
“Aku punya bibi yang nikah sama orang Jakarta. Terus, aku sempat tinggal di
sini waktu masih kecil. Tapi, cuma sebentar. Ya, kira-kira empat tahun. Emangnya
aku belum pernah cerita, ya?”
Dean tak menjawab pertanyaan Charlotte. Ia tak mengindahkan pandangannya
dari padatnya jalan raya ibukota di akhir pekan. Sikap dinginnya sampai menarik
perhatian supir taksi yang sesekali melirik ke arah spion tengah.
Gadis itu hanya bisa tersenyum getir saat menyadari Dean secara tersirat menghendakinya
untuk tutup mulut dan berhenti mengajaknya bicara dengan menghujani sepasang
telinganya seribu kalimat.
Ia tertunduk sembari memainkan kedua ibu jarinya, itulah yang selalu
dilakukan oleh Charlotte kalau hatinya tiba-tiba diselimuti rasa canggung.
“Anu... Mbak, tadi... Mbak turunnya dimana ya, mbak?” tanya supir taksi itu
sedikit ragu.
“Saya turunnya di Mal Taman Anggrek,” jawab gadis itu sambil menaikkan
kepalanya, menatap lurus ke depan.
Pria berkemeja biru muda itu mengangguk-angguk. “Mbak ini orang bule, ya,
mbak?”
Charlotte tersenyum tipis, “Yes, from
the United States of America.”
Seharusnya, itu tak perlu ditanyakan lagi. Rambut pirangnya yang terjuntai
menjentuh pundak, logat bicaranya yang terdengar cukup aneh meski ia dapat
merangkai kata-kata berbahasa Indonesia dengan benar, serta mata
hijau-kebiruannya yang berkilau indah menyerupai batu fluorit sudah mengatakan segalanya.
“Jauh dong, mbak.” Pria itu tercengir.
Gadis itu terkekeh pelan.
Sepanjang perjalanan, hanya percakapan tanya-jawab seputar pengalaman hidup
masing-masing antara Charlotte dan pengemudi kendaraan berpelat kuning itu.
***
“Coba, kalau yang ini bacanya apa?” tanya Edwin sambil mengarahkan
telunjuknya pada sebuah kalimat.
Noel memperhatikan deretan huruf-huruf itu. “Mereka semua... hidup
bahagia... selamanya,” meski belum terlalu lancar, ia sudah cukup mahir membaca
teks pada dongeng Hungaria berjudul ‘Pinko’. Tak hanya itu, ia sudah dapat
memahami isi cerita dengan baik. Dalam dongeng itu, dikisahkan seorang anak
bernama ‘Pinko’ yang harus membantu kakek penebang kayu bekerja selama tiga
tahun hanya karena ia mencuri kue makan siang pria renta itu.
“Pintar,” pemuda itu memujinya. “Berarti bulan Juni nanti, Noel bisa
sekolah.”
Anak itu tak tersenyum meski ia tahu pujian itu diperuntukkan baginya.
Edwin meletakkan buku yang dipegangnya di atas meja.
“Noel kenapa? Bosan ya belajar terus?” tanyanya sambil sedikit menunduk,
“Yaudah, kalo gitu main dulu, yuk!” ia tersenyum tipis.
Noel justru menggeleng.
Belum sempat ia berucap untuk menjelaskan, suara bel membungkam mulutnya.
Seorang wanita paruh baya langsung bergegas membukakan pintu. Bi Nara masih
mengenali pemuda yang berdiri di hadapannya. Amadeus Jonathan Wijaya, putra
sulung majikannya, kakak kandung Edwin. Bibi tersenyum sambil mempersilahkan pemuda itu masuk.
Dua cangkir porselen berisi teh hangat itu diletakkan bibi dengan hati-hati
di atas coffee table.
Pandangan Dean terus terpaku pada seorang anak yang sedikit menjuruk di belakang
Edwin. Beribu-ribu pertanyaan menyelimuti pikirannya. Ia heran bukan kepalang,
sebab ia belum pernah melihat anak itu sebelumnya.
“Noel, ini namanya kak Dean. Dia kakaknya kak Edwin yang kuliah di
Amerika,” pemuda itu sedikit menunduk, menatap Noel yang kebingungan melihat
kedatangan dua orang yang tak dikenalnya. “Ayo, salam dulu,” ucapnya sembari
tersenyum.
