
Bekas gradasi warna kurkumin masih terlihat jelas pada
ujung jari-jari bi Nara. Sebelum dentang jam kuno di ruang tamu terdengar lima kali
berturut-turut wanita itu sudah bangun, bekerja tanpa mengenal letih sepanjang
hidupnya meski fajar belum menampakkan dirinya. Banyaknya seruan helaian rambut
putih yang memintanya untuk pensiun, pulang kembali ke kampung halamannya, dan
bersantai menikmati hari tuanya sama sekali tak dihiraukan oleh wanita bernama
lengkap Inara Ayu Rahmaulidia itu. Tangannya sibuk bergerak, menggerakan benda
kayu panjang mirip dayung sampan, mengaduk-aduk masakannya agar tak hitam legam
bagai batu bara. Sesekali, sepasang matanya melirik posisi jarum jam panjang
yang pergerakannya disusul oleh jarum pendek, mengawasi kalau-kalau posisi
mereka berubah menjadi garis lurus.
Jarum jam sudah membentuk garis seratus delapan puluh
derajat, menunjuk angka enam dan dua belas. Wanita itu cepat-cepat menaiki satu
per satu anak tangga yang mengarahkannya ke lantai dua. Tangannya mengetuk
pintu kamar Edwin dengan lembut.
“Mas... Bangun, mas. Jam enam, lho, mas” suara
sayup-sayup itu sesekali terdengar memanggil nama Edwin, memintanya untuk
segera membuka mata dan beranjak dari benda putih empuk itu.
Tak ada jawaban sama sekali. Pemuda itu masih terus
berbaring sambil menutup kedua matanya.
Bi Nara mulai mengguncang pelan pundak Edwin, “Mas Edwin,
bangun mas” kalimat itu diulang sekali lagi olehnya. Sayang guncangan itu tak
cukup kuat merobohkan rasa kantuknya. Ia mulai mencoba cara lain, “Mas!” nada
suaranya sedikit naik, ia memperkuat tenaga guncangannya.
“Hmm...”
Meski hatinya menolak keras untuk mengizinkan kedua
kelopak matanya terbuka, Edwin tetap melakukannya. “Lima menit lagi ya, bi”
ucapnya singkat lalu kembali menutup matanya, melanjutkan mimpinya dalam tidur,
seolah-olah mimpi itu adalah salah satu episode telenovela yang barusan
terjeda.
“Aduh, Mas Edwin. Jangan tidur lagi dong,” pinta bi Nara.
“Edwin masih ngantuk, bi” keluh pemuda itu sambil menarik
selimutnya, “Kemarin baru tidur jam sebelas” sambungnya.
“Nanti mas telat, lho. Kemarin malam, kata mas hari ini
pagi-pagi mas ada janji buat urus tugas kuliah”
Edwin tersentak. Kalimat itu seolah-olah seperti setruman
listrik pada kedua telinganya. “HAH?!” pemuda itu bergegas bangun dari
tempatnya berbaring dan menoleh, menatap jam dinding yang tergantung pada
dinding kamarnya. Sudah jam enam lewat sepuluh menit.
***
Sekumpulan kertas HVS putih tebal yang dijilid rapi itu
berdiam diri dalam genggaman Edwin. Terlihat jelas beberapa bagian dilingkari,
dicoret, dan ditulis ulang dengan tinta merah oleh dosen pembimbingnya. Benda
itu diletakkannya diatas kursi penumpang sebelah kiri dalam mobilnya. Tangannya
memasukkan kunci perak itu kedalam kontak. Kaki kirinya menginjak pedal
kopling. Lalu, kunci yang tertancap itu diputarnya ke kanan. Matanya melirik
spion tengah, memastikan keadaan dibelakangnya benar-benar kosong. Pemuda itu terus
melajukan kendaraan beroda empat miliknya.
Tak lupa, Edwin membelikan sebuah makanan sebelum ia
menepati janjinya pada seorang anak jalanan yang tiap hari menunggunya di ruang
terbuka hijau bernama ‘taman Cattleya’. Sebuah taman berluas sekitar tiga hektar
di Tomang, Jakarta Barat.
Ia memarkiran mobilnya dengan hati-hati agar tak
menyenggol kendaraan lainnya.
