
Setelah dua minggu sejak kepulangan Maira dari rumah sakit, saat itu Maira langsung dibawa ke Jerman oleh Fardhan ditemani Evan sebagai dokter yang merekomendasikan dan yang bertanggung jawab dalam pengobatan Maira. Tak terasa kini Maira dan Fardhan telah tiga bulan lebih berada si Jerman.
Tugas kantor Fardhan serahkan pada Shandy sepenuhnya, ia hanya akan mengeceknya dari jauh saja. Mengenai laporan dari kafe dan rumah Makan yang didirikan oleh Maira itu kini diambil alih oleh Zahra dan Aisyah sepenuhnya. Hal itu membuat Maira merasa tenang selama ia menjalani proses pengobatan disana.
Azka akan datang sesekali untuk menggantikan Fardhan jika Fardhan ada urusan pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan oleh Shandy. Selama tiga bulan lebih ini kondisi Maira masih belum stabil, kadang kondisinya membaik dan kadang pula menurun.
Berkali kali Maira menjalani pengobatan disana sampai kondisinya benar benar drop, tapi dokter bilang kalau itu adalah kondisi biasa terjadi pada setiap pasien. Berkali kali pula Maira tak sadarkan diri usai menjalani rangkaian pengobatan yang dilakukan, hingga membuat Fardhan merasa pesimis dan dipenuhi ketakutan akan kehilangan sang istri.
Seperti saat ini, Maira kembali drop dan tidak sadar setelah melakukan kemotherapy. Kondisinya benar benar mengkhawatirkan, tubuh yang hanya tersisa tulang terbalut kulit dengan wajah yang sangat pucat diperparah lagi dengan rambutnya yang telah rontok.
Melihat kondisi Maira seperti itu membuat Fardhan merasa bersalah karena ia tidak memperhatikan kesehatan istrinya selama ini. Terbesit rasa penyesalan atas apa yang telah ia lakukan, semua perkataan dan perlakuan kasar pada Maira kini ia ingat saat melihat kondisi Maira yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Dokter mengatakan jika pengobatan Maira mulai menunjukkan perkembangan, walaupun perlahan tapi itu membuat dokter dan Fardhan bahagia. Kondisi fisik Maira memang terlihat sangat tidak memungkinkan, tapi semangat untuk sembuh yang tertanam daram hati dan fikiran Maira sangatlah besar. Hal itulah yang membuatnya bertahan hingga kini.
Memang semangat dan optimis atau bisa juga sugesti untuk sembuh harus selalu diterapkan oleh setiap orang yang sedang sakit, apalagi seperti Maira sekarang. Karena hal itu bisa membuat energi positif mengalir hingga secara tidak langsung sugesti tersebut menjadi titik tumpuan utama untuk keaembuhan, walau prosesnya memang membutuhkan waktu.
" semoga kamu bisa segera sadar dan semih sayang " gumam Fardhan
Fikirannya kini teralihkan pada dering pinselnya yang berbunyi, ternyata panghilan dari Azka.
π " hallo, assalamualaikum bang " ucap Fardhan
π " waalaikumsalaam Dhan. Bagaimana keadaan Maira sekarang Dhan ?" tanya Azka
π " masih belum sadar bang, tapi dokter bilanh kalau kondisinya mulai menujukkan perkembangan " jawab Fardhan
π " syukurlah kalau sudah mulai ada perkembangan. Kita berdo'a saja semoga Maira cepat sadar dan sembuh. Agar kita bisa segera berkumpul kembali bersama disini " kata Azka penuh harap
π " aamiin.. Aku juga berharap begitu bang, semoga saja Maira bisa segera sembuh. Gak sanggup rasanya lihat Maira seperti itu bang, sakit banget rasanya " kata Fardhan lirih
π " yang sabar, ini ujian bagimu dan Maira. Semoga sakitnya Maira menjadi kifarat dosa baginya, dan jadi amal ibadah untukmu yang telah sabar mengurus Maira " kata Azka
π " aamiin "
π " kamu jangan lupa jaga kesehatanmu, jangan sampai Maira sembuh malah kamu yang sakit nantinya " kata Azka mengingatkan
__ADS_1
π " iya bang, insya Allah aku sehat sehat saja. Abang do'akan saja supaya aku sehat disini. Abang juga yang sehat sehat disana, kak Nisa, papa, Silmi juga jaga kesehatan " kata Fardhan
π " iya, ya sudah abang tutup telfonnya ya. assalamualaikum " ucap Azka
" waalaikumsalaam " jawab Fardhan
Fardhan kembali merebahkan diri di sofa yang ada di ruang rawat Maira. Jujur saja ia juga merasa lelah, tapi ia harus kuat demi Maira. Tubuhnya kini juga ikut jadi kurus, karena kurang terurus. Maklum saja, hidup di tanah orang dan keluarga tidak ada yang memperhatikannya. Walaupun sesekali baik itu Azka, papa atau mamanya mengingatkan akan kesehatannya juga.
