Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 12 – After Rain


__ADS_3

“Masih belum diangkat teleponnya, nih, Bi,” ucap Dean sambil menempelkan


ponselnya di telinga.


Wanita paruh baya itu menatap Noel yang terlihat berusaha menahan kepalanya


agar tak menunduk ke bawah dan terus menerus mengedipkan kedua mata coklatnya.


“Dek Noel kalo udah ngantuk tidur aja, dek.”


Noel menggelengkan kepalanya yang terasa begitu berat, “Nggak mau, kak


Edwin belum pulang!” Ia bersikeras persis seperti Edwin berpegang teguh pada


tekadnya untuk menunggu kehadiran Noel yang tak jelas hawa keberadaannya di


taman Cattleya pada bulan Januari lalu.


Berkali-kali sudah Dean mengulang panggilan itu. Seluruh hasilnya berujung nihil.


Tanpa jawaban sama sekali.


“Si Edwin ada bilang nggak dia kemana, bi?” tanya pemuda itu sambil sibuk


menggerakkan jempol dengan gesit, mengetikkan sebuah pesan singkat di ponsel


miliknya.


“Katanya Mas Edwin sih, dia pergi ketemu temen-temennya...,” sepasang mata


bi Nara melirik jarum jam pendek yang sebentar lagi akan mengarah pada angka


sepuluh. “Tapi, dia nggak pernah pulang di atas jam delapan.”


Pemuda itu membiarkan kedua telapak tangannya menjadi topangan dahi. Dean


menghela nafas, seolah hal itu dapat membantunya membuang semua prasangka buruk


yang mulai bermunculan dalam pikirannya.


Sorot cahaya terang tiba-tiba menembus masuk melalui jendela, melunturkan


atmosfer cemas di ruang tamu.


“Itu mobilnya Mas Edwin!” suara bibi terdengar cukup keras sampai-sampai membuat


Noel yang hampir tertidur langsung mengangkat kepalanya.


***


“Nah, kayak gini kek tiap hari,” bang Gondrong tersenyum puas sambil


menyelipkan jemarinya di antara lembaran kertas yang dominan berwarna merah. Mulutnya


sibuk berkomat-kamit menyebutkan nominal uang di tangannya.


Pria itu menyisihkan selembar uang berwarna hijau, “Nih, ambil. Jatah lo.”


Sylvia tak berkomentar. Tanpa menunggu hitungan aba-aba, ia langsung


menerima lembaran uang bernilai dua puluh ribu rupiah itu.


“Besok lo harus bisa dapet lebih banyak dari ini, ngerti?”


“Ngerti, bang.”


“Ini baru namanya anak buah gue!”  Senyum


di bibir pria itu melebar seiring dengan rasa puas dalam hatinya yang juga


semakin bertambah. Untuk sekejap saja, kesan garang tak hinggap pada wajah


kusam bang Gondrong. “Dah, sono, keluar lo.”


Sylvia berbalik dan memasuki ruangan bersekat yang disebut ‘kamar’ oleh


anak-anak jalanan sepertinya. Tak sedetik pun ia menoleh ke kanan. Gadis itu


langsung berbaring telentang dan memejamkan kedua matanya setelah seharian bersusah


payah melancarkan strateginya untuk merampas hasil orang lain.


***


“Yang biasa,” ucap Sylvia sembari menyerahkan selembar uang kertas berwarna


keemasan bertuliskan lima ribu rupiah.


Penjaga warung itu mengangguk. Ia sudah mengerti apa yang gadis itu


maksudkan. Dengan cepat, tiga batang Marlboro itu diraihnya.


Gadis itu melangkah mendekati deretan bangku kosong dekat


warung kecil, jempol Sylvia langsung memantik korek gas hijau, menyalakan


sebatang rokok yang hendak dihisap olehnya tanpa peduli pandangan orang-orang


sekitar yang tertuju pada dirinya. Dengan sengaja, ia menghembuskan asap rokok


itu sambil membalas tatapan mereka lebih sinis dua kali lipat sampai


orang-orang itu mengalihkan lirikan mata mereka.


Senin, Selasa, Rabu.


