
Genap dua hari sepuluh jam sudah ia menetap di rumah
Charlotte, tunangan Dean. Suasana rumah ini memang jauh lebih hidup dari
rumahnya. Jumlah penghuninya saja dua kali lipat lebih banyak daripada rumah
Edwin, yang hanya berjumlah tiga orang bila dirinya tak ikut dihitung. Tak
hanya itu, semua orang di rumah Charlotte memberikannya first impression yang baik, sekalipun mereka tahu persis bahwa Noel
pernah hidup jadi anak jalanan. Mulai Taylor Mitchell Handoyo, dan suaminya,
Adi Handoyo, yang memperlakukan anak itu layaknya putra sendiri. Charlotte,
orang yang tak lain memenuhi permintaan tunangannya agar Noel tinggal sementara
di sana. Begitu juga dengan Sekar, Ningrum, dan Raka, dua asisten rumah tangga
dan pengurus kebun di rumah dengan interior bernuansa modern itu. Bahkan, Mint,
kucing Scottish Fold berbulu putih bagai salju peliharaan pasangan itu turut
menyambutnya dengan mengeong manja lalu menggosokkan kepalanya pada betis Noel.
Sikap mereka tentu saja berbanding terbalik dengan Dean yang sempat
menginginkannya angkat kaki dari rumah, atau bi Nara yang awalnya ragu-ragu.
Namun, seiring jarum jam berdetik, keinginan Noel untuk
pulang semakin bergejolak. Sehangat apa pun sapaan berlalu di telingnya, sebaik
apa pun sikap mereka padanya, orang itu bukan salah satu dari Edwin, bi Nara,
atau Dean, tiga orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga. Noel tak berbeda
dengan anak kecil lainnya, yang mudah merajuk bila terpisahkan dari
keluarganya. Ia hanya berdiam diri dalam kamar, menghabiskan waktunya berbaring
di atas ranjang dengan rasa rindu dan sepasang mata yang terkadang
berkaca-kaca. Anak itu tak akan beranjak. Sekali pun ia disuguhkan berbagai
macam makanan favoritnya. Noel hanya akan menoleh jika Charlotte datang,
menyodorkan handphone dan berkata
bahwa Dean atau Edwin menelepon untuk berbicara padanya. Sedikit penjelasan
dari Dean kalau adiknya akan datang menjemput anak itu kembali setelah ayah
mereka bertolak kembali ke Singapura.
Sinar mentari pagi menembus masuk melalui celah tirai.
Dengan cahayanya yang hangat dan bersahabat, ia menepuk lembut permukaan kulit
Noel. Menyapa anak yang baru saja terbangun dari alam mimpi. Sepasang iris
coklat terang itu beralih menatap benda berbentuk lingkaran di pojok kamar.
Jarum pendek jam sudah mengarah pada angka sepuluh. Noel bergegas bangkit dari tempat
tidurnya. Ia terlambat bangun!
Tapi tak apa-apa. Tak akan ada yang menghajar, memaki,
atau menembakkan sebuah karet ke lengannya hanya karena bangun terlambat.
Lagipula, guru privatnya tak datang. Sebab, saat ini masa libur sekolah tengah
berlangsung. Jadi, tak ada kegiatan belajar-mengajar sampai Januari tahun depan.
Suara ketukan pintu terdengar memecah keheningan.
“Eh, Noel sudah bangun. Ayo, sarapan dulu, dek,” ucap
__ADS_1
Sekar lirih sambil membawakan sepiring pancake, lengkap dengan madu dan sepotong mentega kecil yang menjadi penghias kue
itu.
Wanita berambut hitam pendek itu tersenyum tipis, “Sepi,
ya, dek? Bapak sama ibu tadi malam berangkat ke Amerika, mau ketemu saudara,
katanya. Terus, Mbak Charlotte lagi pergi ke dokter hewan. Kucingnya...”
“Kak Edwin sama kak Dean kesini nggak?” ia cepat-cepat
memotong penjelasan Sekar.
Sekar menggeleng.
