Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 5 - Edwin


__ADS_3


Pandangan anak itu tak kunjung mengindah. Hatinya terkagum-kagum bukan


main, menyaksikan penampilan memukau tepat di hadapannya. Diperhatikannya


jari-jari itu bergesit, menekan tuts piano bergantian, mendengungkan nada-nada


indah. Melodi itu memang tak asing lagi bagi telinga Edwin. Sebuah medley lagu-lagu klasik populer


mahakarya Ludwig van Beethoven.


Beethoven Virus, Fur Elise, Moonlight Sonata.


Ia benar-benar terpukau. Kakaknya, Amadeus Jonathan Wijaya, atau kerap


disapa ‘Dean’ yang entah dari mana asal-muasalnya, memang sangat hebat! Usianya


hanya tiga tahun lebih tua dari Edwin. Tapi, bakatnya bermain piano tak boleh


diragukan. Kalau saja anak itu ikut ajang pencarian bakat, sudah pasti


penampilannya ini membuat para peserta lain tereliminasi dengan mudah.


Ya, mungkin saja, itu pengaruh nama ‘Amadeus’ yang dikutip dari salah satu


komponis musik klasik, Wolfgang Amadeus Mozart. Edwin kecil bergugam dalam


hatinya, berharap namanya juga dikutip dari orang-orang berpengaruh di dunia. Pasti,


ia juga akan jadi hebat, persis seperti kakaknya, bahkan mungkin bisa lebih. Tapi,


berulang kali pula, kakaknya bercerita panjang lebar. Bakat bermusiknya bukan


karena nama ‘Amadeus’ yang dikutip dari Mozart, mematahkan dugaan Edwin kecil


yang tak berdasar.


“Kalau kamu mau bisa main piano kayak kakak, kamu juga harus latihan”


Memang kalau dipikir-pikir oleh anak itu, kata-kata yang diucapkan Dean


benar. Edwin selalu melihat kakaknya bermain piano tiap kali jarum pendek


menunjuk tepat angka lima. Ditemani guru les privatnya, seorang wanita tinggi berkacamata,


dengan rambut hampir seluruhnya putih. Wajahnya selalu masam, tanpa senyum,


jika berhadapan dengan anak muridnya. Dari apa yang dilihatnya, sudah terbayang


jelas kalau saja Edwin juga menjadi murid les privatnya.


“Ulangi lagi! Dua puluh kali!”


Begitulah kata-kata yang akan didengarnya tiap kali jemarinya


tersesat, menekan tuts piano yang salah, membuat harmoni nada-nada tumbang. Tak


bisa dibayangkan betapa menderitanya dia kalau juga ikut belajar. Edwin bahkan


tak tahu, tuts piano mana yang berbunyi ‘do’, yang mana berbunyi ‘re’, ‘mi’.


Singkatnya, anak itu bahkan tak menguasai tujuh not dasar dalam musik.


***


Bi Nara menjatuhkan butiran-butiran kecil itu tepat di atas aquarium berisi


ikan-ikan mas koki kesayangan Edwin. Ketiga hewan itu sangat senang kalau aksi


mereka, mengejar dan berebut makanan jatuh itu disaksikan pemiliknya. Namun,


kali ini ada yang lebih menarik perhatian anak berusia tujuh tahun itu.


Sepasang matanya tak melirik makhluk berbadan buntal keemasan seperti balon


itu. Tak peduli walau mereka meliuk-liukkan badannya, berenang ke sana ke mari,


dan membuka tutup mulutnya.


Ia sibuk melihat kakaknya, Dean, yang menggenggam gagang telepon rumah


berwarna zamrud di sudut ruang tamu.


“Ma, kakak nggak bisa, ma!”


“Stt... Suara kamu itu keras, lho, Dean. Sampai


teman-teman mama di sini bisa dengar semua”


“Ih! Kalau Cuma suara keras, belum tentu menang, ma! Nanti kakak


malu-maluin jadinya!”


“Dean harus yakin menang, dong. Kamu kan anak pintar.


Tiap tahun selalu bawa pulang piala. Coba kamu lihat lemari di ruang tamu.


