
Rembulan seolah-olah menghunus pedangnya ke langit, menyerukan sorak penuh bangga
atas kemenangannya melawan mentari senja yang telah gugur. Kelap-kelip para
bintang turut bersuka cita mengelilingi sang dewi malam. Kalau masa senja sudah
habis tergantikan malam, tak ada satu partikel pun oksigen yang bebas dari
kontaminasi asap rokok. Seperti biasanya, para anggota kelompok anak jalanan
yang dipimpin oleh bang Gondrong berkumpul di luar rumah mereka.
“DIEM LO!”
Suara lantang pemecah keheningan itu sontak membuat para pendengarnya
menoleh.
“Itu si bang Gondrong ngapa yak?” Ryan bergumam pelan. “Samperin, yuk!”
ajaknya sembari menepuk tangan Denis yang berhenti memetik-metik senar gitar
kecil miliknya.
Azri langsung menahan Ryan agar tak beranjak dari duduknya, “Eh, jangan,
Yan! Lagi ngamuk itu dia!”
Benar saja kata Azri. Tak berselang lama, pria yang berusia sekitar tiga
puluh tahun itu datang menghampiri keberadaan mereka berlima dengan wajah
gusar. Dengan kasar, ia menarik lengan gadis cilik berseragam putih merah khas
sekolah dasar di sampingnya, memaksa kedua kaki mungil anak itu untuk melangkah
maju dan berbaur dengan anak-anak lain. Kedua sorot mata bang Gondrong
berpindah menatap Denis, Azri, Sylvia, Ryan, dan Galang.
“Lo berlima! Denger, ya! Mulai sekarang, nih bocah tinggal bareng lo pada.
Lo kasih tau dia harus ngapain! Kalo gak ngerti-ngerti, gak mau nurut, hajar!
Ngerti?!”
“Ngerti, bang,” jawab kelimanya nyaris bersamaan.
Bang Gondrong menggangguk-angguk, “Bagus. Dah sono lo semua, cari duit
lagi!” ia langsung berbalik dan pergi.
Kelima anak itu mengakhiri waktu bersantai mereka. Seperti biasanya, mereka
kembali berpencar seusai makan malam untuk menjalankan kewajiban. Mencari uang
lalu menyerahkan seluruhnya untuk bang Gondrong yang hanya duduk bersilang kaki
di atas meja, memerintah para kaki tangannya.
Namun, Sylvia justru masih berdiam diri. Dua iris coklat gelap itu tak
kunjung mengindah dari gadis kecil yang menangis tersedu-sedu. Seragam putih
merah, rambut hitam pendek dengan jepit kupu-kupu ungu muda, kulit sawo matang,
serta tas punggung berwarna merah jambu. Walau tak serupa, bayang-bayang
dirinya sewaktu masih belia terwakili oleh penampilan anak sekolah dasar di
hadapannya. Mau masam seperti apa pun wajahnya, binar di mata gadis
berperawakan tomboi itu menyiratkan rasa iba. Pagar besi yang membentengi
hatinya seolah-olah rontok sebagian, memberi celah agar empati bisa menunjukkan
diri.
Sylvia beranjak dari duduknya, “Nama lo siapa?” tanyanya sambil menekuk
__ADS_1
kedua lututnya, berjongkok di hadapan anak itu.
“Kirana...” jawabnya lirih di antara isak tangis.
Tangan gadis berkuncir kuda itu sibuk merogoh saku celana jeans lusuhnya,
“Nih,” ia menyodorkan selembar sapu tangan kuning bergaris coklat pada Kirana.
“Lap dulu pipi lo.”
Meski penuh rasa takut, Kirana menggerakkan tangan mungilnya yang gemetar,
meraih benda itu dari tangan Sylvia.
“Lo ikut gue. Bisa ilang lo ntar kalo jalan-jalan sendiri. Oke?”
Kirana mengangguk pelan.
***
“Sial,” umpat Sylvia dalam hati.
Pos ronda di gang kecil dimana ia sering duduk menunggu kedatangan
mangsanya kini tak bisa dijadikan tempat persembunyiannya. Beberapa warga sudah
berdiam diri di bawah lindungan atap dan pohon-pohon rindang. Tangan mereka
sudah siap dengan kentungan dan senter, mengawasi keadaan sekitar agar tetap
aman. Tak hanya itu, portal gang juga sudah tertutup.
Ini buruk. Amat buruk.
Bagaimana caranya bisa mendapatkan uang banyak kalau bukan dengan memasang
ranjau paku dan menodong pengemudi mobil yang terkecoh taktik?
Sepasang mata coklat gelap Sylvia melebar.
Kenapa ini tak terpikirkan olehnya sejak tadi? Edwin! Ya, pemuda itu bisa
Seingatnya, Edwin pernah bilang kalau pada umumnya, ia tiba di rumah
sekitar pukul atau delapan. Kalau cuaca hujan, kemacetan jalan akan meningkat.
