
Tangan Sylvia mengucek-ngucek matanya yang terasa berat. Ia semalaman tak
tidur karena harus menjaga Kirana yang terlelap di sampingnya. Sekarang ini,
rasanya ia berada di tengah-tengah alam mimpi dan kenyataan.
“Syl?” suara itu datang bersamaan dengan sebuah tepukan di bahu kiri
Sylvia.
Sylvia terkejut bukan main sampai-sampai membuat Kirana ikut terbangun.
“Pantesan dari tadi rasanya kayak kenal, gitu. Ternyata emang kamu,” Edwin
tersenyum tipis.
“Ah, goblok lo, Win! Jadi bangun kan dianya!”
“Eh, siapa?”
“Nih!” gadis itu menunjuk Kirana yang masih terkantuk-kantuk.
Edwin tertegun. Dipandangnya anak itu dari atas sampai bawah. Kemejanya
masih putih bersih, tanpa sedikit pun noda atau sobek. Rambutnya sedikit
acak-acakan karena baru bangun tidur. Bahkan, tas punggung itu dipeluknya
bagaikan bantal guling.
“Itu siapa, Syl?” bisik pemuda itu pelan.
Sylvia menggulung lengan jaket hitam yang ia kenakan, “Kirana.”
Edwin berjongkok di hadapan Kirana, “Kenalin, nama kakak Edwin,” ucapnya
sambil mengulurkan tangan.
Kirana menyambut uluran tangan itu. Namun, bukannya berjabat tangan, gadis
kecil itu justru menempelkan punggung tangan Edwin di dahinya yang lebar.
Layaknya seorang murid menyalimi wali kelasnya.
“Eh, aku disalimin, Syl,” lelaki muda itu tersenyum lebar melihat tingkah
polos Kirana.
“Ya, suka-suka dialah mau salim kek, nampar kek!”
“Kirana, kamu nggak takut sama kakak yang ini?” telunjuk Edwin mengarah
tepat pada gadis berkuncir kuda di sebelah anak itu. “Galak banget, ya?”
Sylvia langsung mencubit lengan Edwin sekuat tenaga, “Brengsek lo!”
“Aduh! Aduh! Tuh, kan! Kakaknya galak banget!”
Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya, “Nggak kok, kak Sylvia baik sama
aku. Kemarin, aku dikasih makan. Terus, aku juga gak dimarah-marahin.”
“Mampus!” gadis itu tersenyum penuh kemenangan, “Makan tuh galak!”
Kirana bangkit dari duduknya dan menggendong tas pink miliknya.
“Mau kemana lo, Kir?” Sylvia langsung mengalihkan sorot pandang kedua iris
coklat gelapnya.
“Aku mau cari ayah.”
“Oh, iya. Bentar-bentar... lo duduk dulu...” gadis itu menarik pelan tangan
Kirana agar ia kembali mendekat dan duduk, “Tunggu dulu di sini, ya!”
Sylvia langsung menarik lengan baju Edwin, menyeretnya beberapa langkah
menjauhi gadis kecil itu.
“Win, lo bantuin gue, ya!” pintanya dengan nada memaksa. “Bantu gue cari
bapaknya si Kirana!” ia mengayun-ayunkan tangan Edwin seperti anak kecil yang
mendesak agar cepat-cepat dikabulkan keinginannya, “Ya, ya, ya? Bantuin gue,
ya?”
Sekali pun Sylvia tak mengulang-gulang kalimatnya seperti itu, Edwin sudah
pasti akan membantu.
“Tapi, cara nemuin papanya gimana?” tanya Edwin.
“Itu...” Sylvia melepaskan genggaman tangannya, “...Gue juga gak tau.”
Mereka berdua terdiam sejenak. Lirikan iris coklat terang itu berpindah
pada Kirana yang tertunduk sambil mengayunkan kedua kakinya beriringan, gayanya
persis seperti Noel.
“Ya udah, kita coba cari aja. Aku kabarin temen aku dulu, aku nggak jadi ikut
mereka,” Edwin mengeluarkan ponsel biru tua miliknya dari saku celana.
***
Walau tersendat-sendat, jalanan ibu kota kali ini sedikit lebih lancar,
karena jam masuk sekolah dan kantor telah usai. Sepasang mata Sylvia terus
melirik satu per satu lampu penerang jalan dan deretan tiang listrik yang
berdiri di trotoar. Pamflet-pamflet orang, hewan, atau barang hilang biasa
menempel erat pada benda itu. Ia hanya perlu mencari kertas dengan foto Kirana
yang ditempel besar-besar, lalu menghubungi kontak yang tertera di sana.
Hampir tujuh kilometer jarak terlampaui oleh sedan yang ditumpangi Sylvia.
