Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
125


__ADS_3

Maira menunggu suaminya pulang, biasanya Fardhan akan sampai dirumah sekitar jam lima sore. Tapi sekarang sudah hampir jam tujuh malam masih belum pulang juga. Ia merasa khawatir tidak biasanya seperti ini, kalaupun pulang terlambat Fardhan akan memberi kabar pada Maira.


Maira pun berinisiatif menelfon Fardhan, tapi tidak diangkat dan panggilan selanjutnya malah ponsel Fardhan tidak aktif. Tidak kehabisan akal, Maira menghubungi Shandy untuk menanyakan suaminya. Tapi Shandy tidak mengangkat panggilan telfonnya.


Hingga akhirnya Maira menyerah, ia menyimpan ponselnya dengan kasar diatas meja. Seketika air matanya luruh kembali, ia merindukan Fardhan yang selalu hangat dan perhatian padanya.


" neng, neng baik baik saja ?" tanya bi Titin


" iya bi, Mai baik kok. Ada apa ?" tanya Maira


" bibi lihat dari tadi neng murung terus. Neng ada masalah ?" tebak bi Titin


" enggak ada kok bi ! Mai hanya cemas saja, dari tadi belum ada kabar dari mas Fardhan " jawab Maira


" oh, bibi kira ada apa ! itu makan malamnya sudah bibi siapkan, bibi mau istirahat duluan ya ! neng jangan banyak fikiran, den Fardhan pasti sedang sibuk atau sedang dijalan mungkin " kata bi Titin


" iya bi ! bibi sudah makan ?" tanya Maira


" sudah neng, bibi istirahat ke belakang ya neng " kata bi Titin


" iya bi, bibi istirahat saja " kata Maira


Bi Titin pergi meninggalkan Maira sendiri menunggu Fardhan pulang, sedangkan bi Titin pergi ke kamarnya bersiap untuk shalat isha sebentar lagi.


Waktu terus berjalan hingga jam delapan malam Fardhan masih belum juga menampakkan dirinya.


Maira faham, mungkin suaminya masih bekerja dikantor. Apalagi setelah kepulangannya dari Jerman pekerjaan Fardhan sudah numpuk.


Sedangkan yang ditunggu kini sedang berdiam diri di kantornya, ia sudah menyelesaikan pekerjaannya tadi sebelum maghrib. Tapi ia tidak bisa langsung pulang saat kliennya mengajak makan malam bersama.


Shandy membuka ponselnya dan terkejut saat melihat ada banyak panggilan dari Maira, dan ada beberapa pesan juga.


" Maira nelfon Dhan ! Dia mencemaskanmu, segeralah pulang " kata Shandy


" kenapa dia menghubungimu ?" tanya Fardhan heran


" karena ponselmu tidak bisa dihubungi ! Lihat saja ponselmu " kata Shandy


Fardhan pun meraih ponselnya dari dalam saku jas yang ia sampirkan di kursinya.

__ADS_1


" lowbatt ternyata " lirih Fardhan


" segeralah pulang, Maira pasti sednag menunggumu ! Lagipula semua pekerjaan sudah selesai " kata Shandy


Keduanya akhirnya pulang mengendarai mobil masing masing. Fardhan sampai di rumah pukul sembilan lebih karena terjebak macet dijalan. Dilihatnya lampu di ruangan tengah sudah padam, berarti Maira sudah tidur.


Fardhan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya, dilihat Maira sudah bergelung didalam selimut membelakangi posisi Fardhan sekarang. Tak mau mengganggu akhirnya Fardhan membersihkan diri dan berbaring disamping istrinya.


Pagi menjelang diramaikan dengan kicau burung yang saling bersahutan merdu diranting pohon. Fardhan sudah bersiap dengan setelan kerjanya, sedangkan Maira baru saja menyelesaikan pekerjaannya didapur untuk mwnyiapkan sarapan untuk suami tercintanya.


