
Edwin perlahan menggeser tangan
Noel yang melingkar memeluk tubuhnya. Lalu membungkukkan badannya sedikit.
“Noel...” ia menepuk pelan bahu
anak itu, “Kamu ke sana dulu... Itu ada Mama kamu,” bisiknya tepat di telinga
kiri Noel.
Sejenak Noel menolehkan
kepalanya, menatap wanita bersurai hitam panjang yang menemukan dirinya
terduduk lesu di tepi jalan, menjaganya agar tetap aman sampai Edwin datang
untuk menjemputnya.
Bukankah wanita itu adalah ibu dari Sylvia, bukan dirinya?
Dua belas detik berlalu. Noel
tak kunjung melangkahkan kedua kakinya.
Edwin akhirnya berinisiatif
untuk menggandeng tangan Noel, menggiring anak itu mendekati Linda yang tengah
memeluk erat putri sulungnya dengan kucuran deras air mata haru di pipinya.
“Bu Linda...” ia mendorong
pelan tubuh kecil Noel untuk maju beberapa langkah. “Sebenarnya, Noel ini bukan
adik saya, tapi adiknya Sylvia, anak ibu juga...”
Wanita itu langsung bergerak mendekap
Noel sambil mencoba melekukkan sebuah senyuman pada bibirnya walau air matanya
terus mengalir deras.
“Noel... Noel... kamu ingat
ibu, Nak?” Linda menyentuh pipi Noel sambil menatapnya lekat-lekat.
Sepasang mata coklat terang itu
membalas tatapan Linda. Noel tak mengerti. Ini adalah kali pertamanya ia berjumpa
dengan wanita pemilik warung makan kecil itu. Tentu saja ia sama sekali tak
familiar dengan wajah di hadapannya. Tapi, kenapa sentuhan jari-jarinya terasa hangat?
Noel cepat-cepat melepaskan
pelukan wanita itu saat telinganya mendengar langkah kaki Edwin menjauh pergi.
“Kak Edwin! Tungguin Noel!”
serunya sambil menarik lengan pemuda itu.
Edwin berbalik menghadap Noel, “Noel
kenapa ikut kak Edwin?”
“Noel juga mau pulang!”
“Kamu pulangnya ikut mereka,”
ujarnya sembari menunjuk ke arah Linda dan Sylvia.
Noel menggeleng, “Nggak mau!
Noel mau pulang sama kak Edwin!”
“Noel... Itu Mama sama kakak
kamu, lho!”
“Noel nggak punya Mama!”
serunya lantang.
Edwin terbelalak mendengar
pernyataan anak itu. Sekejap ia mengalihkan pandangannya ke arah Linda yang tertunduk.
Tentu saja rasa kecewa menyelimuti hati lembutnya. Ibu mana yang tak kecewa
mendengar anaknya berseru lantang bahwa ia tak punya ibu?
“Noel! Kamu nggak boleh ngomong
__ADS_1
kayak gitu!” tegurnya. “Ayo, minta maaf!”
Rupanya Noel bersikeras dengan
apa yang ada di dalam pikirannya, “Emang Noel nggak punya Mama! Sylvia juga
bukan kakak Noel! Kakaknya Noel itu kak Edwin!”
“Keluarga kamu itu mereka,
Noel. Bukan kak Edwin, kak Dean, atau bi Nara...” Edwin memutar tubuh mungil
Noel menghadap ke arah ibu dan kakaknya. Lalu, ia memperlihatkan wajah Noel
melalui kamera depan handphone miliknya. “Coba kamu lihat baik-baik, kamu mirip siapa? Mereka? Atau kak
Edwin?”
Noel menatap Edwin lekat-lekat.
Kulit pemuda itu nampak putih bersih tanpa setitik pun tahi lalat atau tanda
lahir lainnya, rambut dan matanya sama-sama berwarna coklat. Lirikan matanya
perlahan-lahan beralih pada Sylvia dan Linda. Keduanya memiliki banyak
persamaan dengan dirinya. Dari ujung helai rambut sampai kaki.
“Noel mirip mereka, kan?”
Anak itu terdiam sejenak. Lalu
akhirnya menganggukkan kepala.
Edwin tersenyum, “Itu artinya
mereka keluarga Noel.”
Noel kembali mengarahkan
tatapannya pada dua perempuan itu. Ia tercenung menyerap kalimat yang baru saja
dilontarkan Edwin. Selama ini, ia selalu berkpikir bahwa dirinya hanyalah
seorang anak sebatang kara. Anak yang hidup tanpa memiliki orang tua, saudara,
atau satu orang kerabat pun. Tapi, ternyata hal itu salah. Ia memiliki
Perlahan-lahan, Noel melepaskan
genggaman tangannya yang meremas lengan baju Edwin.
