
“Masih belum diangkat teleponnya, nih, Bi,” ucap Dean sambil menempelkan
ponselnya di telinga.
Wanita paruh baya itu menatap Noel yang terlihat berusaha menahan kepalanya
agar tak menunduk ke bawah dan terus menerus mengedipkan kedua mata coklatnya.
“Dek Noel kalo udah ngantuk tidur aja, dek.”
Noel menggelengkan kepalanya yang terasa begitu berat, “Nggak mau, kak
Edwin belum pulang!” Ia bersikeras persis seperti Edwin berpegang teguh pada
tekadnya untuk menunggu kehadiran Noel yang tak jelas hawa keberadaannya di
taman Cattleya pada bulan Januari lalu.
Berkali-kali sudah Dean mengulang panggilan itu. Seluruh hasilnya berujung nihil.
Tanpa jawaban sama sekali.
“Si Edwin ada bilang nggak dia kemana, bi?” tanya pemuda itu sambil sibuk
menggerakkan jempol dengan gesit, mengetikkan sebuah pesan singkat di ponsel
miliknya.
“Katanya Mas Edwin sih, dia pergi ketemu temen-temennya...,” sepasang mata
bi Nara melirik jarum jam pendek yang sebentar lagi akan mengarah pada angka
sepuluh. “Tapi, dia nggak pernah pulang di atas jam delapan.”
Pemuda itu membiarkan kedua telapak tangannya menjadi topangan dahi. Dean
menghela nafas, seolah hal itu dapat membantunya membuang semua prasangka buruk
yang mulai bermunculan dalam pikirannya.
Sorot cahaya terang tiba-tiba menembus masuk melalui jendela, melunturkan
atmosfer cemas di ruang tamu.
“Itu mobilnya Mas Edwin!” suara bibi terdengar cukup keras sampai-sampai membuat
Noel yang hampir tertidur langsung mengangkat kepalanya.
***
“Nah, kayak gini kek tiap hari,” bang Gondrong tersenyum puas sambil
menyelipkan jemarinya di antara lembaran kertas yang dominan berwarna merah. Mulutnya
sibuk berkomat-kamit menyebutkan nominal uang di tangannya.
Pria itu menyisihkan selembar uang berwarna hijau, “Nih, ambil. Jatah lo.”
Sylvia tak berkomentar. Tanpa menunggu hitungan aba-aba, ia langsung
menerima lembaran uang bernilai dua puluh ribu rupiah itu.
“Besok lo harus bisa dapet lebih banyak dari ini, ngerti?”
“Ngerti, bang.”
“Ini baru namanya anak buah gue!” Senyum
di bibir pria itu melebar seiring dengan rasa puas dalam hatinya yang juga
semakin bertambah. Untuk sekejap saja, kesan garang tak hinggap pada wajah
kusam bang Gondrong. “Dah, sono, keluar lo.”
Sylvia berbalik dan memasuki ruangan bersekat yang disebut ‘kamar’ oleh
anak-anak jalanan sepertinya. Tak sedetik pun ia menoleh ke kanan. Gadis itu
langsung berbaring telentang dan memejamkan kedua matanya setelah seharian bersusah
payah melancarkan strateginya untuk merampas hasil orang lain.
***
“Yang biasa,” ucap Sylvia sembari menyerahkan selembar uang kertas berwarna
keemasan bertuliskan lima ribu rupiah.
Penjaga warung itu mengangguk. Ia sudah mengerti apa yang gadis itu
maksudkan. Dengan cepat, tiga batang Marlboro itu diraihnya.
Gadis itu melangkah mendekati deretan bangku kosong dekat
warung kecil, jempol Sylvia langsung memantik korek gas hijau, menyalakan
sebatang rokok yang hendak dihisap olehnya tanpa peduli pandangan orang-orang
sekitar yang tertuju pada dirinya. Dengan sengaja, ia menghembuskan asap rokok
itu sambil membalas tatapan mereka lebih sinis dua kali lipat sampai
orang-orang itu mengalihkan lirikan mata mereka.
Senin, Selasa, Rabu.
