Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 22 – It’s Them


__ADS_3

Edwin perlahan menggeser tangan


Noel yang melingkar memeluk tubuhnya. Lalu membungkukkan badannya sedikit.


“Noel...” ia menepuk pelan bahu


anak itu, “Kamu ke sana dulu... Itu ada Mama kamu,” bisiknya tepat di telinga


kiri Noel.


Sejenak Noel menolehkan


kepalanya, menatap wanita bersurai hitam panjang yang menemukan dirinya


terduduk lesu di tepi jalan, menjaganya agar tetap aman sampai Edwin datang


untuk menjemputnya.


Bukankah wanita itu adalah ibu dari Sylvia, bukan dirinya?


Dua belas detik berlalu. Noel


tak kunjung melangkahkan kedua kakinya.


Edwin akhirnya berinisiatif


untuk menggandeng tangan Noel, menggiring anak itu mendekati Linda yang tengah


memeluk erat putri sulungnya dengan kucuran deras air mata haru di pipinya.


“Bu Linda...” ia mendorong


pelan tubuh kecil Noel untuk maju beberapa langkah. “Sebenarnya, Noel ini bukan


adik saya, tapi adiknya Sylvia, anak ibu juga...”


Wanita itu langsung bergerak mendekap


Noel sambil mencoba melekukkan sebuah senyuman pada bibirnya walau air matanya


terus mengalir deras.


“Noel... Noel... kamu ingat


ibu, Nak?” Linda menyentuh pipi Noel sambil menatapnya lekat-lekat.


Sepasang mata coklat terang itu


membalas tatapan Linda. Noel tak mengerti. Ini adalah kali pertamanya ia berjumpa


dengan wanita pemilik warung makan kecil itu. Tentu saja ia sama sekali tak


familiar dengan wajah di hadapannya. Tapi, kenapa sentuhan jari-jarinya terasa hangat?


Noel cepat-cepat melepaskan


pelukan wanita itu saat telinganya mendengar langkah kaki Edwin menjauh pergi.


“Kak Edwin! Tungguin Noel!”


serunya sambil menarik lengan pemuda itu.


Edwin berbalik menghadap Noel, “Noel


kenapa ikut kak Edwin?”


“Noel juga mau pulang!”


“Kamu pulangnya ikut mereka,”


ujarnya sembari menunjuk ke arah Linda dan Sylvia.


Noel menggeleng, “Nggak mau!


Noel mau pulang sama kak Edwin!”


“Noel... Itu Mama sama kakak


kamu, lho!”


“Noel nggak punya Mama!”


serunya lantang.


Edwin terbelalak mendengar


pernyataan anak itu. Sekejap ia mengalihkan pandangannya ke arah Linda yang tertunduk.


Tentu saja rasa kecewa menyelimuti hati lembutnya. Ibu mana yang tak kecewa


mendengar anaknya berseru lantang bahwa ia tak punya ibu?


“Noel! Kamu nggak boleh ngomong

__ADS_1


kayak gitu!” tegurnya. “Ayo, minta maaf!”


Rupanya Noel bersikeras dengan


apa yang ada di dalam pikirannya, “Emang Noel nggak punya Mama! Sylvia juga


bukan kakak Noel! Kakaknya Noel itu kak Edwin!”


“Keluarga kamu itu mereka,


Noel. Bukan kak Edwin, kak Dean, atau bi Nara...” Edwin memutar tubuh mungil


Noel menghadap ke arah ibu dan kakaknya. Lalu, ia memperlihatkan wajah Noel


melalui kamera depan handphone miliknya. “Coba kamu lihat baik-baik, kamu mirip siapa? Mereka? Atau kak


Edwin?”


Noel menatap Edwin lekat-lekat.


Kulit pemuda itu nampak putih bersih tanpa setitik pun tahi lalat atau tanda


lahir lainnya, rambut dan matanya sama-sama berwarna coklat. Lirikan matanya


perlahan-lahan beralih pada Sylvia dan Linda. Keduanya memiliki banyak


persamaan dengan dirinya. Dari ujung helai rambut sampai kaki.


“Noel mirip mereka, kan?”


Anak itu terdiam sejenak. Lalu


akhirnya menganggukkan kepala.


Edwin tersenyum, “Itu artinya


mereka keluarga Noel.”


Noel kembali mengarahkan


tatapannya pada dua perempuan itu. Ia tercenung menyerap kalimat yang baru saja


dilontarkan Edwin. Selama ini, ia selalu berkpikir bahwa dirinya hanyalah


seorang anak sebatang kara. Anak yang hidup tanpa memiliki orang tua, saudara,


atau satu orang kerabat pun. Tapi, ternyata hal itu salah. Ia memiliki


Perlahan-lahan, Noel melepaskan


genggaman tangannya yang meremas lengan baju Edwin.


