Hear My Wish

Hear My Wish
Chapter 9 – Despair


__ADS_3

“Drive


me to this street” ucap Dean


itu seraya menyerahkan secarik kertas. Kertas kecil itu bertuliskan sebuah


alamat di kota New York, yang tak lain adalah alamat rumah Charlotte. Tepat dua


hari yang lalu ia mendatangi kediaman Taylor Mitchell Handoyo, bibi kandung


Charlotte yang menetap di Jakarta. Dean beruntung, wanita itu tak keberatan


membantunya bertemu kembali dengan putri kakaknya. Ia mengatakan hal yang


sejujurnya. Gadis itu baru saja pulang ke Amerika karena kabar duka yang


berdengung menyambar telinganya. Neneknya meninggal dunia dua hari lalu.


Supir taksi itu menarik rem tangannya, menghentikan laju


mobil. Tanda mereka sudah mencapai titik tujuan.


"Keep


the change,"ucap Dean


sambil menyerahkan beberapa lembar uang dolar.


"Thank


you, sir."


Pemuda itu menyandang tas punggung hitamnya dan bergegas


turun dari mobil taksi yang ditumpanginya. Dipandangnya rumah itu dengan


seksama. Bangunan itu tak seluas rumahnya, bentuknya pun juga tak terlalu


estetik melainkan sederhana dengan warna dinding yang menyerupai bata, atap hijau,


dan kusen putih. Tipikal rumah di film-film barat.


 Dua kali tombol


putih itu ditekan. Tak ada bunyi sama sekali. Belnya rusak.


Dean mengeluarkan ponselnya dan membuka log panggilan.


Charlotte terakhir kali menghubunginya pada penghujung


bulan Maret, tepatnya beberapa hari setelah Dean merayakan kelulusan. Panggilan


terakhir yang diterimanya dari gadis itu. Setelah itu, Charlotte tak pernah


menghubunginya lagi, seolah-olah mereka lost


contact. Bahkan ia tidak sedikitpun untuk mengabarinya tentang duka yang


dialaminya ini baru-baru ini. Mungkin saja, itu karena sikap Dean yang


seringkali membuat Charlotte tersenyum getir, menyadari kehadirannya tak


diindahkan dan diharapkan sama sekali.


Jempolnya menekan tombol bergambar telepon hijau.


“If you'd like to


make a call, please hang up and try again. If you need help, hang up, and then


dial your operator.”


Beberapa detik telah berlalu, namun Charlotte tak kunjung


menyentuh ponselnya untuk menjawab panggilan masuk dari Dean.


Sembari terus menelepon, Dean mengetuk-ngetuk pintu


rumahnya. Berharap suara itu akan terdengar dan pintu segera dibuka. Namun


usahanya tak kunjung membuahkan hasil.


PRANG!


Suara itu terdengar jelas datang dari lantai atas. Charlotte


pasti ada di dalam rumah.


Pemuda berambut coklat itu mundur beberapa langkah. Ia mendongak ke atas,


menatap kaca jendela yang menghadap jalanan. Sayang, tirai putih gading yang


menggantung menghalangi pandangannya.


Perasaan hatinya mendadak berubah. Ia merasa ada yang aneh. Memang, ia tak


pernah mengenal Charlotte seperti gadis itu mengenal dirinya. Gadis itu tahu


persis seluk-beluk kehidupannya, entah dari mana sumbernya. Hal itu berbanding


terbalik dengan Dean. Tapi, setidaknya dirinya tahu persis, Charlotte bukan


tipe orang ceroboh yang mudah menjatuhkan barang.


Hati pemuda itu mulai merasa tak tenang. Berulang kali


pintu diketuk, tak ada jawaban. Berulang kali pula gadis itu ditelepon,


panggilan juga tak dijawab.


‘Semoga


pintunya tak terkunci.’

__ADS_1


Mungkin harapannya kali ini terdengar sedikit konyol.


Tapi, beruntung harapan itu benar-benar nyata. Pintu utama rumah sama sekali


tak dikunci. Bahkan diselot pun tidak.


