
“Drive
me to this street” ucap Dean
itu seraya menyerahkan secarik kertas. Kertas kecil itu bertuliskan sebuah
alamat di kota New York, yang tak lain adalah alamat rumah Charlotte. Tepat dua
hari yang lalu ia mendatangi kediaman Taylor Mitchell Handoyo, bibi kandung
Charlotte yang menetap di Jakarta. Dean beruntung, wanita itu tak keberatan
membantunya bertemu kembali dengan putri kakaknya. Ia mengatakan hal yang
sejujurnya. Gadis itu baru saja pulang ke Amerika karena kabar duka yang
berdengung menyambar telinganya. Neneknya meninggal dunia dua hari lalu.
Supir taksi itu menarik rem tangannya, menghentikan laju
mobil. Tanda mereka sudah mencapai titik tujuan.
"Keep
the change,"ucap Dean
sambil menyerahkan beberapa lembar uang dolar.
"Thank
you, sir."
Pemuda itu menyandang tas punggung hitamnya dan bergegas
turun dari mobil taksi yang ditumpanginya. Dipandangnya rumah itu dengan
seksama. Bangunan itu tak seluas rumahnya, bentuknya pun juga tak terlalu
estetik melainkan sederhana dengan warna dinding yang menyerupai bata, atap hijau,
dan kusen putih. Tipikal rumah di film-film barat.
Dua kali tombol
putih itu ditekan. Tak ada bunyi sama sekali. Belnya rusak.
Dean mengeluarkan ponselnya dan membuka log panggilan.
Charlotte terakhir kali menghubunginya pada penghujung
bulan Maret, tepatnya beberapa hari setelah Dean merayakan kelulusan. Panggilan
terakhir yang diterimanya dari gadis itu. Setelah itu, Charlotte tak pernah
menghubunginya lagi, seolah-olah mereka lost
contact. Bahkan ia tidak sedikitpun untuk mengabarinya tentang duka yang
dialaminya ini baru-baru ini. Mungkin saja, itu karena sikap Dean yang
seringkali membuat Charlotte tersenyum getir, menyadari kehadirannya tak
diindahkan dan diharapkan sama sekali.
Jempolnya menekan tombol bergambar telepon hijau.
“If you'd like to
make a call, please hang up and try again. If you need help, hang up, and then
dial your operator.”
Beberapa detik telah berlalu, namun Charlotte tak kunjung
menyentuh ponselnya untuk menjawab panggilan masuk dari Dean.
Sembari terus menelepon, Dean mengetuk-ngetuk pintu
rumahnya. Berharap suara itu akan terdengar dan pintu segera dibuka. Namun
usahanya tak kunjung membuahkan hasil.
PRANG!
Suara itu terdengar jelas datang dari lantai atas. Charlotte
pasti ada di dalam rumah.
Pemuda berambut coklat itu mundur beberapa langkah. Ia mendongak ke atas,
menatap kaca jendela yang menghadap jalanan. Sayang, tirai putih gading yang
menggantung menghalangi pandangannya.
Perasaan hatinya mendadak berubah. Ia merasa ada yang aneh. Memang, ia tak
pernah mengenal Charlotte seperti gadis itu mengenal dirinya. Gadis itu tahu
persis seluk-beluk kehidupannya, entah dari mana sumbernya. Hal itu berbanding
terbalik dengan Dean. Tapi, setidaknya dirinya tahu persis, Charlotte bukan
tipe orang ceroboh yang mudah menjatuhkan barang.
Hati pemuda itu mulai merasa tak tenang. Berulang kali
pintu diketuk, tak ada jawaban. Berulang kali pula gadis itu ditelepon,
panggilan juga tak dijawab.
‘Semoga
pintunya tak terkunci.’
__ADS_1
Mungkin harapannya kali ini terdengar sedikit konyol.
Tapi, beruntung harapan itu benar-benar nyata. Pintu utama rumah sama sekali
tak dikunci. Bahkan diselot pun tidak.