Sudah tiga hari berturut-turut dirinya termangu-mangu
sambil mengangkat sebelah kakinya. Ia berdebat dengan pertimbangan dalam
pikirannya sendiri. Otaknya dengan tegas berkata untuk menjual alat komunikasi
__ADS_1
bernilai jual tinggi itu di pasar gelap. Namun, hatinya dengan lembut berbisik
untuk mengembalikan ponsel itu. Sebab, sudah tiga hari berturut-turut juga handphone biru tua itu selalu dibanjiri
oleh panggilan dan SMS masuk dari kontak berlabel ‘kakak’. Gadis itu menarik
nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kepalanya terasa
berdenyut-denyut. Selama ia menjadi anak jalanan, belum pernah ia merasakan
dilema dalam hati saat hendak menjual barang-barang hasil curiannya.
Tanpa sengaja, lirikan matanya menangkap sebuah
pemandangan yang menarik perhatiannya.
Seorang pemuda dengan tinggi standar. Rambutnya pendek
dan berwarna kecoklatan. Baju yang dikenakannya terlihat rapi. Tangan kanannya
memegang sebuah kunci mobil.
Sylvia mengenal betul siapa sosok pemuda itu. Pemuda itu
tak lain adalah korban mangsanya tiga hari yang lalu saat hujan lembut
mengguyur kota Jakarta. Dunia ini yang terasa luas ini ternyata memang sempit.
Amat sempit. Dengan begitu mudahnya, ia dipertemukan kembali dengan pemuda yang
dijumpainya beberapa hari lalu.
Tanpa menunggu lama, gadis itu mematikan rokoknya dan
menyusul Edwin yang hendak melangkah mendekati kendaraan beroda empat miliknya.
Dengan lancang ia menarik tangan pemuda itu, memaksanya untuk diam membiarkan
Sylvia membawanya. Edwin masih terheran-heran menatap gadis di hadapannya dari
atas sampai bawah. Rambutnya hitam, kusam, dan tetap terlihat acak-acakan walau
sudah dikuncir. Sepasang tatapan matanya yang tajam menyiratkan bahwa ia adalah
pribadi yang tegas. Aroma khas tembakau tercium menyengat menusuk hidung dari
gadis berperawakan hampir serupa dengan lelaki. Pakaiannya tak lain sebuah kaus
merah dibalut jaket hitam dengan celana jeans sobek-sobek yang lusuh. Rasanya
memang ia pernah melihat orang ini sebelumnya. Namun, sekeras apapun Edwin
berusaha mengingat-ingat, seluruh ingatannya tentang gadis berkaus merah dengan
balutan jaket hitam lusuh itu terlalu samar.
“Nih, handphone lo! Gue balikin!” serunya lantang sambil
meletakkan ponsel biru tua itu kembali ke genggaman pemiliknya.
memang pernah ditemui oleh dirinya. Ia menjadi tokoh antagonis utama dalam kejadian
semalam yang membuat keringat dinginnya mengucur deras bersamaan dengan
turunnya rintik-rintik hujan di antara gelap. Peristiwa bersejarah yang takkan
pernah bisa lengser dari otaknya.
Sylvia tak banyak bicara. Setelah mengembalikan ponsel
bernilai jual tinggi itu, ia langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku
dan mulai berjalan meninggalkan si pemilik ponsel yang belum diberi kesempatan
untuk mengucapkan satu atau dua patah kata.
“Eh, bentar,” tangan Edwin langsung menarik lengan jaket
Sylvia agar sepasang kaki berbungkus sneakers lusuh milik gadis itu tak meneruskan langkahnya.
“Aduh, mau apa lagi, sih?! Gue kan udah balikin handphone lo!”
“Nama...,”
Belum sempat Edwin menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah
mendecak kesal sambil memutar bola matanya. Ia merasa dirinya masuk dalam
sebuah adegan klise pada telenovela berbau romansa di layar televisi tabung yang
sering ditontoni oleh ibu-ibu penjaga warung saat belum ada deretan pembeli.
“Sylvia,” jawabnya singkat sambil menarik tudung jaketnya,
meneduhkan sepasang mata yang menatap lawan bicaranya di bawah bayangan gelap.
Edwin terdiam beberapa detik. Nama itu samar-samar
melintas dalam ingatannya. Ya, ia pernah mendengar nama ‘Sylvia’ sebelumnya.
Meski pemilik nama manis itu tak sedikit, entah mengapa ia begitu yakin nama
yang pernah terdengar oleh telinganya adalah nama dari gadis tomboi yang
berdiri di hadapannya.