Sudah tiga hari berturut-turut dirinya termangu-mangu


sambil mengangkat sebelah kakinya. Ia berdebat dengan pertimbangan dalam


pikirannya sendiri. Otaknya dengan tegas berkata untuk menjual alat komunikasi

__ADS_1


bernilai jual tinggi itu di pasar gelap. Namun, hatinya dengan lembut berbisik


untuk mengembalikan ponsel itu. Sebab, sudah tiga hari berturut-turut juga handphone biru tua itu selalu dibanjiri


oleh panggilan dan SMS masuk dari kontak berlabel ‘kakak’. Gadis itu menarik


nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kepalanya terasa


berdenyut-denyut. Selama ia menjadi anak jalanan, belum pernah ia merasakan


dilema dalam hati saat hendak menjual barang-barang hasil curiannya.


Tanpa sengaja, lirikan matanya menangkap sebuah


pemandangan yang menarik perhatiannya.


Seorang pemuda dengan tinggi standar. Rambutnya pendek


dan berwarna kecoklatan. Baju yang dikenakannya terlihat rapi. Tangan kanannya


memegang sebuah kunci mobil.


Sylvia mengenal betul siapa sosok pemuda itu. Pemuda itu


tak lain adalah korban mangsanya tiga hari yang lalu saat hujan lembut


mengguyur kota Jakarta. Dunia ini yang terasa luas ini ternyata memang sempit.


Amat sempit. Dengan begitu mudahnya, ia dipertemukan kembali dengan pemuda yang


dijumpainya beberapa hari lalu.


Tanpa menunggu lama, gadis itu mematikan rokoknya dan


menyusul Edwin yang hendak melangkah mendekati kendaraan beroda empat miliknya.


Dengan lancang ia menarik tangan pemuda itu, memaksanya untuk diam membiarkan


Sylvia membawanya. Edwin masih terheran-heran menatap gadis di hadapannya dari


atas sampai bawah. Rambutnya hitam, kusam, dan tetap terlihat acak-acakan walau


sudah dikuncir. Sepasang tatapan matanya yang tajam menyiratkan bahwa ia adalah


pribadi yang tegas. Aroma khas tembakau tercium menyengat menusuk hidung dari


gadis berperawakan hampir serupa dengan lelaki. Pakaiannya tak lain sebuah kaus


merah dibalut jaket hitam dengan celana jeans sobek-sobek yang lusuh. Rasanya


memang ia pernah melihat orang ini sebelumnya. Namun, sekeras apapun Edwin


berusaha mengingat-ingat, seluruh ingatannya tentang gadis berkaus merah dengan


balutan jaket hitam lusuh itu terlalu samar.


“Nih, handphone lo! Gue balikin!” serunya lantang sambil


meletakkan ponsel biru tua itu kembali ke genggaman pemiliknya.


memang pernah ditemui oleh dirinya. Ia menjadi tokoh antagonis utama dalam kejadian


semalam yang membuat keringat dinginnya mengucur deras bersamaan dengan


turunnya rintik-rintik hujan di antara gelap. Peristiwa bersejarah yang takkan


pernah bisa lengser dari otaknya.


Sylvia tak banyak bicara. Setelah mengembalikan ponsel


bernilai jual tinggi itu, ia langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku


dan mulai berjalan meninggalkan si pemilik ponsel yang belum diberi kesempatan


untuk mengucapkan satu atau dua patah kata.


“Eh, bentar,” tangan Edwin langsung menarik lengan jaket


Sylvia agar sepasang kaki berbungkus sneakers lusuh milik gadis itu tak meneruskan langkahnya.


“Aduh, mau apa lagi, sih?! Gue kan udah balikin handphone lo!”


“Nama...,”


Belum sempat Edwin menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah


mendecak kesal sambil memutar bola matanya. Ia merasa dirinya masuk dalam


sebuah adegan klise pada telenovela berbau romansa di layar televisi tabung yang


sering ditontoni oleh ibu-ibu penjaga warung saat belum ada deretan pembeli.


“Sylvia,” jawabnya singkat sambil menarik tudung jaketnya,


meneduhkan sepasang mata yang menatap lawan bicaranya di bawah bayangan gelap.


Edwin terdiam beberapa detik. Nama itu samar-samar


melintas dalam ingatannya. Ya, ia pernah mendengar nama ‘Sylvia’ sebelumnya.


Meski pemilik nama manis itu tak sedikit, entah mengapa ia begitu yakin nama


yang pernah terdengar oleh telinganya adalah nama dari gadis tomboi yang


berdiri di hadapannya.