Isinya piala kamu semua”


Dean menoleh, melihat lemari kaca yang membiarkan benda-benda emas berkilau


itu berteduh di dalamnya. Ibunya memang benar. Dua tingkat lemari itu sudah


terisi penuh dengan berbagai macam piala. Semua piala itu memiliki satu


kesamaan. Apalagi kalau bukan ditulisi nama yang sama? Nama ‘Amadeus Jonathan


Wijaya’ itu terpampang jelas pada setiap piala itu. Diikuti tulisan ‘JUARA I’,


nama sekolah, serta tahun ajaran.


“Tapi...”


“Dean, sayang. Kamu dengar mama baik-baik, ya. Kamu nggak


*boleh langsung teriak-teriak ‘nggak bisa’ kalau kamu belum pernah coba”*Ibunya buru-buru memotong kalimat anak sulungnya\,


sebelum keluhan lain dicelotehkannya. “Ya...


Dean benar kok, ini memang pertama kalinya bagi kamu. Tapi, kamu juga harus


tetap ikut, biar kamu bisa dapat pengalaman baru. Nah, gini, deh. Dean kan anak


mama yang pertama kali mama lahirkan Kalau mama nggak mau melahirkan, kamu


nggak bakal ada kan?”


Anak itu terdiam.


“Mama tau, mungkin kamu ada rasa grogi, bingung, gugup.


Mama juga gitu kok waktu kamu mau lahir. Tapi, mama tetap jalani. Akhirnya,


berhasil. Kamu lahir sehat, mama juga selamat”


Dean cemberut. Ia tak mungkin beralasan lagi. “Yaudah, iya, iya! Kakak coba


ikut, kok!” gagang telepon itu diletakkannya kembali.


Adik kecilnya berlari-lari, menghampiri kakaknya yang sedikit kesal.


“Kakak kenapa?” tanyanya sambil memiringkan kepalanya sedikit.


“Kakak disuruh ikut lomba debat sama bu guru. Tapi, kakak kan belum pernah


ikut, jadi kakak nggak mau ikut.” Ia menghela nafas pelan, “Jadi kakak cerita


deh ke mama. Rencananya, kakak mau mama bilang ke bu guru supaya kakak nggak


didaftarin sama bu guru buat ikut lomba. Eh, mama malah dukung kakak ikut”


“Hmm...,” Edwin manggut-manggut, gayanya seolah meyakinkan dia benar-benar


paham apa yang dimaksud oleh Dean. “Lomba debat itu apa kak?” ia mendadak


bertanya.


“Masa Edwin nggak tahu, sih?!”


“Ih, mana Edwin tahu, kak. Edwin kan baru kelas dua SD,” ucapnya polos


sambil mengacungkan dua jari, membentuk huruf ‘V’.


“Itu, lho... Kayak...,” Dean terdiam sejenak, memikirkan sebuah rangkaian

__ADS_1


kalimat sederhana agar adiknya mengerti maksud dari penjelasannya. “...Adu


pendapat!” lanjutnya setelah menemukan pilihan diksi yang mantap. “Eh, iya!


Nggak Cuma itu! Adu pendapatnya juga harus pakai bahasa Inggris!”


Edwin tertegun. Itu adalah bahasa asing yang sulit, bukan? Sejauh ini, ia sendiri


hanya mengerti kalimat-kalimat ucapan salam, seperti ‘Good Morning’, ‘Hello’, ‘How are you?’, beserta jawabannya, ‘I am fine, thank you!’ kalau merasa


baik-baik saja. Tapi, entah apa yang membuatnya begitu yakin, kalau itu adalah


hal mudah bagi kakaknya. Bagaimana tidak? Dia sangat mahir bermain piano.


Padahal, ia baru mulai belajar kurang dari setahun yang lalu. Semua orang tahu,


tak sembarang pribadi bisa membawakan lagu-lagu klasik dengan irama penuh


pembawaan, merasuki jiwa-jiwa yang mendengarnya, turut merasakan emosi dalam


nada-nada.


“Kakak pasti bisa, kok!” Edwin tersenyum lebar. “Kakak kan pintar, pasti


belajarnya cepat!”


Mendengar dukungan yang memujinya itu, dia bukannya


senang, Dean malah bertambah kesal. Tanpa membalas kata-kata adiknya dengan


‘terima kasih’, ia berbalik meninggalkan anak itu sendirian yang terheran-heran


melihat tingkah laku kakaknya.


