Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 20 – Overcast


__ADS_3

Genap dua hari sepuluh jam sudah ia menetap di rumah


Charlotte, tunangan Dean. Suasana rumah ini memang jauh lebih hidup dari


rumahnya. Jumlah penghuninya saja dua kali lipat lebih banyak daripada rumah


Edwin, yang hanya berjumlah tiga orang bila dirinya tak ikut dihitung. Tak


hanya itu, semua orang di rumah Charlotte memberikannya first impression yang baik, sekalipun mereka tahu persis bahwa Noel


pernah hidup jadi anak jalanan. Mulai Taylor Mitchell Handoyo, dan suaminya,


Adi Handoyo, yang memperlakukan anak itu layaknya putra sendiri. Charlotte,


orang yang tak lain memenuhi permintaan tunangannya agar Noel tinggal sementara


di sana. Begitu juga dengan Sekar, Ningrum, dan Raka, dua asisten rumah tangga


dan pengurus kebun di rumah dengan interior bernuansa modern itu. Bahkan, Mint,


kucing Scottish Fold berbulu putih bagai salju peliharaan pasangan itu turut


menyambutnya dengan mengeong manja lalu menggosokkan kepalanya pada betis Noel.


Sikap mereka tentu saja berbanding terbalik dengan Dean yang sempat


menginginkannya angkat kaki dari rumah, atau bi Nara yang awalnya ragu-ragu.


Namun, seiring jarum jam berdetik, keinginan Noel untuk


pulang semakin bergejolak. Sehangat apa pun sapaan berlalu di telingnya, sebaik


apa pun sikap mereka padanya, orang itu bukan salah satu dari Edwin, bi Nara,


atau Dean, tiga orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga. Noel tak berbeda


dengan anak kecil lainnya, yang mudah merajuk bila terpisahkan dari


keluarganya. Ia hanya berdiam diri dalam kamar, menghabiskan waktunya berbaring


di atas ranjang dengan rasa rindu dan sepasang mata yang terkadang


berkaca-kaca. Anak itu tak akan beranjak. Sekali pun ia disuguhkan berbagai


macam makanan favoritnya. Noel hanya akan menoleh jika Charlotte datang,


menyodorkan handphone dan berkata


bahwa Dean atau Edwin menelepon untuk berbicara padanya. Sedikit penjelasan


dari Dean kalau adiknya akan datang menjemput anak itu kembali setelah ayah


mereka bertolak kembali ke Singapura.


Sinar mentari pagi menembus masuk melalui celah tirai.


Dengan cahayanya yang hangat dan bersahabat, ia menepuk lembut permukaan kulit


Noel. Menyapa anak yang baru saja terbangun dari alam mimpi. Sepasang iris


coklat terang itu beralih menatap benda berbentuk lingkaran di pojok kamar.


Jarum pendek jam sudah mengarah pada angka sepuluh. Noel bergegas bangkit dari tempat


tidurnya. Ia terlambat bangun!


Tapi tak apa-apa. Tak akan ada yang menghajar, memaki,


atau menembakkan sebuah karet ke lengannya hanya karena bangun terlambat.


Lagipula, guru privatnya tak datang. Sebab, saat ini masa libur sekolah tengah


berlangsung. Jadi, tak ada kegiatan belajar-mengajar sampai Januari tahun depan.


Suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan.


“Eh, Noel sudah bangun. Ayo, sarapan dulu, dek,” ucap

__ADS_1


Sekar lirih sambil membawakan sepiring pancake, lengkap dengan madu dan sepotong mentega kecil yang menjadi penghias kue


itu.


Wanita berambut hitam pendek itu tersenyum tipis, “Sepi,


ya, dek? Bapak sama ibu tadi malam berangkat ke Amerika, mau ketemu saudara,


katanya. Terus, Mbak Charlotte lagi pergi ke dokter hewan. Kucingnya...”


“Kak Edwin sama kak Dean kesini nggak?” ia cepat-cepat


memotong penjelasan Sekar.


Sekar menggeleng.