Pemuda itu tersenyum tipis, “Makasih udah balikin handphone aku, ya, Sylvia.”


***


Sylvia sibuk menggerakkan tangan hanya untuk

__ADS_1


mencolek-colek es batu di gelas soft


drink-nya dengan sedotan sambil membiarkan sebelah kakinya terangkat.


“Anu... Sylvia... Kakinya turunin, dong. Nggak enak


diliatin orang,” bisik pemuda itu pelan sambil melirik ke sekelilingnya.


Gadis itu menajamkan sorot alis matanya, “Dih, ini kaki


punya gue! Ya, suka-suka gue lah mau gue apain!”


Edwin sedikit tertunduk. Ia benar-benar tak bisa


berdebat. Bila diucapkan dengan lantang, sebuah kalimat saja bisa membungkam


mulutnya seperti direkatkan oleh lem berdaya rekat tinggi.


“Lo mau nanya apa sama gue?” tanya Sylvia sembari


menyandarkan punggungnya dan melipat tangan laksana seorang pemilik perusahaan


angkuh.


Setetes keringat pemuda itu mengalir. Dirinya harus bisa


mengeluarkan kata-kata yang tak menyinggung perasaan Sylvia. Gadis bersurai


hitam terikat itu mudah sekali meluapkan emosinya.


“Kamu... ehm... anak jalanan, kan? Eh, eh... nggak...


bukan gitu maksud aku... Kamu... itu...”


Sylvia terkekeh pelan dan menggeleng-gelengkan kepala sambil


merogoh saku jaket hitamnya. Lalu menyodorkan sebatang rokok pada Edwin, “Nih,


rokok. Biar lo nyantai dikit.”


“Aku nggak ngerokok,” Edwin tersenyum canggung.


Gadis itu menarik kembali uluran tangannya dan menyulut


rokok itu, “Sok jaim,” gumamnya pelan.


“Jadi gini... tadi... tadi aku mau nanya, kamu kenal sama


bang Gondrong?”


“Kenal. Itu atasan gue.” Sylvia menghembuskan asap rokok


yang mengepul dari mulutnya.


“Kamu tau nggak nama aslinya siapa?”


Kedua bahu berlapis jaket itu terangkat bersamaan.


“Emangnya kenapa, sih?” Sylvia menjentik-jentikkan


rokoknya, membiarkan abu-abu itu berjatuhan dan mendarat di asbak yang


disediakan meja-meja outdoor restoran


cepat saji.


Edwin menggaruk bagian belakang kepalanya, “Ya... Nggak


apa-apa, sih.”


Kapas-kapas kelabu kembali menampakkan eksistensi mereka


perlahan. Suara gemuruh turut mendampingi sekelompok awan muram itu.


“Eh, mau hujan. Aku antar kamu pulang, ya?”


Gadis berpenampilan awut-awutan itu menyeringai manis. Tidakkah


pemuda naif ini belajar dari pengalaman? Bukankah Sylvia pernah menodongnya


dengan cakar besi tajam yang bisa saja digunakan olehnya untuk merenggut sebuah


nyawa dan harta sekaligus? Ya, tapi peduli apa Sylvia pada betapa naifnya


Edwin? Bukankah justru kenaifan Edwin yang membuatnya terlihat sangat bodoh di


hadapan gadis licik itu membuat arti tersirat dari nama ‘Sylvia’ benar-benar


terkuak? Sebuah nama manis yang menyimpan karakteristik seorang gadis selalu


memanfaatkan peluang.


Sylvia membuang puntung rokoknya, membiarkan benda itu


dipadamkan oleh hembusan angin.


“Gue nggak bisa kena hajar habis-habisan kalo pulang


sekarang. Isi saku gue cuma korek gas sama rokok sebatang.”


Edwin merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan dua


lembar uang seratus ribu rupiah dari dompetnya. “Ini, buat kamu.”


Tangan Sylvia langsung menyambut uang yang diberikan


padanya secara cuma-cuma. “Oke, sip. Makasih!”


“Kamu galak-galak gitu juga bisa bilang makasih, ya?”


Wajah Sylvia langsung menghadap pemuda naif itu, “Banyak

__ADS_1


bacot lo!” umpatnya kesal sambil menggerakkan tangannya, mengambil gelas styrofoam berisi soft drink merah miliknya yang belum habis diminum.


 


__ADS_2