***


Hampir lima menit telah


berlalu. Namun, sepasang netra coklat pemuda itu tak kunjung mengindah. Sejak


tadi, Dean sibuk menatap sofa di hadapannya yang kosong, tak diduduki oleh


siapa pun. Bahkan, tak ada satu pun alat tulis, buku, maupun kertas bertebaran


menghiasi coffee table yang seharusnya


hanya ditempati oleh toples-toples kue kering dan cangkir teh. Suasana rumah


sunyi senyap. Tanpa suara derap kaki yang tergesa-gesa berlari dari atas


tangga. Grand piano di sudut ruang tamu juga diam membisu. Sebab, tak ada


jari-jari yang mendarat menekan barisan tuts penghasil nada-nada indah.


Kenapa rasanya rumah ini begitu berbeda tanpa kehadiran Noel?


Memang, Dean sempat mengutuk


anak itu dengan sumpah serapahnya agar cepat-cepat enyah dari pandangannya. Tapi,


tentu saja ia tak menginginkan itu lagi setelah tahu mimpi buruk macam apa yang


tersembunyi di balik wajah Noel yang polos. Sebaliknya, ia justru memperlakukan


Noel dengan baik. Seolah-olah anak berusia delapan tahun itu adalah adiknya


yang paling bungsu.


Dean menghela nafas dalam-dalam


sembari menyandarkan kepalanya pada punggung sofa.


“Kak.”


Panggilan itu sontak membuatnya

__ADS_1


tersentak.


Edwin cepat-cepat menarik mundur tangan kanannya yang hendak mendarat pada


bahu Dean.


“Eh, kaget ya? Sorry...” ucap


Edwin lirih. “Ng... Edwin mau pergi dulu...”


“Kemana? Ketemu dosen? Atau jalan-jalan sama temen?”


Edwin menggeleng. “Mau ke rumahnya Noel. Kakak mau ikut?”


Dean mengalihkan pandangannya sejenak. Kenapa harus ditanyakan? Tentu saja ia


akan segera menganggukkan kepala dan berkata, “Iya.”


***


Walau sorotan terik sinar mentari siang menyilaukan pandangannya, Noel


tetap tak bergeming. Anak itu masih tetap berbaring menghadap jendela sembari


membenamkan wajah pada guling yang didekapnya.


Seharusnya, ia merasa senang bisa kembali merasakan hangat pelukan


orang-orang yang tak lain adalah keluarga aslinya. Tapi kenapa yang hatinya rasakan justru sebaliknya? Ia merasakan


rasa yang sama seperti saat dirinya tinggal sementara di rumah paman dan bibi


Charlotte.


Tanpa didahului ketukan lembut, suara derit pintu terbuka terdengar jelas


berlalu di telinga Noel, “Woi, keluar, gih. Ada yang nyariin lo.”


Tujuh detik berlalu. Anak itu tak kunjung menolehkan kepala atau


meliriknya.


“Kalo dia nggak mau keluar, nggak usah dipaksa, Syl.”


Itu suara Edwin!


Noel cepat-cepat berlari menghampiri Edwin.


Tentu saja tindakan Noel yang lebih memeluk dirinya ketimbang Sylvia, kakak


kandungnya sendiri, membuat Edwin hanya bisa menatap mereka berdua dengan


sedikit senyuman canggung di bibirnya.


Sylvia mengangguk maklum. Ia tak bisa menyalahkan siapa pun kecuali dirinya


dan keadaan. Kalau bukan karena kondisi mereka yang sebelumnya hidup sebagai


anak jalanan memaksa gadis itu untuk memperlakukan Noel dengan tegas agar tak


bergantung pada siapa pun, sudah bisa dipastikan anak itu mengenal Sylvia


sebagai kakaknya.


Tatapan Noel berangsur pindah.


Kedua lensa coklatnya tertuju pada Sylvia. Rambut gadis itu terlihat sudah


terkuncir rapi. Lengkap dengan blus hitam berlengan pendek dan jeans biru muda.


“Gak usah ngeliatin gue terus!


Cepetan ganti baju sana! Lo juga diajak jalan!” seru gadis itu sambil melipat


kedua tangannya.


Sekali pun nada bicaranya


terdengar lebih santai dari biasanya, tetap saja, semua kalimat yang terlontar


dari mulut Sylvia bagaikan sambaran petir di telinga Noel. Jika itu adalah


perintah, Noel langsung melaksanakannya dalam hitungan detik.


“Jangan galak-galak gitu, dong.


Nggak kasihan liat Noel takut sama kakaknya sendiri?” ledek Edwin.


“Bacot!” bentak Sylvia singkat


sambil berbalik meninggalkan pemuda itu.


 

__ADS_1


__ADS_2