
Sylvia terus mengarahkan pandangannya ke luar kaca
jendela mobil yang tengah melaju sambil terus menyeruput soft drink-nya yang sudah hampir habis. Ia tak mau melewatkan
kesempatan mendapatkan sudut pandang berbeda saat memandangi jalanan kota
Jakarta, meski suasana kota yang hendak dinikmati olehnya terhalang lautan
kendaraan. Tapi, ia sudah cukup beruntung hari ini. Ditraktir makan siang,
diberi uang secara cuma-cuma, diperbolehkan duduk di kursi penumpang sebelah
pengemudi seolah-olah ia adalah tamu VIP.
Tangan lancang gadis itu membuka laci dashboard mobil pemuda yang rela
mengantarnya sampai ke ‘rumah’. Kepalanya dimiringkan sedikit agar rentetan
huruf di atas sekumpulan kertas HVS yang terjilid rapi itu bisa terbaca jelas.
Edwin
Pramana Wijaya.
Meski ia tak memiliki ijazah SMA, SMP, atau bahkan SD, ia bisa membaca dengan baik. Hal itu yang sangat membantunya untuk mengetahui nama pemuda naif di sebelahnya, tanpa harus bertanya-tanya.
***
“Gue
biasanya ada di gang tikus yang waktu itu, pas mobil lo lindes paku, tapi itu
kalo malam, ya! Kalo pas siang tuh, gue suka keliling-keliling. Jadi, kalo
emang lo punya rencana mau ketemu gue pas masih siang, kasih tau gue sekarang.
Gue nggak punya handphone soalnya.”
Mungkin tindakan Sylvia untuk menyampaikan pesan lisan
itu bukanlah hal buruk. Sebab, sudah genap dua minggu dan lima hari
berturut-turut Edwin mentraktirnya makan, lalu membawanya ke tempat favoritnya,
taman Cattleya dengan mobil sedannya. Hidupnya benar-benar terasa nikmat tanpa
harus bersusah payah meneteskan keringat hasil kerja keras. Hanya perlu
memanfaatkan situasi dan pemuda naif yang tak segan-segan mengeluarkan uang
bila diminta. Siapa yang tak mau melewatkan peluang besar macam itu? Pastinya semua
orang, tak terkecuali Sylvia.
Hari itu mentari siang memancarkan terik cahayanya. Di
bangku taman yang berlindung di bawah bayang-bayang teduh pohon besar, kedua
insan itu duduk bersebelahan, seolah-olah mereka sudah lama berteman akrab.
“Lo kenapa, sih? Kayaknya demen banget ngajak gue ke
sini. Terus, nanya-nanya soal hidup gue, penting banget gitu?”
“Ya..., itu buat studi kasus soalnya. Buat skripsi, tugas
akhir kuliah, salah satu syarat buat lulus,” jelasnya sambil terus menggerakkan
sepuluh jarinya menekan tombol-tombol bertuliskan huruf itu.
Sylvia bersandar pada tangannya yang terlipat di belakang
kepala. Sebelah kakinya yang tak terangkat diayun-ayunkan.
Pertanyaan yang dilontarkan Edwin seputar hidupnya memang
terkadang sukses membuat hatinya merasa sedikit risih, seolah-olah pemuda itu
memanfaatkan kedekatan instan mereka untuk menggali cerita kehidupan yang
terpendam di balik bayang-bayang deretan gedung pencakar langit kota Jakarta.
Naluri gadis itu memang cenderung waspada dan seringkali
memerintahkan otaknya berprasangka buruk. Tapi, kali ini, itu tak terjadi.
Aroma kebohongan di balik kebaikan tak tercium oleh Sylvia. Tidak sama sekali.
Dirinya sudah berulang kali menatap Edwin dengan seksama, mengamati
gerak-geriknya. Justru yang diperolehnya adalah sebuah rasa yakin bahwa pemuda
ini memang memiliki hati sesuai dengan wajahnya. Naif.
“Oh, iya. Besok, aku mau lihat rumahmu boleh?” tanya
Edwin sambil menekan tombol power,
mematikan notebook miliknya.
“Terserah. Tapi, kalo lo emang mau kesana, jangan pake
baju rapi-rapi kek gini.”
