Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 15 – Enlightenment


__ADS_3

Pekatnya gelap malam tak mampu terkalahkan oleh cahaya remang-remang lampu


kecil pos ronda. Angin sepoi berbisik pada Sylvia, menyuruhnya untuk menatap


jalanan beraspal tempatnya biasa beraksi di bawah pengawasan rembulan. Lensa


coklat tua itu tak kunjung beranjak. Kedua mata Sylvia terus memandangi


buku-buku jarinya yang memerah dan lecet. Gerahamnya menggertak. Tak peduli


berapa kali pun kedua tinju miliknya menghantam permukaan keras, hal itu tak


dapat menghentikan perasaannya kembali bercampur aduk tak karuan. Amarah dan


pilu. Semua itu muncul karena dirinya telah gagal. Ia tak mampu menjalankan


kewajibannya sebagai seorang kakak. Hatinya turut dipenuhi rasa sesal. Selama


enam tahun Noel besar di lingkungan yang tak layak bagi anak-anak seusianya, ia


selalu berlaku tegas, menghujaninya dengan gertakan dan seruan berkonotasi


kasar. Memang, perlakuan itu menyimpan sebuah alasan. Agar Noel terbiasa dengan


kejamnya hidup, tanpa harus terpuruk dalam keadaan dan mencari tangan yang


bersedia membelainya tiap kali tetes air matanya jatuh. Ya, itu semua terwujud.


Anak itu tumbuh menjadi sosok tegar yang tak mudah menangis dan tak pernah


melontarkan kata-kata keluhan. Sayang, itu semua berubah menjadi pedang bermata


dua bagi Sylvia. Sebab, kedua bibir mungil Noel tak mempertanyakan keberadaan


orang tua atau saudara-saudarinya. Perlakuan Sylvia membuat anak itu


mengenalnya sebagai kawan yang berlagak seolah dirinya adalah pempimpin


kelompok, bukan seorang kakak.


Sebuah suara sayup-sayup memanggilnya dari seberang.


“Syl? Sylvia?”


Edwin bergegas turun dari sedannya yang terparkir dalam keadaan mesin mati.


Lalu berjalan beberapa langkah mendekati pemilik nama itu. Sepasang mata


coklatnya memicing. Gradasi kemerahan tanda luka memar di buku-buku jari Sylvia


telah menarik perhatiannya. Pemuda itu mendekatkan jemarinya pada tangan gadis


yang duduk di bawah lindungan genteng asbes pos ronda.


“Ngapain sih?!” Sylvia cepat-cepat menarik mundur tangannya sebelum ujung


jari-jari Edwin mendarat di atas kulitnya.


Tatapan kedua insan itu saling beradu. Edwin terperangah. Sekarang bukan


lagi pertama kali baginya untuk melihat pemandangan asing seperti yang


ditangkap retinanya. Sylvia mendongakkan wajah yang sendu. Matanya terlihat


sedikit bengkak. Kedua pipi gadis itu basah. Bahkan, jejak aliran air mata


diatasnya masih terlihat jelas. Edwin menekuk kedua lututnya dan duduk tepat di


sebelah Sylvia. Ia sibuk merogoh saku celana jeans hitamnya.


“Nih,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah sapu tangan.


Sepasang iris gelap milik Sylvia melirik selembar kain kuning pastel


bergaris coklat di tangan Edwin. Lalu pandangannya berpindah pada pemuda yang


menyerahkan benda itu.


Edwin menunjuk-nunjuk pipinya sendiri.


“Kamu nangis, kan?”


Sorot kedua alis Sylvia menajam. Dengan kasar, ia meraih benda lembut


berbentuk bujur sangkar dari tangan pemiliknya.


“Nggak usah malu-malu gitu kalo nangis. Kamu tetep galak, kok,” senyuman


tipis terukir di bibirnya.


Detik itu juga, sebuah kepalan tinju menghantam lengan kiri Edwin.


“ADUH!” tangan pemuda itu mengelus-elus tempat di mana tinju Sylvia


mendarat. “Sakit tau, Syl!”


“Makanya gak usah ngocol lo!”


“Iya, iya, maaf,” ucap Edwin sembari mengelus kepala gadis yang tengah sibuk


menyeka sisa-sisa air matanya. “Oh, iya. Ngomong-ngomong, kok kamu masih di luar


malam-malam gini? Bukannya kalo sore, kamu udah harus pulang, ya?”


