Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 19 – Betrayal


__ADS_3

“Gimana, Syl?” tanya Eji sambil mengalihkan lirikannya


dari Ryan yang tengah terlelap di kursi belakang penumpang mikrolet.


Sylvia menggeleng-gelengkan kepala, “Gue gak yakin bisa


ketemu, Ji.”


Dua belas minggu telah berlalu begitu cepatnya. Pencarian


orang tua Ryan tak kunjung membuahkan hasil. Tidak sedikit pun, bahkan tidak


sama sekali. Memang, kemungkinan bagi anak itu bertemu dengan kedua orang


tuanya sangatlah kecil. Sebab, ingatan Ryan tentang ayah maupun ibunya terlalu


samar untuk bisa dibaca. Yang ia ingat hanyalah  letak rumah kecilnya dulu, sebelum akhirnya


anak malang itu harus tinggal bersama pamannya di Jakarta dan dibiarkan


terlantar oleh adik ayahnya sendiri.


“Gue juga gak tau lagi mau ngapain.” Sylvia bangkit dari


duduknya, “Gue udah minta tolong ke temen gue, tapi tetep aja belom...”


Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Denis


tiba-tiba datang menghampiri bersama Galang, Azri, dan beberapa anak jalanan


lain. Sylvia memang tak tahu siapa nama anak-anak itu, tapi ia sering melihat


mereka di sekitar rumah. Gadis itu yakin mereka adalah kaki tangan dari kelompok


lain.


Lelaki berkaos hijau tua itu cepat-cepat turun dari kursi


kemudi mikrolet. Ia memegangi pundak kanan Denis, menahannya agar tak melangkah


lebih dekat lagi.


Denis mengangkat wajahnya yang dipenuhi bekas luka memar,


“Gue gak ada niat sama sekali buat ribut.” Sorot kedua alis hitam miliknya


menajam, “Gue bakal nolong lo semua buat bantu Ryan cari orang tuanya.”


Sylvia dan Eji menatap Denis dengan wajah tercengang.


Seolah-olah tak percaya bahwa pemuda berambut pirang cepak di hadapan mereka


benar-benar Denis, orang yang menentang keras keinginan Sylvia untuk menemukan


orang tua Ryan.


***


“Udah beberapa hari ini bang Gondrong makin gak karuan! Gini...


Lo semua tau, kan, gue ini anak emas bagi dia. Gue ini rada-rada kebal hukuman.


Separah-parahnya gue salah, dia gak pernah ngehajar gue habis-habisan. Palingan


gue cuma ditonjok, digampar, kalo gak dimaki-maki aja. Tapi, lo liat, nih!”


Denis menunjuk ke arah pergelangan tangan kirinya yang terbalut perban.


Bercak-bercak kemerahan terlihat menghiasi kain halus berpori itu. “Jadi,


sore-sore, nih. Kita pada ngumpul di teras. Gara-gara di tempat kita tuh sepi


banget, sisa tiga orang doang. Cuma ada gue, Azri, sama Galang. Gue akhirnya


manggil anak-anak kelompok lain juga buat gabung makan bareng. Nah, tiba-tiba


bang Gondrong keluar, bawa-bawa botol kaca!”


Galang sedikit tertunduk, “Mungkin aja, dia lagi mabok.


Jadi, dia mau sembarang mukul aja. Si Denis tiba-tiba ngehadang bang Gondrong


biar gak mukul-mukulin anak lain...”


“...Tapi malah dia yang kena. Sampe tangannya luka kayak


gitu kena ujung botol. Udah pecah ujungnya, jadi tajem,” timpal Azri. “Yang


lain juga kena, tapi nggak sampe sobek. Cuma kegores-gores doang. Kita sempet


ditonjokin. Untung semuanya bisa kabur.”


“Kita bertiga udah ‘slek’ sama bang Gondrong. Terus,

__ADS_1


anak-anak lain juga pada ikut kita, mereka nggak mau pulang ke sana lagi. Takut


bos mereka kayak gitu juga. Makanya kita semua ke sini, mau saling bantu, cari


orang tua masing-masing,” jelas Galang.


Denis menatap Sylvia yang berada tepat di sebelah Eji.


Pemuda itu mengulurkan tangannya, “Sorry, ya. Gue sempet nentang niat lo abis-abisan. Tapi, sekarang gue ngerti. Selama


ini lo...”


Sylvia langsung menyambut uluran tangan Denis, dan


meremasnya seolah-olah hendak adu panco. Ia tersenyum tipis.


“Santai. Sesama temen harus tetep solid.”


Pemuda berambut pirang cepak itu turut mengembangkan


sebuah senyuman pada bibirnya.


***


“Dek Noel, yuk makan dulu! Itu mas Edwin bawa pulang pudding.”


Noel tersenyum lebar. Ia langsung melepaskan pensil dalam


genggamannya, membiarkan benda itu bergolong jatuh dari atas coffee table ke karpet, dan bergegas ke


ruang makan. Sepasang mata coklat terangnya berbinar-binar saat melihat sebuah dessert kesukaannya tersaji di meja.


