Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 6 – Morning


__ADS_3

Bekas gradasi warna kurkumin masih terlihat jelas pada


ujung jari-jari bi Nara. Sebelum dentang jam kuno di ruang tamu terdengar lima kali


berturut-turut wanita itu sudah bangun, bekerja tanpa mengenal letih sepanjang


hidupnya meski fajar belum menampakkan dirinya. Banyaknya seruan helaian rambut


putih yang memintanya untuk pensiun, pulang kembali ke kampung halamannya, dan


bersantai menikmati hari tuanya sama sekali tak dihiraukan oleh wanita bernama


lengkap Inara Ayu Rahmaulidia itu. Tangannya sibuk bergerak, menggerakan benda


kayu panjang mirip dayung sampan, mengaduk-aduk masakannya agar tak hitam legam


bagai batu bara. Sesekali, sepasang matanya melirik posisi jarum jam panjang


yang pergerakannya disusul oleh jarum pendek, mengawasi kalau-kalau posisi


mereka berubah menjadi garis lurus.


Jarum jam sudah membentuk garis seratus delapan puluh


derajat, menunjuk angka enam dan dua belas. Wanita itu cepat-cepat menaiki satu


per satu anak tangga yang mengarahkannya ke lantai dua. Tangannya mengetuk


pintu kamar Edwin dengan lembut.


“Mas... Bangun, mas. Jam enam, lho, mas” suara


sayup-sayup itu sesekali terdengar memanggil nama Edwin, memintanya untuk


segera membuka mata dan beranjak dari benda putih empuk itu.


Tak ada jawaban sama sekali. Pemuda itu masih terus


berbaring sambil menutup kedua matanya.


Bi Nara mulai mengguncang pelan pundak Edwin, “Mas Edwin,


bangun mas” kalimat itu diulang sekali lagi olehnya. Sayang guncangan itu tak


cukup kuat merobohkan rasa kantuknya. Ia mulai mencoba cara lain, “Mas!” nada


suaranya sedikit naik, ia memperkuat tenaga guncangannya.


“Hmm...”


Meski hatinya menolak keras untuk mengizinkan kedua


kelopak matanya terbuka, Edwin tetap melakukannya. “Lima menit lagi ya, bi”


ucapnya singkat lalu kembali menutup matanya, melanjutkan mimpinya dalam tidur,


seolah-olah mimpi itu adalah salah satu episode telenovela yang barusan


terjeda.


“Aduh, Mas Edwin. Jangan tidur lagi dong,” pinta bi Nara.


“Edwin masih ngantuk, bi” keluh pemuda itu sambil menarik


selimutnya, “Kemarin baru tidur jam sebelas” sambungnya.


“Nanti mas telat, lho. Kemarin malam, kata mas hari ini


pagi-pagi mas ada janji buat urus tugas kuliah”


Edwin tersentak. Kalimat itu seolah-olah seperti setruman


listrik pada kedua telinganya. “HAH?!” pemuda itu bergegas bangun dari


tempatnya berbaring dan menoleh, menatap jam dinding yang tergantung pada


dinding kamarnya. Sudah jam enam lewat sepuluh menit.


***


Sekumpulan kertas HVS putih tebal yang dijilid rapi itu


berdiam diri dalam genggaman Edwin. Terlihat jelas beberapa bagian dilingkari,


dicoret, dan ditulis ulang dengan tinta merah oleh dosen pembimbingnya. Benda


itu diletakkannya diatas kursi penumpang sebelah kiri dalam mobilnya. Tangannya


memasukkan kunci perak itu kedalam kontak. Kaki kirinya menginjak pedal


kopling. Lalu, kunci yang tertancap itu diputarnya ke kanan. Matanya melirik


spion tengah, memastikan keadaan dibelakangnya benar-benar kosong. Pemuda itu terus


melajukan kendaraan beroda empat miliknya.


Tak lupa, Edwin membelikan sebuah makanan sebelum ia


menepati janjinya pada seorang anak jalanan yang tiap hari menunggunya di ruang


terbuka hijau bernama ‘taman Cattleya’. Sebuah taman berluas sekitar tiga hektar


di Tomang, Jakarta Barat.


Ia memarkiran mobilnya dengan hati-hati agar tak


menyenggol kendaraan lainnya.