Pemuda itu menyipitkan kedua matanya, mencegah silau
matahari cahaya siang mengganggu pandangannya. Sambil berjalan mencari titik
paling sepi di taman, tempat Noel biasa duduk manis menanti kedatangannya, ia
menjinjing kantong plastik di tangan kanannya.
Dari jarak yang cukup jauh, Edwin sudah melihat anak itu,
termenung-menung dengan wajah polosnya, tanpa memikirkan apapun. Meski angin
sepoi menegurnya untuk menoleh, matanya tak kunjung melirik ke arah lain.
“Noel.”
Ia menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Anak itu
yakin, ia mengenal suara yang tak asing lagi itu. Pandangannya beralih ke
samping kiri, lalu ke kanan. Tapi ia tak kunjung menemukan siapa yang memanggil
namanya.
Noel memutar badannya, menolehkan kepalanya ke belakang.
Edwin.
Lelaki muda itu tersenyum sambil menyodorkan sebuah
bungkusan plastik. Tanpa harus berpikir keras dan menebak-nebak, Noel bisa
menjawab benda apa didalam bungkusan merah itu dengan benar.
Makanan. Ya, isinya pasti makanan. Benda yang selalu
diberikan oleh Edwin padanya setiap hari saat siang tiba.
Ekspresi wajah pemuda itu seketika berubah. Senyumnya
mendadak pudar saat dirinya sadar akan sesuatu yang tak biasa dilihatnya. Pipi
anak itu sedikit kebiru-biruan, seperti luka memar. Sepasang mata itu sedikit
dipicingkan oleh Edwin, memastikan kebenaran penglihatannya
“Noel, kamu kenapa? Kok muka kamu bisa luka-luka kayak
gitu?” tanya Edwin sambil menunjuk pipi kirinya sendiri, mewakili posisi luka
pada wajah Noel.
Anak itu sedikit menunduk, seolah ragu untuk menjawabnya.
Namun, tak lama, Noel memutuskan untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mulai
membuka mulutnya, “Kemarin, Noel dipukul sama bang Gondrong” jelasnya dengan
suara sangat pelan, nyaris tak terdengar. Ia mendongakkan wajahnya,
mempertemukan tatapannya dengan mata Edwin, “Tapi, Noel nggak apa-apa kok”
kalimat sambungan itu seolah mencoba menghilangkan rasa cemas dalam hati pemuda
itu.
Benar-benar tak bisa dibayangkan oleh Edwin kalau saja
dirinya yang menjadi Noel. Usianya belum menginjak satu dekade. Meskipun
demikian, ia sudah menjalani hidup dengan bimbingan kekejaman yang luar biasa,
tanpa segenap kekuatan untuk bisa menyuratkan isi hati dirinya yang sesungguhnya.
Ia bernaung dalam sisi gelap kehidupan.
“Luka kamu masih
sakit, ya?”
__ADS_1
“Sedikit” jawabnya singkat.
“Ke rumah kakak, yuk. Biar luka-luka kamu bisa diobatin,
biar nggak sakit lagi”
Responnya persis sama seperti biasanya pada setiap
bujukan Edwin. Tanpa pikir panjang, Noel langsung mengangguk setuju
***
Noel merasa takjub. Anak lelaki itu heran bukan main saat
berada dalam mobil Edwin yang baru pertama kali dinaiki olehnya. Rasanya ia
seperti duduk dalam rumah berjalan, sambil memandang kaca jendela tanpa tirai
yang menyuguhkan pemandangan kota Jakarta meski terhalang padatnya kendaraan
disekeliling kendaraan beroda empat itu.
Ya, begitulah hari ini berjalan. Noel tak henti-hentinya
menemukan berbagai macam hal baru dalam hidupnya. Hal baru yang belum pernah
dilihat jelas dan dirasakan olehnya.
Pertama, berada dalam kendaraan beroda empat yang bisa
melaju cepat seperti seekor cheetah.
Kedua, mendatangi rumah Edwin. Rumah itu sangat luas,
dengan gerbang tinggi yang dijaga oleh seorang satpam. Benar-benar mirip
seperti tempat tinggal bagi mereka, orang-orang berdarah biru. Eksterior maupun
interior bangunan itu sangat kental dengan nuansa kolonial Belanda. Lantai veranda di rumah itu terlihat seperti
alas papan catur, seolah-olah Noel adalah sebuah bidak catur kecil.