__ADS_1
Siapa sangka ternyata hal itu membuahkan hasil? Iris coklat itu sekilas
menangkap wajah familiar pada sebuah kertas HVS yang tertempel di sebuah lampu
penerang jalan.
“Win, Win, stop dulu, Win!” gadis
itu buru-buru melepaskan sabuk pengaman.
Melihat Sylvia bergegas turun dari mobil tanpa memberi satu atau dua detik
pun bagi Edwin untuk bersuara, Kirana turut melepas seat belt yang mengamankan tubuh kecilnya.
“Kak Sylvia! Tungguin aku!” serunya sambil membuka pintu mobil dan
berlari-lari menyusul langkah gadis berkuncir kuda dengan jaket hitam lusuh
itu.
***
HVS putih itu ditatapnya dengan konsentrasi penuh. Iris mata coklat gelap
Sylvia memperhatikan tiap huruf yang tersusun berderet membentuk kalimat di
atasnya. Dari awal melihat kertas bertuliskan informasi orang hilang itu,
Sylvia sudah yakin, foto yang tertera di atas keterangan itu adalah foto
Kirana, gadis kecil yang terus mengekorinya selama hampir satu hari penuh. Tanpa
menunggu lama, jari telunjuk Sylvia langsung bergerak mengubik-ngubik selebaran
orang hilang di hadapannya.
Keberuntungan memang berpihak pada gadis itu sejak kemarin malam. Pamflet
itu memuat kontak yang lengkap, nama ayah Kirana, nomor telepon, serta alamat
rumahnya agar mempermudah siapa pun yang menemukan bidadari kecilnya.
“Kirana, ini nama bapak lo, kan?” Sylvia menunjuk deretan huruf bertuliskan
‘Hartono A.S.’
Dengan nafas terengah-engah, tubuh bermandi keringat, dan kedua pipi tembam
yang sedikit memerah, gadis kecil itu mengangguk-angguk.
Ini bagus. Garis finish sudah ada di depan mata. Hanya tinggal menghubungi
nomor yang tertera, lalu mendatangi kediamannya, maka bidadari kecil itu akan
kembali dalam dekapan ayahnya.
Gadis itu merogoh-rogoh saku celananya. Barulah dirinya ingat bahwa ia tak
memiliki telepon genggam. Sial, kenapa selalu ada rintangan di saat-saat
seperti ini?
berjalan mulus?
***
Sylvia bersandar pada bangku taman Cattleya, tempat dimana ia dan Edwin
biasa bertemu, untuk bercengkrama, bertukar cerita tentang kehidupan. Sejak
pemuda itu tahu bahwa Noel adalah adiknya, kini topik pembicaraannya tak hanya
tentang pengalaman hidup. Tapi juga cerita seputar Noel. Edwin seringkali
bercerita tentang Noel yang selalu mengobarkan api semangat dalam dirinya untuk
meraih nilai yang lebih bagus lagi, walau anak itu sebenarnya kesulitan karena
harus mengejar ketertinggalan waktu belajarnya selama dua tahun. Tak sampai di
situ saja, Edwin juga bercerita tentang kakaknya, Dean, yang mengajari Noel
bermain piano sampai kini jari-jari mungil itu sudah mahir memainkan beberapa
lagu anak-anak tanpa menekan tuts yang salah.
Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Walau ia duduk bersama Kirana
di bawah pohon besar nan rindang, tetap saja panas terik itu menusuk kulitnya
dari celah-celah daun.
“Kak... kita nungguin siapa? Aku udah lapar kak...” ucap gadis kecil itu
dengan wajah lesu. Suaranya terdengar lemah.
Sylvia menghela nafas. Ia tak mungkin berdiam diri, duduk di bangku taman,
terus menanti kehadiran Edwin yang biasa menjumpainya saat siang tiba. Apalagi,
Kirana seringkali mengeluarkan keluhan dari mulut kecilnya, gaya khas anak
kecil yang terkadang membuat amarah pendengarnya meledak-ledak.
Pikirannya memang juga menyimpan rencana lain, yang dianggapnya sebuah ide
buruk. Tapi, seburuk-buruk apapun ide itu, kalau sudah begini, mau tak mau
Sylvia menjalankannya.
Nafas Kirana mulai terkapah-kapah, bersamaan dengan peluhnya yang mengucur
deras, sampai anak itu terlihat seperti kucing yang baru saja tercebur di
kolam. Langkah kakinya terasa begitu berat walau beban pikulnya hanyalah sebuah
tas punggung berisi dua buku paket dan satu buku tulis. Tenaganya seolah-olah
habis terkuras oleh jarak tempuh perjalanan yang jauh, ditambah lagi terik
sinar matahari yang tak bersahabat.
