Hear My Wish

Hear My Wish
Episode 24 - End


__ADS_3

Sambil menunggu kedatangan dua orang yang ia cari, Dean


mendengarkan cerita kecil dari mulut Ryan tentang isi hati yang menyimpan


sedikit harap untuk bertatap muka kembali dengan kedua orang tuanya. Sesekali,


lirikan mata Dean berpindah menatap Charlotte yang dikerumuni anak-anak


perempuan di rumah kecil ini. Mereka semua memasang wajah terkagum-kagum


melihat gadis itu. Bagaimana tidak? Untuk melihat seseorang berambut emas dan


mata hijau kebiru-biruan bagai permata lengkap serta hidung mancung adalah


pemandangan langka, sangat langka, bagi mereka. Charlotte sendiri nampak begitu


menikmati tiap menitnya dengan anak-anak itu. Lihat saja, sekarang ia sibuk


mengepang satu demi satu rambut para gadis kecil yang sudah berbaris rapi di


hadapannya.


“Eh, itu bang Eji ama Denis udah pulang!” seru Ryan


sembari bangkit dan membuka pintu.


Tak lama setelah Ryan memberikan penjelasan singkat


tentang kedatangan tamunya pada dua orang itu, Denis cepat-cepat menghampiri


Charlotte.


Wajahnya menunjukkan senyum yang merekah lebar, Denis


menjabat tangan gadis bersurai pirang di hadapannya. “Nes... tu mit yu! Mai nem


is Denis!” ujarnya dengan penuh rasa percaya diri walau logat bicaranya


benar-benar tak sesuai bahasa yang ia ucapkan.


“Nice


to meet you too, the name’s Charlotte,” gadis itu turut membalas senyuman Denis.


Lima detik berlalu. Alih-alih melepas jabatan tangan,


Denis justru mempererat genggamannya.


“EHEM!” Dean sengaja memperkeras volume suara dehemannya. “Salamannya udah selesai?” tanyanya sambil


mengarahkan sorot tatapan tajam pada Denis.


Kilauan kecil terpancar dari benda perak yang terlingkar


manis di salah satu jari pemuda berambut coklat itu. Sejenak Denis tertegun.


Sial,


bidadari bersurai emas sudah menikah dengan seorang keparat bersepatu pantofel


di sebelahnya!


Raut wajah Denis berubah lesu seketika.


“Keganjenan sih lo jadi orang!” ledek Eji sambil


mendorong badan pemuda berambut cepak itu.


Lelaki itu turut menekuk kedua lututnya dan duduk,


“Abangnya Edwin, ya? Temennya Sylvia yang pernah mampir ke sini.”


“Ya,” jawab Dean singkat.


Eji mengangguk-anggukkan kepala sembari menyalakan


sebatang rokok.


“Rokok?”


Dean tak mampu menahan senyuman yang hendak berlekuk di


bibirnya.


Ia menoleh pada tunangannya, “Aku ngobrolnya di depan,


ya. Kamu di sini aja,” bisiknya pelan.


 ***


 “Ini tehnya, Mas.”


Wanita bertubuh gempal itu meletakkan secangkir teh manis


yang masih mengepul hangat di atas coffe


table lalu duduk tepat di samping anak bungsu majikannya. Sepasang lensa


milik bi Nara sibuk memandang Edwin wajah Edwin yang terlihat lebih cerah dari


hari-hari sebelumnya.

__ADS_1


“Gimana sidangnya, Mas? Oke?” tanyanya.


“Tadi Edwin sempat gugup, sih...” ujarnya pelan sembari


terkekeh pelan, “Tapi... Oke, kok,” ia mengancungkan jempolnya.


Bibi merekahkan senyum lebar di bibirnya. Walau Edwin


bukanlah putranya, wanita itu turut merasakan bahagia dan bangga dalam hati.


“Oh, iya. Tadi ketemu Mas Dean, nggak?”


“Kakak?”


“Iya, tadi Mas Dean bilang dia juga pergi sidang.”


Edwin terdiam sejenak.


Beberapa bulan terakhir ini hubungan antara dirinya


dengan sang kakak tak terkesan baik. Memang, Dean tak mengeluarkan kalimat yang


berpotensi menyayat hati pendengarnya. Ya, kali ini bukan karena kakaknya,


melainkan karena dirinya sendiri.


Tidak.


Ini tetap karena Dean! Kalau saja Sylvia tak menolak


ajakan Edwin untuk menghabiskan weekend mereka berjalan-jalan menelusuri kota Jakarta bersama Noel lebih dari tiga


bulan dengan alasan ‘ada urusan dengan Dean’, tentu saja ia tak akan bersikap


tak acuh pada lelaki itu.


Untuk apa dia menghabiskan tiap akhir pekannya selama itu


dengan Sylvia?! Bukankah cincin perak simbol pertunangan sudah terlingkar di


jarinya? Dean sudah punya tunangan! Kenapa dia harus bepergian dengan Sylvia?!


Oke. Sekarang, pikirannya semakin absurd. Ia tak punya


hubungan spesial dengan gadis itu. Sylvia hanyalah seorang ‘teman’, kalau pun


lebih dari ‘teman’, mereka adalah ‘sahabat’.  Tak lebih dari itu!


Tapi, tetap saja, hatinya selalu terasa panas bila


mendengar kabar Sylvia menghabiskan waktunya dengan Dean.


