
“Gimana, Syl?” tanya Eji sambil mengalihkan lirikannya
dari Ryan yang tengah terlelap di kursi belakang penumpang mikrolet.
Sylvia menggeleng-gelengkan kepala, “Gue gak yakin bisa
ketemu, Ji.”
Dua belas minggu telah berlalu begitu cepatnya. Pencarian
orang tua Ryan tak kunjung membuahkan hasil. Tidak sedikit pun, bahkan tidak
sama sekali. Memang, kemungkinan bagi anak itu bertemu dengan kedua orang
tuanya sangatlah kecil. Sebab, ingatan Ryan tentang ayah maupun ibunya terlalu
samar untuk bisa dibaca. Yang ia ingat hanyalah letak rumah kecilnya dulu, sebelum akhirnya
anak malang itu harus tinggal bersama pamannya di Jakarta dan dibiarkan
terlantar oleh adik ayahnya sendiri.
“Gue juga gak tau lagi mau ngapain.” Sylvia bangkit dari
duduknya, “Gue udah minta tolong ke temen gue, tapi tetep aja belom...”
Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Denis
tiba-tiba datang menghampiri bersama Galang, Azri, dan beberapa anak jalanan
lain. Sylvia memang tak tahu siapa nama anak-anak itu, tapi ia sering melihat
mereka di sekitar rumah. Gadis itu yakin mereka adalah kaki tangan dari kelompok
lain.
Lelaki berkaos hijau tua itu cepat-cepat turun dari kursi
kemudi mikrolet. Ia memegangi pundak kanan Denis, menahannya agar tak melangkah
lebih dekat lagi.
Denis mengangkat wajahnya yang dipenuhi bekas luka memar,
“Gue gak ada niat sama sekali buat ribut.” Sorot kedua alis hitam miliknya
menajam, “Gue bakal nolong lo semua buat bantu Ryan cari orang tuanya.”
Sylvia dan Eji menatap Denis dengan wajah tercengang.
Seolah-olah tak percaya bahwa pemuda berambut pirang cepak di hadapan mereka
benar-benar Denis, orang yang menentang keras keinginan Sylvia untuk menemukan
orang tua Ryan.
***
“Udah beberapa hari ini bang Gondrong makin gak karuan! Gini...
Lo semua tau, kan, gue ini anak emas bagi dia. Gue ini rada-rada kebal hukuman.
Separah-parahnya gue salah, dia gak pernah ngehajar gue habis-habisan. Palingan
gue cuma ditonjok, digampar, kalo gak dimaki-maki aja. Tapi, lo liat, nih!”
Denis menunjuk ke arah pergelangan tangan kirinya yang terbalut perban.
Bercak-bercak kemerahan terlihat menghiasi kain halus berpori itu. “Jadi,
sore-sore, nih. Kita pada ngumpul di teras. Gara-gara di tempat kita tuh sepi
banget, sisa tiga orang doang. Cuma ada gue, Azri, sama Galang. Gue akhirnya
manggil anak-anak kelompok lain juga buat gabung makan bareng. Nah, tiba-tiba
bang Gondrong keluar, bawa-bawa botol kaca!”
Galang sedikit tertunduk, “Mungkin aja, dia lagi mabok.
Jadi, dia mau sembarang mukul aja. Si Denis tiba-tiba ngehadang bang Gondrong
biar gak mukul-mukulin anak lain...”
“...Tapi malah dia yang kena. Sampe tangannya luka kayak
gitu kena ujung botol. Udah pecah ujungnya, jadi tajem,” timpal Azri. “Yang
lain juga kena, tapi nggak sampe sobek. Cuma kegores-gores doang. Kita sempet
ditonjokin. Untung semuanya bisa kabur.”
“Kita bertiga udah ‘slek’ sama bang Gondrong. Terus,
__ADS_1
anak-anak lain juga pada ikut kita, mereka nggak mau pulang ke sana lagi. Takut
bos mereka kayak gitu juga. Makanya kita semua ke sini, mau saling bantu, cari
orang tua masing-masing,” jelas Galang.
Denis menatap Sylvia yang berada tepat di sebelah Eji.
Pemuda itu mengulurkan tangannya, “Sorry, ya. Gue sempet nentang niat lo abis-abisan. Tapi, sekarang gue ngerti. Selama
ini lo...”
Sylvia langsung menyambut uluran tangan Denis, dan
meremasnya seolah-olah hendak adu panco. Ia tersenyum tipis.
“Santai. Sesama temen harus tetep solid.”
Pemuda berambut pirang cepak itu turut mengembangkan
sebuah senyuman pada bibirnya.
***
“Dek Noel, yuk makan dulu! Itu mas Edwin bawa pulang pudding.”
Noel tersenyum lebar. Ia langsung melepaskan pensil dalam
genggamannya, membiarkan benda itu bergolong jatuh dari atas coffee table ke karpet, dan bergegas ke
ruang makan. Sepasang mata coklat terangnya berbinar-binar saat melihat sebuah dessert kesukaannya tersaji di meja.
Bibi mencubit pelan pipi anak itu dengan gemas, “Giliran
dibilang ada makanan aja, larinya cepet banget,” godanya.