Noel kembali menundukkan wajahnya. Kenapa dua hari
sepuluh jam terasa begitu lama baginya? Ia sudah tak sabar ingin kembali
menginjakkan kaki di lantai hitam-putih veranda yang bisa membuatnya merasa seperti sebuah pion kecil. Mendaratkan
jari-jarinya di atas tuts grand piano milik Dean, memainkan sebuah lagu simple yang pernah diajarkan oleh pemuda itu. Menuangkan pengalamannya dalam wujud
tulisan di buku kecil berjilid spiral miliknya. Atau, mungkin, yang paling ia
inginkan dari tiga hal tersebut. Merasakan kembali tinggal bersama
‘keluarganya’.
***
“Your
dad wants you to bring me there, too? Why all of sudden?”
Dari balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka, Noel
memfokuskan pandangan sebelah matanya pada Charlotte yang tengah berbicara
melalui telepon. Noel sama sekali tak tahu apa yang tengah gadis itu bicarakan,
Charlotte langsung menghampiri Ningrum dan Sekar. Lalu, mereka bertiga bergegas
menuju kamar gadis bersurai pirang itu dengan tergesa-gesa.
Noel juga tak tahu apa yang hendak mereka lakukan. Tapi,
nampaknya mereka akan benar-benar sibuk untuk sesaat.
Seumur hidup, belum pernah Noel berpikir untuk melarikan
diri dari tempat tinggalnya. Bahkan tidak sekali pun saat ia masih tinggal di
bawah atap yang sama dengan bang Gondrong dan lima orang kawannya. Namun, entah
mengapa kini ide itu mendadak melintas di benaknya. Ya! Dengan begitu, ia bisa
melenyapkan segala awan mendung yang bermukim di hatinya. Ia bisa menempuh
perjalanan kembali ke rumah sore ini juga!
Cepat-cepat Noel memasukkan beberapa barangnya yang
tercecer dan menyandang ransel miliknya.
Ia memang tak tahu banyak soal orang-orang di rumah ini. Tapi,
beruntung baginya. Berkat telinganya yang sering mendengar Ningrum kerap kali
menegur Raka yang ceroboh karena sering kali lelaki lupa mengunci pagar dan
pintu utama rumah.
***
“Wait...”Charlotte meraih ponselnya yang berdering pelan dari
__ADS_1
dalam tas. “Hello? Oh, ini Sekar, ya?
Kenapa?”
“Anu...
Mbak... itu... Noel...”
“Noel? Noel kenapa? Nggak mau makan? Kalo dia nggak mau
makan, coba kamu lihat list yang ada
di buku. Siapa tau dia memang nggak suka yang kamu masak.”
“Bukan,
Mbak! Noel nggak ada di kamarnya! Tadi, Ningrum sama Raka juga udah cari-cari
juga, tapi nggak ada! Noel hilang!”
Sepasang mata hijau-kebiruan itu melebar, “Kok... kok
bisa?! Hello? Sekar? Sekar!”
Detik itu juga panggilan berakhir.
Jantung Charlotte tiba-tiba berdegup kencang. Rasa gugup
memaksa gadis itu untuk menggigiti ujung kuku jari-jarinya, meski sudah
terlapisi oleh nail polish.
“Hey,
hey...”Dean
perlahan-lahan menjauhkan tangan halus Charlotte dari bibirnya. “What happen?” tanyanya.
“I...
I got... I got a call...”
Pemuda itu melepas seatbelt-nya, “Calm down,” ia menarik wajahnya
lebih dekat pada Charlotte, lalu mendaratkan sebuah kecupan pada pelipis gadis
bersurai pirang di sebelahnya. “What
happened?”
“Noel...
he... he’s gone!”
“What?”
“One
of my maid told me that she couldn’t find him anywhere! Even though the others
were searching for him too!”pekiknya.
Dean menyandarkan kepala bagian belakangnya pada punggung
kursi, ia menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Alright, alright....” pemuda itu
memijat keningnya sejenak, “We can look
for him after I drive my Dad back to the airport. Because, I’m afraid that’d
make Dad feel suspicious we’re keeping strangers as a part of ‘family member’”
Degup jantung Charlotte berangsur kembali normal.
Semua
akan baik-baik saja, bukan begitu?
__ADS_1
“Okay...
Okay, then... I got it.”