Anak itu mengulurkan tangannya. Namun, Dean tak sedikit pun berniat
menggerakkan tangan kanannya untuk menyambut Noel yang hendak berjabat tangan
dengan dirinya. Ia justru berbalik dan berlalu, meninggalkan mereka.
Meski kedua iris coklat terangnya yang berkilat-kilat itu mengikuti pergerakan Dean, tubuhnya hanya diam mematung.
***
“Cih.”
Noel langsung menunduk dan cepat-cepat berlalu. Anak itu tak berani
membalas tatapan Dean yang selalu terkesan ‘sinis’ kalau berpapasan dengannya.
Ya, itu seharusnya menjadi hal sudah biasa bagi Noel. Semasa dirinya menjadi
anak jalanan, pejalan kaki, pengendara mobil, motor, bahkan hampir semua orang
menatapnya seperti itu. Sorotan mata mereka selalu menyiratkan rasa benci, tak
suka, atau jijik.
Biasanya, Noel tak pernah peduli bagaimana orang-orang menilainya. Tapi,
entah kenapa sejak beberapa hari yang lalu, dadanya terasa begitu sesak saat ia
sadar lirikan sinis itu ditujukan untuknya.
“Noel kenapa?” tanya Edwin sambil sedikit membungkuk.
Noel tak menjawab. Ia hanya tertunduk diam.
Dari ekspresi wajahnya, ini semua sudah jelas bagi Edwin. Noel pasti tak
__ADS_1
nyaman berada di tempat yang sama dengan kakaknya, Dean. Sebab, anak itu tak
pernah berjalan menunduk dan berlari-lari kecil ingin mengurung diri di
kamarnya. Ia selalu mondar-mandir melihat bi Nara membersihkan karpet rumah
dengan vacuum cleaner biru yang
diberi nama ‘Nunu’ olehnya karena mirip salah satu karakter dalam kartun yang
pernah sekilas dilihatnya. Atau bahkan menekan-nekan tuts piano tanpa peduli
nada.
Edwin meletakkan kunci mobilnya di dekat televisi ruang tamu lalu
menghampiri kakaknya. Belum sempat ia membuka mulut untuk memanggil ‘Kak’, Dean
mendahuluinya.
“Kenapa?”
Pemuda itu duduk di samping kakaknya. Sebenarnya, rasa segan menyeluruhi
hatinya. Ia segan menanya-nanyai Dean seperti yang akan dilakukannya.
“Kakak kenapa sih?” tanyanya, “Dari awal, kakak kayak nggak senang lihat
Noel.”
Dean menutup buku yang dibacanya.
Tudingan adiknya memang tak salah. Itu sudah terpampang nyata. Tak hanya
Edwin, semua orang bisa merasakan itu.
“Memang,” ia tak segan mengatakan jawaban itu mentah-mentah dari pikirannya
tanpa disaring sama sekali.
Edwin terkesiap mendengarnya.
“Kamu mau tanya ‘kenapa’?” Dean menatap adiknya, “Coba kamu lihat dia
baik-baik, dari atas sampai bawah. Serapi-rapinya rambut dia dipotong,
sebagus-bagus apa bajunya. Noel tetap anak yang kamu pungut dari jalan.”
“Ya, tapi kan...”
“Mendingan kamu pulangin dia ke tempat asalnya. Kalo dia disini cuma bakal
nambah masalah doang.” Pemuda itu bangkit dari sofa yang didudukinya, “Kamu
pasti juga bakal disemprot habis-habisan sama papa kalo dia sampe tau kamu
sembarangan mungut anak dari jalan.”
Argumen Dean seolah mengibaratkan Edwin adalah seekor ikan yang melawan
arus sungai demi menyelamatkan seekor lalat di batu. Tak akan membuahkan hasil.
Lama kelamaan ikan itu akan merasa lelah melawan arus yang lebih kuat darinya.
Lalu, lalat akan terbang meninggalkannya. Membuat usahanya semakin terasa nihil
dua kali lipat.
Perumpamaan itu benar-benar menggambarkan posisinya saat ini. Kalau ia
tetap bersikeras ingin merawat Noel layaknya bagian dari anggota keluarganya,
ia harus kuat menghadapi ayahnya. Seorang pria paruh baya yang keras dan tegas
soal pendapatnya, persis seperti Dean, putra pertamanya. Kalau ia gagal, ia
angkat kaki.