Mamanya Fardhan tahu kalau saat ini Fardhan tengan berada di Jerman untuk pengobatan Maira. Perlahan mama bisa luluh hatinya setelah Fardham terus menceramahinya hampir setiap mamanya menelfon.
Setahun sudah berlalu...
Semenjak awal keberangkatannya ke Jerman, saat ini tepat satu tahun Maira dan Fardhan berada disana. Walaupun harus keluar banyak uang untuk pwngobatan, tapi itu tidak sia sia jika hasilnya memuaskan.
Saat ini Maira telah diizinkan untuk pulang, kondisinya sudah jauh lebih baik daripada saat datang. Hanya saja ia harus rajin check up ke rumah sakit untuk terus memantau perkembangannya.
Rencananya besok Maira dan Fardhan akan sampai ke tanah air, hal itu disambut bahagia oleh Azka dan yang lainnya. Rasa takut akan kehilangan kembali salah satu keluarganya kini telah hilang berganti dengan kebahagiaan yang datang seiring dwngan kabar akan kembalinya Maira.
Sedangkan di Jerman, Fardhan sedang membereskan pakaiannya dan Maira. Hari ini Maira sudah diizinkan pulang, jadi Fardhan akan menginap di hotel saja sambil menunggu hari esok tiba. Maira masih menggunakan kursi roda saat keluar dari rumah sakit, karena tubuhnya terasa kaku. Pasalnya selama dirawat di rumah sakit ia lebih banyak berbaring daripada duduk apalagi berdiri. Hanya akhir akhir ini saja ia bisa turun dari ranjang tanpa kursi roda.
" iya mas, hitung hitung kamu istirahat dulu disana. Kamu pasti capek mas, jagain aku terus selama ini. Sampai sampai tubuhmu jadi kurus begitu " kata Maira
" tidak apa sayang, aku bahagia kok. Yang penting bagiku sekarang kamu sembuh " kata Fardhan
" terima kasih ya mas sudah merawat aku selama ini " tulus Maira
" tidak peelu berterima kasih, ini sudah kewajibanku " kata Fardhan
Setelah sampai di hotel, Fardhan membantu Maira merebahkan diri di ranjang hotel.
" aku bisa sendiri mas " kata Maira karena Fardhan membantunya
" tidak apa " jawab Fardhan
Setelah selesai merebahkan diri, Maira dan Fardhan akhirnya terlelap mengarungi mimpi. Dering alarm pertanda telah tiba waktu ashar membangunkan Fardhan.
__ADS_1
" sayang, bangun kita shalat ashar dulu ya " ajak Fardhan
" iya mas " jawab Maira
" nanti setelah shalat boleh dilanjut tidur lagi " sambung Fardhan
Keduanya pun shalat berjamaah, usai shalat Maira duduk bersandar di atas tempat tidurnya sambil membaca buku yang ia beli tadi saat di jalan. Sedangkan Fardhan sudah kembali mengarungi lautan mimpinya yang tadi sempat terjeda dan bangun kembali saat waktu maghrib tiba.
" sayang, kita mau bawa oleh oleh apa ?" tanya Fardhan
" gak usah mas, lagian aku habis berobat bukan liburan atau honeymoon yang harus bawa oleh oleh " jawab Maira
" ya gak apa apa dong kita beli oleh oleh. Kapan juga kita akan kesini lagi, setidaknya beli kenang kenangan " kata Fardhan
" terserah mas aja. Lagian udah malam gini mau beli dimana mas ? aku gak bisa keluar, nanti capek. Lagipula kita udah ngabisin biaya besar selama disini, mereka pasti ngertilah kalau kita gak bawa oleh oleh juga " kata Maira
" oke, kalau begitu. Nanti kita beli saja di tanah air bingkisan untuk mereka, tapi jatuhnya bukan oleh oleh lagi. Kamu gak perlu mikirin biaya, yang penting sehat dulu " kata Fardhan
Ya, selama berobat di Jerman, uang hasil usaha dan penjualan antam hanya terpakai setengahnya saja. Fardhan benar benar mewujudkan keinginannya untuk mengobati Maira hingga sembuh.
.
.
.
.
.
TBC
Happy readingπ
Nah, kejutan pertamanya Maira udah sembuh yup guys..
__ADS_1
Tinggal tunggu kejutan selanjutnya.