Noel terkekeh. Perkataan bi Nara memang benar. Anak itu
selalu bereaksi cepat kalau dipertemukan segala sesuatu yang berhubungan dengan
makanan. Ia memang memiliki nafsu makan tinggi, melebihi tiga orang lainnya di
rumah ini. Walau badannya yang paling kurus dan kecil.
Tak seperti biasanya pada Sabtu siang, mobil silver milik
Dean terparkir di depan pintu garasi. Sebuah tanda bahwa pemuda itu baru saja pulang
ke rumah.
terhalang oleh dinding pembantas ruang makan dan ruang tamu. Dean terlihat
tengah asyik berbincang dengan adiknya, Edwin. Entah apa yang mereka bicarakan,
wajah keduanya terlihat begitu serius. Tak lama, bibi datang menghampiri karena
Dean memanggilnya, mengajaknya ikut serta dalam percakapan mereka. Telinga Noel
tak mampu mendengar apa yang mereka bicarakan. Suara tiga orang itu terlalu
pelan baginya. Setelah percakapan mereka terlihat sudah selesai, Edwin menoleh
ke arah Noel.
“Noel,” panggil
Edwin. “Ayo, ke sini dulu,” ia mengayun-ayunkan tangan kanannya, memberi sebuah
bahasa tubuh untuk menyuruhnya datang.
Noel berjalan menghampiri pemuda itu. “Kenapa, kak?”
tanyanya.
Edwin sempat terdiam sejenak, melirik bi Nara dan Dean. Keraguan
terlihat jelas di wajahnya. Namun, sang kakak meyakinkannya dengan sebuah
anggukan pelan.
“Kamu sama bibi ke kamar, ya. Beres-beres...”
“Lho, kenapa? Kan kamar Noel udah dirapihin tadi pagi
sama bibi.”
“Nggak, bukan beresin kamar kamu...” ia menggaruk bagian
belakang kepalanya, “Kamu... beres-beresin barang kamu, masukkin ke tas.
Soalnya... kamu... nanti tinggal di rumah tunangannya kak Dean dulu... Tapi,
sebentar doang, kok! Nanti kakak jemput lagi!”
__ADS_1
***
Noel tak mengindahkan pemandangan malam kota Jakarta yang
terlihat indah dari sudut kursi belakang mobil. Ia hanya tertunduk, diam,
sambil memeluk ransel miliknya. Dalam hati, ia bertanya-tanya pada dirinya
sendiri. Apakah dia akan dibuang? Apakah Edwin dan bi Nara sudah tak mau
mengurusnya lagi? Apakah Dean kembali menginginkan dirinya pergi dari rumah
seperti dulu? Belum pernah Noel menyimpan pikiran semacam itu. Ini adalah kali
pertamanya ia merasakan sebuah ketakutan akan ditinggalkan oleh tiga orang yang
sudah dianggapnya sebagai keluarga.
“Ayo, Noel, turun,” ucap Dean setelah laju mobil berhenti
di depan pintu rumah Charlotte.
Anak itu melangkahkan kedua kakinya sambil memeluk ransel
yang seharusnya disandang pada punggung. Sepasang lensa coklat milik Noel tak
mengindahkan eksterior rumah mewah di hadapannya. Ia terus berjalan dengan
kepala tertunduk.
Beberapa detik setelah bel rumah berbunyi, seorang gadis
berambut pirang panjang yang tak lain adalah kekasih Dean, Charlotte, membukakan
pintu.
“Oh,
hi there!”sapa gadis itu dengan
hangat. Lirikan sepasang iris fluorit miliknya berpindah pada Noel. “Is he Noel?”
Dean mengangguk, “Yup.” Lalu ia menatap Noel dan membungkuk sedikit, “Noel, ini namanya kak Charlotte,”
ucapnya lirih.
Charlotte turut membungkuk dan mengulurkan tangan, “Nice to meet you, Noel.”
“Nice
to... meet... you too...” jawab
Noel sedikit terbata sambil menyalami tangan gadis berkebangsaan Amerika di hadapannya.
“Well...
He only know some basic English word, so talk in Indonesian instead, alright?”Dean tersenyum tipis, “My little brother said that Noel is feeling blue right now. Well, maybe
giving him his favorite food will help to make his mood better,” ia merogoh
sakunya. Lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil, “Here.”
“What’s
this?”tanya gadis itu.
“A
little note about him. My brother was also the one whom wrote that. I’m sure you’ll
need that.”
“Oh,
I get it.” Charlotte tersenyum
pada anak lelaki di samping Dean, “Noel, masuk, yuk!” ajaknya dengan logat bicaranya
yang khas. “You too, Dean.”
“No,
thanks, I’m in a hurry. I have to pick up my dad on the airport,” tolaknya.
“Alright
then, have a safe trip,” gadis
itu melambaikan tangannya sedikit.
Dean tersenyum. Ia menggerakkan ujung jari-jari tangan kirinya,
menyentuh pipi Charlotte, dan mendaratkan sebuah kecupan.
__ADS_1
“See
you.”