Tapi, dalam hidup ada ‘possibilities
and impossibilities’.
Edwin mengepalkan tangannya. Ia bertekad untuk meneguhkan hatinya. Kalau
keadaan tak bisa berubah sendirinya, ialah orang yang harus merubahnya.
Sudah hampir satu bulan dua minggu Edwin tak mengacuhkan Dean. Begitu pula
sebaliknya. Dua bersaudara ini ‘perang dingin’ sejak mereka beradu mulut karena
kehadiran Noel. Yang satu ingin Noel hidup sebagai anggota keluarganya, yang
satu tak menginginkan kehadirannya sama sekali.
Bisa-bisanya Edwin lebih memilih mempedulikan orang asing daripada kakak
kandungnya sendiri. Sampai-sampai sifatnya yang hangat dan ramah berubah
seratus delapan puluh derajat, hampir serupa dengan pembawaan kakaknya.
Perhatiannya tiba-tiba teralih pada sebuah buku berjilid spiral yang
tergeletak di atas coffee table coklat gelap. Dean mengerinyitkan dahinya saat melihat buku itu lebih dekat.
Siapa yang punya ide untuk menempatkan hewan-hewan laut di lapangan hijau
terbuka?
Jarinya mulai menyalip di antara cover dan halaman pertama buku itu.
‘Buku ini milik : Noel’
Tulisan anak ini benar-benar jelek, hampir tak bisa dibaca.
Lanjut.
Dean membalikkan halaman itu, menuju halaman berikutnya.
“Ini hari Sabtu.
Namaku Noel. Kata bi Nara umur aku kayaknya 7 kalo nggak
8 tahun.
Ini cerita pertamaku. Kak Edwin bilang, buku ini buat aku, biar aku bisa nulis.
Aku suka ayam.”
Pemuda itu tersenyum geli, ia berusaha menahan tawanya. Kalimat terakhir
yang ditulis Noel benar-benar out of
topic, tak ada sangkut-pautnya dengan empat kalimat sebelumnya. Cerita
pendek atau mungkin lebih mirip ‘diary
entry’ yang ditulis oleh Noel itu memang konyol. Tapi justru itulah yang
mengundang rasa penasaran Dean. Ia membalikkan halaman selanjutnya.
“Hari Minggu.
__ADS_1
Aku nggak jadi suka ayam. Kak Edwin dulu pernah pelihara
ikan mas koki.
Katanya ikan itu lucu. Jadinya, aku suka ikan sekarang.
Terus, kemarin aku dibeliin stiker sama kak Edwin. Ada
gambar ikan, ubur-ubur, gurita, cumi-cumi. Semuanya lucu-lucu, jadi semuanya
aku tempelin di buku.”
Lagi-lagi ia menahan tawanya. Anak ini kelewat polos. Kelakuannya persis
seperti anak TK, padahal seharusnya ia sedikit lebih dewasa dari itu.
Dean terus membalikkan satu per satu lembaran kertas berwarna hijau pupus
bergradasi biru muda di atasnya. Sampai salah satu halaman menarik
perhatiannya. Berbeda dengan halaman lain yang ditulis singkat dengan tulisan
tak karuan, halaman ini memuat cerita yang cukup panjang dengan tulisan sedikit
lebih rapi dari sebelumnya.
“Aku baru bisa nulis cerita sekarang. Namaku Noel. Umurku
sekitar 8 tahun. Aku punya rumah dan keluarga baru, namanya kak Edwin sama bi
Nara. Mereka baik banget sama aku. Tiap hari, aku dikasih makanan enak. Terus,
kita suka main bareng-bareng.
Aku senang banget bisa tinggal di sini sama mereka. Kalau
aku buat salah, aku nggak pernah dipukulin atau diteriakin. Aku cuma disuruh
minta maaf sama dinasehatin aja. Nggak kayak dulu.
Kalo dulu, aku selalu dimarah-marahin, dipukul,
kadang-kadang ditendang sama bang Gondrong pas buat salah. Malamnya, aku nggak
dikasih makan.
Ada juga yang baik kayak kak Edwin. Namanya Sylvia. Dia lebih gede dari aku.
Dia selalu berani ngambil makanan orang lain terus dikasih ke aku. Biar aku
nggak laper. Sylvia kadang-kadang suka galak juga sama aku, tapi dia masih baik
kok.”
