
Sambil menunggu kedatangan dua orang yang ia cari, Dean
mendengarkan cerita kecil dari mulut Ryan tentang isi hati yang menyimpan
sedikit harap untuk bertatap muka kembali dengan kedua orang tuanya. Sesekali,
lirikan mata Dean berpindah menatap Charlotte yang dikerumuni anak-anak
perempuan di rumah kecil ini. Mereka semua memasang wajah terkagum-kagum
melihat gadis itu. Bagaimana tidak? Untuk melihat seseorang berambut emas dan
mata hijau kebiru-biruan bagai permata lengkap serta hidung mancung adalah
pemandangan langka, sangat langka, bagi mereka. Charlotte sendiri nampak begitu
menikmati tiap menitnya dengan anak-anak itu. Lihat saja, sekarang ia sibuk
mengepang satu demi satu rambut para gadis kecil yang sudah berbaris rapi di
hadapannya.
“Eh, itu bang Eji ama Denis udah pulang!” seru Ryan
sembari bangkit dan membuka pintu.
Tak lama setelah Ryan memberikan penjelasan singkat
tentang kedatangan tamunya pada dua orang itu, Denis cepat-cepat menghampiri
Charlotte.
Wajahnya menunjukkan senyum yang merekah lebar, Denis
menjabat tangan gadis bersurai pirang di hadapannya. “Nes... tu mit yu! Mai nem
is Denis!” ujarnya dengan penuh rasa percaya diri walau logat bicaranya
benar-benar tak sesuai bahasa yang ia ucapkan.
“Nice
to meet you too, the name’s Charlotte,” gadis itu turut membalas senyuman Denis.
Lima detik berlalu. Alih-alih melepas jabatan tangan,
Denis justru mempererat genggamannya.
“EHEM!” Dean sengaja memperkeras volume suara dehemannya. “Salamannya udah selesai?” tanyanya sambil
mengarahkan sorot tatapan tajam pada Denis.
Kilauan kecil terpancar dari benda perak yang terlingkar
manis di salah satu jari pemuda berambut coklat itu. Sejenak Denis tertegun.
Sial,
bidadari bersurai emas sudah menikah dengan seorang keparat bersepatu pantofel
di sebelahnya!
Raut wajah Denis berubah lesu seketika.
“Keganjenan sih lo jadi orang!” ledek Eji sambil
mendorong badan pemuda berambut cepak itu.
Lelaki itu turut menekuk kedua lututnya dan duduk,
“Abangnya Edwin, ya? Temennya Sylvia yang pernah mampir ke sini.”
“Ya,” jawab Dean singkat.
Eji mengangguk-anggukkan kepala sembari menyalakan
sebatang rokok.
“Rokok?”
Dean tak mampu menahan senyuman yang hendak berlekuk di
bibirnya.
Ia menoleh pada tunangannya, “Aku ngobrolnya di depan,
ya. Kamu di sini aja,” bisiknya pelan.
***
“Ini tehnya, Mas.”
Wanita bertubuh gempal itu meletakkan secangkir teh manis
yang masih mengepul hangat di atas coffe
table lalu duduk tepat di samping anak bungsu majikannya. Sepasang lensa
milik bi Nara sibuk memandang Edwin wajah Edwin yang terlihat lebih cerah dari
hari-hari sebelumnya.
__ADS_1
“Gimana sidangnya, Mas? Oke?” tanyanya.
“Tadi Edwin sempat gugup, sih...” ujarnya pelan sembari
terkekeh pelan, “Tapi... Oke, kok,” ia mengancungkan jempolnya.
Bibi merekahkan senyum lebar di bibirnya. Walau Edwin
bukanlah putranya, wanita itu turut merasakan bahagia dan bangga dalam hati.
“Oh, iya. Tadi ketemu Mas Dean, nggak?”
“Kakak?”
“Iya, tadi Mas Dean bilang dia juga pergi sidang.”
Edwin terdiam sejenak.
Beberapa bulan terakhir ini hubungan antara dirinya
dengan sang kakak tak terkesan baik. Memang, Dean tak mengeluarkan kalimat yang
berpotensi menyayat hati pendengarnya. Ya, kali ini bukan karena kakaknya,
melainkan karena dirinya sendiri.
Tidak.
Ini tetap karena Dean! Kalau saja Sylvia tak menolak
ajakan Edwin untuk menghabiskan weekend mereka berjalan-jalan menelusuri kota Jakarta bersama Noel lebih dari tiga
bulan dengan alasan ‘ada urusan dengan Dean’, tentu saja ia tak akan bersikap
tak acuh pada lelaki itu.
Untuk apa dia menghabiskan tiap akhir pekannya selama itu
dengan Sylvia?! Bukankah cincin perak simbol pertunangan sudah terlingkar di
jarinya? Dean sudah punya tunangan! Kenapa dia harus bepergian dengan Sylvia?!
Oke. Sekarang, pikirannya semakin absurd. Ia tak punya
hubungan spesial dengan gadis itu. Sylvia hanyalah seorang ‘teman’, kalau pun
lebih dari ‘teman’, mereka adalah ‘sahabat’. Tak lebih dari itu!
Tapi, tetap saja, hatinya selalu terasa panas bila
mendengar kabar Sylvia menghabiskan waktunya dengan Dean.