Pemuda itu menyipitkan kedua matanya, mencegah silau


matahari cahaya siang mengganggu pandangannya. Sambil berjalan mencari titik


paling sepi di taman, tempat Noel biasa duduk manis menanti kedatangannya, ia


menjinjing kantong plastik di tangan kanannya.


Dari jarak yang cukup jauh, Edwin sudah melihat anak itu,


termenung-menung dengan wajah polosnya, tanpa memikirkan apapun. Meski angin


sepoi menegurnya untuk menoleh, matanya tak kunjung melirik ke arah lain.


“Noel.”


Ia menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Anak itu


yakin, ia mengenal suara yang tak asing lagi itu. Pandangannya beralih ke


samping kiri, lalu ke kanan. Tapi ia tak kunjung menemukan siapa yang memanggil


namanya.


Noel memutar badannya, menolehkan kepalanya ke belakang.


Edwin.


Lelaki muda itu tersenyum sambil menyodorkan sebuah


bungkusan plastik. Tanpa harus berpikir keras dan menebak-nebak, Noel bisa


menjawab benda apa didalam bungkusan merah itu dengan benar.


Makanan. Ya, isinya pasti makanan. Benda yang selalu


diberikan oleh Edwin padanya setiap hari saat siang tiba.


Ekspresi wajah pemuda itu seketika berubah. Senyumnya


mendadak pudar saat dirinya sadar akan sesuatu yang tak biasa dilihatnya. Pipi


anak itu sedikit kebiru-biruan, seperti luka memar. Sepasang mata itu sedikit


dipicingkan oleh Edwin, memastikan kebenaran penglihatannya


“Noel, kamu kenapa? Kok muka kamu bisa luka-luka kayak


gitu?” tanya Edwin sambil menunjuk pipi kirinya sendiri, mewakili posisi luka


pada wajah Noel.


Anak itu sedikit menunduk, seolah ragu untuk menjawabnya.


Namun, tak lama, Noel memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mulai


membuka mulutnya, “Kemarin, Noel dipukul sama bang Gondrong” jelasnya dengan


suara sangat pelan, nyaris tak terdengar. Ia mendongakkan wajahnya,


mempertemukan tatapannya dengan mata Edwin, “Tapi, Noel nggak apa-apa kok”


kalimat sambungan itu seolah mencoba menghilangkan rasa cemas dalam hati pemuda


itu.


Benar-benar tak bisa dibayangkan oleh Edwin kalau saja


dirinya yang menjadi Noel. Usianya belum menginjak satu dekade. Meskipun


demikian, ia sudah menjalani hidup dengan bimbingan kekejaman yang luar biasa,


tanpa segenap kekuatan untuk bisa menyuratkan isi hati dirinya yang sesungguhnya.


Ia bernaung dalam sisi gelap kehidupan.


 “Luka kamu masih


sakit, ya?”

__ADS_1


“Sedikit” jawabnya singkat.


“Ke rumah kakak, yuk. Biar luka-luka kamu bisa diobatin,


biar nggak sakit lagi”


Responnya persis sama seperti biasanya pada setiap


bujukan Edwin. Tanpa pikir panjang, Noel langsung mengangguk setuju


***


Noel merasa takjub. Anak lelaki itu heran bukan main saat


berada dalam mobil Edwin yang baru pertama kali dinaiki olehnya. Rasanya ia


seperti duduk dalam rumah berjalan, sambil memandang kaca jendela tanpa tirai


yang menyuguhkan pemandangan kota Jakarta meski terhalang padatnya kendaraan


disekeliling kendaraan beroda empat itu.


Ya, begitulah hari ini berjalan. Noel tak henti-hentinya


menemukan berbagai macam hal baru dalam hidupnya. Hal baru yang belum pernah


dilihat jelas dan dirasakan olehnya.


Pertama, berada dalam kendaraan beroda empat yang bisa


melaju cepat seperti seekor cheetah.


Kedua, mendatangi rumah Edwin. Rumah itu sangat luas,


dengan gerbang tinggi yang dijaga oleh seorang satpam. Benar-benar mirip


seperti tempat tinggal bagi mereka, orang-orang berdarah biru. Eksterior maupun


interior bangunan itu sangat kental dengan nuansa kolonial Belanda. Lantai veranda di rumah itu terlihat seperti


alas papan catur, seolah-olah Noel adalah sebuah bidak catur kecil.