“Aturan baru. Si gondrong pengen dapet duit banyak. Jadi, ya... lo tau aja


sendiri. Kita-kita semua disuruh keluar malem juga. Terserah mau ngapain, yang

__ADS_1


penting pulang bawa duit lebih dari dua ratus ribu. Kalo nggak, siap-siap aja


lo bonyok sebadan.”


“Bentar, bentar... Gondrong... ya... Gondrong itu bos kamu kan?”


“Bukannya waktu itu gue udah pernah bilang sama lo?”


“Kalo iya... Kamu kenal sama Noel, dong?”


Sylvia terperangah. Kedua iris coklat gelap miliknya hampir terlihat bulat


penuh.


“Lo... Lo tau Noel? Lo kenal sama dia, Win?”


“Iya, waktu itu aku ketemu sama dia di taman...”


Gadis itu tak meluangkan satu atau dua detik pun untuk memberi kesempatan


bagi Edwin agar susunan kalimatnya sempurna terucapkan.


“Taman mana?!”


“...Cattleya.”


Sylvia cepat-cepat bangkit dari posisi duduk santainya dengan sebelah kaki


terangkat.


“Win, anterin gue ke sana sekarang!” serunya laksana seorang komandan


memerintah pasukannya.


Edwin melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Arah jarum


pendek berada di antara angka sepuluh dan sebelas.


“Kalo setau aku, jam segini tamannya udah tutup. Lagian ini tiga puluh


menit lagi jam sebelas. Aku nggak enak juga kalo pulang malem-malem banget,”


jelas pemuda itu, “Emangnya... kamu mau ngapain ke sana?”


“Gue mau nyari... adek... gue,” jawabnya dengan suara semakin memelan,


sampai dua kata terakhirnya nyaris tak terdengar oleh telinga Edwin.


Edwin mengerinyitkan dahinya. Kenapa harus mencari di tempat yang sama saat


dirinya pertama kali berjumpa dengan Noel kalau Sylvia sesungguhnya berniat


untuk mencari adiknya? Kecuali, kalau Noel dan adiknya itu adalah orang yang


sama.


Edwin terdiam sejenak. Pikirannya mulai membuat sedikit perbandingan antara


Noel dan Sylvia. Sifat mereka saling bertolak belakang. Noel mudah menuruti


perintah walau dirinya sendiri tak setuju. Sedangkan Sylvia? Gadis itu selalu


membawa jiwa pemberontaknya dalam hampir semua situasi. Wajah mereka memang tak


terlalu mirip untuk bisa dikategorikan sebagai kakak-adik, tak seperti dirinya


dengan kakaknya, Dean. Tapi, kalau diperhatikan berulang kali dengan ketelitian


lebih. Sylvia dan Noel sama-sama memiliki tahi lalat di pelipis kanan.


“Kamu... Noel... Noel itu adik kamu?”


Sylvia tak ingin lagi mengubur dan menyembunyikan fakta itu dalam-dalam.


Tanpa ragu, ia dengan tegas berkata, “Iya... Noel adek gue. Cuma... dia


ilang ntah kemana... gue nggak tau... gue udah cari kemana-mana, tapi nggak


ketemu...” gadis itu menghela nafas, “Makanya pas lo bilang lo pernah ketemu


dia di taman, gue mau coba cari di sana. Gue pengen ketemu lagi sama Noel. Lo


harus bantuin gue, Win! Asal lo tau...”


Hening sejenak berlalu di antara mereka sebelum akhirnya Sylvia membuka


mulut, menceritakan seluruh bagian dari masa lalunya yang kembali berdengung


membelenggu pikirannya akhir-akhir ini. Walau terisak-isak, gadis itu tetap


bersikeras melanjutkan cerita tentang kisah hidupnya sewaktu dulu, dan adiknya,


Noel, yang tak mengenalnya sebagai figur kakak.


Setelah mendengar semuanya, Edwin tertunduk diam. Seluruh kata dan kalimat


seolah-olah terpenjara dalam hati. Membebaskan Noel dari jerat siksa neraka di


bumi itu memang tindakan mulia. Tapi, di sisi lainnya, dirinya juga melakukan kesalahan


fatal. Secara tak langsung, ia hampir merenggut kewarasan Sylvia karena


perpisahan paksa yang terjadi antara gadis itu dan adik kandungnya.


“Syl... kamu nggak usah cari Noel lagi... dia ada di rumah aku...”