“Mas,” bi Nara menepuk lembut bahu kanan Edwin.


seketika.


“Jangan bengong-bengong gitu, Mas. Nggak bagus, lho!”


Edwin tersenyum tipis, “Edwin nggak bengong, kok. Cuma


lagi mikir doang...” ujarnya pelan, nyaris tak terdengar.


Bibi menggeser posisi duduknya lebih sedikit, “Mas lagi


mikir apa? Cerita dong!” wajahnya yang keriput terlihat cerah berseri. “Eh...


Itu Mas Dean pulang. Bibi buka pintu dulu,” ia cepat-cepat berdiri.


Tak lama setelah pintu terbuka Noel langsung memeluk


wanita bertubuh gempal yang berdiri tepat di hadapannya. Lalu beralih menuju


Edwin. Disusul dengan Dean, Sylvia, dan Linda yang melangkah masuk.


Sepasang lensa coklat milik Edwin sekilas menangkap


pemandangan langka. Dimana kakaknya menunjukkan sebuah senyum tak biasa. Senyum


penuh kemenangan.


Dean menepuk pundak adiknya, “Kenapa, sih, Win?”


Kenapa harus ditanyakan? Seharusnya sudah tahu, kan?!


“Marah?” tanyanya sambil menekuk kedua kakinya dan duduk


di sebelah Edwin. Ia terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu


marah, ya, gara-gara kakak deket-deket sama pacarmu?”


“P-pacar?” kedua pipi Edwin langsung memerah.


Noel langsung mendongakkan kepalanya, “Kak Edwin pacaran


sama Syl-“


“SST!” pemuda itu cepat-cepat menutup mulut Noel dengan


tangannya. “MANA ADA!”


“Oh, belum jadian?” Dean terkekeh, “Kakak bantuin biar

__ADS_1


jadian sekarang...”


“KAK!”


Edwin cepat-cepat menutup mulutnya saat tersadar tiga


pasang mata lainnya langsung tertuju saat seruan itu bergema di telinga mereka.


“Edwin.”


Lelaki berambut coklat pendek itu menoleh pada wanita


paruh baya yang berjalan menghampirinya.


“Makasih banyak, ya, udah jagain Noel sama Sylvia,” ia


tersenyum hangat sambil menyalami tangan Edwin.


Edwin tak kuasa menggerakkan bibirnya untuk berbicara.


Pemuda itu tak mengeluarkan reaksi lain selain membalas uluran tangan dan


senyum Linda.


“Makasih juga, ya, Dean,” wanita itu turut menyalami pemuda


di sebelah Edwin. “Yuk, Noel, pamit dulu. Kita pulang,” ujarnya sambil meraih


tangan kecil putranya.


Dengan wajah suram, Noel melepas tangannya yang mendekap


tubuh Edwin. Lalu melambai-lambaikan tangannya pada tiga orang ‘keluarganya’.


Sejenak ia tatapannya berhenti tertuju pada Dean.


Pemuda itu tersenyum tipis, “Gimana, kak Dean hebat kan?


Bang Gondrong udah kena hukum tuh gara-gara jahatin Noel.”


Noel mengancungkan jempolnya sambil tersenyum.


“Eh?” Edwin terheran mendengar kalimat yang terucap oleh


kakaknya.


“Dean udah bantuin kita semua buat nuntut mantan bos mereka,”


jelas Linda.


Edwin tercenung.


Jadi selama ini Dean tak hanya menghabiskan akhir pekan dengan


Sylvia, tapi juga bersama dengan yang lainnya?


Ah, astaga...


Edwin menggaruk kepalanya. Hatinya mendadak merasa bersalah.


Ia telah berburuk sangka pada orang yang tak lain adalah kakaknya sendiri.


“Sylvia, sini. Ayo, pamitan dulu,”


Edwin mengulurkan tangannya sesaat setelah Sylvia selesai


bersalaman dengan Dean.


Gadis berperawakan tomboi itu tersenyum geli, “Pengen banget


lo gue salamin.”


“Tapi, makasih banyak, ya...” Sylvia menyambut uluran tangan


Edwin. “Nanti duit lo gue ganti. Anggep aja gue ngutang,” bisiknya pelan.


“Ng... Nggak usah juga gak apa-apa, kok.”


“Beneran?”


“Iya.”


“Ya udah. Gue pulang dulu,” Sylvia tersenyum tipis, “Kalo


misalnya kapan-kapan mau main ke rumah, dateng aja.”


Dean langsung menyikut lengan Edwin dan bersiul pelan.


“Good luck, ya, Win. Semoga nanti langgeng,” godanya sambil


berlalu, menyusul Noel, Sylvia, dan ibu mereka.


Edwin menghela nafasnya.


Ternyata, memang perubahan besar berasal dari hal kecil. Sesuatu


yang sama sekali terlihat simple, tanpa sedikit pun kerumitan. Dari hanya sekedar


memberi makan anak kecil yang tak sengaja dijumpainya di taman, hampir seluruh dunianya


seakan-akan mengalami perubahan. Mulai dari Dean yang kini sifatnya lebih terbuka,

__ADS_1


dan terlihat jauh lebih memahami perasaan orang lain dari sebelumnya. Pada Noel,


sekaligus Sylvia dan ibu mereka yang bisa kembali bertemu dan bersatu sebagai keluarga.


__ADS_2