Tombol putih kecil dekat pintu utama itu ditekan oleh


Edwin, menimbulkan bunyi singkat yang cukup keras terdengar. Dalam sekejap,


pintu itu terbuka.


Wanita paruh baya bertubuh gempal itu sedikit terkejut


melihat wajah yang tak familiar baginya. Lirikan matanya berpindah pada Edwin.


Mulutnya siap untuk melontarkan beberapa pertanyaan, namun ia menahannya dan


mempersilahkan dua orang itu masuk.


Cangkir porselen berwarna putih polos itu diletakkan


dengan sangat hati-hati olehnya. Bi Nara menuangkan air hangat pada dua buah


cangkir dihadapannya, membuat kantung berisi teh celup itu terendam.


“Ini tehnya, mas” ucapnya sambil menaruh cangkir-cangkir


itu diatas coffee table berwarna


coklat gelap.


“Makasih, bi” Edwin tersenyum tipis.


Bi Nara tak henti menatap anak kecil yang duduk tepat


disebelah anak bungsu majikannya.


“Anu... Mas Edwin, itu anak siapa, mas?” ia memberanikan


diri untuk membuka mulut, bertanya pada Edwin.


“Oh, itu. Ini Noel, bi” jawab Edwin sambil mengangkat


cangkir porselen itu. Lalu, ia menoleh kesamping, “Noel, ini bi Nara”


Noel tak menjawab dengan sepatah katapun. Ia hanya


melirik Edwin, lalu melirik wanita itu, dan mengangguk pelan.


“Mas... itu... anu... mas bawa pulang anak orang, lho,


mas...”


Edwin tertawa kecil, “Ya, iyalah, bi. Noel anak orang,


bukan anak kucing”. Entah mengapa, ia seolah mendadak buta akan situasi, tak


bisa membaca raut wajah bi Nara yang menyiratkan keseriusan dalam pembicaraan.


“Nanti dicari orang tuanya, lho, mas. Terus...”


 


 


“Noel nggak punya siapa-siapa”


Lelaki itu tersenyum tipis pada bi Nara yang membungkam mulutnya rapat-rapat.


Sepasang mata itu menatap Noel dari ujung rambut sampai


ujung kaki. Dari penampilannya, sudah jelas anak ini adalah anak jalanan yang


tak terawat.


“Edwin kasihan sama Noel, badannya luka-luka gitu. Jadi,


ya... Edwin bawa pulang, deh” Ia meletakkan cangkir berisi teh hangat itu


kembali diatas meja seusai meneguknya.


Anak majikannya benar.


Badan anak ini dipenuhi berbagai macam bekas luka. Bekas


sulutan rokok, bekas goresan benda tajam, dan luka yang masih terlihat segar,


seperti baru-baru ini diterima olehnya, luka memar. Rasa iba juga turut menjalar,


menyelimuti hati wanita itu dan menghapus keraguannya.


***


Denis menyandang gitar kecil usang miliknya. Sepasang


matanya menatap langit petang, wajah tengilnya nampak berseri-seri. Ia merasa


puas akan keputusannya tadi pagi.


“Hebat juga lo, Yan. Gak sia-sia lo ikut gue kesini”


Mendengar pujian itu, Ryan membusungkan dada dan melipat


tangannya. “Namanya juga Ryan” ucapnya dengan bangga sambil menunjuk dirinya


dengan jempol.


Pemuda itu terkekeh geli melihat tingkah Ryan, “Gaya lo


selangit” ledeknya sambil mengacak-acak rambut anak itu. “Dah, ayo pulang”


ujarnya sambil berjalan meninggalkan Oud


Batavia, atau yang lebih dikenal dengan nama ‘Kota Tua’, sebuah bangunan


yang berubah fungsi dari balai kota, kantor gubernur VOC, menjadi museum


sejarah Jakarta.


