
Pekatnya gelap malam tak mampu terkalahkan oleh cahaya remang-remang lampu
kecil pos ronda. Angin sepoi berbisik pada Sylvia, menyuruhnya untuk menatap
jalanan beraspal tempatnya biasa beraksi di bawah pengawasan rembulan. Lensa
coklat tua itu tak kunjung beranjak. Kedua mata Sylvia terus memandangi
buku-buku jarinya yang memerah dan lecet. Gerahamnya menggertak. Tak peduli
berapa kali pun kedua tinju miliknya menghantam permukaan keras, hal itu tak
dapat menghentikan perasaannya kembali bercampur aduk tak karuan. Amarah dan
pilu. Semua itu muncul karena dirinya telah gagal. Ia tak mampu menjalankan
kewajibannya sebagai seorang kakak. Hatinya turut dipenuhi rasa sesal. Selama
enam tahun Noel besar di lingkungan yang tak layak bagi anak-anak seusianya, ia
selalu berlaku tegas, menghujaninya dengan gertakan dan seruan berkonotasi
kasar. Memang, perlakuan itu menyimpan sebuah alasan. Agar Noel terbiasa dengan
kejamnya hidup, tanpa harus terpuruk dalam keadaan dan mencari tangan yang
bersedia membelainya tiap kali tetes air matanya jatuh. Ya, itu semua terwujud.
Anak itu tumbuh menjadi sosok tegar yang tak mudah menangis dan tak pernah
melontarkan kata-kata keluhan. Sayang, itu semua berubah menjadi pedang bermata
dua bagi Sylvia. Sebab, kedua bibir mungil Noel tak mempertanyakan keberadaan
orang tua atau saudara-saudarinya. Perlakuan Sylvia membuat anak itu
mengenalnya sebagai kawan yang berlagak seolah dirinya adalah pempimpin
kelompok, bukan seorang kakak.
Sebuah suara sayup-sayup memanggilnya dari seberang.
“Syl? Sylvia?”
Edwin bergegas turun dari sedannya yang terparkir dalam keadaan mesin mati.
Lalu berjalan beberapa langkah mendekati pemilik nama itu. Sepasang mata
coklatnya memicing. Gradasi kemerahan tanda luka memar di buku-buku jari Sylvia
telah menarik perhatiannya. Pemuda itu mendekatkan jemarinya pada tangan gadis
yang duduk di bawah lindungan genteng asbes pos ronda.
“Ngapain sih?!” Sylvia cepat-cepat menarik mundur tangannya sebelum ujung
jari-jari Edwin mendarat di atas kulitnya.
Tatapan kedua insan itu saling beradu. Edwin terperangah. Sekarang bukan
lagi pertama kali baginya untuk melihat pemandangan asing seperti yang
ditangkap retinanya. Sylvia mendongakkan wajah yang sendu. Matanya terlihat
sedikit bengkak. Kedua pipi gadis itu basah. Bahkan, jejak aliran air mata
diatasnya masih terlihat jelas. Edwin menekuk kedua lututnya dan duduk tepat di
sebelah Sylvia. Ia sibuk merogoh saku celana jeans hitamnya.
“Nih,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah sapu tangan.
Sepasang iris gelap milik Sylvia melirik selembar kain kuning pastel
bergaris coklat di tangan Edwin. Lalu pandangannya berpindah pada pemuda yang
menyerahkan benda itu.
Edwin menunjuk-nunjuk pipinya sendiri.
“Kamu nangis, kan?”
Sorot kedua alis Sylvia menajam. Dengan kasar, ia meraih benda lembut
berbentuk bujur sangkar dari tangan pemiliknya.
“Nggak usah malu-malu gitu kalo nangis. Kamu tetep galak, kok,” senyuman
tipis terukir di bibirnya.
Detik itu juga, sebuah kepalan tinju menghantam lengan kiri Edwin.
“ADUH!” tangan pemuda itu mengelus-elus tempat di mana tinju Sylvia
mendarat. “Sakit tau, Syl!”
“Makanya gak usah ngocol lo!”
“Iya, iya, maaf,” ucap Edwin sembari mengelus kepala gadis yang tengah sibuk
menyeka sisa-sisa air matanya. “Oh, iya. Ngomong-ngomong, kok kamu masih di luar
malam-malam gini? Bukannya kalo sore, kamu udah harus pulang, ya?”