Pemuda itu tersenyum tipis, “Makasih udah balikin handphone aku, ya, Sylvia.”
***
Sylvia sibuk menggerakkan tangan hanya untuk
__ADS_1
mencolek-colek es batu di gelas soft
drink-nya dengan sedotan sambil membiarkan sebelah kakinya terangkat.
“Anu... Sylvia... Kakinya turunin, dong. Nggak enak
diliatin orang,” bisik pemuda itu pelan sambil melirik ke sekelilingnya.
Gadis itu menajamkan sorot alis matanya, “Dih, ini kaki
punya gue! Ya, suka-suka gue lah mau gue apain!”
Edwin sedikit tertunduk. Ia benar-benar tak bisa
berdebat. Bila diucapkan dengan lantang, sebuah kalimat saja bisa membungkam
mulutnya seperti direkatkan oleh lem berdaya rekat tinggi.
“Lo mau nanya apa sama gue?” tanya Sylvia sembari
menyandarkan punggungnya dan melipat tangan laksana seorang pemilik perusahaan
angkuh.
Setetes keringat pemuda itu mengalir. Dirinya harus bisa
mengeluarkan kata-kata yang tak menyinggung perasaan Sylvia. Gadis bersurai
hitam terikat itu mudah sekali meluapkan emosinya.
“Kamu... ehm... anak jalanan, kan? Eh, eh... nggak...
bukan gitu maksud aku... Kamu... itu...”
Sylvia terkekeh pelan dan menggeleng-gelengkan kepala sambil
merogoh saku jaket hitamnya. Lalu menyodorkan sebatang rokok pada Edwin, “Nih,
rokok. Biar lo nyantai dikit.”
“Aku nggak ngerokok,” Edwin tersenyum canggung.
Gadis itu menarik kembali uluran tangannya dan menyulut
rokok itu, “Sok jaim,” gumamnya pelan.
“Jadi gini... tadi... tadi aku mau nanya, kamu kenal sama
bang Gondrong?”
“Kenal. Itu atasan gue.” Sylvia menghembuskan asap rokok
yang mengepul dari mulutnya.
“Kamu tau nggak nama aslinya siapa?”
Kedua bahu berlapis jaket itu terangkat bersamaan.
“Emangnya kenapa, sih?” Sylvia menjentik-jentikkan
rokoknya, membiarkan abu-abu itu berjatuhan dan mendarat di asbak yang
disediakan meja-meja outdoor restoran
cepat saji.
Edwin menggaruk bagian belakang kepalanya, “Ya... Nggak
apa-apa, sih.”
Kapas-kapas kelabu kembali menampakkan eksistensi mereka
perlahan. Suara gemuruh turut mendampingi sekelompok awan muram itu.
“Eh, mau hujan. Aku antar kamu pulang, ya?”
Gadis berpenampilan awut-awutan itu menyeringai manis. Tidakkah
pemuda naif ini belajar dari pengalaman? Bukankah Sylvia pernah menodongnya
dengan cakar besi tajam yang bisa saja digunakan olehnya untuk merenggut sebuah
nyawa dan harta sekaligus? Ya, tapi peduli apa Sylvia pada betapa naifnya
Edwin? Bukankah justru kenaifan Edwin yang membuatnya terlihat sangat bodoh di
hadapan gadis licik itu membuat arti tersirat dari nama ‘Sylvia’ benar-benar
terkuak? Sebuah nama manis yang menyimpan karakteristik seorang gadis selalu
memanfaatkan peluang.
Sylvia membuang puntung rokoknya, membiarkan benda itu
dipadamkan oleh hembusan angin.
“Gue nggak bisa kena hajar habis-habisan kalo pulang
sekarang. Isi saku gue cuma korek gas sama rokok sebatang.”
Edwin merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan dua
lembar uang seratus ribu rupiah dari dompetnya. “Ini, buat kamu.”
Tangan Sylvia langsung menyambut uang yang diberikan
padanya secara cuma-cuma. “Oke, sip. Makasih!”
“Kamu galak-galak gitu juga bisa bilang makasih, ya?”
Wajah Sylvia langsung menghadap pemuda naif itu, “Banyak
__ADS_1
bacot lo!” umpatnya kesal sambil menggerakkan tangannya, mengambil gelas styrofoam berisi soft drink merah miliknya yang belum habis diminum.