Otomatis, pemuda itu bisa menghabiskan lebih dari tiga jam duduk di kursi
kemudi, menunggu kendaraan lain bergerak maju. Jika rute perjalanannya
menggunakan jalan potong, ia akan tiba selambat-lambatnya jam sepuluh.
“Gue tau orang yang bisa kasih kita duit. Biar pulang-pulang kita gak
digebukin ama si Gondrong,” gadis itu langsung menarik tangan mungil Kirana.
Sayangnya, nasib baik tak berpihak pada mereka. Setibanya di sana, pagar
sudah terkunci rapat. Tirai-tirai tertutup tanpa ada lampu yang menyala,
kecuali lampu teras.
Hembusan angin malam menegur mereka agar cepat pulang. Sylvia masih diam
berdiri, menggenggam tangan anak kecil yang baru saja dikenalnya. Gadis itu tak
mengindahkan teguran angin. Walau hawa dingin menusuk tulang-tulang rusuknya,
ia tetap saja tak peduli. Sungguh keras kepala. Sebab, hanya terdapat dua
lembar uang lima ribu dan selembar uang sepuluh ribu. Mustahil kalau ia kembali
hanya dengan tiga lembar rupiah seperti itu. Seluruh kulitnya akan terhias oleh
luka-luka. Bukan hanya kulitnya, kulit gadis kecil tak berdosa di sampingnya
juga.
Kirana merintih sembari mengelus perutnya yang mulai terasa sakit.
__ADS_1
“Kak... aku lapar...”
Mau tak mau Sylvia harus kembali berjalan menyusuri lorong gang kecil dengan
deretan lampu jalan bercahaya remang-remang. Matanya meneliti setiap bangunan
yang ada. Semua rolling door sudah
tertutup menyentuh tanah. Warung-warung makan sudah tutup. Sampai akhirnya ia
menemukan cahaya terang-benderang dari minimarket yang memberinya sedikit
harapan. Nasib baik boleh tak berpihak. Selama ada keberuntungan, semuanya akan
berjalan baik-baik saja.
Sylvia cepat-cepat meraih dua bungkus roti dan sebotol air mineral dingin.
Tanpa banyak bicara, ia meletakkan tiga benda itu. Lalu mengeluarkan sejumlah
uang sesuai nominal yang tertera di mesin kasir.
Setelah menemukan tempat untuk duduk bersandar, Sylvia memberikan salah
satu dari dua bungkus roti cokelat itu pada Kirana.
“Nanti minumnya bagi dua aja,” ujarnya sambil membuka plastik roti
miliknya.
Kirana tak langsung melahap makanan pemberian gadis itu. Ia hanya tertunduk
dalam diam. Air mata mulai mengalir membasahi kedua pipi tembamnya. Tangisnya
pecah bersamaan dengan titik-titik hujan yang turun dari langit.
“Eh, eh, eh, kok lo malah nangis gitu, sih? Kan udah gue beliin makanan!”
“Aku mau pulang, kak! Aku nggak mau di sini! Aku mau disuapin makan sama
ayah!” suaranya terdengar parau, “Aku mau pulang!” serunya sekali lagi di
antara isak tangis.
Melihat tangis Kirana yang pecah seperti itu membuatnya teringat akan masa
lalu dimana Noel sebelum didikan keras menghilangkan sifat cengengnya. Masa-masa
saat adiknya, Noel, menangis dipukuli dan tak diberi makan oleh bang Gondrong
sebagai hukuman karena pulang tanpa uang. Saat itu, tak ada seorang pun
tergerak hatinya untuk membantu. Walau sifatnya benar-benar beringas, ia
tetaplah seorang manusia. Manusia biasa yang mempunyai empati dan hasrat untuk
megasihi. Ia rela menghabiskan tenaganya dua kali lipat agar jumlah uang yang
diterima meningkat. Meski terkadang uang yang diberikan tak bisa mengisi penuh
kedua saku Noel, setidaknya itu bisa meredam amarah bang Gondrong. Alhasil, hukuman
yang diterima oleh anak itu tak terlalu buruk. Hanya sebuah hardikan atau
seburuk-buruknya, sebuah tamparan.
Sylvia menepuk lembut kepala gadis cilik itu, “Besok, gue bakal bantu lo
nyari bapak lo. Nah, sekarang lo makan, terus tidur aja di sini. Gue jagain.
Oke?”
Kirana mengangguk-angguk. Senyuman manis terukir di bibirnya.
“Gitu, dong! Jangan nangis-nangis lagi lo!” Sylvia turut tersenyum tipis
sambil mengacak rambut hitam pendek Kirana.
__ADS_1