“Aturan baru. Si gondrong pengen dapet duit banyak. Jadi, ya... lo tau aja
sendiri. Kita-kita semua disuruh keluar malem juga. Terserah mau ngapain, yang
__ADS_1
penting pulang bawa duit lebih dari dua ratus ribu. Kalo nggak, siap-siap aja
lo bonyok sebadan.”
“Bentar, bentar... Gondrong... ya... Gondrong itu bos kamu kan?”
“Bukannya waktu itu gue udah pernah bilang sama lo?”
“Kalo iya... Kamu kenal sama Noel, dong?”
Sylvia terperangah. Kedua iris coklat gelap miliknya hampir terlihat bulat
penuh.
“Lo... Lo tau Noel? Lo kenal sama dia, Win?”
“Iya, waktu itu aku ketemu sama dia di taman...”
Gadis itu tak meluangkan satu atau dua detik pun untuk memberi kesempatan
bagi Edwin agar susunan kalimatnya sempurna terucapkan.
“Taman mana?!”
“...Cattleya.”
Sylvia cepat-cepat bangkit dari posisi duduk santainya dengan sebelah kaki
terangkat.
“Win, anterin gue ke sana sekarang!” serunya laksana seorang komandan
memerintah pasukannya.
Edwin melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Arah jarum
pendek berada di antara angka sepuluh dan sebelas.
“Kalo setau aku, jam segini tamannya udah tutup. Lagian ini tiga puluh
menit lagi jam sebelas. Aku nggak enak juga kalo pulang malem-malem banget,”
jelas pemuda itu, “Emangnya... kamu mau ngapain ke sana?”
“Gue mau nyari... adek... gue,” jawabnya dengan suara semakin memelan,
sampai dua kata terakhirnya nyaris tak terdengar oleh telinga Edwin.
Edwin mengerinyitkan dahinya. Kenapa harus mencari di tempat yang sama saat
dirinya pertama kali berjumpa dengan Noel kalau Sylvia sesungguhnya berniat
untuk mencari adiknya? Kecuali, kalau Noel dan adiknya itu adalah orang yang
sama.
Edwin terdiam sejenak. Pikirannya mulai membuat sedikit perbandingan antara
Noel dan Sylvia. Sifat mereka saling bertolak belakang. Noel mudah menuruti
perintah walau dirinya sendiri tak setuju. Sedangkan Sylvia? Gadis itu selalu
membawa jiwa pemberontaknya dalam hampir semua situasi. Wajah mereka memang tak
terlalu mirip untuk bisa dikategorikan sebagai kakak-adik, tak seperti dirinya
dengan kakaknya, Dean. Tapi, kalau diperhatikan berulang kali dengan ketelitian
lebih. Sylvia dan Noel sama-sama memiliki tahi lalat di pelipis kanan.
“Kamu... Noel... Noel itu adik kamu?”
Sylvia tak ingin lagi mengubur dan menyembunyikan fakta itu dalam-dalam.
Tanpa ragu, ia dengan tegas berkata, “Iya... Noel adek gue. Cuma... dia
ilang ntah kemana... gue nggak tau... gue udah cari kemana-mana, tapi nggak
ketemu...” gadis itu menghela nafas, “Makanya pas lo bilang lo pernah ketemu
dia di taman, gue mau coba cari di sana. Gue pengen ketemu lagi sama Noel. Lo
harus bantuin gue, Win! Asal lo tau...”
Hening sejenak berlalu di antara mereka sebelum akhirnya Sylvia membuka
mulut, menceritakan seluruh bagian dari masa lalunya yang kembali berdengung
membelenggu pikirannya akhir-akhir ini. Walau terisak-isak, gadis itu tetap
bersikeras melanjutkan cerita tentang kisah hidupnya sewaktu dulu, dan adiknya,
Noel, yang tak mengenalnya sebagai figur kakak.
Setelah mendengar semuanya, Edwin tertunduk diam. Seluruh kata dan kalimat
seolah-olah terpenjara dalam hati. Membebaskan Noel dari jerat siksa neraka di
bumi itu memang tindakan mulia. Tapi, di sisi lainnya, dirinya juga melakukan kesalahan
fatal. Secara tak langsung, ia hampir merenggut kewarasan Sylvia karena
perpisahan paksa yang terjadi antara gadis itu dan adik kandungnya.
“Syl... kamu nggak usah cari Noel lagi... dia ada di rumah aku...”
Belum sempat Edwin melanjutkan kalimatnya, Sylvia langsung menarik kerah
__ADS_1
kemeja biru lelaki di hadapannya. Kedua alis hitam gadis itu beradu. Ia
benar-benar naik pitam sampai tinju kanannya mengepal erat, hendak melayangkan
sebuah pukulan.