Dean mulai menduga-duga. Prasangka buruk yang bermunculan


membuat pikirannya semakin tak karuan. Tapi, semua prasangka itu dipatahkan


oleh keadaan sekelilingnya. Ruang tamu masih tertata rapi, tak ada hal yang


mencurigakan dalam ruangan ini. Begitu juga dengan dapur, ruang makan, dan


ruangan lainnya di lantai satu.


Lagi-lagi suara benda terdengar dari lantai atas. Kali


ini, bunyi itu terdengar seperti dua benda kayu yang bersanggit. Pemuda itu


meletakkan tasnya. Rasa curiga mendorong kedua kakinya untuk menaiki enam belas


anak tangga kayu menuju lantai dua.


Hanya ada tiga kamar di lantai dua. Salah satunya sudah


jelas milik Charlotte. Pintu itu diberi hiasan teddy bear lucu berbahan kain flanel. Kedua tangannya menggenggam


sebuah papan putih yang sudah menguning bertuliskan ‘Carly’. Hiasan itu pasti


dibuat oleh Charlotte saat dirinya masih kecil.


Pemuda itu setengah berlutut. Ia memejamkan sebelah


matanya dan mengintip melalui celah pintu. Charlotte memang benar-benar ada di


rumah. Terlihat jelas gadis itu sedang berdiri menghadap sebuah kursi.


Kepalanya menengadah ke atas, menatap seutas tali tambang yang bergelantungan


dan telah disimpul menyerupai ‘hangman’s


knot’.


Dean terbelalak. Tanpa menunggu lama, ia langsung memutar


daun pintu kamar Charlotte.


Terkunci.


“Charlotte! Charlotte!” serunya lantang sembari


menggedor-gedor pintu, “Open the door!”


Nihil. Gadis itu tak merespon sama sekali.


Sekali lagi, Dean mengintip dari celah lubang kunci


pintu. Charlotte sudah mulai menaiki kursi kayu di hadapannya. Waktu yang


gadis itu akan membiarkan tali mencekik lehernya.


Tanpa pikir panjang, pemuda itu menghantam tubuhnya


sekuat tenaga ke pintu. Namun, benda kayu itu tak kunjung terbuka.


Keringat dingin mulai menyeluruhinya. Detak jantungnya


berpacu semakin cepat melawan waktu.


Ia terus-menerus mengulang hal itu sampai dobrakannya


sukses membuat pintu terbuka. Tangannya reflek menahan tubuhnya agar tak jatuh


tersungkur. Dean mengangkat wajahnya. Gadis bersurai emas itu sudah berada di


atas kursi. Untaian benang yang menyatu membentuk tali sudah mengelilingi


lehernya. Charlotte sudah siap menjatuhkan kursi itu.


Secepat mungkin, Dean berlari dan menaiki ranjang yang


berada tepat di belakang Charlotte. Di saat yang bersamaan, gadis itu


menjatuhkan kursi tempat kedua kakinya berpijak. Beruntung, Dean berhasil


mendapatkan Charlotte dalam rangkulannya dan mengangkatnya sebelum beban


tubuhnya mengubah simpul hidup pada tali yang melingkar di lehernya menjadi


simpul mematikan.


“Charlotte...


get the... rope off... your neck!”pemuda itu terus menjaga gadis itu tetap dalam posisi tinggi, walaupun kedua


tangannya gemetaran dan cucuran peluhnya mengalir semakin deras.


Nafasnya mulai terengah, “Do it!” seruannya kali ini terdengar memaksa.


Mata hijau-kebiruan mirip kelereng itu mulai


berkaca-kaca. Hatinya tergerak untuk mengurungkan niat mengakhiri hidupnya.


Perlahan, gadis itu menggerakan kedua tangannya, menggenggam tali tambang yang


melingkar di lehernya, lalu lingkaran maut itu dilepaskan.


Dean menghembuskan nafas lega. Ia benar-benar merasa


tubuhnya lebih ringan dari sebelumnya.