__ADS_1
Mereka sudah menapakkan kaki di wilayah Kota Tua, tempat dimana pemuda
berwajah tengil yang paling tak disukai Sylvia, Denis, beraksi pada siang hari.
Kota Tua memang ramai saat penghujung tahun tiba. Entah itu wisatawan
mancanegara atau domestik, mereka berbondong-bondong memenuhi tempat ini untuk
berfoto.
Mencari lelaki berambut pirang cepak itu akan terasa sangat sulit di antara
kerumunan orang-orang seperti ini.
Bruk!
“Eh! Lo kalo jalan...” Sylvia tak melanjutkan kalimatnya saat ia mengenali
wajah anak ber-hoodie lusuh yang baru
saja bertubrukan dengannya.
Ryan.
Baru saja anak lelaki itu hendak bicara, Sylvia sudah mendahuluinya.
“Lo kesini sama si Denis, kan? Denis mana?”
“Tuh,” jawab Ryan sambil menunjukkan arah keberadaan Denis dengan bibir
karena kedua tangannya sudah penuh menahan benda-benda hasil curian yang ia
sembunyikan di balik hoodie. “Oh,
iya, Syl...”
Lagi-lagi gadis itu tak memberi kesempatan bagi Ryan untuk membuka suara.
Tanpa menunggu lama, Sylvia langsung menarik tangan Kirana, membawanya berjalan
mendekati Denis yang tengah duduk bersantai menikmati sebotol air mineral dingin
ditemani gitar kecil miliknya.
“Woi, Den!” tangan gadis itu mendarat di bahu kanan Denis.
Saking terkejutnya, Denis sampai tak sengaja menyemburkan air yang ada di
dalam mulutnya.
“Ah, elah! Lo ngapain, sih?! Bikin gue kaget aja!” ujarnya dengan nada
sedikit kesal setelah terbatuk-batuk.
“Si itu tuh.... si... Eji! Lo kenal sama dia kan? Anterin gue ke tempat biasa dia ngetem, Den!
Gue lagi perlu banget!” Sylvia mengeluarkan secarik kertas dan menunjukkan
sebuah alamat yang tertera di bawah nomor telepon, “Gue mau ke sini, tapi gue
gak tau jalan.”
“Gak, ah! Males gue jalan! Panas!” Denis kembali meneguk air mineral dingin
itu, “Lagian juga buat apa, sih? Mendingan gue lanjut ngamen daripada bantuin
lo,” gumamnya pelan.
“Den, yang bener aja lo?! Gue mau nolongin si Kirana, biar bisa pulang ke
rumahnya!”
“Lo udah gila, Syl?! Jangan aneh-aneh lo! Lo udah berapa kali bikin masalah
sampe semuanya kena imbas?” telunjuk Denis mengarah pada luka lebam di pipi
kirinya, “Nih, liat! Gue sendiri juga dipukulin sama si Gondrong! Dia ngamuk
gara-gara kacungnya ilang dua!”
“Coba aja lo pikir sendiri, Den! Gue semalem gak dapet duit sama sekali!
Kalo gue pulang, Kirana juga bakal kena gebuk!”
“Ya, itu sih derita lo berdua! Masa bodo gue, mah!”
“Si Kirana ini pengen pulang! Pengen ketemu bapaknya!”
“Mending lo nyari duit aja, terus sore-sore pulang, makan, ngerokok, terus
keluar lagi, cari duit, pulang, nyetor, tidur. Terus, lo ajarin Kirana biar
bisa kayak gitu! Selesai! Gak bikin masalah!” Pemuda itu meletakkan botol
plastik air mineralnya yang hampir kosong dengan kasar, “Yang nyari bapaknya
juga dia, bukan lo!”
“Den, gue yakin anak-anak gak bakal ada yang tiap hari nyari duit sampe
sore, pulang, terus balik lagi nyari duit kalo mereka bisa pulang ke rumah!
Seenggaknya, kalo orang tua mereka gak ketemu, mereka dapet rumah yang bagusan
dikit!”
“Jadi, lo mau berontak, gitu?” Denis berdiri dan mengambil gitarnya,
“Percuma, Syl. Gue yakin gak ada yang mau ikut-ikutan. Semua anak di kelompok
kita itu gak berani cari masalah ama pimpinannya. Semuanya tau diri!” Pemuda
itu menepuk pelan bahu Ryan yang sejak tadi termangu-mangu menyaksikan
perdebatan dua orang di hadapannya, “Ayo, Yan.”
Ryan justru tak mengekori Denis yang sudah berjalan beberapa langkah
menjauh dari bangku. Ia malah mendekati Sylvia dan Kirana.
“Ryan mau ikut!”
__ADS_1