***


Dean tersenyum puas penuh kemenangan. Masih terbayang-bayang dipikirannya


bagaimana lawannya terdiam bisu saat suara lantangnya tegas menusuk tajam


telinga orang itu. Plakat keemasan dengan ukiran nama ‘Amadeus Jonathan Wijaya’


itu diangkatnya dengan rasa sejuta kebanggaan. Tak diduga-duga, ia menang!


Meski hanya dengan latihan kecil dari guru sekolahnya.


“Mama! Kakak menang! Juara satu!” serunya girang, sampai-sampai senyum


lebar berseri terlihat jelas di wajahnya.


Wanita yang tak lain adalah ibu dari Dean dan Edwin itu tersenyum manis, “Nah,


kan? Menang, kan? Mama bilang apa waktu itu?”


Dean terkekeh pelan, “Besok-besok, kalau ada lomba debat lagi. Kakak ikut!


Tapi mama harus semangatin kakak, ya!”


Edwin hanya bisa memperhatikan kebanggaan kakaknya dari jauh. Perasaan


senang dan sedih bercampur aduk dalam hatinya, seperti warna-warna cat air yang


hendak dipakai pelukis. Ia turut merasakan bahagia atas kemenangan kakaknya.


Tapi, ia juga merasa sedih. Ia semakin merasa, dirinya tak bisa menjadi seperti


Dean, membawa pulang banyak piala dan kebanggaan atas prestasi.


Ia membanding-bandingkan dirinya dengan Dean di berbagai bidang. Musik?


Sudah pasti, kalah telak. Dean bisa membawakan lagu apa pun dengan kesalahan


nada yang sangat minim. Sekalipun jarinya tak sengaja menekan tuts piano yang


salah, melodi itu bisa diselaraskannya kembali tanpa harus berpikir keras


sejenak. Sedangkan Edwin? Tak perlu dibahas, ia tak mahir, tak sedikit pun. Tak


terkecuali hal-hal dasar seputar teknik bermain alat musik. Debat? Aduh,


sudahlah. Kalau sampai anak pemalu dengan suara lembut itu berdebat dengan


kakaknya, suara kakaknya pasti menyambar kedua telinganya, memaksanya untuk


diam bisu, mengakui kekalahan. Kepintaran? Lihatlah lemari kaca itu! Semua


Anak itu tertunduk bagai morning


glory pada sore hari. Seolah kejayaannya habis ditelan langit senja.


“Kenapa, sih, Mas? Kok bengong?” bi Nara menepuk kedua pundak Edwin,


membuyarkan lamunannya.


Lelaki cilik itu menoleh pada pengasuhnya. Wajahnya nampak begitu sendu.


“Kakak hebat ya, Bi? Nggak kayak Edwin...,” suaranya sedikit gemetar, hidung


dan pipinya sedikit memerah, matanya mulai berkaca-kaca.


“Eh, eh, kok nangis?” bi Nara langsung memeluk anak yang diasuhnya sejak


bayi itu. Mengelus-elus kepalanya.


Edwin tak mengindahkan pertanyaan wanita paruh baya itu, ia masih terus melanjutkan


tangisnya, membiarkan air matanya mengalir deras.


“Tuh, tuh, liat. Mas Edwin dilihat sama ikan.” Ia mencoba mengalihkan


perhatian anak itu, “Mas Edwin diajak main, tuh!” ucapnya sambil menunjuk ke


arah aquarium persegi panjang yang terhias indah, dengan batu-batu kecil dan


miniatur kastil di dalamnya, memberikan kesan sebuah kerajaan laut. Padahal


jelas-jelas ketiga ikan itu hanya menempelkan tatapan mereka ke luar kaca bening


itu untuk meminta makan. “Yuk, mampir, yuk!” bujuknya.


Ia menengadahkan wajahnya. Tangan kecilnya sibuk mengelap bekas air mata


dari pipinya.


Membujuk Edwin berhenti menangis bukanlah sesuatu yang sulit bagi bi Nara.


Ia sudah mengerti betul tentang anak itu. Perhatiannya mudah tertuju pada hal


lain di sekitarnya. Wajah wanita yang mulai keriput itu menatap anak bungsu


majikannya itu yang kini sudah terlihat bahagia, terhibur atraksi ikan-ikan mas


koki yang meliuk-liuk mengejar makanannya.