“Syl! Syl! Dengerin dulu! Aku nggak niat yang aneh-aneh, kok!” Cepat-cepat
Edwin menahan tangan Sylvia sebelum mendarat di wajahnya. “Waktu itu, aku cuma
kasihan liat dia kena pukul! Jadi aku bawa pulang ke rumah! Aku bener-bener
nggak tau kalo dia punya kakak! Noel sendiri nggak pernah bilang!”
Kepalan erat tinju itu perlahan melemah. Sylvia tak bisa menghakimi Edwin
sebagai orang bersalah. Sekuat apa pun otak gadis itu menuduhnya sebagai
terdakwa, tuduhan itu langsung terpatahkan. Edwin hanya ingin membantu
melepaskan Noel dari ‘rumah’ lamanya yang benar-benar tak layak huni. Dirinya
sendiri yang justru bersalah. Ia tak pernah memberitahu seluk beluk kehidupan
asli mereka sebagai kakak-adik. Sebab, Noel harus bisa memutuskan
ketergantungannya pada Sylvia atau pada siapa pun agar bisa bertahan hidup di
lingkungan kejam seperti itu. Karena itulah, Noel menganggap dirinya sebagai
anak sebatang kara.
Cengkraman yang menarik kerah baju Edwin dilepaskannya. Gadis itu mengambil
beberapa langkah mundur. Kekacauan sudah tak menguasai pikiran Sylvia, begitu
juga dengan rasa sedih dan amarah dalam hatinya. Semuanya perlahan memudar dan
menghilang sepenuhnya tanpa jejak.
***
Lensa coklat gelap itu terpaku mengarah ke luar jendela mobil. Walau
terhalang oleh pintu pagar dan kaca jendela, tatapannya tetap terfokus pada
seorang anak yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri, Noel. Anak itu
benar-benar terawat. Rambut hitam kemerah-merahan miliknya terlihat pendek dan
tersisir rapi. Begitu juga bajunya. Tak ada satu pun noda terselip di antara
serat-serat kain katun kuning itu. Sesekali, anak itu terlihat berkomat-kamit,
melontarkan pertanyaan pada guru privat yang duduk berhadapan dengan dirinya sambil
menunjuk buku tulis. Revolusi besar-besaran memang terjadi pada Noel. Kemampuan
Noel untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar sudah baik. Ia tak lagi
harus diperintah agar mengucapkan satu atau dua kata. Dengan inisiatif sendiri,
mulutnya sudah bisa mengeluarkan susunan kalimat.
Hati Sylvia merasa sejuk melihat pemandangan itu. Sekilas, kesan garang di
wajah gadis itu luntur, tersapu oleh lengkungan manis di bibirnya. Ia merasakan
sebuah pagi yang berbeda. Dimana kepalanya terasa begitu ringan. Seakan-akan, seluruh beban dalam
pikirannya melayang-layang dan lenyap.
“Yuk, turun,” Edwin mendekatkan ujung telunjuknya pada tombol pelepas seat belt di sebelah kiri kursi.
“Gak usah, Win.”
“Lho?” Edwin mengerinyitkan dahinya, “Kok gitu? Kan...”
“Dia lagi belajar, gue gak mau gangguin dia,” gadis itu menghela nafas
dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, “Lagian juga... Noel kan nggak tau
kalo dia adek gue.”
“Nah, kan, justru itu, makanya kamu harus ketemu sama dia. Biar dia tau,
Syl!”
Sylvia menggeleng. “Lebih bagus kalo dia gak tau. Gue gak mau Noel kenal
lagi sama orang kayak gue.”
“Tapi, kamu kan kakaknya! Dia...”
“Gue jauh lebih milih Noel gak kenal gue tapi hidupnya bagus kayak gitu
daripada dia kenal gue hidupnya ancur berantakan!” Sepasang iris coklat gelap
itu menatap Edwin penuh makna. “Gue mau Noel jadi orang sukses, nggak kayak
gue! Ijazah SD aja nggak punya! Makanya...” suaranya bergetar, “...gue seneng
banget pas lo bilang... kalo lo nyekolahin dia... gue...” gadis itu membiarkan
kalimatnya sejenak, “Makasih banyak ya, Win.” Senyum di bibir Sylvia semakin
mengembang, “Gue utang budi sama lo.”
__ADS_1