecilnya.


Tak satu pun nasihat Denis diindahkan oleh Sylvia. Ia


tetap bersikeras pada pendiriannya, sesuai dengan pesan ibu dan guru-gurunya.


“Bertutur katalah


yang baik dan sopan, dan janganlah mencuri. Sebab, itu bukanlah perbuatan


terpuji.”


Ya, itulah yang seharusnya ia jadikan pedoman dalam


menjalani hidup.


 “Jangan pukul adik


aku! Adik aku nggak salah!” serunya sambil mendekap Noel yang masih terbalut


kain batik tempatnya duduk saat Sylvia menggendongnya.


Naas, hal itu malah membangkitkan luapan emosi bang


Gondrong. Ditingalkannya bekas-bekas luka memar pada sekujur tubuh gadis kecil


yang tak mengerti apa-apa soal kehidupan gelap nan keras itu.


Berulang kali hal itu terjadi, berulang kali juga Denis


mengatakan kembali pesannya. Sampai akhirnya genap satu tahun ia selalu tidur


dengan luka-luka lebam di wajah, tangan, dan kakinya.


Hujan turun begitu deras, sama seperti air mata yang


mengalir membasahi pipi Sylvia.


Perasaannya benar-benar kacau balau. Semuanya becampur


aduk, berbaur menjadi satu. Ia ingin keluar dari ‘rumah’ barunya. Tapi, nasib


baik tak pernah berpihak padanya. Kemana pun kedua kakinya melangkah, kekerasan


selalu mengikutinya, menepis semua pengharapan akan hidup dalam kasih sayang


dalam benaknya. Padahal, ia selalu berpegang teguh pada perbuatan baik. Mengapa


ia tak pernah sedikit pun mendapatkan karma baik? Inikah peribahasa ‘air susu


dibalas air tuba’ dalam kehidupan sehari-hari?


Hatinya benar-benar muak.


Ia meraih pita manis yang menjepit rambut hitam panjang


miliknya. Sekuat tenaga, Sylvia mengayunkan tangannya, melempar benda itu


jauh-jauh sampai mendarat tepat di atas genangan air hujan. Lalu, surai panjang


itu dipotongnya sampai tak menutupi lehernya lagi.


Rembulan akan menjadi saksi bisu perubahan dirinya malam


ini. Mulai besok, ia tak akan menjadi Sylvia si anak manis berpita merah jambu,


seperti yang dikenal teman-teman atau orang-orang sekitarnya. Ia tak akan


membawa Noel dalam balutan kain batik itu untuk menemaninya meminta-minta dari


mobil ke mobil, menunggu para pemilik wajah iba melantingkan uangnya. Terakhir,


ia tak akan segan-segan menempelkan sebatang rokok yang menyala pada kedua


bibirnya.


Saat itulah Sylvia tersadar. Bahwa seharusnya sejak dulu


ia tahu bahwa mustahil untuk tetap menjadi malaikat kecil dalam neraka yang


mengurungnya.


***


“Bagus,” pria berlengan penuh tato itu mengangguk-angguk


puas melihat jumlah keseluruhan uang yang dicuri gadis kecil berperwawakan


menyerupai lelaki itu dari pengunjung pasar Tanah Abang.


Tahun demi tahun berlalu begitu cepat.


Noel sudah tak perlu lagi berada dalam gendongannya.


Lagipula, anak itu juga tak mengenal Sylvia sebagai kakaknya. Seluruh ingatan


tentang keluarga dan masa lalu Noel sudah terhapuskan oleh waktu. Ia hanya


mengenal gadis itu sebagai kawanan kelompoknya, sama seperti Denis, Azri,


Galang, dan Ryan.


Walaupun demikian, dari jauh, Sylvia tetap memaku kedua


matanya, mengawasi keberadaan anak itu. Kalau ada yang berani melukai adik


kesayangannya itu, ia tak segan-segan menggulung lengan baju dan menodongkan


pisau lipatnya pada si pelaku.


Sampai akhirnya, nasib yang paling buruk dari segala


nasib buruk menimpanya senja itu. Dimana ia harus hidup tanpa keberadaan Noel


di sisinya. Satu hal yang tak pernah sekali pun otaknya inginkan.


Kemana pun ia menyerukan nama itu, tak ada sahutan.


Kemana pun ia menanyakan keberadaan anak itu, tak ada jawaban lain selain


gelengan kepala. Kemana pun ia berlari sampai kedua kakinya tak sanggup


berjalan lagi, Noel tak pernah muncul di hadapannya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2