Dean mulai menduga-duga. Prasangka buruk yang bermunculan
membuat pikirannya semakin tak karuan. Tapi, semua prasangka itu dipatahkan
oleh keadaan sekelilingnya. Ruang tamu masih tertata rapi, tak ada hal yang
mencurigakan dalam ruangan ini. Begitu juga dengan dapur, ruang makan, dan
ruangan lainnya di lantai satu.
Lagi-lagi suara benda terdengar dari lantai atas. Kali
ini, bunyi itu terdengar seperti dua benda kayu yang bersanggit. Pemuda itu
meletakkan tasnya. Rasa curiga mendorong kedua kakinya untuk menaiki enam belas
anak tangga kayu menuju lantai dua.
Hanya ada tiga kamar di lantai dua. Salah satunya sudah
jelas milik Charlotte. Pintu itu diberi hiasan teddy bear lucu berbahan kain flanel. Kedua tangannya menggenggam
sebuah papan putih yang sudah menguning bertuliskan ‘Carly’. Hiasan itu pasti
dibuat oleh Charlotte saat dirinya masih kecil.
Pemuda itu setengah berlutut. Ia memejamkan sebelah
matanya dan mengintip melalui celah pintu. Charlotte memang benar-benar ada di
rumah. Terlihat jelas gadis itu sedang berdiri menghadap sebuah kursi.
Kepalanya menengadah ke atas, menatap seutas tali tambang yang bergelantungan
dan telah disimpul menyerupai ‘hangman’s
knot’.
Dean terbelalak. Tanpa menunggu lama, ia langsung memutar
daun pintu kamar Charlotte.
Terkunci.
“Charlotte! Charlotte!” serunya lantang sembari
menggedor-gedor pintu, “Open the door!”
Nihil. Gadis itu tak merespon sama sekali.
Sekali lagi, Dean mengintip dari celah lubang kunci
pintu. Charlotte sudah mulai menaiki kursi kayu di hadapannya. Waktu yang
gadis itu akan membiarkan tali mencekik lehernya.
Tanpa pikir panjang, pemuda itu menghantam tubuhnya
sekuat tenaga ke pintu. Namun, benda kayu itu tak kunjung terbuka.
Keringat dingin mulai menyeluruhinya. Detak jantungnya
berpacu semakin cepat melawan waktu.
Ia terus-menerus mengulang hal itu sampai dobrakannya
sukses membuat pintu terbuka. Tangannya reflek menahan tubuhnya agar tak jatuh
tersungkur. Dean mengangkat wajahnya. Gadis bersurai emas itu sudah berada di
atas kursi. Untaian benang yang menyatu membentuk tali sudah mengelilingi
lehernya. Charlotte sudah siap menjatuhkan kursi itu.
Secepat mungkin, Dean berlari dan menaiki ranjang yang
berada tepat di belakang Charlotte. Di saat yang bersamaan, gadis itu
menjatuhkan kursi tempat kedua kakinya berpijak. Beruntung, Dean berhasil
mendapatkan Charlotte dalam rangkulannya dan mengangkatnya sebelum beban
tubuhnya mengubah simpul hidup pada tali yang melingkar di lehernya menjadi
simpul mematikan.
“Charlotte...
get the... rope off... your neck!”pemuda itu terus menjaga gadis itu tetap dalam posisi tinggi, walaupun kedua
tangannya gemetaran dan cucuran peluhnya mengalir semakin deras.
Nafasnya mulai terengah, “Do it!” seruannya kali ini terdengar memaksa.
Mata hijau-kebiruan mirip kelereng itu mulai
berkaca-kaca. Hatinya tergerak untuk mengurungkan niat mengakhiri hidupnya.
Perlahan, gadis itu menggerakan kedua tangannya, menggenggam tali tambang yang
melingkar di lehernya, lalu lingkaran maut itu dilepaskan.
Dean menghembuskan nafas lega. Ia benar-benar merasa
tubuhnya lebih ringan dari sebelumnya.
