Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 23 – Rays of Sunlight


__ADS_3

Jujur, Sylvia tak dapat menyembunyikan rasa bahagia dalam


hatinya. Hari ini terasa bagaikan mimpi indah dalam tidur. Ia sadar, Noel dan


dirinya adalah satu dari sekian banyak anak-anak jalanan dengan kedua tangan


yang mampu menggapai kembali uluran tangan orang tuanya. Dan itu membuat


seluruh kerinduan dalam hati Sylvia meluruh. Ia tak perlu lagi bergumam dalam


hati, megucapkan sebuah harapan kecil untuk bertemu ibunya. Sebab kini, ia


sudah bisa melihat senyum manis ibunya secara langsung, dengan kedua mata


kepalanya sendiri.


“Kamu nggak mau ikut masuk, Syl?” tanya Edwin sembari


menggandeng tangan Noel.


Sylvia menggeleng, “Gue mau di luar aja,” bisiknya pelan.


“Lho, kenapa?”


Gadis itu menelan ludahnya. Sejenak ia melirik ke arah


tiga orang lain yang turut menyertai mereka. Tak mungkin kalau ia berterus


terang bahwa ia akan pergi keluar untuk menghisap rokok di depan ibunya, bukan?


Sylvia perlahan menggerakkan jarinya seolah-olah tengah


memantik korek gas.


“Oh!” Edwin langsung paham. “Ada di dekat parkiran...”


Sebelum ibunya, Noel, atau siapa pun dari mereka sempat


membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan, Sylvia cepat-cepat berbalik dan


melangkah pergi.


***


Beruntung, Sylvia menemukan salah satu dari tiga ruangan


khusus untuk merokok yang masih bisa ia tempati. Sepasang sorot lensa coklat


empat pemuda di dalam ruangan itu seketika tertuju pada Sylvia.


Gadis itu sama sekali tak mempedulikan tatapan sekelompok


pemuda di deretan bangku sebelahnya. Apa mereka belum pernah melihat lawan


jenis mereka menyalipkan sebatang rokok di antara kedua bibirnya? Kalau belum,


mereka payah. Itu adalah hal yang umum jika menjadi anak jalanan. Merokok


menjadi salah satu awalan untuk disegani. Tak peduli orang itu laki-laki atau


perempuan seperti dirinya.


Tak lama setelah empat orang itu memadamkan puntung rokok


mereka dan beranjak pergi, Sylvia kedatangan tamu tak terduga.


Seorang pria jangkung dengan rambut dan mata coklat berdiri


tepat di depannya. Meskipun wajahnya benar-benar mirip Edwin, tak ada lekuk


senyum sedikit pun pada bibirnya. Rasanya, itu saja sudah cukup untuk


mengungkap pesan tersirat bahwa ia bukan orang ramah dan murah senyum seperti


adiknya. Ditambah lagi, dengan sorot matanya yang tegas. Pasti mudah bagi


pemuda itu untuk mengeluarkan kata-kata kasar yang tak bersahabat bagi telinga


si pendengar. Tapi, kalau memang iya, kenapa Noel bisa sempat-sempatnya


tersenyum, bahkan menggandeng tangan Dean meski dalam waktu singkat? Sebagai

__ADS_1


kakak, Sylvia mengenal adiknya lebih baik dari orang lain. Noel itu penakut!


Dengan kata lain, anak itu tak bisa akrab dengan pribadi yang kasar atau tegas.


Sekali pun orang itu adalah kakak kandungnya sendiri. Ya! Noel cenderung menunduk


dan mencoba untuk diam walau kedua tangannya gemetaran saat berbicara dengan


Sylvia. Padahal Sylvia masih menyisihkan sedikit kebaikan untuk anak itu.


Mungkin saja, kelakuan pemuda ini masih lebih baik dari mantan ‘bos’ mereka.


Tidak, pria itu bisa dibanding-bandingkan dengan siapa pun yang masih disenangi


orang sekitarnya. Dia iblis! Tak ada manusia yang menyukainya, kecuali sesama


iblis!


Tanpa salam singkat, Dean menekuk kedua kakinya dan duduk


di sudut ruangan. Sepasang matanya berpindah menatap Sylvia.


“Kakaknya Noel, hm?” ucapnya enteng seolah-olah mereka


berdua sudah saling kenal.


Sylvia sedikit mengangguk. Dengan beberapa tetes keringat


di sekitar wajahnya, ia mengambil rokoknya yang menyala dari antara apitan


kedua bibirnya. Rokok itu harus dipadamkannya segera. Edwin pernah bercerita


padanya bahwa semua orang di keluarganya benci perokok, terutama ayahnya.