Tombol putih kecil dekat pintu utama itu ditekan oleh
Edwin, menimbulkan bunyi singkat yang cukup keras terdengar. Dalam sekejap,
pintu itu terbuka.
Wanita paruh baya bertubuh gempal itu sedikit terkejut
melihat wajah yang tak familiar baginya. Lirikan matanya berpindah pada Edwin.
Mulutnya siap untuk melontarkan beberapa pertanyaan, namun ia menahannya dan
mempersilahkan dua orang itu masuk.
Cangkir porselen berwarna putih polos itu diletakkan
dengan sangat hati-hati olehnya. Bi Nara menuangkan air hangat pada dua buah
cangkir dihadapannya, membuat kantung berisi teh celup itu terendam.
“Ini tehnya, mas” ucapnya sambil menaruh cangkir-cangkir
itu diatas coffee table berwarna
coklat gelap.
“Makasih, bi” Edwin tersenyum tipis.
Bi Nara tak henti menatap anak kecil yang duduk tepat
disebelah anak bungsu majikannya.
“Anu... Mas Edwin, itu anak siapa, mas?” ia memberanikan
diri untuk membuka mulut, bertanya pada Edwin.
“Oh, itu. Ini Noel, bi” jawab Edwin sambil mengangkat
cangkir porselen itu. Lalu, ia menoleh kesamping, “Noel, ini bi Nara”
Noel tak menjawab dengan sepatah katapun. Ia hanya
melirik Edwin, lalu melirik wanita itu, dan mengangguk pelan.
“Mas... itu... anu... mas bawa pulang anak orang, lho,
mas...”
Edwin tertawa kecil, “Ya, iyalah, bi. Noel anak orang,
bukan anak kucing”. Entah mengapa, ia seolah mendadak buta akan situasi, tak
bisa membaca raut wajah bi Nara yang menyiratkan keseriusan dalam pembicaraan.
“Nanti dicari orang tuanya, lho, mas. Terus...”
“Noel nggak punya siapa-siapa”
Lelaki itu tersenyum tipis pada bi Nara yang membungkam mulutnya rapat-rapat.
Sepasang mata itu menatap Noel dari ujung rambut sampai
ujung kaki. Dari penampilannya, sudah jelas anak ini adalah anak jalanan yang
tak terawat.
“Edwin kasihan sama Noel, badannya luka-luka gitu. Jadi,
ya... Edwin bawa pulang, deh” Ia meletakkan cangkir berisi teh hangat itu
kembali diatas meja seusai meneguknya.
Anak majikannya benar.
Badan anak ini dipenuhi berbagai macam bekas luka. Bekas
sulutan rokok, bekas goresan benda tajam, dan luka yang masih terlihat segar,
seperti baru-baru ini diterima olehnya, luka memar. Rasa iba juga turut menjalar,
menyelimuti hati wanita itu dan menghapus keraguannya.
***
Denis menyandang gitar kecil usang miliknya. Sepasang
matanya menatap langit petang, wajah tengilnya nampak berseri-seri. Ia merasa
puas akan keputusannya tadi pagi.
“Hebat juga lo, Yan. Gak sia-sia lo ikut gue kesini”
Mendengar pujian itu, Ryan membusungkan dada dan melipat
tangannya. “Namanya juga Ryan” ucapnya dengan bangga sambil menunjuk dirinya
dengan jempol.
Pemuda itu terkekeh geli melihat tingkah Ryan, “Gaya lo
selangit” ledeknya sambil mengacak-acak rambut anak itu. “Dah, ayo pulang”
ujarnya sambil berjalan meninggalkan Oud
Batavia, atau yang lebih dikenal dengan nama ‘Kota Tua’, sebuah bangunan
yang berubah fungsi dari balai kota, kantor gubernur VOC, menjadi museum
sejarah Jakarta.