Bibi mencubit pelan pipi anak itu dengan gemas, “Giliran


dibilang ada makanan aja, larinya cepet banget,” godanya.


Noel terkekeh. Perkataan bi Nara memang benar. Anak itu


selalu bereaksi cepat kalau dipertemukan segala sesuatu yang berhubungan dengan


makanan. Ia memang memiliki nafsu makan tinggi, melebihi tiga orang lainnya di


rumah ini. Walau badannya yang paling kurus dan kecil.


Tak seperti biasanya pada Sabtu siang, mobil silver milik


Dean terparkir di depan pintu garasi. Sebuah tanda bahwa pemuda itu baru saja pulang


ke rumah.


terhalang oleh dinding pembantas ruang makan dan ruang tamu. Dean terlihat


tengah asyik berbincang dengan adiknya, Edwin. Entah apa yang mereka bicarakan,


wajah keduanya terlihat begitu serius. Tak lama, bibi datang menghampiri karena


Dean memanggilnya, mengajaknya ikut serta dalam percakapan mereka. Telinga Noel


tak mampu mendengar apa yang mereka bicarakan. Suara tiga orang itu terlalu


pelan baginya. Setelah percakapan mereka terlihat sudah selesai, Edwin menoleh


ke arah Noel.


 “Noel,” panggil


Edwin. “Ayo, ke sini dulu,” ia mengayun-ayunkan tangan kanannya, memberi sebuah


bahasa tubuh untuk menyuruhnya datang.


Noel berjalan menghampiri pemuda itu. “Kenapa, kak?”


tanyanya.


Edwin sempat terdiam sejenak, melirik bi Nara dan Dean. Keraguan


terlihat jelas di wajahnya. Namun, sang kakak meyakinkannya dengan sebuah


anggukan pelan.


“Kamu sama bibi ke kamar, ya. Beres-beres...”


“Lho, kenapa? Kan kamar Noel udah dirapihin tadi pagi


sama bibi.”


“Nggak, bukan beresin kamar kamu...” ia menggaruk bagian


belakang kepalanya, “Kamu... beres-beresin barang kamu, masukkin ke tas.


Soalnya... kamu... nanti tinggal di rumah tunangannya kak Dean dulu... Tapi,


sebentar doang, kok! Nanti kakak jemput lagi!”

__ADS_1


***


Noel tak mengindahkan pemandangan malam kota Jakarta yang


terlihat indah dari sudut kursi belakang mobil. Ia hanya tertunduk, diam,


sambil memeluk ransel miliknya. Dalam hati, ia bertanya-tanya pada dirinya


sendiri. Apakah dia akan dibuang? Apakah Edwin dan bi Nara sudah tak mau


mengurusnya lagi? Apakah Dean kembali menginginkan dirinya pergi dari rumah


seperti dulu? Belum pernah Noel menyimpan pikiran semacam itu. Ini adalah kali


pertamanya ia merasakan sebuah ketakutan akan ditinggalkan oleh tiga orang yang


sudah dianggapnya sebagai keluarga.


“Ayo, Noel, turun,” ucap Dean setelah laju mobil berhenti


di depan pintu rumah Charlotte.


Anak itu melangkahkan kedua kakinya sambil memeluk ransel


yang seharusnya disandang pada punggung. Sepasang lensa coklat milik Noel tak


mengindahkan eksterior rumah mewah di hadapannya. Ia terus berjalan dengan


kepala tertunduk.


Beberapa detik setelah bel rumah berbunyi, seorang gadis


berambut pirang panjang yang tak lain adalah kekasih Dean, Charlotte, membukakan


pintu.


“Oh,


hi there!”sapa gadis itu dengan


hangat. Lirikan sepasang iris fluorit miliknya berpindah pada Noel. “Is he Noel?”


Dean mengangguk, “Yup.” Lalu ia menatap Noel dan membungkuk sedikit, “Noel, ini namanya kak Charlotte,”


ucapnya lirih.


Charlotte turut membungkuk dan mengulurkan tangan, “Nice to meet you, Noel.”


“Nice


to... meet... you too...” jawab


Noel sedikit terbata sambil menyalami tangan gadis berkebangsaan Amerika di hadapannya.


“Well...


He only know some basic English word, so talk in Indonesian instead, alright?”Dean tersenyum tipis, “My little brother said that Noel is feeling blue right now. Well, maybe


giving him his favorite food will help to make his mood better,” ia merogoh


sakunya. Lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil, “Here.”


“What’s


this?”tanya gadis itu.


“A


little note about him. My brother was also the one whom wrote that. I’m sure you’ll


need that.”


“Oh,


I get it.” Charlotte tersenyum


pada anak lelaki di samping Dean, “Noel, masuk, yuk!” ajaknya dengan logat bicaranya


yang khas. “You too, Dean.”


“No,


thanks, I’m in a hurry. I have to pick up my dad on the airport,” tolaknya.


“Alright


then, have a safe trip,” gadis


itu melambaikan tangannya sedikit.


Dean tersenyum. Ia menggerakkan ujung jari-jari tangan kirinya,


menyentuh pipi Charlotte, dan mendaratkan sebuah kecupan.

__ADS_1


“See


you.”


__ADS_2