Sudah biasa bagi Denis untuk mendapat uang dengan cara


menyanyi sambil memetik gitarnya. Para pengunjung tempat wisata itu menyukai


suaranya yang lumayan bagus. Bahkan, beberapa dari mereka mengatakan bakatnya


harus diasah dengan baik, agar kelak ia bisa masuk dalam pencarian bakat dan


menang, menjadi penyanyi solo atau vokalis band ternama. Sayang, Denis tak


pernah memikirkan masa depan jangka panjang. Ia hanya berpikir tentang esok.


Untuk berpikir tentang minggu depan saja, baginya sudah terlalu jauh.


Tak lama, sebuah mikrolet melambatkan lajunya, merapat ke


bahu jalan, mendekati trotoar tempat Denis dan Ryan berdiri dan berhenti


sejenak. Denis mengenal mikrolet itu dari stiker putih berbentuk tameng dengan


tulisan ‘ROUTE 66’ berwarna hitam


yang menempel pada kaca depan bagian pojok atas. Ditambah lagi, dengan tulisan


‘TN. ABANG – KOTA’ disebelah stiker tadi.


“Lo berdua mau pulang nih ceritanya?” tanya pria berkaus


jingga terang itu.


Bang Eji. Seorang supir mikrolet yang sudah cukup lama

__ADS_1


berteman dengan Denis, sejak dirinya mulai menjadi anak jalanan dan berkeliaran


disekitar Kota Tua.


“Yoi. Bang Eji mau nganterin kita?”


“Yaudah, gue anter. Cepetan masuk” ia menepuk-nepuk pintu


mobil angkutan umum itu. “Gue juga mau pulang soalnya”


“Nah” Denis tersenyum senang sambil duduk pada kursi


dekat pintu mikrolet itu. Ryan bergegas menyusulnya, takut kalau-kalau bang Eji


main tancap gas saja tanpa melihat dirinya yang berdiri di trotoar pejalan


kaki.


Jalanan ibukota memang ramai dan padat seperti biasanya.


Suara bising dari kendaraan yang membunyikan klaksonnya tak luput dari ciri


khas Jakarta menjelang petang, waktu-waktu padat dimana para pekerja kantor


membanjiri jalanan untuk pulang kembali  pada rumahnya masing-masing.


Pandangan Denis berkisar pada trotoar. Mengamati


pedagang-pedagang kaki lima yang sibuk menjajakan dagangannya, menarik


perhatian para pejalan kaki yang lalu lalang dihadapannya agar menyisihkan uang


mereka untuk membeli dagangan mereka. Diantara orang-orang itu, ia tak sengaja


melihat seorang gadis. Gadis itu berperawakan maskulin, dengan rambut sebahu


yang dikuncir berantakan, kemeja bermotif kotak-kotak biru tua yang lusuh


dengan celana jeans hitam


sobek-sobek. Gadis itu tak lain adalah Sylvia. Salah satu anggota anak jalanan


dibawah naungan bang Gondrong, sama seperti dirinya dan Ryan.


Gadis itu terlihat cemas dan kebingungan. Ia terus


berlari di tengah-tengah kerumunan, sambil sesekali menatap samping kiri dan


kanannya. Entah apa yang terjadi padanya, ia seolah berpacu dengan waktu sambil


membawa tujuan yang amat penting dalam dirinya.


Denis berniat turun dari mikrolet dan menyusul Sylvia,


menanyakan apa yang terjadi. Ia ingin mencoba membantu Sylvia kalau-kalau


masalah mengikutinya. Namun, pemuda itu menahan dirinya. Selama ini, gadis itu


selalu bersikap menyebalkan padanya. Untuk apa ia menawarkan tenaganya untuk


membantu?


Matahari sudah hampir tenggelam.


Para anak jalanan itu sudah berkumpul dalam satu tempat,


ruangan khusus milik pemimpinnya. Sebentar lagi, akan tiba saatnya bagi mereka


untuk merogoh saku mereka, menyerahkan seluruh uang hasil jerih payah mereka


sejak pagi pada pria yang kerap disapa ‘bang Gondrong’ karena rambut pirang


panjangnya yang lusuh.


Lirikan mata Denis berkeliling.


Ryan, Galang, Azri.


Hanya ada empat orang dalam ruangan ini. Anak-anak yang


menjadi kaki tangan bang Gondrong ada enam orang. Berarti, masih kurang dua


orang. Pemuda itu menghela nafas pelan, menyandarkan punggungnya pada dinding


yang retak-retak dan dibiarkan berdiri tanpa lapisan cat apapun.