Charlotte kembali menapakkan kedua kakinya di atas
__ADS_1
lantai. Isak tangisnya terdengar begitu jelas.
“I’m
sorry... I’m sorry for being... such a burden,”ucapnya sambil menunduk, menjurukkan wajahnya yang
sedikit memerah di bahu Dean. Gores-gores luka sayat yang menyerupai jeruji
besi penjara berjejer pada pergelangan tangan Charlotte.
Pemuda itu tertegun sejenak.
Hampir sepuluh bulan ia mengenal Charlotte, namun belum
pernah barisan hal semacam itu dilihatnya. Selama ini, barisan luka goresnya
selalu tersembunyi. Ia tak pernah menyangka, tanda orang depresi terukir di
lengan gadis bersurai emas yang selalu menunjukkan senyuman manis. Aura
melankolis sama sekali tak permah terasa di wajahnya.
Dean membelai rambut pirang Charlotte yang terjuntai
panjang mencapai punggung. “I’m the one
who supposed to apologize,” ucapnya sambil menyelipkan surai pirang itu di
belakang telinga sebelah kiri gadis itu.
“No,
I... I have... caused... you... more trouble...”air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya. “I’m sorry...” gadis itu terus menerus
meminta maaf.
“You
didn’t cause any trouble to me, stop blaming yourself, okay?”
***
Mentari mulai beranjak turun ke peraduan. Benda bulat
berpijar itu hendak memanggil bulan untuk menggantikan posisinya mengawasi para
insan dari atas langit. Semburat jingga mendominasi atmosfer, menimbulkan
pemandangan nan indah. Pemandangan yang timbul sesaat namun memanjakan
berjuta-juta pasang mata yang memandangnya.
Charlotte merasa sedikit lebih tenang. Tangannya
menggenggam secangkir teh manis hangat yang tersisa hampir setengahnya. Ia
menyeka sisa-sisa air mata di pipinya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk cangkir porselen
itu bergantian. Pikirannya terasa sedikit lebih cerah dari sebelumnya. Lirikan
mata ‘kelereng’ itu tertuju pada Dean yang menempelkan plester di telapak
tangannya, menutup luka gores dari pecahan gelas kaca. Lelaki itu duduk persis
di sampingnya.
Gadis itu merasa hatinya mendadak berubah jadi sejuk.
Ia sempat berharap banyak pada Dean saat mereka berdua
pertama kali dipertemukan saat penghujung tahun lalu yang sempat membuat hati
Charlotte bagai musim semi. Musim dimana berbagai macam bunga merekah indah
memamerkan mahkota berwarna-warni. Ditemani kupu-kupu yang beterbangan dan
sekelompok burung yang bernyanyi merdu bak acapella..
Seiring berjalannya waktu, musim juga datang dan pergi silih berganti. Musim
dingin nan lalim sempat datang untuk merontokkan mahkota-mahkota bunga itu.
Menciptakan hawa dingin dan kesan hampa yang dilambangkan pepohonan tanpa daun
menyelimuti isi hatinya. Musim yang identik dengan kesedihan dan salam
perpisahan. Charlotte sempat mengikis harapannya sedikit demi sedikit. Pada
akhirnya, pengharapannya pada Dean pupus seluruhnya saat ia tahu, sikap pemuda
itu menyerupai orang-orang minim empati dan toleransi. Namun, hari ini,
setengah bagian dari salju tebal itu mulai meleleh menjadi cair. Rerumputan
hijau mulai tumbuh. Tunas-tunas baru bermunculan dari permukaan tanah. Dean
telah membuktikan kalau Charlotte tak seharusnya membuang pengharapannya, sebab
ia meminta kesempatan kedua meski tak tersurat.
Charlotte menatap pemuda yang duduk di sampignya, sibuk
menekan-nekan plester di telapak tangannya, memastikan benda itu sudah menempel
rekat.
“Dean,” suara pelan itu memanggilnya.
Ia menoleh.
“Thank
you,”ucapnya sembari
__ADS_1
meletakkan cangkir teh.