Charlotte kembali menapakkan kedua kakinya di atas

__ADS_1


lantai. Isak tangisnya terdengar begitu jelas.


“I’m


sorry... I’m sorry for being... such a burden,”ucapnya sambil menunduk, menjurukkan wajahnya yang


sedikit memerah di bahu Dean. Gores-gores luka sayat yang menyerupai jeruji


besi penjara berjejer pada pergelangan tangan Charlotte.


Pemuda itu tertegun sejenak.


Hampir sepuluh bulan ia mengenal Charlotte, namun belum


pernah barisan hal semacam itu dilihatnya. Selama ini, barisan luka goresnya


selalu tersembunyi. Ia tak pernah menyangka, tanda orang depresi terukir di


lengan gadis bersurai emas yang selalu menunjukkan senyuman manis. Aura


melankolis sama sekali tak permah terasa di wajahnya.


Dean membelai rambut pirang Charlotte yang terjuntai


panjang mencapai punggung. “I’m the one


who supposed to apologize,” ucapnya sambil menyelipkan surai pirang itu di


belakang telinga sebelah kiri gadis itu.


“No,


I... I have... caused... you... more trouble...”air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya. “I’m sorry...” gadis itu terus menerus


meminta maaf.


“You


didn’t cause any trouble to me, stop blaming yourself, okay?”


***


Mentari mulai beranjak turun ke peraduan. Benda bulat


berpijar itu hendak memanggil bulan untuk menggantikan posisinya mengawasi para


insan dari atas langit. Semburat jingga mendominasi atmosfer, menimbulkan


pemandangan nan indah. Pemandangan yang timbul sesaat namun memanjakan


berjuta-juta pasang mata yang memandangnya.


Charlotte merasa sedikit lebih tenang. Tangannya


menggenggam secangkir teh manis hangat yang tersisa hampir setengahnya. Ia


menyeka sisa-sisa air mata di pipinya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk cangkir porselen


itu bergantian. Pikirannya terasa sedikit lebih cerah dari sebelumnya. Lirikan


mata ‘kelereng’ itu tertuju pada Dean yang menempelkan plester di telapak


tangannya, menutup luka gores dari pecahan gelas kaca. Lelaki itu duduk persis


di sampingnya.


Gadis itu merasa hatinya mendadak berubah jadi sejuk.


Ia sempat berharap banyak pada Dean saat mereka berdua


pertama kali dipertemukan saat penghujung tahun lalu yang sempat membuat hati


Charlotte bagai musim semi. Musim dimana berbagai macam bunga merekah indah


memamerkan mahkota berwarna-warni. Ditemani kupu-kupu yang beterbangan dan


sekelompok burung yang bernyanyi merdu bak acapella..


Seiring berjalannya waktu, musim juga datang dan pergi silih berganti. Musim


dingin nan lalim sempat datang untuk merontokkan mahkota-mahkota bunga itu.


Menciptakan hawa dingin dan kesan hampa yang dilambangkan pepohonan tanpa daun


menyelimuti isi hatinya. Musim yang identik dengan kesedihan dan salam


perpisahan. Charlotte sempat mengikis harapannya sedikit demi sedikit. Pada


akhirnya, pengharapannya pada Dean pupus seluruhnya saat ia tahu, sikap pemuda


itu menyerupai orang-orang minim empati dan toleransi. Namun, hari ini,


setengah bagian dari salju tebal itu mulai meleleh menjadi cair. Rerumputan


hijau mulai tumbuh. Tunas-tunas baru bermunculan dari permukaan tanah. Dean


telah membuktikan kalau Charlotte tak seharusnya membuang pengharapannya, sebab


ia meminta kesempatan kedua meski tak tersurat.


Charlotte menatap pemuda yang duduk di sampignya, sibuk


menekan-nekan plester di telapak tangannya, memastikan benda itu sudah menempel


rekat.


“Dean,” suara pelan itu memanggilnya.


Ia menoleh.


“Thank


you,”ucapnya sembari

__ADS_1


meletakkan cangkir teh.


__ADS_2