Senyuman cerah terlihat di bibirnya. Matanya mengikuti gerakan tiga makhluk


gempal lincah itu. Rasa sedih dalam hatinya mendadak sirna, hilang tanpa jejak,


untuk sementara ini.


Begitulah hari demi hari berlalu, bulan terus berubah, beberapa tahun


terlewatkan. Kini, lemari kaca itu sudah seluruhnya penuh terisi. Piala milik


Dean, tentunya.


Edwin meniup dua belas buah lilin kecil yang membentuk formasi melingkar,


tertancap kokoh diatas kue mocca dengan berbagai hiasan estetik dari whipped


cream. Ini adalah kesekian kalinya bagi anak itu, meniup lilin-lilin di atas


kue ulang tahunnya, tanpa kehadiran seorang pun anggota keluarganya. Ibunya


sedang berada di Jerman untuk mengunjungi adik kembarnya yang dirawat di rumah


sakit sejak dua hari yang lalu. Ayahnya juga berada di luar negeri, Singapura


tepatnya, sibuk mengurus bisnisnya, atau entah apalah itu namanya. Sedangkan


kakaknya sibuk berpartisipasi dalam sebuah kegiatan penting yang tak mungkin


ditolak. Hari ini, Dean ikut lomba debat tingkat provinsi dalam rangka merayakan


bulan  bahasa bertepatan dengan hari sumpah

__ADS_1


pemuda. Tapi, tak apa-apa. Edwin sudah terbiasa. Keluarganya sendiri seperti


orang lain baginya. Tak peduli dan tak mengenal dirinya. Mereka sudah sibuk


dengan urusan masing-masing. Setidaknya, masih ada bi Nara di sini yang setia


menemaninya. Meski suasana rumah begitu sepi dan hening, tanpa suara manusia,


atau pun denting piano yang merdu.


Telepon rumah di sudut  ruang tamu


berdering begitu kerasnya. Bi Nara buru-buru mengangkat telepon itu, menjawab


panggilan, “Halo, selamat sore” ucapnya lirih.


Perhatian anak itu teralih. Tapi ia tak bisa mendengar percakapan


pengasuhnya dengan penelepon misterius itu. Sambil mencabut lilin-lilin kecil


yang sudah padam itu dari kue, ia terus memperhatikan bi Nara yang tiba-tiba


terdiam kaku. Tak lama setelah panggilan itu berakhir. Ia memutar tombol unik


dari telepon kuno itu sampai kurang lebih sebelas atau dua belas kali, memulai


panggilan baru lagi.


Edwin mengangkat kedua bahunya, meraih sebuah pisau plastik dari kotak


pembungkus kue ulang tahunnya. Dipotongnya kue itu menjadi lima bagian dengan


hati-hati, walau hasil potongannya tetap terlihat berantakan. Lalu, ia menaruh


dua buah piring porselen putih dengan hiasan mawar biru pada bagian pinggir


benda itu. Satu untuknya, dan satu lagi untuk bi Nara. Sisa kue yang akan


diberikan pada ayah, ibu, dan Dean akan disimpan di dalam kulkas.


Sambil sesekali melihat bi Nara yang masih sibuk di depan telepon rumah,


tangannya meraih sebuah garpu dan pisau makan. Rasanya ia sudah tak sabar untuk


menghabiskan seperlima bagian dari kue mocca itu.


Hari ini sama persis seperti hari-hari sebelumnya. Ia dibangunkan


pagi-pagi, diberi sarapan, dan segera mungkin harus bersiap-siap mengenakan


seragam SMP, kemeja putih dengan celana panjang biru tua, lengkap dengan dasi


dan almamater berlambang logo sekolahnya. Tapi sayang, dugaan terakhirnya


meleset sangat jauh. Bukan seragam, ia justru diberikan setelan pakaian hitam.


Seluruhnya hitam. Dari kemeja, celana, sampai sepatu.


Edwin bertambah heran saat bi Nara juga mengenakan gaun


hitam panjang sederhana, tanpa hiasan atau pun renda pemanis gaun. Rambutnya


tersanggul lebih rapi dari biasanya. Matanya terlihat sedikit bengkak, seperti


orang yang menghabiskan malamnya dengan menangis.