***
Hampir lima menit telah
berlalu. Namun, sepasang netra coklat pemuda itu tak kunjung mengindah. Sejak
tadi, Dean sibuk menatap sofa di hadapannya yang kosong, tak diduduki oleh
siapa pun. Bahkan, tak ada satu pun alat tulis, buku, maupun kertas bertebaran
menghiasi coffee table yang seharusnya
hanya ditempati oleh toples-toples kue kering dan cangkir teh. Suasana rumah
sunyi senyap. Tanpa suara derap kaki yang tergesa-gesa berlari dari atas
tangga. Grand piano di sudut ruang tamu juga diam membisu. Sebab, tak ada
jari-jari yang mendarat menekan barisan tuts penghasil nada-nada indah.
Kenapa rasanya rumah ini begitu berbeda tanpa kehadiran Noel?
Memang, Dean sempat mengutuk
anak itu dengan sumpah serapahnya agar cepat-cepat enyah dari pandangannya. Tapi,
tentu saja ia tak menginginkan itu lagi setelah tahu mimpi buruk macam apa yang
tersembunyi di balik wajah Noel yang polos. Sebaliknya, ia justru memperlakukan
Noel dengan baik. Seolah-olah anak berusia delapan tahun itu adalah adiknya
yang paling bungsu.
Dean menghela nafas dalam-dalam
sembari menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.
“Kak.”
Panggilan itu sontak membuatnya
__ADS_1
tersentak.
Edwin cepat-cepat menarik mundur tangan kanannya yang hendak mendarat pada
bahu Dean.
“Eh, kaget ya? Sorry...” ucap
Edwin lirih. “Ng... Edwin mau pergi dulu...”
“Kemana? Ketemu dosen? Atau jalan-jalan sama temen?”
Edwin menggeleng. “Mau ke rumahnya Noel. Kakak mau ikut?”
Dean mengalihkan pandangannya sejenak. Kenapa harus ditanyakan? Tentu saja ia
akan segera menganggukkan kepala dan berkata, “Iya.”
***
Walau sorotan terik sinar mentari siang menyilaukan pandangannya, Noel
tetap tak bergeming. Anak itu masih tetap berbaring menghadap jendela sembari
membenamkan wajah pada guling yang didekapnya.
Seharusnya, ia merasa senang bisa kembali merasakan hangat pelukan
orang-orang yang tak lain adalah keluarga aslinya. Tapi kenapa yang hatinya rasakan justru sebaliknya? Ia merasakan
rasa yang sama seperti saat dirinya tinggal sementara di rumah paman dan bibi
Charlotte.
Tanpa didahului ketukan lembut, suara derit pintu terbuka terdengar jelas
berlalu di telinga Noel, “Woi, keluar, gih. Ada yang nyariin lo.”
Tujuh detik berlalu. Anak itu tak kunjung menolehkan kepala atau
meliriknya.
“Kalo dia nggak mau keluar, nggak usah dipaksa, Syl.”
Itu suara Edwin!
Noel cepat-cepat berlari menghampiri Edwin.
Tentu saja tindakan Noel yang lebih memeluk dirinya ketimbang Sylvia, kakak
kandungnya sendiri, membuat Edwin hanya bisa menatap mereka berdua dengan
sedikit senyuman canggung di bibirnya.
Sylvia mengangguk maklum. Ia tak bisa menyalahkan siapa pun kecuali dirinya
dan keadaan. Kalau bukan karena kondisi mereka yang sebelumnya hidup sebagai
anak jalanan memaksa gadis itu untuk memperlakukan Noel dengan tegas agar tak
bergantung pada siapa pun, sudah bisa dipastikan anak itu mengenal Sylvia
sebagai kakaknya.
Tatapan Noel berangsur pindah.
Kedua lensa coklatnya tertuju pada Sylvia. Rambut gadis itu terlihat sudah
terkuncir rapi. Lengkap dengan blus hitam berlengan pendek dan jeans biru muda.
“Gak usah ngeliatin gue terus!
Cepetan ganti baju sana! Lo juga diajak jalan!” seru gadis itu sambil melipat
kedua tangannya.
Sekali pun nada bicaranya
terdengar lebih santai dari biasanya, tetap saja, semua kalimat yang terlontar
dari mulut Sylvia bagaikan sambaran petir di telinga Noel. Jika itu adalah
perintah, Noel langsung melaksanakannya dalam hitungan detik.
“Jangan galak-galak gitu, dong.
Nggak kasihan liat Noel takut sama kakaknya sendiri?” ledek Edwin.
“Bacot!” bentak Sylvia singkat
sambil berbalik meninggalkan pemuda itu.
__ADS_1