Galang mendengus kesal, sambil menatap peristiwa


tenggelamnya matahari senja dari balik kaca jendela yang sudah pecah. Ia sudah


paham betul selanjutnya hal apa yang akan terjadi pada mereka.


“Haduh, ini dua orang kemana, sih? Bentar lagi bang Gondrong


bakalan kesini, kan” Azri turut mengeluhkan ketidakhadiran Sylvia dan Noel yang


entah kemana perginya.


***


Sylvia menghentikan langkahnya, mengatur nafasnya yang


terengah-engah. Sambil memegangi kedua lututnya, matanya melirik deretan


tulisan hitam pada bangunan itu.


“STASIUN JAKARTA-KOTA”


Gadis itu benar-benar yakin ia tak akan menemukan apa


yang dicarinya di dalam sana. Ia meluruskan badannya, mencoba untuk berdiri


tegak seperti biasanya. Pikirannya bercabang-cabang, seolah menyebutkan setiap


nama tempat di Jakarta yang belum dihampiri olehnya. Meski ia sudah berjalan


cukup jauh dari tempat Noel sehari-hari berkeliaran, ia tak kunjung menemukan


anak itu.


Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan, mendarat di bahu


Sylvia. Seolah mengingatkan gadis itu untuk segera pulang. Namun sayang, ia tak


peduli. Dirinya sama sekali tak mengindahkan teguran lembut itu. Maka marahlah


hujan. Dikeluarkannya ultimatum yang sedikit lebih keras. Tetesan air hujan itu


semakin banyak. Suara gemuruh pelan turut menyertai hujan itu, membantunya


berseru pada Sylvia untuk kembali pada kediamannya. Mau tak mau, gadis itu


harus angkat tangan, mengisyaratkan kekalahan dirinya pada hujan.


Tangannya yang basah kuyup mendorong pintu kayu yang


sebagian sudah dimakan rayap. Ia mengangkat wajahnya, menatap keempat temannya


dan pimpinannya yang masih berada didalam sana, meski sekarang sudah hampir


tengah malam.


Bang Gondrong dengan cepat bangkit dari duduknya.


Dihantamnya meja kayu itu dengan tinjunya. “CEPETAN MASUK LO!” bentaknya dengan


suara lantang. Sylvia melangkah perlahan mendekati pria berwajah sangar itu.


Dalam hitungan detik, pukulan dan tendangan mendarat, menghantam gadis itu


berulang kali. Reflek tangan Sylvia berkata lain. Ia berusaha menangkis


serangan yang tertuju padanya. Naas, hal itu justru membuat bang Gondrong


semakin naik pitam dan semakin agresif menhajar Sylvia. Tanpa rasa peduli gadis


itu sudah jatuh tersungkur di lantai.


Setelah dirasanya pelajaran yang diberikan sudah cukup,


bang Gondrong menatap anak-anak lainnya. Sambil berkacak pinggang, ia berseru


mengeluarkan ultimatum, “Lo semua, denger baik-baik! Lo berani lawan gue, lo


bakal gue bikin mampus kayak dia!”


Keempat anak buah pria itu hanya diam memandang Sylvia


yang meringis kesakitan.


“NGERTI NGGAK LO PADA?”


“Ngerti, bang” anak-anak itu serempak menjawab.


Bang Gondrong mengangguk-angguk pelan, ia puas mendengar


jawaban dari mereka yang tunduk padanya. “Dah, sono, keluar lo pada!”


Tiga anak itu bergegas keluar. Denis bangkit dari


duduknya. Ia menghentikan langkahnya, menoleh pada Sylvia. Perasaannya


bercampur aduk kali ini. Satu sisi, ia merasa iba dengan gadis itu yang harus


menerima perlakuan menyakitkan dari bang Gondrong. Tapi di sisi lain, itu bukan


urusannya dan memang sepertinya gadis itu layak menerimanya. Lagipula, gadis

__ADS_1


itu memang selalu bertingkah menyebalkan, jadi, tak heran kalau ada orang yang


ingin menghajarnya habis-habisan.


__ADS_2