“Aku nggak pantes
tinggal di sini bareng kak Edwin sama bi Nara.
Tapi, aku juga nggak mau tinggal di rumah lamaku. Aku nggak mau dipukulin lagi.
Dipukul itu sakit. Aku tahu, soalnya aku pernah dipukul bang Gondrong sampai
mimisan.”
Kedua tulisan itu membuatnya termenung sejenak. Pikirannya disesakkan
dengan rasa bersalah. Selama ini, ia tak
pernah tahu kalau Noel harus berhadapan dengan kerasnya hidup meski usianya
belum menginjak satu dekade.
***
Noel membuka kedua matanya.
Pagi ini, ia bangun lebih awal tanpa harus dibangunkan bi Nara. Kicauan
para burung nan merdu terdengar bersahut-sahutan terdengar dari luar jendela.
Noel menatap kalender yang tergantung di dekat meja belajarnya. Lingkaran merah
terlihat mengelilingi tanggal hari ini. Hari dimana tahun ajaran baru dimulai.
Wajahnya berseri-seri. Rasa senang tak lagi bisa disembunyikan olehnya.
Hari pertama sekolah. Memang, sekolahnya cukup berbeda dari anak-anak lain.
Dimana anak-anak lain harus berangkat pagi-pagi untuk sampai di gedung
sekolahnya sebelum bel tanda masuk berdering keras. Sedangkan, ia hanya perlu
duduk di ruang tamu, menunggu sampai guru privatnya datang kemari. Tapi hal itu
tak menyurutkan semangatnya untuk bersekolah.
Tangan Noel meraih buku berjilid spiral miliknya. Lembaran baru itu akan
segera ditulisinya dengan curahan hatinya yang terbakar api semangat pagi ini.
Lirikan matanya terpaku pada sebuah sticky
notes kuning yang menempel pada sampul buku itu.
‘Belajar yang rajin.’
Tulisan itu tegak bersambung. Sebuah tulisan tangan yang terkesan
‘estetik’. Noel sampai terpana melihatnya. Itu adalah tulisan dambaannya. Ia
ingin punya tulisan seperti itu!
***
Jam kuno itu berdentang sebelas kali berturut-turut.
Meski sayup-sayup, suaranya masih bisa terdengar dari lantai atas.
Edwin meluruskan kedua tangannya yang mulai terasa pegal setelah hampir empat jam terus-menerus bergerak tiada henti menekan deretan tombol keyboard hitam itu bergantian. Ia mengerjap. Rasa kantuk yang melanda dirinya membuat pelupuknya terasa begitu berat untuk dibuka.
Bertanding kecepatan melawan waktu bukanlah hal mudah. Kelulusan sekolahnya terjadi lebih cepat dari yang seharusnya. Itu memaksanya untuk memasuki kehidupan mahasiswa perkuliahan satu tahun lebih awal. Tapi ternyata, kenyataan berbanding terbalik dengan khayalannya. Mendapatkan gelar sarjana dengan jangka waktu kurang dari delapan semester tak semudah membalikkan telapak tangan.
"Win? Belum tidur?" suara itu terdengar bersamaan dengan derit pintu kamar yang terbuka.
Pemuda itu terkesiap. Jantungnya langsung bereaksi cepat, menggedor-gedor rusuknya. Edwin mengelus dadanya pelan-pelan. Beruntung, ia tak memiliki riwayat penyakit jantung dalam hidupnya. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dean melangkah menuju Edwin yang tengah duduk berhadapan dengan layar notebook.
Tanpa peduli usia bahwa usia adiknya sudah menginjak dua puluhan, ia menjamah helaian rambut coklat itu dan mengacaknya.
"Sana tidur. Kakak tadinya mau minta tolong antarin ke bandara doang, kok. Tapi nggak jadi, muka kamu udah kayak orang begadang tiga hari," senyum tipis terukir di wajahnya, "Kakak mau ke Amerika. Ada urusan penting. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Jaga Noel juga."
Edwin duduk termangu-mangu menatap kakaknya.
Kalimat terakhir yang terucap oleh Dean sukses membuat otaknya berpikir keras.
Sejak awal bertatap muka dengan Noel, rasa benci sudah dinampakkan jelas-jelas oleh Dean. Tapi, kenapa sekarang pemuda itu justru berlaku sebaliknya?
__ADS_1