Noel kembali menundukkan wajahnya. Kenapa dua hari


sepuluh jam terasa begitu lama baginya? Ia sudah tak sabar ingin kembali


menginjakkan kaki di lantai hitam-putih veranda yang bisa membuatnya merasa seperti sebuah pion kecil. Mendaratkan


jari-jarinya di atas tuts grand piano milik Dean, memainkan sebuah lagu simple yang pernah diajarkan oleh pemuda itu. Menuangkan pengalamannya dalam wujud


tulisan di buku kecil berjilid spiral miliknya. Atau, mungkin, yang paling ia


inginkan dari tiga hal tersebut. Merasakan kembali tinggal bersama


‘keluarganya’.


***


“Your


dad wants you to bring me there, too? Why all of sudden?”


Dari balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Noel


memfokuskan pandangan sebelah matanya pada Charlotte yang tengah berbicara


melalui telepon. Noel sama sekali tak tahu apa yang tengah gadis itu bicarakan,


Charlotte langsung menghampiri Ningrum dan Sekar. Lalu, mereka bertiga bergegas


menuju kamar gadis bersurai pirang itu dengan tergesa-gesa.


Noel juga tak tahu apa yang hendak mereka lakukan. Tapi,


nampaknya mereka akan benar-benar sibuk untuk sesaat.


Seumur hidup, belum pernah Noel berpikir untuk melarikan


diri dari tempat tinggalnya. Bahkan tidak sekali pun saat ia masih tinggal di


bawah atap yang sama dengan bang Gondrong dan lima orang kawannya. Namun, entah


mengapa kini ide itu mendadak melintas di benaknya. Ya! Dengan begitu, ia bisa


melenyapkan segala awan mendung yang bermukim di hatinya. Ia bisa menempuh


perjalanan kembali ke rumah sore ini juga!


Cepat-cepat Noel memasukkan beberapa barangnya yang


tercecer dan menyandang ransel miliknya.


Ia memang tak tahu banyak soal orang-orang di rumah ini. Tapi,


beruntung baginya. Berkat telinganya yang sering mendengar Ningrum kerap kali


menegur Raka yang ceroboh karena sering kali lelaki lupa mengunci pagar dan


pintu utama rumah.


***


“Wait...”Charlotte meraih ponselnya yang berdering pelan dari

__ADS_1


dalam tas. “Hello? Oh, ini Sekar, ya?


Kenapa?”


“Anu...


Mbak... itu... Noel...”


“Noel? Noel kenapa? Nggak mau makan? Kalo dia nggak mau


makan, coba kamu lihat list yang ada


di buku. Siapa tau dia memang nggak suka yang kamu masak.”


“Bukan,


Mbak! Noel nggak ada di kamarnya! Tadi, Ningrum sama Raka juga udah cari-cari


juga, tapi nggak ada! Noel hilang!”


Sepasang mata hijau-kebiruan itu melebar, “Kok... kok


bisa?! Hello? Sekar? Sekar!”


Detik itu juga panggilan berakhir.


Jantung Charlotte tiba-tiba berdegup kencang. Rasa gugup


memaksa gadis itu untuk menggigiti ujung kuku jari-jarinya, meski sudah


terlapisi oleh nail polish.


“Hey,


hey...”Dean


perlahan-lahan menjauhkan tangan halus Charlotte dari bibirnya. “What happen?” tanyanya.


“I...


I got... I got a call...”


Pemuda itu melepas seatbelt-nya, “Calm down,” ia menarik wajahnya


lebih dekat pada Charlotte, lalu mendaratkan sebuah kecupan pada pelipis gadis


bersurai pirang di sebelahnya. “What


happened?”


“Noel...


he... he’s gone!”


“What?”


“One


of my maid told me that she couldn’t find him anywhere! Even though the others


were searching for him too!”pekiknya.


Dean menyandarkan kepala bagian belakangnya pada punggung


kursi, ia menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Alright, alright....” pemuda itu


memijat keningnya sejenak, “We can look


for him after I drive my Dad back to the airport. Because, I’m afraid that’d


make Dad feel suspicious we’re keeping strangers as a part of ‘family member’”


Degup jantung Charlotte berangsur kembali normal.


Semua


akan baik-baik saja, bukan begitu?

__ADS_1


“Okay...


Okay, then... I got it.”


__ADS_2