***


Peti berwarna putih bersih itu berbaring diantara hiasan rangkaian


bunga-bunga lily putih dan chrysanthemum yang beraroma khas. Dua bunga yang begitu lekat dengan perpisahan, lambang


dari kematian. Bunga-bunga itu menyiratkan simpati terhadap mereka, kerabat dan


keluarga yang ditinggal pergi orang terkasih. Melodi penuh duka itu mengiringi requiem


pagi ini.


Sepasang mata itu melebar saat ia berpapasan dengan sebuah pigura di antara


karangan bunga kecil. Rambut coklat tua yang terurai panjang, tatapan matanya


yang teduh, anting emas kecil menggantung di kedua telinganya. Wajah yang


begitu familiar, wajah yang sangat mirip dengannya. Wanita di dalam figura itu


adalah Serafina Wijaya, ibu dari dua anak, yang tak lain adalah Dean dan Edwin.


Anak itu berlari mendekati peti. Ia seolah tak percaya, wanita yang terbujur


kaku dalam kotak kayu itu adalah ibunya. Gaun pink pucat khas pengantin itu menutup seluruh tubuhnya yang


sebagian besar terkena luka bakar. Wajahnya tertutup kain kelambu putih tipis.


“Edwin,”  suara berat itu


memanggilnya, tangan pemuda itu menepuk-nepuk bahu adiknya yang mulai menangis


tersedu-sedu. “Win, sudah, win. Jangan nangis lagi” bujuknya sambil merangkul


Edwin, mencoba membawanya jauh-jauh dari peti jenazah ibu mereka agar tangisnya


berhenti. Mau tak mau, anak itu menurut, membiarkan dirinya dibawa pemuda itu.


Meski kenangan indah bersama ibunya yang terukir dalam


memori Edwin bisa dihitung dengan jari. Air matanya tetap memaksakan diri


keluar, mengalir membahasi kedua pipinya yang sedikit kemerahan. Hatinya


benar-benar peka dengan suasana. Ingin sekali rasanya ia berteriak,


memanggil-manggil wanita itu sambil mengguncang bahunya terus menerus sampai


matanya terbuka lebar dan mulai bergerak, merespon panggilan anak bungsunya itu.


Namun sayang, hal itu mustahil. Sangat mustahil. Wanita itu sudah tak bernyawa


lagi sejak kemarin. Beberapa jam sebelum bi Nara menerima panggilan masuk,


sebuah pemberitahuan penting bahwa pesawat yang ditumpangi wanita itu mengalami


kecelakaan tak lama setelah bertolak dari Jerman menuju ke Indonesia.


Seribu hari telah berlalu. Hari itu, bi Nara membantu Dean mengemas


sebagian barangnya dalam koper abu-abu besar itu. Pemuda itu mengenakan mantel


coklat tua yang cukup tebal. Keberangkatannya hari ini sudah direncanakan ayahnya


jauh-jauh hari.


“Win, kakak berangkat dulu,” Dean tersenyum tipis pada Edwin, satu-satunya


adik yang dimilikinya, yang juga akan dia tinggalkan dalam hitungan jam ini. “Kamu


jaga diri baik-baik di Indonesia, ya” pesannya sambil menepuk kedua bahu Edwin


bersamaan.


Edwin membalas senyuman kakaknya. Meski sebenarnya hatinya cemas dan sedih.


Ia takut kalau-kalau kecelakaan maut itu terulang kembali, memaksa dua


kakak-beradik ini berpisah untuk selama-lamanya, seperti yang terjadi dengan


ibu mereka sekitar tiga tahun lalu. “Kakak juga,” ucapnya singkat.


Langkahnya cukup terhenti pada bandara Soekarno-Hatta, menyaksikan


keberangkatan kakaknya yang hendak melanjutkan pendidikannya di New York,


Amerika Serikat.


Ya, setidaknya dia tak benar-benar sendiri. Masih ada bi


Nara. Bukan begitu?


Pemuda itu mencoba menghibur dirinya, meskipun kali ini cukup sulit. Karena


ia ditinggalkan orang nomor dua yang paling dekat denganya. Dua bersaudara ini


menjadi akrab lagi seperti dulu sejak ibunya meninggal dunia.


Edwin menghela nafasnya.

__ADS_1


Cepat atau lambat, ia harus menerima dengan lapang dada apa pun yang


terjadi dalam hidupnya.


__ADS_2