“Mas,” bi Nara menepuk lembut bahu kanan Edwin.
seketika.
“Jangan bengong-bengong gitu, Mas. Nggak bagus, lho!”
Edwin tersenyum tipis, “Edwin nggak bengong, kok. Cuma
lagi mikir doang...” ujarnya pelan, nyaris tak terdengar.
Bibi menggeser posisi duduknya lebih sedikit, “Mas lagi
mikir apa? Cerita dong!” wajahnya yang keriput terlihat cerah berseri. “Eh...
Itu Mas Dean pulang. Bibi buka pintu dulu,” ia cepat-cepat berdiri.
Tak lama setelah pintu terbuka Noel langsung memeluk
wanita bertubuh gempal yang berdiri tepat di hadapannya. Lalu beralih menuju
Edwin. Disusul dengan Dean, Sylvia, dan Linda yang melangkah masuk.
Sepasang lensa coklat milik Edwin sekilas menangkap
pemandangan langka. Dimana kakaknya menunjukkan sebuah senyum tak biasa. Senyum
penuh kemenangan.
Dean menepuk pundak adiknya, “Kenapa, sih, Win?”
Kenapa harus ditanyakan? Seharusnya sudah tahu, kan?!
“Marah?” tanyanya sambil menekuk kedua kakinya dan duduk
di sebelah Edwin. Ia terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu
marah, ya, gara-gara kakak deket-deket sama pacarmu?”
“P-pacar?” kedua pipi Edwin langsung memerah.
Noel langsung mendongakkan kepalanya, “Kak Edwin pacaran
sama Syl-“
“SST!” pemuda itu cepat-cepat menutup mulut Noel dengan
tangannya. “MANA ADA!”
“Oh, belum jadian?” Dean terkekeh, “Kakak bantuin biar
__ADS_1
jadian sekarang...”
“KAK!”
Edwin cepat-cepat menutup mulutnya saat tersadar tiga
pasang mata lainnya langsung tertuju saat seruan itu bergema di telinga mereka.
“Edwin.”
Lelaki berambut coklat pendek itu menoleh pada wanita
paruh baya yang berjalan menghampirinya.
“Makasih banyak, ya, udah jagain Noel sama Sylvia,” ia
tersenyum hangat sambil menyalami tangan Edwin.
Edwin tak kuasa menggerakkan bibirnya untuk berbicara.
Pemuda itu tak mengeluarkan reaksi lain selain membalas uluran tangan dan
senyum Linda.
“Makasih juga, ya, Dean,” wanita itu turut menyalami pemuda
di sebelah Edwin. “Yuk, Noel, pamit dulu. Kita pulang,” ujarnya sambil meraih
tangan kecil putranya.
Dengan wajah suram, Noel melepas tangannya yang mendekap
tubuh Edwin. Lalu melambai-lambaikan tangannya pada tiga orang ‘keluarganya’.
Sejenak ia tatapannya berhenti tertuju pada Dean.
Pemuda itu tersenyum tipis, “Gimana, kak Dean hebat kan?
Bang Gondrong udah kena hukum tuh gara-gara jahatin Noel.”
Noel mengancungkan jempolnya sambil tersenyum.
“Eh?” Edwin terheran mendengar kalimat yang terucap oleh
kakaknya.
“Dean udah bantuin kita semua buat nuntut mantan bos mereka,”
jelas Linda.
Edwin tercenung.
Jadi selama ini Dean tak hanya menghabiskan akhir pekan dengan
Sylvia, tapi juga bersama dengan yang lainnya?
Ah, astaga...
Edwin menggaruk kepalanya. Hatinya mendadak merasa bersalah.
Ia telah berburuk sangka pada orang yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
“Sylvia, sini. Ayo, pamitan dulu,”
Edwin mengulurkan tangannya sesaat setelah Sylvia selesai
bersalaman dengan Dean.
Gadis berperawakan tomboi itu tersenyum geli, “Pengen banget
lo gue salamin.”
“Tapi, makasih banyak, ya...” Sylvia menyambut uluran tangan
Edwin. “Nanti duit lo gue ganti. Anggep aja gue ngutang,” bisiknya pelan.
“Ng... Nggak usah juga gak apa-apa, kok.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Ya udah. Gue pulang dulu,” Sylvia tersenyum tipis, “Kalo
misalnya kapan-kapan mau main ke rumah, dateng aja.”
Dean langsung menyikut lengan Edwin dan bersiul pelan.
“Good luck, ya, Win. Semoga nanti langgeng,” godanya sambil
berlalu, menyusul Noel, Sylvia, dan ibu mereka.
Edwin menghela nafasnya.
Ternyata, memang perubahan besar berasal dari hal kecil. Sesuatu
yang sama sekali terlihat simple, tanpa sedikit pun kerumitan. Dari hanya sekedar
memberi makan anak kecil yang tak sengaja dijumpainya di taman, hampir seluruh dunianya
seakan-akan mengalami perubahan. Mulai dari Dean yang kini sifatnya lebih terbuka,
__ADS_1
dan terlihat jauh lebih memahami perasaan orang lain dari sebelumnya. Pada Noel,
sekaligus Sylvia dan ibu mereka yang bisa kembali bertemu dan bersatu sebagai keluarga.