Sudah biasa bagi Denis untuk mendapat uang dengan cara
menyanyi sambil memetik gitarnya. Para pengunjung tempat wisata itu menyukai
suaranya yang lumayan bagus. Bahkan, beberapa dari mereka mengatakan bakatnya
harus diasah dengan baik, agar kelak ia bisa masuk dalam pencarian bakat dan
menang, menjadi penyanyi solo atau vokalis band ternama. Sayang, Denis tak
pernah memikirkan masa depan jangka panjang. Ia hanya berpikir tentang esok.
Untuk berpikir tentang minggu depan saja, baginya sudah terlalu jauh.
Tak lama, sebuah mikrolet melambatkan lajunya, merapat ke
bahu jalan, mendekati trotoar tempat Denis dan Ryan berdiri dan berhenti
sejenak. Denis mengenal mikrolet itu dari stiker putih berbentuk tameng dengan
tulisan ‘ROUTE 66’ berwarna hitam
yang menempel pada kaca depan bagian pojok atas. Ditambah lagi, dengan tulisan
‘TN. ABANG – KOTA’ disebelah stiker tadi.
“Lo berdua mau pulang nih ceritanya?” tanya pria berkaus
jingga terang itu.
Bang Eji. Seorang supir mikrolet yang sudah cukup lama
__ADS_1
berteman dengan Denis, sejak dirinya mulai menjadi anak jalanan dan berkeliaran
disekitar Kota Tua.
“Yoi. Bang Eji mau nganterin kita?”
“Yaudah, gue anter. Cepetan masuk” ia menepuk-nepuk pintu
mobil angkutan umum itu. “Gue juga mau pulang soalnya”
“Nah” Denis tersenyum senang sambil duduk pada kursi
dekat pintu mikrolet itu. Ryan bergegas menyusulnya, takut kalau-kalau bang Eji
main tancap gas saja tanpa melihat dirinya yang berdiri di trotoar pejalan
kaki.
Jalanan ibukota memang ramai dan padat seperti biasanya.
Suara bising dari kendaraan yang membunyikan klaksonnya tak luput dari ciri
khas Jakarta menjelang petang, waktu-waktu padat dimana para pekerja kantor
membanjiri jalanan untuk pulang kembali pada rumahnya masing-masing.
Pandangan Denis berkisar pada trotoar. Mengamati
pedagang-pedagang kaki lima yang sibuk menjajakan dagangannya, menarik
perhatian para pejalan kaki yang lalu lalang dihadapannya agar menyisihkan uang
mereka untuk membeli dagangan mereka. Diantara orang-orang itu, ia tak sengaja
melihat seorang gadis. Gadis itu berperawakan maskulin, dengan rambut sebahu
yang dikuncir berantakan, kemeja bermotif kotak-kotak biru tua yang lusuh
dengan celana jeans hitam
sobek-sobek. Gadis itu tak lain adalah Sylvia. Salah satu anggota anak jalanan
dibawah naungan bang Gondrong, sama seperti dirinya dan Ryan.
Gadis itu terlihat cemas dan kebingungan. Ia terus
berlari di tengah-tengah kerumunan, sambil sesekali menatap samping kiri dan
kanannya. Entah apa yang terjadi padanya, ia seolah berpacu dengan waktu sambil
membawa tujuan yang amat penting dalam dirinya.
Denis berniat turun dari mikrolet dan menyusul Sylvia,
menanyakan apa yang terjadi. Ia ingin mencoba membantu Sylvia kalau-kalau
masalah mengikutinya. Namun, pemuda itu menahan dirinya. Selama ini, gadis itu
selalu bersikap menyebalkan padanya. Untuk apa ia menawarkan tenaganya untuk
membantu?
Matahari sudah hampir tenggelam.
Para anak jalanan itu sudah berkumpul dalam satu tempat,
ruangan khusus milik pemimpinnya. Sebentar lagi, akan tiba saatnya bagi mereka
untuk merogoh saku mereka, menyerahkan seluruh uang hasil jerih payah mereka
sejak pagi pada pria yang kerap disapa ‘bang Gondrong’ karena rambut pirang
panjangnya yang lusuh.
Lirikan mata Denis berkeliling.
Ryan, Galang, Azri.
Hanya ada empat orang dalam ruangan ini. Anak-anak yang
menjadi kaki tangan bang Gondrong ada enam orang. Berarti, masih kurang dua
orang. Pemuda itu menghela nafas pelan, menyandarkan punggungnya pada dinding
yang retak-retak dan dibiarkan berdiri tanpa lapisan cat apapun.