" sudah siap mas " tanya Maira


" iya " jawab Fardhan singkat


" mas, aku minta maaf. Aku gak akan mengungkit lagi dan menyuruhmu untuk menikah lagi, maafkan aku mas " ucap Maira dengan tatapan memohon pada Fardhan


" baiklah, janji tidak akan mengucapkannya lagi ?" tanya Fardhan memastikan dan diangguki oleh Maira


" baiklah, aku maafkan " kata Fardhan


" terima kasih mas " kata Maira menghambur memeluk Fardhan


" mas tunggu dibawah, aku akan segera turun " kata Maira


Maira duduk dipinggir kasur sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Diraihnya air dalam gelas diatas nakas berharap rasa sakitnya akan berkurang, tapi hal itu tidak membuahkan hasil. Akhirnya Maira membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya, setelah itu iapun turun untuk menemani Fardhan sarapan.


" mau sarapan pakai apa mas ? nasi atau roti ?" yanya Maira


" nasi saja " kata Fardhan sambil mengecek email yang masuk kedalam ponselnya


" ini mas " kata Maira menyodorkan piring yang sudah diisi nasi goreng dwngan telur ceplok dan kerupuk


" wajah kamu pucat, kenapa ? apa kamu sakit ?" tanya Fardhan setelah memperhatikan Maira


" tidak apa mas, aku hanya merasa dingin saja dwngan udara pagi ini " jawab Maira


" aku gak percaya ! Kita ke rumah sakit ya, kita periksa. Aku tidak mau kecolongan lagi seperti dulu " kata Fardhan


" tidak apa mas, aku beneran gak apa apa. Kamu jangan khawatir mas " kata Maira meyakinkan

__ADS_1


Fardhan memakan sarapannya sambil sesekali memperhatikan Maira yang sepertinya menahan sesuatu hingga wajahnya pucat dan berkeringat. Hingga akhirnya Maira merasa tidak kuat dan berlari menuju wastafel dan memuntahkan apa yang baru saja ia makan.


" tuh kan, aku bilang juga apa ! kamu sakit, kita ke rumah sakit sekarang ya " kata Fardhan sambil memijat ringan tengkuk Maira.


Terligat Maira memegangi perutnya yang sakit dan nafasnya yang sedikit kesusahan membuat Fardhan panik. Alhasil ia membopong Maira kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit segera.


Jadwal hari ini Fardhan batalkan semua karena ia akan menemani istrinya yang sedang sakit. Akhirnya Fardhan sampai di rumah sakit dan langsung membawa Maira masuk untuk segera ditangani.


" bagaimana kondisinya dok ?" tanya Fardhan saat dokter yang memeriksa Maira keluar dari ruang pemeriksaan


" asam lambungnya naik, dan lambungnya juga terluka. Untuk sementara pasien harus dirawat dulu sampai kondisinya membaik " kata dokter


" terima kasih dok " kata Fardhan


Usai dokter pergi, Fardhan langsung masuk kedalam ruangan untuk menemui Maira. Dilihatnya Maira yang sedang berbaring dengan mata terpejam, selang oksigen terpasang di hidungnya dan infus yang terpasang ditangannya.


Maira membuka matanya saat melihat Fardhan berada disampingnya, dan tersenyum.


" mas tidak kekantor ?" tanya Maira


" mas tidak akan ke kantor hari ini. Mas akan menemanimu sampai kamu sembuh " kata Fardhan


" tapi aku tidak apa apa mas. Pergilah ke kantor, pekerjaanmu pasti sangat banyak " kata Maira


" tidak bisa, mas akan tetap disini. Mas bisa mengerjakannya dari sini sambil menjagamu " tegas Fardhan


" baiklah, terserah mas saja " pasrah Maira


Maita kembali memejamkan matanya, sedangkan Fardhan mengecek beberapa email yang dikirimkan oleh Shandy. Ada beberapa meeting yang digantikan oleh Shandy karena Fardhan berhalangan hadir, klien yang bersangkutan pun tidak keberatan. Mereka juga bisa memaklumi, karena merwka juga punya keluarga dan pasti akan memprioritaskan keluarga terlebih dahulu dibandingkan pekerjaan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


Happy reading😊


__ADS_2