Hingga Akhir Nafas

Hingga Akhir Nafas
140


__ADS_3

140.


Azka sudah sampai di rumah saat waktu menunjukkan pukul empat sore. Hari ini dia pulang cepat, hal itu atas permintaan sang istri tercinta yang sedang hamil muda. Ya, Azka tahu Nisa sedang mengandung kembali saat Maira akan ditemukan.


" mas, bawa yang aku pesen gak ? " tanya Nisa


Ya, sebelum Azka pulang tadi Nisa menelfon minta dibelikan rujak ulek yang tak jauh dari kantor Azka.


" iya, mas udah belikan. Tunggu mas ambil piring dulu " kata Azka berlalu kedapur untuk mengambil piring dan garpu


Azka menuangkan rujak yang dibawanya kedalam piring.


" ini sayang " Azka menyodorkan piring pada istrinya


" terima kasih mas " kata Nisa dengan sumringah


cup


Satu kecupan mendarat di pipi Azka, dan hal itu membuat Azka terkejut dan langsung menatap Nisa.


" jangan menggodaku sayang " kata Azka


" bukan menggoda, tapi sebagai ungkapan terima kasih saja " jawab Nisa senang


Azka hanya melihat Nisa yang sedang melahap rujaknya. Azka merasa merinding melihatnya, bagaimana ia melihat sang istri yang dengan lahapnya memakan poyongan mangga muda dan buah kedondong kedalam mulutnya, ditambah lagi dengan bumbunya yang sangat pedas. Tapi walau ada terbesit rasa takut jika istrinya akan sakit perut, tapi Azka tidak bisa melarang keinginan istrinya.


Jika keinginan sang istri tidak dipenuhi, maka sanga istri akan marah atau lebih parahnya lagi selain marah ia akan menangis juga. Dan hal itu membuat Azka pusing.


Oh iya, berita kehamilan Nisa juga hanya Azka dan Papa yang mengetahuinya. Azka belum bisa memberi tahukan kabar gembira ini pada sang adik, Azka takut jika nanti adiknya akan merasa minder. Makanya Azka akan menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu kabar gembira ini.


Sedangkan Maira saat ini ia tengah duduk di kursi halaman belakang rumahnya sambil menikmati secangkir teh herbal dan kue black forest yang dibuatkan oleh bi Titin.


" bi, temani Mai duduk disini. Mai bosen kalau sendiri gak ada teman ngobrol " kata Maira

__ADS_1


" iya neng " jawab bi Titin


Maira dan bi Titin asik ngobrol kesana kemari hingga tak menyadari jika sang suami telah sanpai di rumah.


" assalamualaikum sayang " ucap Fardhan pada Maira yang sedang asik ngobrol


Bi Titin hanya tersenyum saja dan menjawab salam Fardhan dengan lirih. Melihat Fardhan dan Maira yang harmonis, membuat hati bi Titin senang. Bi Titin telah menganggap keduanya seperti anaknya sendiri.


" waalaikumsalaam " jawab Maira mengulas senyum manis lalu mencium tangan Fardhan


" kok mas datangnya gak ketahuan sih " kata Maira


" ya gimana mau tahu kalau mas datang, orang kamu lagi asik ngobrol sama bi Titin. Sampai sampai gak denger mobil mas datang " jawab Maira


" maaf den, mau bibi buatkan teh herbal juga ?' tanya bi Titin


" boleh bi, enak kayaknya bisa nyegerin badan aku yang lagi capek " jawab Fardhan sambil menggerakkan badannya


Bi Titin pun masuk kedalam dapur membuatkan teh untuk Fardhan. Sedangkan Fardhan duduk disamping Maira sambil merangkul bbahu sang istri.


" lumayan banyak, bahkan saking banyaknya aku juga bawa ke rumah. Kalau dikerjakan di kantor entah akan pulang jam berapa " jawab Fardhan


" maaf, ini teh nya den " kata bi Titin sambil meletakkan secangkir teh di atas meja


" terima kasih bi " kata Maira dan Fardhan kompak


Setelah menyimpan teh untuk Fardhan, bi Tiyin kembali masuk kedalam untuk menyiapkan bahan makanan yang akan segera diolah untuk menu makan malam.


Setelah menghabiskan tehnya, Fardhan dan Maira masuk kedalam kamarnya.


" mas mandi dulu ya " kata Fardhan


" iya, biar Mai siapkan baju buat ganti " kata Maira sambil berjalan menuju lemari pakaian Fardhan

__ADS_1


Hampir dua puluh menit Fardhan membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk yang menutupi pusar hingga lututnya dengan rambut yang masih basah.


Maira melihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah membuatnya terpana. Meskipun sudah lama menikah dengan Fardhan, tapi Maira masih saja terpesona jika melihat sang suami selesai mandi.


Setelah selesai memakai baju, Fardhan duduk disamping Maira yang duduk berselonjor kaki.


" mas, kapan mas akan membawaku untuk menemui Kirana ? " tanya Maira


" untuk apa sayang ?" tanya Fardhan mengernyitkan dahinya


" bukan untuk apa apa, aku hanya ingin tahu saja alasan kenapa dia menyekapku " kata Maira


" sudahlah, jangan menemui wanita gila itu. Lebih baik kamu memikirkan kesehatanmu saja sayang, jangan fikirkan itu. Biar wanita gila itu Shandy saja yang mengurusnya " kata Fardhan


" kok wanita gila sih mas ?" tanya Maira heran


" dia memang gila sayang. Tadi mas menemuinya dengan Abang, dan abang melihatnya sendiri dia sudah hilang akal. Jadi mas suruh Shandy buat masukin dia ke rumah sakit jiwa saja " jawab Fardhan enteng


" mas gak boleh gitu sama orang. Bagaimana kalau dia makin nekat ?" tanya Maira kurang setuju


" dia gak akan bisa macem macem disana, dia akan ditempatkan di ruangan khusus agar tidak menyakiti orang lain " kata Fardhan


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


Happy reading😊


__ADS_2