Dean justru terkekeh pelan menyaksikan tingkah Sylvia.


“Edwin cerita sama kamu kalo keluarganya nggak suka rokok, ya?” pemuda itu


melipat tangannya. “Well, it’s a big no


for me. Soalnya dulu aku ngerokok. Malah, sempat minum-minum juga. Tapi,


udah stop pas semester empat, sih.”


Telinganya


tak salah dengar, kan?


Sylvia tak pernah menduga kalau salah satu dari dua


bersaudara ini menyimpan pembawaan yang cukup liar. Padahal, Dean terlihat


seperti pribadi yang tegas, kaku, dan patuh aturan. Berbeda dengan adiknya yang


memiliki kepribadian tercermin jelas dalam perilaku dan wajahnya. Seratus


persen! Pada saat pertama kali mata mereka bertemu, Sylvia sudah bisa menilai


bahwa Edwin itu naif, tulus, dan... sebentar... mungkin dia salah... Pemuda itu


juga sama seperti kakaknya! Dengan membiarkan Noel tinggal di rumahnya tanpa


izin ayahnya. Edwin sendiri juga melanggar peraturan walau caranya terkesan


halus!


“Dulu kamu satu geng sama Noel?”


“Iya,” jawabnya singkat sembari menganggukkan kepala.


“Ada berapa orang di sana?”


“Enam.”


“Masih ingat nama bos kalian?”


 “Bang Gondrong. Tapi


itu cuma nama panggilan, gak tau nama aslinya siapa sih...”


Sylvia menegakkan posisi duduknya. Entah mengapa, ia

__ADS_1


merasa seperti masuk ke dalam ruang interograsi polisi seperti di film-film


yang sekilas nampak oleh sepasang matanya di televisi layar tabung.


Belum sempat gadis itu melontarkan pertanyaan balik, Dean


terlihat sedikit mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata, “Jadi gini...” ia


berdehem pelan, “...Ibumu minta aku buat bantu dia gugat ‘mantan bos’ kamu. Ya,


jadi kita juga perlu kerja sama. Kamu cuma perlu bantu kasih informasi. Gampang


kan?”


Gadis itu mengangguk pelan.


“Masih suka ngobrol sama teman-teman satu geng, hm?”


“Masih. Tapi mereka udah pada kabur dari tempatnya si


Gondrong. Sekarang mereka tinggal di rumah Eji, temennya Denis yang sopir


angkot itu. Ya..., bukan temen satu geng aja sih. Ada anak-anak dari kelompok


lain juga.”


“Hafal alamatnya?”


“Ya, hafal.”


“Oke, bagus.” Dean mengeluarkan handphone miliknya dari saku, “Ketik aja di sini.”


***


“Tumben kamu ajak aku jalan-jalan. I mean... It’s not even Saturday night yet,” ucap Charlotte sembari


menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga.


“I


know,”Dean menarik rem


tangan lalu mematikan mesin mobilnya, “Ya... Rasanya nggak enak aja gitu kalo


pergi sendirian doang...” gumamnya pelan.


Tak butuh menunggu lama setelah pintu diketuk, seorang gadis


kecil berusia sekitar lima tahun membuka pintu untuk menyambut kedatangan


mereka.


“Siapa, ya?” tanyanya polos sambil memeluk bantal cushion dengan beberapa tambalan penutup


bagian-bagian sobek.


“Ih, Lala! Kan udah dibilang sama bang Eji, jangan


buka-buka pintu sembarangan!” protes seorang anak lelaki di belakangnya.


Sepasang lirikan matanya berpindah lurus menatap Dean, “Eh? Temennya Sylvia yang


waktu itu, ya?”


“Edwin? Bukan, ini kakaknya.”


Ryan mengangguk-angguk paham, “Abang cari Sylvia? Dia


udah ketemu orang tuanya. Terus, dia cuma mampir ke sini sama Noel, pas


Sabtu-Minggu aja.”


Lagi-lagi pemuda itu menjawab ‘bukan’.


“Kita nyari bang Eji. Dia ada di rumah?”


“Siang-siang gini bang Eji masih narik.”


“Kalo yang namanya Denis ada?”


Ryan menggeleng, “Bang Denis juga ikut sama dia. Jadi

__ADS_1


dua-duanya gak ada di rumah.” Anak itu tersenyum tipis sambil membuka pintu


lebih lebar lagi, “Abang tunggu aja, bentar lagi juga pada balik.”


__ADS_2