Galang mendengus kesal, sambil menatap peristiwa
tenggelamnya matahari senja dari balik kaca jendela yang sudah pecah. Ia sudah
paham betul selanjutnya hal apa yang akan terjadi pada mereka.
“Haduh, ini dua orang kemana, sih? Bentar lagi bang Gondrong
bakalan kesini, kan” Azri turut mengeluhkan ketidakhadiran Sylvia dan Noel yang
entah kemana perginya.
***
Sylvia menghentikan langkahnya, mengatur nafasnya yang
terengah-engah. Sambil memegangi kedua lututnya, matanya melirik deretan
tulisan hitam pada bangunan itu.
“STASIUN JAKARTA-KOTA”
Gadis itu benar-benar yakin ia tak akan menemukan apa
yang dicarinya di dalam sana. Ia meluruskan badannya, mencoba untuk berdiri
tegak seperti biasanya. Pikirannya bercabang-cabang, seolah menyebutkan setiap
nama tempat di Jakarta yang belum dihampiri olehnya. Meski ia sudah berjalan
cukup jauh dari tempat Noel sehari-hari berkeliaran, ia tak kunjung menemukan
anak itu.
Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan, mendarat di bahu
Sylvia. Seolah mengingatkan gadis itu untuk segera pulang. Namun sayang, ia tak
peduli. Dirinya sama sekali tak mengindahkan teguran lembut itu. Maka marahlah
hujan. Dikeluarkannya ultimatum yang sedikit lebih keras. Tetesan air hujan itu
semakin banyak. Suara gemuruh pelan turut menyertai hujan itu, membantunya
berseru pada Sylvia untuk kembali pada kediamannya. Mau tak mau, gadis itu
harus angkat tangan, mengisyaratkan kekalahan dirinya pada hujan.
Tangannya yang basah kuyup mendorong pintu kayu yang
sebagian sudah dimakan rayap. Ia mengangkat wajahnya, menatap keempat temannya
dan pimpinannya yang masih berada didalam sana, meski sekarang sudah hampir
tengah malam.
Bang Gondrong dengan cepat bangkit dari duduknya.
Dihantamnya meja kayu itu dengan tinjunya. “CEPETAN MASUK LO!” bentaknya dengan
suara lantang. Sylvia melangkah perlahan mendekati pria berwajah sangar itu.
Dalam hitungan detik, pukulan dan tendangan mendarat, menghantam gadis itu
berulang kali. Reflek tangan Sylvia berkata lain. Ia berusaha menangkis
serangan yang tertuju padanya. Naas, hal itu justru membuat bang Gondrong
semakin naik pitam dan semakin agresif menhajar Sylvia. Tanpa rasa peduli gadis
itu sudah jatuh tersungkur di lantai.
Setelah dirasanya pelajaran yang diberikan sudah cukup,
bang Gondrong menatap anak-anak lainnya. Sambil berkacak pinggang, ia berseru
mengeluarkan ultimatum, “Lo semua, denger baik-baik! Lo berani lawan gue, lo
bakal gue bikin mampus kayak dia!”
Keempat anak buah pria itu hanya diam memandang Sylvia
yang meringis kesakitan.
“NGERTI NGGAK LO PADA?”
“Ngerti, bang” anak-anak itu serempak menjawab.
Bang Gondrong mengangguk-angguk pelan, ia puas mendengar
jawaban dari mereka yang tunduk padanya. “Dah, sono, keluar lo pada!”
Tiga anak itu bergegas keluar. Denis bangkit dari
duduknya. Ia menghentikan langkahnya, menoleh pada Sylvia. Perasaannya
bercampur aduk kali ini. Satu sisi, ia merasa iba dengan gadis itu yang harus
menerima perlakuan menyakitkan dari bang Gondrong. Tapi di sisi lain, itu bukan
urusannya dan memang sepertinya gadis itu layak menerimanya. Lagipula, gadis
__ADS_1
itu memang selalu bertingkah menyebalkan, jadi, tak heran kalau ada orang yang
ingin menghajarnya habis-habisan.