Belum sempat Edwin melanjutkan kalimatnya, Sylvia langsung menarik kerah

__ADS_1


kemeja biru lelaki di hadapannya. Kedua alis hitam gadis itu beradu. Ia


benar-benar naik pitam sampai tinju kanannya mengepal erat, hendak melayangkan


sebuah pukulan.


“Syl! Syl! Dengerin dulu! Aku nggak niat yang aneh-aneh, kok!” Cepat-cepat


Edwin menahan tangan Sylvia sebelum mendarat di wajahnya. “Waktu itu, aku cuma


kasihan liat dia kena pukul! Jadi aku bawa pulang ke rumah! Aku bener-bener


nggak tau kalo dia punya kakak! Noel sendiri nggak pernah bilang!”


Kepalan erat tinju itu perlahan melemah. Sylvia tak bisa menghakimi Edwin


sebagai orang bersalah. Sekuat apa pun otak gadis itu menuduhnya sebagai


terdakwa, tuduhan itu langsung terpatahkan. Edwin hanya ingin membantu


melepaskan Noel dari ‘rumah’ lamanya yang benar-benar tak layak huni. Dirinya


sendiri yang justru bersalah. Ia tak pernah memberitahu seluk beluk kehidupan


asli mereka sebagai kakak-adik. Sebab, Noel harus bisa memutuskan


ketergantungannya pada Sylvia atau pada siapa pun agar bisa bertahan hidup di


lingkungan kejam seperti itu. Karena itulah, Noel menganggap dirinya sebagai


anak sebatang kara.


Cengkraman yang menarik kerah baju Edwin dilepaskannya. Gadis itu mengambil


beberapa langkah mundur. Kekacauan sudah tak menguasai pikiran Sylvia, begitu


juga dengan rasa sedih dan amarah dalam hatinya. Semuanya perlahan memudar dan


menghilang sepenuhnya tanpa jejak.


***


Lensa coklat gelap itu terpaku mengarah ke luar jendela mobil. Walau


terhalang oleh pintu pagar dan kaca jendela, tatapannya tetap terfokus pada


seorang anak yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, Noel. Anak itu


benar-benar terawat. Rambut hitam kemerah-merahan miliknya terlihat pendek dan


tersisir rapi. Begitu juga bajunya. Tak ada satu pun noda terselip di antara


serat-serat kain katun kuning itu. Sesekali, anak itu terlihat berkomat-kamit,


melontarkan pertanyaan pada guru privat yang duduk berhadapan dengan dirinya sambil


menunjuk buku tulis. Revolusi besar-besaran memang terjadi pada Noel. Kemampuan


Noel untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar sudah baik. Ia tak lagi


harus diperintah agar mengucapkan satu atau dua kata. Dengan inisiatif sendiri,


mulutnya sudah bisa mengeluarkan susunan kalimat.


Hati Sylvia merasa sejuk melihat pemandangan itu. Sekilas, kesan garang di


wajah gadis itu luntur, tersapu oleh lengkungan manis di bibirnya. Ia merasakan


sebuah pagi yang berbeda. Dimana kepalanya terasa begitu  ringan. Seakan-akan, seluruh beban dalam


pikirannya melayang-layang dan lenyap.


“Yuk, turun,” Edwin mendekatkan ujung telunjuknya pada tombol pelepas seat belt di sebelah kiri kursi.


“Gak usah, Win.”


“Lho?” Edwin mengerinyitkan dahinya, “Kok gitu? Kan...”


“Dia lagi belajar, gue gak mau gangguin dia,” gadis itu menghela nafas


dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Lagian juga... Noel kan nggak tau


kalo dia adek gue.”


“Nah, kan, justru itu, makanya kamu harus ketemu sama dia. Biar dia tau,


Syl!”


Sylvia menggeleng. “Lebih bagus kalo dia gak tau. Gue gak mau Noel kenal


lagi sama orang kayak gue.”


“Tapi, kamu kan kakaknya! Dia...”


“Gue jauh lebih milih Noel gak kenal gue tapi hidupnya bagus kayak gitu


daripada dia kenal gue hidupnya ancur berantakan!” Sepasang iris coklat gelap


itu menatap Edwin penuh makna. “Gue mau Noel jadi orang sukses, nggak kayak


gue! Ijazah SD aja nggak punya! Makanya...” suaranya bergetar, “...gue seneng


banget pas lo bilang... kalo lo nyekolahin dia... gue...” gadis itu membiarkan


kalimatnya sejenak, “Makasih banyak ya, Win.” Senyum di bibir Sylvia semakin


mengembang, “Gue utang budi sama lo.”

__ADS_1


 


__ADS_2