Pemuda itu melirik kemeja biru yang dikenakannya lalu
mengerinyitkan dahi. “Kenapa emangnya?”
“Nanti kalo sampe kelihatan sama temen-temen gue, kelar
__ADS_1
nasib lo.”
“Bentar, bentar. Kelar gimana?”
Sylvia memutar kedua bola matanya bersamaan seraya
berdecak kesal.
“Ya, lo bakal jadi sasaran copet, bego!”
“Santai dong ngomongnya,” ucap Edwin pelan, nyaris tak
terdengar.
“Cuma saran, sih, ya. Lo coba tiru gaya-gaya orang biasa.
Gak usah pake jam tangan, gak usah bawa itu, tuh.” Sylvia menunjuk notebook yang duduk diam di pangkuan
kedua kaki mahasiswa jurusan sosiologi itu. “Usahain juga, pake jaket. Kulit lo
nggak ada gosong-gosongnya, keliatan jelas kalo lo anak rumahan. Liat-liat juga
saku lo, tau-tau dompet sama handphone lo udah pindah ke tangan orang aja.”
“Bukannya disana kalo siang-siang itu nggak ada orang,
ya?”
Sylvia merogoh saku celana jeans-nya yang lusuh demi mengeluarkan sebatang rokok agar genap
tiga kali sudah ia menghisap benda tabung berisi tembakau itu hari ini.
“Emang. Tapi, ya, gue kan bilang ‘cuma saran’. Buat
jaga-jaga aja. Kalo lo gak mau, sih, ya, resiko tanggung sendiri. Gue gak
tanggung jawab,” ucap gadis itu sambil memantik-mantik korek gas.
***
Noel kegirangan bukan main. Jari-jari kecilnya sukses
membawakan lagu Twinkle, Twintkle, Little
Star tanpa sedikit pun kesalahan, baik menekan tuts piano yang salah, atau
termangu sejenak mengingat-ingat not angka yang sudah dihafalkannya sebelum
bermain alat musik mewah milik Dean itu.
“Kak Edwin, kak Edwin!” anak berusia delapan tahun itu
berlari-lari kecil menghampiri Edwin yang baru saja menginjakkan kakinya di
lantai ruang tamu setelah menuruni tangga. “Noel bisa main piano!” serunya.
Noel yang tak henti-hentinya menampakkan senyuman lebar, menampakkan betapa
bahagia hatinya itu.
“Coba kak Edwin lihat!” Noel menarik pelan tangan Edwin,
bermaksud untuk membawanya mendekati grand
piano hitam yang berdiri gagah di sudut ruang tamu, dekat dengan lemari
kaca tempat piala-piala milik Dean berbaris rapi.
“Ka Edwin lihatnya nanti aja, ya? Soalnya, kakak mau
pergi ke luar dulu,” tolaknya halus.
Sepasang mata coklat itu berbinar-binar menatap Edwin
dari atas sampai bawah. Pemuda itu tak sedang mengenakan kemeja dalam balutan
almamater jingga cerah. Caranya berpakaian terlihat begitu kasual hari ini.
Hanya kaus berlengan pendek dan celana jeans hitam. Tangan kanannya menenteng
sebuah jaket berwarna abu misty polos.
“Kak Edwin mau jalan-jalan, ya? Ikut!”
Tangan pemuda itu mengelus kepala Noel, layaknya seorang
ayah menghibur putranya.
“Ikutnya kapan-kapan aja, ya. Kakak ada janji sama temen
kakak. Jadi, Noel nggak bisa ikut.”
Lekukan senyum di bibir Noel memudar detik itu juga.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas kalimat Edwin, anak itu
langsung berbalik, berjalan tertatih-tatih mendekati piano dengan wajah
tertunduk lesu.
Di satu sisi, hati Edwin merasa iba saat melihat Noel
yang haus akan perhatiannya. Sebab ia sudah terlanjur dipandang sebagai salah
satu bagian dari keluarga, seseorang dengan figur kakak bagi anak itu. Tapi, di
sisi lainnya, ia tak bisa mengingkari janjinya dengan Sylvia. Dan ia tak
mungkin bisa membiarkan ‘adik kecilnya’ kembali menginjakkan kaki di neraka
__ADS_1
yang telah merenggut masa kanak-kanak Noel yang seharusnya senantiasa dilimpahi
kebahagiaan, bukan rasa tertekan karena siksaan.
***
Sylvia mengendus-endus aroma khas cologne mahal yang berhamburan keluar dari serat-serat pakaian
Edwin layaknya seekor anjing yang mengenali tamu-tamu baru majikannya.
Tangannya menyambar sebatang Marlboro dari saku celana. Secepat kilat ia
menyalakan rokok lalu menyumbatkan benda itu di mulut Edwin.
Pemuda itu langsung batuk-batuk tak karuan. Cepat-cepat
ia mencabut rokok yang menyalip di antara kedua bibirnya.
“Syl... Aku kan... nggak tahan... asap rokok...,” ucapnya
sedikit terbata seraya menepuk-nepuk dadanya yang sesak tercekik nikotin.
Gadis berkaus biru tua itu menghela nafas, “Bau lo
nyengat banget kayak orang kantoran! Ya kali lo ke tempat gue baunya kayak gitu?!
Emang lo kira lo mau ngantor di sana?” ketusnya sambil melanjutkan langkah
kedua kakinya.
Setelah berbulan-bulan tak kemari, tepat pada hari ini,
Edwin kembali berada di tengah-tengah bangunan yang disebut ‘rumah’ oleh anak-anak
jalanan dan bos mereka yang berlagak sebagai kepala keluarga.
Interior rumah masih terlihat sama seperti saat terakhir
kali kedua kakinya berpijak di atas lantai tanpa ubin itu. Masih dilengkapi
dengan sekat yang menambah kesan sempit, dinding-dinding retak, dan tikar
sebagai tempat tidur. Hanya saja, kamar Sylvia terlihat seperti kapal pecah.
Berbagai macam barang hasil pungutannya berserakan di mana-mana.
“Aku bantu rapihin, ya.” Pemuda itu langsung menggerakkan
tangannya, memulangkan barang-barang itu kembali ke rumah kardus mereka di
sudut-sudut kamar.
Sylvia tertegun saat sebuah selendang batik lusuh yang
sudah sobek menampakkan diri dari bawah timbunan barang-barang yang berceceran
itu. Kesan garang di wajahnya perlahan-lahan hilang tergantikan oleh sendu.
“Win... yang itu... buang aja...”
“Ini?” tanyanya
sambil menangkat kain batik itu, memastikan apa yang otaknya pahami dari
kalimat Sylvia sudah benar.
Atmosfer ruangan terasa begitu berbeda saat Edwin kembali
menolehkan kepala, menatap gadis yang tak melontarkan jawaban sama sekali atas
pertanyaan darinya. Sylvia, gadis yang terkenal dengan keganasan melebihi
preman Tanah Abang itu menampakkan reaksi berbeda kali ini. Wajahnya terlihat
begitu melankolis, jauh dari kesan garang yang biasanya melekat.
Turut merasakan perubahan suasana itu, Edwin
perlahan-lahan mendekati gadis itu.
“Kamu kenapa, Syl?”
Sylvia langsung memukul mundur tangan pemuda yang mencoba
menepuk pelan bahunya. Meskipun kedua giginya terlihat beradu bagaikan sebuah
seringai harimau buas yang menunjukkan taring-taring tajam saat bertatap muka
dengan lawannya, sepasang mata coklatnya berkata jujur, tanpa sedikit pun
keraguan, membiarkan butiran-butiran air mata jatuh mengalir di pipi.
Tak bisa dipercaya! Edwin benar-benar ingin menampar
dirinya sendiri saat itu juga, memastikan apa yang ditangkap kedua retinanya
adalah hal nyata.
“Syl... kamu nangis...?”
Cepat-cepat Sylvia menghapus jejak aliran air mata di
pipinya sambil sedikit terisak.
“Ngapain liat-liat gue?” kata-kata yang harusnya
diucapkan dengan nada lantang dan aura ganas itu malah dipadukan dengan wajah
sendu dan suara pelan.
__ADS_1